Surabaya, 27/8 (Antara/FINROLL News) - Pakan ternak menjadi indikator minimnya kualitas susu di Jawa Timur, karena komposisi pemberian pakannya dinilai tidak seimbang.
Peneliti kualitas susu Jatim dari Pemerintah Australia Barat, John Lucey, menjelaskan, salah satu faktor yang membuat produktivitas susu sapi di Jatim tidak sesuai kebutuhan adalah komposisi bahan pakan ternak dan cara pengelolaan.
"Melalui pengelolaan pakan ternak yang tepat perbandingannya, akan menghasilkan daging dan susu yang baik," katanya di Surabaya, Kamis.
Menurut dia, kandungan bahan pakan yang mengandung energi kurang mencukupi kebutuhan pakan sapi tersebut.
"Dengan pemberian bahan itu, sapi yang diternak hanya memiliki energi untuk bertahan hidup. Padahal, mereka membutuhkan pakan lebih dari itu untuk menghasilkan daging atau susu yang berkualitas," katanya.
Ia mengaku, penelitian yang dilakukannya selama delapan hari di Jatim menunjukkan potensi peternakan sapi perah Jatim masih bisa ditingkatkan.
"Keyakinan itu, karena potensi industri persusuan di daerah ini besar. Kami berharap, para peternak di wilayah ini dapat meningkatkan produksinya menjadi sekitar 25 liter per ekor per hari, dari sebelumnya 10 liter," katanya.
Untuk mencapai itu, tambah dia, para peternak di Jatim harus memperhatikan pemberian kandungan konsentrat pakannya. Upaya lain, bisa dilakukan dengan merealisasikan kerja sama antara Jatim dan Australia Barat selama ini, seperti membina peternak sapi perah Jatim di Australia.
"Di sana, para peternak Jatim dilatih tentang bagaimana meningkatkan produksi sapi perah, baik produktivitas susu maupun percepatan peningkatan populasi sapi," katanya.
Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim, Sulistiyanto, mengatakan, selama ini nilai sapi perah yang ada di Jatim mencapai Rp1,674 triliun
"Sementara itu nilai susu yang dihasilkan mencapai Rp2,175 miliar," katanya.
Melihat jumlah tersebut, katanya, tampak adanya ketimpangan. Penyebabnya, sampai hari ini jumlah sapi perah yang dimiliki masing-masing peternak belum ideal.
"Sejak dulu sampai sekarang, rata-rata peternak hanya memiliki tiga sapi perah. Namun, kami optimistis pada tahun 2010 setiap peternak bisa memiliki enam sapi perah," katanya.
Sumber:
PAKAN TERNAK INDIKATOR MINIMNYA KUALITAS SUSU JATIM
Thursday, August 27, 2009
PAKAN TERNAK INDIKATOR MINIMNYA KUALITAS SUSU JATIM
Jerit Peternak Sapi Perah
Program pemerintah yang dicanangkan pada tahun 2012 tentang SWASEMBADA SUSU yang diistilahkan Indonesia sebagai kolam susu tampaknya tidak akan terwujud. Hal ini jika kita tilik dari harian-harian terkemuka di negeri ini yang memuat bahwa PT NESTLE akan menurunkan harga susu perah dari KSU pertanggal 21 April 2009 menjadi Rp 3.185 atau turun Rp 300. Hal ini berarti KSU akan membeli susu dari peternak dibawah Rp 2.900. Padahal harga tersebut merupakan BEP pemeliharaan sapi perah.
Kalau harga susu dibawah 2.900 maka peternak akan mengalami kerugian. Bagaimana program swasemabda susu akan terealisasi pada tahun 2012 jika peternak mengalami kerugian. Pertambahan produksi susu yang diharapkan akan bertambah juntru akan terjadi sebaliknya karena peternak pasti akan mengalami kelesuan untuk berkembang, jangankan untuk mengembangkan usaha, untuk BEP saja tidak tercukupi.
Hal ini terjadi karena kesalahan pemerintah yang membuat kebijakan membebaskan biaya pajak impor susu dimana pada saat ini susu dunia harganya jeblog dimana bila dibandingkan dengan harga susu dlam negeri lebih murah. Hal ini sudah pasti dimanfaatkan oleh perusahaan persusuan untuk mengimpor susu demi mendapat keuntungan yang lebih banyak. Untuk menyikapi kondisi ini pemerintah harus segera bertindak dengan memberlakukan biaya pajak impor yang cukup tinggi sehingga susu dalam negeri tetap bisa bersaing. Padahal kalau kita mendasar data bahwa sampai saat ini susu dlam negeri hanya bisa menyupali kebutuhan 30 % dari kebutuhan Nasional. Apa kita akan selalu tergantung pada pihak luar jika hal ini tidak segera diatasi. Kalo kebijakan pemerintah terus seperti ini kapan bangsa kita bisa berdiri diatas kaki sendiri. Jangankan untuk sekedar berdiri, untuk merangkak saja kita tidak akan bisa. Bagaimana bangsa kita bisa mengejar bangsa-bangsa lain yang sudah berlari kencang?
Nanang Miftahudin
Sumber:
Jerit Peternak Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Susu, Ini, Akan, Yang, Untuk
Thursday, August 20, 2009
Sari Husada
PemKab Sleman Resmikan Tiga Kandang Percontohan 02/07/09
Kaliurang, Jumat, 19 Juni 2009 –
Wakil Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, Msi., hari ini meresmikan Kandang Sapi Perah Percontohan yang merupakan bantuan yang diberikan oleh PT Sari Husada kepada tiga kelompok Peternak di Koperasi Peternak di wilayah Kaliurang, yakni Koperasi Warga Mulya, Sarono Makmur dan UPP Kaliurang.
Dalam sambutannya pada acara peresmian kandang percontohan tersebut, Sri Purnomo mengatakan,” Apa yang telah dilakukan oleh Sari Husada selama ini, khususnya dalam membantu meningkatkan pengetahuan tentang cara beternak sapi yang baik serta dalam memberikan fasilitas kepada para peternak merupakan wujud nyata kepedulian dunia usaha kepada peningkatan kesejahteraan peternak yang patut kita hargai.”
“Selaku pemerintah, kami selalu mendukung aktivitas pembangunan yang dijalankan dalam bentuk kemitraan strategis seperti yang telah diwujudkan oleh Sari Husada yang melibatkan konsultan-konsultan teknis dari Universitas Gajah Mada dalam membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak,” lanjut Sri Purnomo.
Selain memberikan berbagai bentuk fasilitas seperti kandang sapi, Sari Husada juga secara rutin memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para peternak tentang cara-cara beternak yang baik sehingga mampu menghasilkan kualitas susu segar yang baik, melalui program Peningkatan Mutu Susu.
Presiden Direktur PT Sari Husada, Budi Isman dalam sambutannya mengatakan,”Sejak tahun 1991, Sari Husada telah bekerja sama dengan para konsultan dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dan menjalankan program Peningkatan Mutu Susu yakni melalui pendampingan dan penyuluhan kepada para peternak sapi perah di wilayah Jawa Tengah dan DIY termasuk di Kaliurang untuk terus meningkatkan kualitas susu yang mereka hasilkan.”
“Program pembinaan merupakan program yang terintegrasi yakni selain memberikan penyuluhan dan bimbingan, kami juga memberikan bantuan berupa alat-alat yang memenuhi standar peternakan sapi perah yang baik, seperti milk can, coppers, lacto scan, dan lain-lain,” lanjut Budi Isman.
Bantuan kandang percontohan yang diresmikan hari ini juga dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak dan penerangan .
“Kami menerapkan kandang sapi perah yang terintegrasi dan ramah lingkungan yakni dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi tidak dibuang begitu saja melainkan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan untuk bahan bakar. Sedangkan limbah yang dihasilkan dari bio-digester dapat dipergunakan untuk pupuk bagi rumput yang selanjutnya digunakan untuk pakan ternak. Dengan demikian tidak ada yang terbuang sekaligus membantu mengurangi emisi gas karbon,” lanjut Budi Isman.
Selain memberikan bantuan berupa tiga kandang sapi percontohan untuk 3 koperasi tersebut, PT Sari Husada juga memberikan bantuan 100 unit milk can, 10 unit komputer kepada 10 koperasi peternak sapi perah di wilayah DIY dan Jawa Tengah serta menjalankan proyek pembuatan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan.
Sumber:
Sari Husada
Tuesday, December 25, 2007
Peternak Sapi Dilatih Manajemen
Nopember 22, 2007;http://massenrengpulu.wordpress.com/?s=sapi+perah
ENREKANG — Ratusan peternak sapi yang ada di kabupaten Enerkang, dilatih tentang manajemen pengolahan susu sapi perah, yang menghadirkan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) dari Jakarta, Ir Agus Amran, selaku pemateri.Dalam kesempatan itu, para peternak khususnya peternak sapi perah diminta untuk lebih kreatif dalam mengolah susu perahnya menjuadi bahan yang bernilai jual tinggi.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengatakan bahwa melalui pelatihan ini, diharapkan susu perah yang dihasilkan para peternak selama ini, tidak hanya diolah menjadi dangke, tapi bisa menghasilkan produk lain yang tercipta dengan bahan dasar susu.
“Jadi petani diharapkan sudah mampu membuat produk di luar dangke, misalnya susu pasteurisasi, permen dan susu azam,” ujar Junwar, kemarin.
Jika ini sudah mampu diterapkan peternak katanya, maka secara otomatis kemajuan sektor peternakan juga akan lebih baik. Pelatihan ini berlangsung dua hari dan dilanjutkan dengan praktik lapangan. (k4)
Disnak Jateng Genjot Swasembada Susu
| Sabtu, 17 Nopember 2007 | SEMARANG |
| Suara Merdeka | |
UNGARAN - Dinas Peternakan (Disnak) Jateng akan terus menggenjot peningkatan produksi susu sapi perah di provinsi ini. Hal ini untuk mewujudkan Jateng sebagai daerah swasembada susu. Demikian disampaikan Kepala Disnak Provinsi Ir Kusmaningsih MP di Ungaran, baru-baru ini. ''Jateng belum swasembada susu, tahun 2008 ini pekerjaan utama yang harus dilakukan, yakni peningkatan produksi susu,'' kata Kusmaningsih.
Saat ini pihaknya tengah mengupayakan sebagai fasilitator dengan lembaga perbankan untuk membantu para peternak sapi perah. Disnak juga melakukan pembinaan secara berkelanjutan. Menurut dia, satu ekor sapi perah idealnya menghasilkan 15 liter susu per hari. ''Tapi di lapangan kenyataannya ada yang hanya delapan liter susu per hari. Ini yang harus ditingkatkan,'' tutur dia didampingi Kasi Evaluasi dan Pelaporan Disnak Ir Titien Sri Rahayu.
Salah satu daerah yang disebut menjadi tolok ukur peternakan sapi perah adalah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang agar dapat dicontoh daerah lainnya.Meski belum swasembada susu, Jateng merupakan daerah yang kaya akan daging ternak besar. Untuk populasi kambing, provinsi ini menempati peringkat pertama terbanyak se-Indonesia yaitu 2,9 juta ekor. Adapun domba sejumlah 1,9 juta ekor.
Lebih lanjut Kusmaningsih menuturkan, pada 2008 pihaknya tetap konsen pada pengembangan sapi dan kambing untuk menghadapi swasembada daging 2010. Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan tetap akan digalakkan. Sebab pihak Disnak ingin populasi sapi potong dan kambing terus meningkat. (H14-16)
Tahun 2010, Sapi Perah Ditargetkan 40 Ribu Ekor
“Ke depan, Disnak bekerjasama dengan para stakeholder dan KUD akan mengoptimalkan jumlah sapi perah dengan cara impor, seleksi pada bibit sapi dan pengurangan penjualan sapi ke luar pulau. cara ini sangat efektif untuk percepatan pertumbuhan sapi perah,” kata Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jatim, Sigit Hanggoro drh di sela-sela Seminar Pengembangan Persusuan Jatim Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, Berkualitas di Hotel Inna Simpang Surabaya, Rabu (9/8).
Jika kebutuhan akan susu bagi masyarakat Jatim tidak bisa dipenuhi, maka susu-susu impor akan masuk ke daerah dan hal ini bisa menyebabkan produksi susu lokal kurang diminati oleh masyarakat.
Menurutnya, saat ini kualitas sapi perah mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah susu yang dihasilkan, dimana satu ekor hanya menghasilkan 9-11 liter/hari padahal idealnya setiap ekor sapi bisa menghasilkan 15-18 liter/hari. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan perbaikan pada bibit sapi, pakan dan juga penyakit, agar kualitas sapi bisa ditingkatkan.
Jika kualitas dan jumlah susu bisa terpenuhi, maka susu yang beredar di masyarakat adalah benar-benar susu murni dan dapat dimanfaatkan secara optimal. “Saat ini susu yang beredar di pasaran sudah banyak ditambah dengan bahan-bahan yang bisa mengurangi manfaat susu,” katanya.
Pada tahun 2006, program Dinas Peternakan dalam mengembangkan persusuan di Jatim adalah melakukan gerakan minum susu, pengamanan penyakit, promosi susu, lomba tempat penampungan susu, pelatihan SDM, serta penambahan sapi perah impor.
Perlu diketahui, tahun 2005 produksi susu oleh KUD tertinggi berasal dari Kabupaten Malang mencapai 72 juta kg disusul Kabupaten Pasuruan 51 juta kg, Tulungangung 18 juta kg, dan Kediri 10 juta kg. Produksi susu di Jatim ini diserap oleh beberapa perusahaan susu di antaranya PT Nestle Indonesia 530 ton, PKIS Sekar Tanjung 70 ton, IPS Jakarta 50 ton, dan Greenfield 30 ton. Khusus untuk PT Nestle Indonesia, pihaknya telah memberi toleransi penerimaan susu dari 530 ton/hari menjadi 600 ton/hari. *(ie
HARGA SUSU SAPI DI BANYUMAS MASIH RENDAH
Banyumas, 20/11 (ANTARA) - Harga jual susu sapi dari peternak sapi perah di Kabupaten Banyumas masih rendah yakni sebesar Rp1.750,00 per liter, padahal harga tersebut dapat dinaikkan jika wilayah ini memiliki industri pengolahan susu (IPS)
"Selama ini kami menyetorkan susu tersebut kepada IPS di luar daerah seperti Sari Husada Yogyakarta," kata Manajer Koperasi Peternak Sapi Perah Satria (Pesat) Bambang Sutikno di Purwokerto, Selasa.
Ia mengatakan, susu tersebut dijual ke pabrik dengan harga Rp2.200,00/liter dan selisih harga sebesar Rp450,00 itu sebagian digunakan untuk ongkos pengiriman.
Jika Banyumas memiliki IPS sendiri, kata dia, biaya pengiriman susu yang biasa dikeluarkan dapat disubsidikan untuk kesejahteraan peternak.
Ia mengatakan, selain itu produk susu peternak bisa diolah sendiri dan dijual dalam bentuk susu siap minum maupun yoghurt.
Menurut dia, setiap hari koperasi menampung 2.000 liter hingga 2.500 liter susu dari sekitar 600 sapi produktif.
"Di Banyumas terdapat sekitar 1.500 ekor sapi perah namun yang masih produktif sekitar 600 ekor yang tersebar di Kecamatan Cilongok, Karanglewas, Pekuncen, Baturaden, dan Sumbang," katanya.
Untuk mewujudkan adanya sarana IPS, kata dia, koperasi telah mengajukan proposal kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Banyumas sekitar bulan September lalu.
Berkaitan dengan masalah tersebut, Kepala Bidang Pengembangan Usaha Ternak Disnakkan Banyumas, Suryadewi AM mengatakan, proposal dari Koperasi Pesat sudah diterima dan masih dalam pengkajian.
Dia mengakui keberadaan IPS atau sarana pasteurisasi dapat memberi keuntungan tersendiri bagi peternak sapi perah karena harga susunya dapat dinaikkan.
Selain itu, kata dia, sarana tersebut juga menyediakan lapangan kerja baru.
(U.PK-SMT/C/S011/S011) 20-11-2007 13:14:31
Kunjungan Kerja Menteri Pertanian Ke Italia
Menteri Pertanian RI, Dr. Anton Apriyantono, melakukan kunjungan kerja ke Italia dari tanggal 17 – 20 Nopember 2007. Kunjungan Mentan ini dalam rangka menghadiri dan menyampaikan pidato pada Konferensi FAO ke 34 yang berlangsung dari tanggal 17 – 24 Nopember 2007 di Kantor Pusat FAO di Roma.
Trieste
Sebelum menghadiri sidang Konferensi FAO, Mentan mengadakan kunjungan ke pelabuhan petikemas dan pergudangan kopi, pabrik pembuatan minyak olive, dan pembuatan Keju di Kota Trieste, Utara Italia.
...
Setelah menyaksikan proses pensortiran kopi yang dilakukan semuanya secara komputerisasi yang dikelola Pacorini Silocaf S.r.l. dan meninjau beberapa fasilitas pergudangan serta makan siang atas undangan otoritas pelabuhan Trieste, Mentan melakukan kunjungan ke pabrik pembuatan minyak olive yang prosesnya bebas zat aditif serta peternakan sapi perah dan pembuatan keju.
Khusus di peternakan sapi perah dan pabrik pembuatan keju, mentan sangat terkesan dengan etos kerja petani yang dikunjungi, karena dengan jumlah 150 ekor sapi ditambah pabrik keju hanya dikerjakan oleh 3 orang saja. Sementara di pabrik minyak olive menteri terkesan karena proses pembuatan minyaknya yang hanya mengandalkan pengendapan secara alami selama 40 hari, sehingga minyak yang dihasilkan masih banyak kandungan senyawa mikro (anti oksidan) yang sehat bagi tubuh manusia.
Kunjungan ke Trieste diakhiri dengan makan bersama atas undangan Asosiasi Pengusaha Kopi Trieste.
from:http://www.indonesianembassy.it/home/berita/news014-07.htm
Kalbar Siap Kembangkan Sapi Perah Tropis
Pontianak,- Sejak beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonensia dibuat resah dengan meroketnya harga jual susu. Jika sudah begini, balita menjadi kelompok yang amat dirugikan. Di masa tumbuh kembangnya, kuantitas pasokan nutrisi serta vitamin yang diperoleh dari susu terancam berkurang. Faktor apa yang menjadi penyebabnya?
Laporan Pringgo-Pontianak
SEJUMLAH kalangan menilai bahwa kenaikan harga susu formula bagi balita ini lebih disebabkan oleh berkurangnya produksi susu dunia. Hingga saat ini 70 persen kebutuhan susu Indonesia masih dipasok dari Australia dan New Zealand. Sementara produksi susu dalam negeri hanya mampu menutupi 30 persen dari sisa kebutuhan yang ada.
Akibat tingginya ketergantungan terhadap susu impor tersebut, lambat laun segala sesuatunya terasa menjadi sulit. Persoalan mulai muncul manakala pasokan susu dari luar mulai menurun. Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa saat ini telah terjadi musim panas berkepanjangan di Austalia dan New Zealand.
Akibat iklim yang kurang bersahabat, produksi susu pun mengalami penurunan yang cukup tajam. Ini terjadi karena ketersediaan pakan hijau bagi ternak sapi perah telah berkurang. Sejumlah ahli belum bisa meramalkan kapan berakhirnya kondisi buruk ini. Menyikapi tingginya harga jual susu, sejumlah kalangan berupaya memberikan solusi.
Beberapa jalan keluar yang ditawarkan antara lain menggalakkan gerakan penggunaan ASI (Air Susu Ibu), mengganti mengkonsumsi susu sapi dengan susu kambing atau susu kedelai, mengembangkan sapi perah tropik dan lain sebagainya. Khusus untuk penawaran yang terakhir ini, sekarang pemerintah tengah melakukan upaya pengembangan.
Seperti diungkapkan Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Kalbar, drh H Abdul Manaf Mustafa, saat ini pemerintah tengah mencoba untuk mengembangkan sapi perah tropis. Sapi perah jenis ini merupakan hasil perkawinan silang, antara sapi perah unggul dari Belanda dengan sapi perah unggul dari India. "Jenis sapi tropis ini diyakini sebagai solusi yang tepat dalam mengatasi ketergantungan impor susu," terangnya.
Tujuan dari mengkawinsilangkan kedua jenis sapi perahan ini tak lain adalah untuk memperoleh jenis sapi unggul yang mampu hidup di daerah tropis, seperti alam Indonesia, khususnya Kalbar. Secara genetika, sapi perah unggul asal Belanda memiliki kelebihan dalam memproduksi susu berkualitas tinggi. Tapi sayang, sapi jenis ini hanya mampu memproduksi susu dalam jumlah banyak di daerah dingin. Sementara sapi perah asal India memiliki sifar kebalikannya.
Kendati pengembangbiakan sapi perah tropis ini memerlukan waktu yang cukup panjang, namun Manaf berkeyakinan bahwa suatu saat nanti Indonesia pasti akan memiliki sapi perah unggul jenis baru. Dan Kalbar akan siap menjadi daerah pengembangbiakannya. (**)
Dampak Kenaikan Harga Susu Kemasan
ELIKA, satu diantara peternak susu sapi perah, pada Antara di Malang, Jumat (06/07), mengemukakan, kenaikan harga susu kemasan yang terjadi saat ini membawa berkah tersendiri bagi peternak sapi perah.
"Harga susu segar naik sejak awal Juli lalu. Kenaikannya mencapai Rp500 per-liternya. Harga sebelum ada kenaikan Rp2.500 kini menjadi Rp3.000 per-liternya," ujarnya.
Menurut dia, dari 10 ekor sapi perah yang dimilikinya saat ini dapat menghasilkan susu segar sebanyak 141 liter perharinya. Proses pengambilan susu segar dilakukan sehari dua kali, yaitu pada pagi hari dan sore hari.
Susu segar yang dihasilkan dari peternakannya disetorkan ke pengepul, dalam hal ini disetorkan pada KUD Sumber Makmur Ngatang, Kabupaten Malang.
SYAKUR KULLU Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kab. Malang mengemukakan, pihaknya menyambut baik kenaikan harga susu segar di tingkat petani.
Namun, pihaknya berharap, produsen bisa menerima seluruh susu yang dihasilkan oleh pertani, terutama dari Kab. Malang.
"Kenaikan harga susu tidak sama, tergantung dari kualitas susu yang dihasilkan peternak. Semakin baik kualitasnya, semakin tinggi harga jualnya," paparnya.
Menurut dia, kenaikan harga susu segar membawa dampak positif bagi peternak. Pasalnya, harga susu kemasan di pasaran juga terus merangkat naik, sehingga peternak akan mendapatkan keuntungan lebih dibanding dengan harga jual sebelumnya.
"Sebetulnya, kalau dibandingkan dengan harga susu kemasan di pasaran, kenaikan susu segar masih kurang. Harga ideal untuk susu segar saat ini adalah kisaran Rp3.500 per liternya," ucapnya.
Produksi susu segar untuk Kabupaten Malang mencapai 220 ton per-hari. Susu tersebut dihasilkan oleh beberapa koperasi di bawah naungan Diskoperindag dan dari petani susu di luar koperasi.
Sentra peternak sapi perah di Kab. Malang berada di daerah Ngantang, Pujon, Dau, dan Turen. Koperasi di daerah tersebut juga sudah memproses susu segar menjadi susu siap minum dengan sistem pasteurisasi yang saat ini menjadi konsumsi masyarakat Malang Raya.(ipg/ipg)
Teks Foto:
- Harga susu segar ikut naik, untungkan peternak susu sapi perah.
Foto: Dok. suarasurabaya.net
Prioritaskan Pertanian dan Peternakan
ENREKANG — Tahun 2005, pemerintah Enrekang telah menyusun sebuah Rencana Strategi (Renstra) khusus pada sektor pertanian dan peternakan.
Ini merupakan realisasi kerjasama pembangunan antara Pemerintah Kabupaten Enrekang dengan Sanbe Sulawesi Frienship Centre.
Kerja sama tersebut berisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan komoditi pertanian. Realisasinya antara lain pemagangangan tujuh orang pegawai bidang pertanian di Enrekang ke Jepang. Mereka akan mengikuti pelatihan di sana.
Untuk pengembangan komoditi, akhir tahun lalu telah terealisasi bantuan sapi perah sebanyak 24 ekor. Tahun ini direncanakan menyusul sebanyak 10 ekor sapi perah. Sebagai pendukung, pemerintah telah membangun pusat pelatihan peternakan di Desa Buntu Barana.
Dalam program kerjasama NMCP Belanda, telah dibangun pula sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian di desa Mampu, Kecamatan Anggeraja. Sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas laboratorium dan green house. Sekolah ini mulai menerima siswa tahun ajaran 2004/2005 bersadarkan MOU antara Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan dengan Bupati Enrekang.
Selain itu, juga telah dilaksanakan pembangunan terminal agribisnis di Desa Sumillan Kecamatan Alla, yang terdiri antara lain satu unit grosir sayuran. Menurut La Tinro, Pemkab Enrekang juga telah mempersiapkan lahan pembangunan miniatur percontohan komoditas unggulan hasil pertanian dan perkebunan Kabupaten Enrekang. Diharapkan tahun ini, pembangunannya sudah rampung. “Berkat lancarnya kegiatan pembangunan di sektor pertanian, Enrekang berhasil meraih Juara K2P3 tingkat pusat, suatu penghargaan di sektor pertanian tahun 2004 lalu,” ujar La Tinro.
Meski lebih memprioritaskan sektor pertanian dan peternakan, lanjut La Tinro, bukan berarti melupakan sektor lain. Ibarat kereta api, katanya, semua gerbong harus digerakkan seperti kehutanan, pertambangan, perindustrian, perdagangan, pemuda, dan olahraga serta sektor keagaman.
Di sektor pertambangan dan energi, misalnya, telah direalisasikan kerjasama BPPT pada tahun 2004 dalam bentuk pengadaan 100 unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Desa Pattondo Salu, Desa Salo Dua dan Desa Ranga.
Tahun 2005 ini akan direalisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sebesar Rp1 miliar.
Sumber : (sap)
Thursday, December 6, 2007
Kamis, 06 Mei 2004;www.pikiran-rakyat.com
Disnak Jabar Rintis "Database" Sapi Perah
BANDUNG, (PR).-
Keberadaan informasi atas berbagai database usaha sapi perah di Jabar kini mulai diketahui, setelah Dinas Peternakan Jabar yang bekerja sama dengan Indonesian Dairy Improvement Association (IDHIA) membuat situs internet.
Database sapi perah yang dibangun melalui program aplikasi off-line dan on-line dengan nama domain www.perbibitan-disnakjabar.com tersebut resmi diluncurkan di Kantor Dinas Peternakan Jabar Jln. Ir H Djuanda Bandung, Rabu (5/5).
Menurut Kepala Dinas Peternakan Jabar, Iman Nugraha dan Sekjen IDHI, Pammusureng, program aplikasi database sapi perah itu ditujukan untuk menampung data identifikasi, inseminasi buatan, dan kesehatan hewan setiap ekor sapi perah di Jabar yang mengikuti program recording sapi perah, melalui transfer data secara elektronik dari daerah ke komputer Dinas Peternakan Jabar melalui komputer IDHIA.
Di samping menyajikan data tersebut, program aplikasi ini juga diharapkan dapat menyajikan laporan-laporan. Misalnya, daftar identitas sapi perah, laporan struktur populasi sapi perah dalam berbagai tingkatan (kelompok, koperasi, atau tingkat kabupaten), laporan per petugas atau per pejantan, laporan distribusi, laporan pelayanan kesehatan hewan (keswan), dll.
"Semua data itu, diharapkan dapat mendukung upaya meningkatkan mutu genetik sapi perah di Jabar. Oleh karena itu, semua pihak yang terkait perlu saling bahu-membahu memperbaiki kinerja peternakan, khususnya dalam penerapan program peningkatan mutu bibit sapi perah di Jabar maupun nasional. Hanya melalui kerjasama yang saling menguatkan, usaha peternakan sapi perah di Jabar akan dapat bangkit," tegas Iman Nugraha.
Sementara itu disebutkan Pammusureng, yang masih menjadi kesulitan, adalah belum seluruh kelompok atau koperasi peternak sapi perah di Jabar lancar mengirimkan data.
Ini membuat berbagai database yang ada akan terus bertambah, walau pun saat ini baru sebanyak enam koperasi yang mengirimkan database sapi perah melalui komputer yang mereka punyai.
"Dengan tersedianya database sapi perah, berbagai pelaku akan lebih mudah mengetahui sejauh mana potensi usaha itu di Jabar. Setidaknya, mempermudah perolehan data lengkap usaha peternakan sapi perah di Jabar, yang sebelumnya banyak yang belum jelas," ujarnya.
Untuk tahap awal ini, perolehan database di antaranya, diperoleh dengan cara menyebarkan daftar isian kepada 118 orang kelompok masyarakat, koperasi, dll. Mereka semuanya yang tersangkut atau meminati usaha peternakan sapi perah di Jabar. (A-81) ***
Selasa, 17 Juli 2007;KOmpas
Program Bantuan Sapi Perah Dinilai Tak Efektif
Jakarta, Kompas - Kebijakan pemerintah menambah populasi sapi perah dengan memberi kredit bantuan sapi tidak efektif. Populasi sapi perah tidak bertambah dan produksi susu tidak meningkat.
Menurut Manajer Operasi Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Jawa Barat, Taryat Ali Nursidik saat ditemui di Bandung pekan lalu mengatakan, saat ini peternak lebih membutuhkan kemudahan untuk mendapatkan pakan hijauan ketimbang bantuan sapi.
Untuk memberi pakan hijauan 150 kg untuk tiga ekor sapi perah, peternak harus mencari rumput sampai puluhan kilometer. Skala usaha sapi perah yang ideal minimal delapan ekor.
"Kredit bantuan sapi hanya menambah populasi sapi sesaat. Ketika peternak tak mampu memberi pakan, sapi pun dijual," ujar Taryat.
Dari pengalaman itu, pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang benar-benar dibutuhkan peternak, bukan untuk popularitas pejabat atau individu tertentu yang mematikan budi daya sapi perah nasional.
"Berapa banyak uang negara dalam bentuk kredit usaha tani untuk penambahan populasi sapi yang akhirnya macet? Ini sebenarnya bisa dijadikan pelajaran," jelas Taryat.
Agus, pengurus Koperasi Bina Dharma di Ungaran, Jawa Tengah, menjelaskan, bantuan sapi yang diterima peternak lebih sering dijual untuk membeli sepeda motor atau mobil untuk usaha angkutan kota.
Kondisi ini tidak bisa dihindari karena semakin susah mencari pakan. Jarak tempuhnya pun semakin jauh, sementara harga susu tidak kunjung naik.
"Sekarang produksi susu di sini hanya 180 liter per hari, padahal sebelumnya sampai 6.000 liter. Anak-anak muda juga sudah tidak mau lagi mencari rumput," katanya.
Populasi sapi perah nasional sekarang hanya 300.000 ekor dengan produksi susu 1,2 juta liter per hari. Pemenuhan kebutuhan susu mendekati seimbang tahun 1989, yaitu 338.000 liter produksi lokal dan 365.000 liter impor.
Tahun 2006, produksi susu peternak KPSBU sekitar 110.000 liter, meningkat dibandingkan tahun 2002 yang hanya 82.000 liter. Penambahan produksi susu di KPBSU bukan karena bantuan sapi perah, tetapi karena ada kerja sama sewa lahan untuk penanaman rumput gajah di lahan PTPN VIII seluas 500 hektar.(MAS)
