Sumber:
GBI Nglegok - Blitar : BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)
Thursday, August 27, 2009
Peningkatan Daya Saing Persusuan Nasional Melalui Revolusi Putih
Oleh : Teguh Boediyana
- Usaha peternakan sapi perah khususnya dan persusuan nasional umumnya tidaklah dapat diabaikan perannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, karena mempunyai dimensi yang cukup luas. Pada satu sisi, usaha peternakan sapi perah dan persusuan nasional dapat merupakan salah satu sarana untuk mencegah terjadinya lost generation dari bangsa kita (khususnya bagi generasi muda) akibat kekurangan asupan protein. Sangat memprihatinkan bahwa berdasarkan data UNDP, setelah diukur dengan HDI, bangsa Indonesia menduduki peringkat ke 110 dan berada di bawah Vietnam. Pada sisi lain usaha peternakan sapi perah merupakan salah satu usaha di bidang pertanian yang besar perannya dalam menopang perekonomian nasional dan sebagai penyedia lapangan kerja.
- Beberapa kondisi faktual yang berkaitan dengan peternakan sapi perah di tanah air kita antara lain :
- Susu segar dihasilkan para peternak sapi perah di sentra-sentra produksi seperti di Jawa Timur (Pasuruan, Malang, Blitar, Mojokerto, Probolinggo, Kediri, dsb), Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Salatiga, Purwokerto), Jogjakarta, Jawa Barat (Kabupaten Garut, Bandung, Bogor, Sukabumi, Sumedang, dsb) dan DKI Jakarta. Secara keseluruhan produksi susu segar dari sentra produksi tersebut sekitar 1,2 juta liter/hari senilai sekitar Rp. 3 Milyar/hari atau sekitar Rp. 1,1 Triliun per tahun. Dengan adanya putaran uang sebesar tersebut telah mampu menggerakkan perekonomian di pedesaan di sentra produksi dan sekitarnya termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja.
- Terdapat sekitar 300.000 sapi perah (yang diyakini memiliki potensi genetik yang cukup bagus) yang dipelihara oleh sekitar 100 ribu peternak sapi perah dengan tingkat pemilikan sapi perah sekitar rata-rata 2 – 4 ekor yang tersebar di sentra produksi tersebut diatas.
- Susu segar yang dihasilkan para peternak hampir 95 % dipasarkan ke Industri Pengolahan Susu dan digunakan sebagai bahan baku industri mereka. IPS yang membeli susu segar sebagai bahan baku antara lain : P.T Nestle dan P.T Green Field di Jawa Timur (menyerap sekitar 550 ton/hari), dan P.T Frieshe Vlag Indonesia, P.T Indomilk, P.T Ultra Jaya, P.T Indolakto,. P.T Sari Husada, yang menyerap sekitar 500 ton per hari.
- Setelah ditandatanganinya LOI antara IMF dan Pemerintah Indonesia , maka kebijakan proteksi penyerapan susu segar oleh IPS dan perlindungan harga dihapuskan. Dengan demikian sekarang ini pemasaran susu ke IPS tanpa perlindungan peraturan perundangan dan menempatkan peternak sapi ataupun koperasi pada posisi tawar yang lemah. Dari segi ini saat ini peternak menerima pembayaran susu yang tidak seimbang dengan biaya produksi. Faktor inilah yang antara lain menyebabkan terjadinya kondisi stagnant produksi susu segar dalam negeri karena iklimnya kurang kondusif bagi peternak. Sebelum bulan Mei 2007, peternak hanya menerima sekitar Rp. 1600,-/liter – Rp. 1.700,- dengan kualitas standard 12 % Total Solid ). Padahal harga susu setara 1 liter susu segar dipasar mencapai angka diatas Rp. 7.000,- (antara Rp. 7.000 - Rp. 15.000). Tiga bulan terakhir ini terdapat kenaikan harga jual susu segar. Dengan kualitas 12,5 % TS dan TPC dibawah 1 juta, di Jawa Timur harga Rp 2700, sedangkan di Jawa Barat harga sekitar Rp. 3100,-
- Produksi susu segar dalam negeri diperkirakan andil sekitar 25 % dari kebutuhan susu nasional (dengan tingkat konsumsi sekitar 6 liter/kapita/ tahun). Dengan demikian, kebutuhan susu nasional sebagian terbesar masih dipenuhi dari susu impor baik sebagai bahan baku ataupun sebagai produk olahan (finished products).
3. Kondisi faktual ditinjau dari aspek konsumsi susu bangsa Indonesia yang menjadi kunci dalam pemasaran susu yang dihasilkan para peternak adalah sebagai beikut :
- Berdasarkan data yang ada di BPS yang bersumber dari Departemen Pertanian, saat ini konsumsi susu per akpita bangsa Indonesia masih sekitar 6 Liter/kapita/tahun. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan negara kita seperti Malaysia yang sudah mencapai diatas 20 Liter/tahun, India sekitar 45 liter (target 88 liter per kapita/tahun ), Vietnam diatas 10 liter. Terlebih negara maju yang umumnya diatas 100 liter/kapita per tahun. Dengan data angka ini menunjukkan betapa rendahnya konsumsi protein hewani yang berasal dari susu dari bangsa kita.
- Disamping masih rendahnya angka konsumsi per kapita/tahun, apabila ditelusuri ternyata bahwa hampir 80 persen susu yang dipasok (sekitar setara 4 juta liter setara susu segar per hari) dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan khususnya masyarakat menengah ke atas. Dengan demikian terjadi kesenjangan yang sangat besar antara masyarakat kota dan pedesaan serta tingkat pendapatan rendah dan tinggi. Apabila dikaji lebih mendalam, konsumsi riil susu dari keluarga yang mampu mungkin di atas 50 liter/kapita/tahun.
- Dapat dipahami apabila masyarakat bawah tidak mampu membeli susu yang umumnya berasal dari Industri Pengolahan Susu berupa berbagai produk susu seperti susu cair sterilisasi, susu bubuk, susu kental manis dsb karena harganya yang sangat tinggi. Rata-rata harga susu di pasaran per liter setara susu segar adalah diatas Rp. 8.000,- Untuk susu cair steril harga setara susu segar saat ini mencapai sekitar Rp. 10.000. Bangsa kita harus menggunakan jumlah uang yang sama dengan bangsa lain di negara maju untuk mengkonsumsi 1 (satu) liter susu. Padahal tingkat pendapatan sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, dipastikan bahwa yang mampu mengkonsumsi susu di negara kita adalah masyarakat berpendapatan tinggi.
4. Kondisi faktual lain berkaitan dengan usaha sapi perah di tanah air adalah keberadaan badan usaha koperasi yang menjadi wadah dari peternak sapi perah. Beberapa catatan tentang koperasi susu yang ada adalah sebagai beikut :
- Terdapat sekitar 90 koperasi susu primer yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Selain koperasi primer (dimana beranggotakan para peternak), terdapat koperasi sekunder di masing-masing propinsi, dan 1 (satu) Koperasi sekunder tingkat nasional.
- Fungsi utama koperasi susu adalah melayani anggota dalam mengembangkan usaha peternakan sapi perah. Pelayanan yang diberikan koperasi antara lain penyediaan pakan sapi, pelayanan kesehatan dan reproduksi sapi, pemasaran. Untuk kegiatan pemasaran inilah yang sebagaim kunci peran koperasi karena susu yang mudah rudak. Koperasi susu umumnya telah memiliki peralatan untuk pengawetan susu berupa cooling unit, tanki susu, sarana penampungan susu dsb yang keseluruhannya membutuhkan perawatan khusus dan teknologi.
- Dari koperasi yang ada, sebagian telah memiliki mesin untuk memproses susu menjadi susu pasteurisasi, susu cair steril, yoghurt. Di Jawa Timur dan Jawa Barat sebagian kecil koperasi primer memproses susu pasteurisasi dan dipasarkan langsung ke konsumen. Sedangkan koperasi sekundernya yaitu GKSI dan PKIS telah memiliki processing plant untuk memproduksi susu kental manis, susu cair steril, yoghurt.
5. Peran Pemerintah dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah rakyat sebenarnya sangatlah besar. Namun demikian berdasarkan pengamatan selama ini diperoleh suatu indikasi sebagai berikut :
- Sejak adanya LOI IMF di akhir tahun 1997, perhatian pemerintah terhadap peternakan sapi perah sangat kurang. Padahal di sisi lain , peran pemerintah sangat dibutuhkan khususnya dari aspek teknis untuk meningkatkan produktivitas usaha peternakan sapi perah antara lain untuk mengurangi akibat penyakit mastitis, brucelossis, dsb.
- Pemerintah tetap merupakan suatu modal yang sangat besar untuk mendukung terwujudnya iklim yang kondusif bagi usaha peternakan sapi perah karena melalui Pemerintah inilah dimungkinkan fasilitas, anggaran, serta berbagai dukungan lainnya. Dalam konteks ini , pemerintah tidak hanya Departemen Pertanian tetapi juga Departemen atau kementrian atau Lembaga Non Departemen , yang dapat menjadi penyangga program. Misal Departemen Dalam Negeri dalam rangka pemanfaatan dana makanan ekstra untuk anak sekolah, Departemen Pendidikan dalam hal yang sama dan penyuluhan ke sekolah-sekolah tentang pentingnya minum susu, Departemen Perindustrian membantu dalam penyediaan fasilitas untuk prosesing susu dan sarana pemasarannya dsb.
6. Kita masih melihat bahwa peluang usaha peternakan sapi perah di dalam negeri sangat prospektif dengan beberapa indikator :
- Saat ini dengan kemampuan pasok susu segar hanya 25 % dari kebutuhan susu nasional. Ini mengindikasikan bahwa terdapat suatu peluang yang sangat besar untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah baik di sentra produksi yang telah ada maupun di daerah lain yang potensial untuk dikembangkan. Diyakini bahwa tingkat kebutuhan susu nasional akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Ini berarti terdapat peluang usaha yang besar.
- Suatu kenyataan bahwa harga susu segar sebagai bahan baku IPS di dalam negeri jauh lebih murah dibandingkan dengan harga bahan baku susu impor setara susu segar. Saat ini harga bahan baku susu impor setara 1 (satu) liter susu segar adalah sekitar Rp.4000 - Rp. 4500 Sedangkan peternak dengan tingkat harga Rp. 3000,-/liter sudah memperoleh marjin yang cukup untuk kehidupan mereka. Adanya disparitas harga tersebut mengindikasikan bahwa peluang pengembangan usaha dalam peternakan sapi perah sangat besar dan terdapat daya saing yang cukup besar. Terlebih apabila subsidi pertanian di negara maju dihapuskan. Ini akan mengarah semakin tingginya harga susu impor.
- Kenaikan harga susu secara drastis di pasar dunia pada 6 bulan terakhir selaras dengan semakin meningkatnya permintaan akan semakin memperkuat daya saing susu segar dalam negeri. Data terakhir menunjukkan bahwa harga susu bubuk fullcream mencapai harga sekitar US $ 4025/Ton.
- Sumberdaya alam Indonesia sebagai penyedia bahan pakan sapi perah sangat besar. Hasil sisa pertanian baik dari pertanian tradisionil maupun perkebunan besar merupakan sumber pakan yang sangat potensial bagi usaha peternakan sapi perah rakyat. Sangat terbuka peluang areal tanah yang luas di luar Jawa sebagai penyedia pakan hijauan untyuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi susu di Jawa.
- Program dan anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk tambahan kualitas makanan untuk murid Sekolah Dasar sebagai suatu peluang yang besar untuk memacu program pemasaran bagi susu segar yang dihasilkan peternak sapi perah.
- Pasar susu bagi masyarkat menengah ke bawah masih sangat potensial dan samasekali belum digarap secara intensif. Dalam rangka mencegah terjadinya lost generation dari bangsa kita dapat dilakukan..
7. Sampai saat ini kita melihat bahwa usaha peternakan sapi perah rakyat dapat dikatakan stagnan yang terlihat bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini produksi susu segar relatif stabil dalam kisaran sekitar 1, 2 juta liter per hari. Pada sisi lain kita melihat bahwa peluang untuk pengembangan usaha sapi perah sangat besar. Adanya pemodal besar yang mengembangkan usaha sapi eprah dalam skala besar menunjukkan bahwa sebenarnya usaha sapi perah prospektif. Terdapat beberapa sebab mengapa terjadi kondisi yang stagnan dalam produksi susu segar yang dihasilkan para peternak sapi perah antara lain :
- Tidak efisiennya usaha peternakan sapi perah rakyat. Faktor utama inefisiensi adalah skala pemilikan sapi perah yang terlalu kecil sehingga usaha sapi perah lebih banyak sebagai usaha sambilan dan bukan sebagai kegiatan utama dimana peternak dapat konsentrasi pada usaha tersebut.
- Tingkat harga susu segar di tingkat peternak yang tidak seimbang dengan biaya produksi karena naiknya harga bahan baku pakan ternak yang tidak seimbang dengan kenaikan harga jual susu. Tidak adanya faktor insentif dan ditambah dengan skala pemilikan yang masih sangat rendah maka permasalahan semakin komplek yang bermuara peternak sapi perah tidak dapat menghasilkan susu yang berkualitas.
- Suatu kenyataan bahwa belum seluruh peternak sapi perah menyadari pentingnya menjaga kebersihan dalam menangani susu mulai dari proses pemerahan sapi. Sebagai akibat kurangnya kesadaran tentang milk hygiene ini maka kandungan bakteri dalam susu sangat tinggi. Ini berpengaruh terhadap kualitas susu dan harga susu yang diterima. Dalam hal ini Propinsi Jawa Timur telah maju beberapa langkah sehingga sebagian terbesar susu segar yang dihasilkan telah memiliki kualitas yang tinggi termasuk TPC yang umumnya dibawah 1 juta/ml.
- Semakin terbatasnya akses untuk memperoleh sumber pendanaan dengan tingkat bunga yang rendah untuk mengmbangkan usaha. Peternak tidak akan mampu menggunakan dana bank dengan ketentuan yang berlaku sekarang ini guna pengembangan usaha. Selain terkendala faktor kolateral, peternak umumnya juga terkendala pada aspek tingginya suku bunga dan kebijakan uang ketat dari bank yang ada.
8. Didasarkan kepada dimensi persusuan nasional, dan memperhatikan berbagai kondisi faktual serta adanya peluang untuk untuk mengembangkan persusuan nasional, diperlukan langkah berani dan cepat (dalam bahasa yang retorik melakukan revolusi) dengan tujuan besar : pertama, penyediaan susu sebagai sumber protein bagi generasi muda dari kalangan masyarakat bawah untuk mencegah adanya revolusi putih. Kedua, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para peternak sapi perah. Ketiga, mengurangi ketergantungan kebutuhan susu dari susu impor.
Langkah untuk revolusi putih tersebut dilakukan dengan memberdayakan modal dasar yang telah ada. Modal dasar yang ada antara lain :
- Populasi sapi perah yang jumlahnya sekitar 300 ribu ekor dengan potensi genetik yang bagus.
- Jumlah peternak sapi perah yang berpengalaman yang jumlahnya mencapai 100 ribu orang.
- Adanya wadah bagi peternak baik yang berbentuk badan usaha koperasi ataupun kelompok peternak.
- Komitmen dan peran institusi Pemerintah untuk menjalankan peran masing-masing menunjang revolusi putih.
- Adanya peluang-peluang termasuk antara lain masih terbatasnya produksi susu segar dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan susu nasional.
9. Untuk mewujudkan revolusi tersebut, pendekatan berupa grand strategy yang perlu dilakukan adalah :
Pertama, menyamakan persepsi tentang revolusi putih dari seluruh pemangku kepentingan atas dimensi, peran, serta tujuan revolusi putih.
Kedua, gerakan revolusi putih harus menjadi suatu keputusan politik dari pemerintah (termasuk lembaga legislatif) dengan segala konsekuensinya.
Ketiga, memberdayakan secara optimal semua modal dasar untuk mewujudkan revolusi putih .
Keempat, perlu disusun suatu konsep yang komprehensif yang dapat menjadi acuan bagi pihak yang bersangkutan sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.
Kelima, pemenuhan kebutuhan susu dalam rangka mencegah terjadinya lost generation di kalangan masyarakat bawah menjadi suatu prioritas.
Keenam, membangun/membentuk institusi berskala nasional yang terdiri dari berbagai unsur baik pemerintah maupun non pemerintah dan berperan dalam menyusun rancangan kebijakan dan sekaligus sebagai dirigen untuk menunjang kerberhasilan revolusi putih.
Keenam, memperjuangkan sumber pendanaan baik berupa kredit (dengan tingkat bunga yang sesuai dengan feasibilitas) dan dana penunjang lainnya sesuai dengan tahapan kebutuhan.
10. Secara lebih teknis, dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan peternak sapi perah, yang sebagian terbesar adalah peternak kecil dengan berbagai keterbatasan yang mereka miliki, antara lain dengan pendekatan :
Pertama, meningkatkan efisiensi usaha peternak melalui :
- Meningkatkan skala usaha peternakan sapi perah yang mereka miliki pada tingkat ideal sebagai suatu usaha keluarga dan dapat menjadi sumber pendapatan.
- Meningkatkan kemampuan teknis para peternak agar potensi genetis yang ada dalam sapi yang mereka miliki dapat dioptimalisasi.
Kedua, mendorong peternak sapi perah untuk melakukan sinergi dalam organisasi yang mempunyai legitimasi yang kuat untuk mengembangkan usaha.
Ketiga, mengoptimalkan wadah koperasi susu yang sudah ada dimana peternak berada, baik koperasi primer maupun sekunder, antara lain :
- Melakukan efisiensi secara optimal dan membangun unggulan di setiap segmen kegiatan agribisnis sapi perah.Termasuk dalam hal ini dalam melakukan diversifikasi usaha dengan mengupayakan adanya nilai tambah atas susu segar yang dihasilkan anggotanya antara lain dengan pemasaran langsung ke konsumen dalam berbagai bentuk produk susu seperti susu pasteurisasi, yoghurt, dsb. (kita melihat hal ini sudah banyak dilakukan tetapi belum pada tingkat maksimal).
- Maksimalisasi efisiensi dalam segala bentuk pelayanan kepada anggota baik dalam rangka peningkatan produksi, pemasaran susu , peningkatan kualitas susu maupun pelayanan penunjang lainnya sepeti produksi pakan, pelayanan insmeinasi buatan, dsb.
- Perjuangan untuk melakukan pendekatan dengan IPS sebagai pasar utama agar selalu dilakukan penyesuaian harga susu selaras dengan perkembangan harga pasar, dan tercipta suatu kemitraan yang benar-benar saling menguntungkan dan membutuhkan.
- Penyediaan complete feed yang berkualitas bagi anggotanya secara kontinyu sebagai salah satu kegiatan di segmen penyediaan farm input.
Keempat, mendorong dan memberikan ketrampilan peternak untuk memanfaatkan berbagai peluang yang timbul dari usaha peternakan yang mereka miliki antara lain :
11. Secara garis besar model pengembangan usaha agribisnis sapi perah untuk meningkatkan pendapatan peternak bertumpu pada unsur : Pertama, efisiensi di setiap segmen kegiatan agribisnis (hulu, penyediaan farm input sampai dengan pengolahan/pemasaran ). Kedua, membangun unggulan pada setiap kegiatan di setiap segmen agribisnis. Ketiga, adanya sinergi melalui suatu institusi yang memiliki legalitas yang jelas dalam menjalankan aktivitasnya.
- Memproduksi pupuk kandang berkualitas dengan penggunaan bioteknologi.
- Mengembangkan usaha pemeliharaan pedet secara lebih baik dalam rangka penyiapan induk-induk pengganti.
- Melakukan pemasaran ke konsumen langsung dengan membangun kepercayaan konsumen.
12. Dalam konteks mengembangkan usaha peternakan sapi perah rakyat dan mengatasi permasalahan yang mereka hadapi tampaknya belum dapat sepenuhnya diserahkan kepada kemampuan mereka sendiri. Masih dibutuhkan peran dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk memikirkan para peternak sapi perah agar mereka dapat hidup secara lebih layak melalui usaha yang mereka tekuni. Beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendorong usaha peternakan sapi perah rakyat oleh Pemerintah antara lain adalah :
- Berbagai institusi yang terkait di pemerintah harus memiliki persepsi yang sama tentang peran dan pentingnya pengembangan peternakan sapi perah rakyat di tanah air ini antara lain sebagai instrumen untuk penyediaan lapangan kerja, mengurangi impor susu, mencerdaskan anak bangsa, dsb.
- Pemerintah harus secara konsekuen mengalokasikan dana yang cukup agar peternak dapat memperoleh kesempatan meningkatkan skala pemilikan sapi mereka. Subsidi bunga dapat menjadi salah satu alternatif.
- Pemerintah harus secara terus menerus dan intensif melakukan program untuk mendorong kesadaran minum susu segar.
- Pemerintah perlu meningkatkan pelayanan teknis terutama pelayanan untuk mengatasi masalah penyakit mastitis dan penyakit hewan lainnya.
- Pemerintah perlu melakukan upaya untuk mempercepat peningkatan populasi sapi perah di tanah air baik dengan potensi populasi yang ada ataupun dengan impor bibit sapi.
- Membantu organisasi koperasi atau kelompok tani dalam penyediaan peralatan yang dapat membantu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas susu antara lain mesin pemerah susu yang portable, peralatan penanganan susu dan peralatan untuk pendinginan susu. Untuk mengurangi jumlah bakteri dalam susu.
- Daerah luar Jawa harus mendapatkan perhatian untuk pengembangan usaha paternakan sapi perah khususnya selain dalam rangka penyediaan susu segar bagi masyarakat juga sekaligus memberdayakan potensi yang ada termasuk pemberdayaan SDM. Pola pengembangan di luar Jawa harus digunakan pendekatan secara terpadu mulai hulu sampai hilir dalam skala yang sesuai dengan perkiraan kemampuan pasar. Pada tahap awal dan jangka waktu tertentu pemerintah daerah harus mengalokasikan dana untuk menyerap susu segar yang telah diolah dan siap diminum dengan tingkat harga yang layak.
- Harus ada kesamaan tekad dan persepsi dari lembaga legislatif yang dimanifestasikan dalam dukungan dan keputusan politik. Keputusan dan dukungan politik harus tercermin dalam bentuk dukungan anggaran dalam APBN serta berbagai peraturan perundangan yang mengarah pada terciptanya iklim yang kondusif.
13. Kita yakin bahwa masa depan usaha peternakan sapi perah di tanah air akan sangat cerah. Peluang yang tersebut diatas dapat menjadi pegangan kita untuk melangkah dengan pasti menyongsong masa depan usaha peternakan sapi perah. Bahkan peluang yang ada dalam usaha peternakan sapi perah ke depan ini tidak lagi menjadi lahan bagi peternak kecil dengan skala yang kecil dan pendekatan usaha tani, tetapi akan pula dimanfaatkan pemodal besar. Oleh karena itu upaya dari semua pihak, terutama Pemerintah, untuk mendorong usaha peternakan sapi perah rakyat dalam kerangka revolusi putih ini sangat dibutuhkan.
(Catatan : Artikel ini adalah bahan paparan acara persusuan yang diselenggarakan oleh
Ditjen P2HP di Solo tgl 9 Agutus 2007. Pemakalah sebagai Sekjen PPSKI )
| No. | Institusi | Peran dan pemberdayaannya |
| 1 | Ditjen Peternakan |
|
| 2 | Ditjen BP2HP, Deptan |
|
| 3 | Departemen perindustrian |
|
| 4 | Ditjen Perdagangan Dalam Negeri, Dep. Perdagangan |
|
| 5 | Departemen Kesehatan |
|
| 6 | Badan POM |
|
| 7 | Kantor Meneg. Koperasi |
|
| 8 | Departemen Sosial |
|
| 9 | Departemen Pendidikan |
|
| 10 | Menko Kesra |
|
| 11 | Pemerintah Daerah |
|
| 12 | GKSI dan Koperasi primer anggotanya |
|
| 13 | Organisasi Artis (mis. Parfi) |
|
| 14 | Media Massa |
|
| 15 | Badan atau lembaga internasional (seperti WHO, Unicef, USAID, FAO, dsb.) |
|
Sumber:
Peningkatan Daya Saing Persusuan Nasional Melalui Revolusi Putih
Saturday, February 21, 2009
Kambing PE, Kambing Perah Indonesia
Menurut Balitnak Kambing PE adalah kambing Persilangan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawah (Jamnapari), dengan proporsi genotipe yang tidak jelas. Potensi Produksinya cukup tinggi. Dengan ciri khas bentuk muka cembung, telinga menggantung dengan Postur Tinggi, Panjang dan agak ramping.
Kinerja Produksi
• Pada program perkawinan setiap 8 bulan (3 kali beranak dalam 2 tahun), kambing ini sebaiknya di perah (laktasi selama 5- 6 bulan dengan masa kering selama 2-3 bulan (Gambar 1)
• Pakan : rumput dan atau ramban (daun-daunan segar) dan pakan konsentrat (0,5-1,0) kg/ekor/hari. Air hendaknya selalu tersedia secara bebas
Produksi susu :
• Lama laktasi (bulan) : 7-10 bulan
• Produksi susu (liter/hari) :1,0-1,5 liter
Komposisi susu :
• Air (%) : 83-87
• Protein(%) : 3,3-3,9
• Lemak susu(%) : 4-7
• Ca(%) : 0,129
• P (%) : 0,106
Produksi anak
• Berat lahir (kg) :3-4,5
• Jumlah anak sekelahiran (ekor) :1-3
• Berat sapih (kg) :13-15 ekor
Keunggulan susu kambing
• Persentase butir-butir lemak dengan diameter kecil cukup tinggi (82,7 %)
• 20 % asam lemak susu kambing termasuk asam lemak dengan rantai pendek dan sedang (4-12 karbon) sehingga mudah dan cepat dicerna
• Sangat baik diberikan untuk orang yang mengalami gangguan pencernaan kalau mekonsumsi susu sapi
Prospek pengembangan
• Dapat dikembangkan hampir disemua kondisi agroekosistem di Indonesia
• Pemeliharaanya mudah, dan memerlukan modal relatif kecil
• Membantu program peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat di pedesaan melalui konsumsi susu kambing tanpa harus mengorbankan ternaknya sebagai ternak bibit
• Merupakan sumber pertumbuhan baru sub sektor peternakan
Sumber : Balitnak yang diketik ulang dan ditambah oleh Pengelola
STRATEGI PEMBERIAN PAKAN INDUK KAMBING PERAH
SEDANG LAKTASI DARI SUDUT NERACA ENERGI
Oleh :
AFTON ATABANY
PTK D061020021
E-mail: bpp3560@bogor.wasantara.net.id
Latar Belakang
Ternak perah adalah ternak yang dapat memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat mempertahankan produksi susu sampai jangka waktu tertentu walaupun anaknya sudah disapih atau lepas susu. Jenis ternak perah yang ada antara lain sapi perah, kambing perah dan kerbau perah. Ternak perah diperlihara khusus untuk diproduksi susunya.
Produksi susu nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi nasional. Dengan demikian impor susu dan produk susu tetap dilaksanakan. Proyeksi produksi susu, konsumsi susu dan impor susu akan terus meningkat, sehingga perlu peningkatan populasi dan efisiensi produksi susu serta diversifikasi ternak perah. Pemeliharaan kambing perah merupakan salah satu alternative upaya diversifikasi ternak perah dan peningkatan produksi susu.
Efisiensi produksi susu berhubungan dengan efisiensi pemberian pakan dan produksi susu. Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan termasuk managemen dan pemberian pakan. Metode yang umum ditempuh untuk meningkatkan produksi susu adalah melalui perbaikan managemen dan pemberian pakan yang terutama bertujuan untuk meningkatkan aliran substrat di dalam darah (prokursor susu) menuju kelenjar ambing. Pada kambing aliran darah mammae atau ambing meningkat 100-250% dalam 6 hari setelah beranak (post partum) dan peningkatan aliran darah tersebut berhubungan dengan penurunan aliran darah ke uterus. Produksi susu akan meningkat apabila peningkatan aliran substrat tersebut akan diikuti dengan peningkatan sel-sel sekretoris kelenjar ambing. Terjadi kenaikan produksi sel sekretoris secara gradual yang diikuti oleh peningkatan menyolok sel sekretoris 20 hari sebelum beranak (partus).
Bangsa kambing perah yang didatangkan dari daerah beriklim sejuk rentan sekali terhadap cekaman panas. Untuk itu tata laksana pemeliharaan dan pemberian pakan harus diperhatikan guna menekan sekecil mungkin pengaruh cekaman panas tersebut. Rendahnya bobot tubuh ternak perah di Indonesia mungkin merupakan hasil akhir adaptasi terhadap lingkungan yang lembab dan tropis.
Bobot tubuh ternak perah berkolerasi positif dengan produksi susu dan volume ambing sangat berkolerasi dengan produksi susu. Ternak yang lambat dewasa dengan kurva pertumbuhan mendatar cenderung menghasilkan susu lebih banyak dibandingkan ternak yang tumbuh lebih cepat. Ternak perah mempunyai bobot badan lebih rendah daripada ternak pedaging.
Produksi susu yang tinggi pada induk sedang laktasi selama bulan pertama berpengaruh terhadap bobot tubuh induk dan dapat mengakibatkan penurunan bobot tubuh selama bulan pertama setelah melahirkan (berkisar antara 15-16 %). Penurunan bobot tubuh ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya nutrisi induk selama sebelum dan sesudah beranak, musim beranak dan cara pemeliharaan. Akan tetapi faktor cekamam laktasi belum jelas. Kehilangan bobot tubuh selama laktasi sepenuhnya normal sehingga diperlukan energi tersedia yang tinggi untuk produksi susu tanpa menyebabkan beban berlebihan pada sisitem pencernaan. Perlunya tata laksana pemberian pakan yang baik pada saat bunting dan laktasi agar tersedia cadangan yang cukup pada waktu beranak dan mencegah kehilangan bobot tubuh yang berlebihan selama laktasi.
Sekresi susu naik cepat sesudah beranak dan akan lebih banyak pada kambing perah yang beranak lebih dari satu anak. Jumlah susu yang disekresi per hari akan naik untuk 2-4 minggu sesudah beranak dan banyak faktor yang mempengaruhi lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh produksi maksimum. Peningkatan produksi susu yang tidak diimbangi oleh peningkatan konsumsi pakan pada awal laktasi mengakibatkan ternak akan memobilisasi cadangan nutrisi tubuhnya sehingga terjadi penyusutan bobot tubuh selama laktasi untuk produksi susu. Faktor-faktor lain mempengaruhi tinggi rendahnya produksi susu pada ternak adalah ukuran dan bobot badan induk, umur, ukuran dan pertautan ambing, pertumbuhan, jumlah anak lahir per kelahiran dan suhu lingkungan.
Produksi susu
Produksi susu yang tinggi diinginkan untuk anak-anaknya dan kelebihannya untuk konsumsi manusia. Masa laktasi yang lama dan berkelanjutan setelah anaknya disapih penting bagi ternak perah. Musim beranak, jumlah laktasi dan umur pertama kali beranak mempengaruhi produksi susu. Ternak yang beranak dari bulan Januari sampai Juni menghasilkan susu lebih banyak daripada yang beranak bulan-bulan lainnya.
Bangsa kambing dan jumlah laktasi berpengaruh terhadap produksi susu. Produksi susu maksimum tercapai pada umur 4 - 5 tahun atau pada laktasi ketiga dan tidak menurun drastis selama tiga tahun berikutnya dimana dianggap hampir semua bangsa kambing berbiak sekali dalam setahun. Susu yang dihasilkan setiap hari akan meningkat sejak induk beranak kemudian produksi akan menurun secara berangsur angsur hingga berakhirnya masa laktasi. Puncak produksi susu akan dicapai pada hari 21-49 setelah beranak. Produksi susu kambing berkisar 1-3 kg per ekor per hari tergantung bangsa kambing, masa laktasi, suhu lingkungan, pakan, jumlah anak perkelahiran dan tatalaksana pemeliharaan.
Jumlah pemerahan setiap hari berpengaruh terhadap produksi susu. Pemerahan dua kali sehari produksi susu meningkat 40 % daripada pemerahan satu kali, pemerahan tiga kali lebih tinggi 5-20 % daripada dua kali dan pemerahan empat kali lebih tinggi 5-10% daripada pemerahan tiga kali. Adalah hal yang biasa bahwa kambing betina dengan berat 55 kg akan memproduksi lebih dari 200 kg susu dalam sekali laktasi yang lama laktasi 305 hari.
Besarnya produksi susu yang dihasilkan selama masa laktasi dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya pertumbuhan dan perkembangan sel-sel sekretoris kelenjar ambing selama kebuntingan, ketersediaan zat-zat makanan (substrat) sebagai bahan untuk sintesa susu dan laju penyusutan sel-sel sekretoris selama laktasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa sintesa susu melalui dua jalur yaitu filtrasi dan sintesis. Kecepatan sintesis dan filtrasi susu tergantung dari konsentrasi precursor di dalam darah yang merupakan ekspresi dari kuantitas dan kualitas suplai pakan.
Energi produksi susu diperoleh dari energi yang berasal dari lemak susu, laktosa susu (karbohidrat) dan protein susu. Berdasarkan bahan kering susu pada sapi, energi produksi susu 48% dari lemak susu, 26% dari protein susu dan 26% dari karbohidrat susu. Pada kambing energi susu 50% dari lemak susu, 22% dari protein susu dan 27% dari karbohidrat susu. Besarnya energi produksi susu (Gross Energi) pada kambing perah sekitar 3200-3500 kalori tergantung bangsa kambing, pakan dan tata laksana pemeliharaan.
Konsumsi Pakan
Kambing merupakan jenis ruminansia yang lebih efisien daripada domba dan sapi. Kambing dapat mengkonsumsi bahan kering yang relatif lebih banyak untuk ukuran tubuhnya yaitu 5-7%. Kambing juga lebih efisien dalam mencerna pakan yang mengandung serat kasar dibandingkan dengan sapi dan domba. Juga dilaporkan bahwa kambing mampu mengkonsumsi pakan yang tidak biasa dikonsumsi oleh hewan lain.
Pakan utama kambing adalah tunas-tunas semak, ranting dan gulma dan kambing sangat efisien dalam mengubah pakan berkualitas rendah menjadi produk yang bernilai tinggi. Kambing merupakan pemakan yang lahap dengan pakan yang beragam dari tanaman lunak dan semak sampai kulit pohon. Kambing yang mendapat tambahan konsentrat sebaiknya diberikan dalam bentuk kasar atau digiling kasar karena kambing tidak suka pakan yang digiling halus dan berdebu.
Tipe dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan. Kambing jantan yang tidak aktif dan induk kering dibedakan pakannya dengan induk laktasi dan kambing jantan aktif. Pemberian konsentrat diperlukan, akan tetapi jangan terlalu banyak karena akan menyebabkan kegemukan.
Seekor kambing dengan berat badan 40 kg dan berproduksi 2 liter per hari diberikan 5 kg hijauan dan 0.5-1.0 kg konsentrat. Kadang – kadang kambing sedang laktasi diberikan hijauan secara ad. Libitum dan konsentrat yang mengandung protein kasar 16% sebanyak 0.5 kg per ekor per hari. Persentase pakan hijauan dan konsentrat agar diperoleh ransum yang murah dan koefisien cerna yang tinggi digunakan perbandingan pakan hijauan 60% dan konsentrat 40%.
Konsumsi bahan kering kambing merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena kapasitas mengkonsumsi pakan secara aktif merupakan faktor pembatas yang mendasar dalam pemanfaatan pakan. Konsumsi bahan kering juga tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau bersamaan dengan konsentrat.
Kambing lokal (bangsa kambing pedaging dan kambing perah) di daerah tropis yang diberi makan sekenyangnya, mempunyai konsumsi bahan kering harian dalam kisaran 1.8-4.7% dari berat badan. Bila dibandingkan dengan sapi yang dapat mengkonsumsi bahan kering 2-3% dari berat badan, kambing mampu mengkonsumsi bahan kering relatih lebih banyak untuk ukuran tubuhnya. Kambing perah mengkonsumsi bahan kering hendaknya 5-7% dari berat badan akan tetapi kambing perah daerah sejuk yang hidup di daerah tropis mempunyai kisaran konsumsi bahan kering 2.8-4.9% dari berat badan. Kambing laktasi membutuhkan protein lebih banyak daripada kambing jantan dewasa dan induk kering. Kambing jantan aktif dan induk laktasi membutuhkan protein 15-18%.
Pakan yang diberikan terdiri atas pakan hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang diberikan jumlahnya sedikit dan umumnya habis dikonsumsi, sedangkan pakan hijauan yang diberikan tak habis dan yang dikonsumsi sekitar 50-70% dari pemberian. Kedua pakan tersebut diberikan minimal dua kali sehari. Hijauan segar yang dikonsumsi induk laktasi merupakan 10% dari berat hidup, sedangkan konsentrat 2% dari berat badan. Total pakan segar yang dapat dikonsumsi induk laktasi kambing perah adalah 8-10 kg per ekor per hari.
Kandungan zat-zat makanan yang diberikan pada kambing laktasi harus cukup memenuhi kebutuhan, baik hidup pokok maupun produksi susu. Ternak kambing perah yang laktasi dapat mengkonsumsi energi yang tersedia dalam pakan sekitar 5000-8000 kalori per gram pakannya, tergantung jenis ternak dan tat laksana pemeliharaan.
Hubungan Konsumsi Energi dan Produksi Susu
Untuk melakuakn semua aktivitas kehidupan diperlukan zat-zat makanan. Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi. Dalam menyusun ransum atau pakan yang penting diperhatikan adalah keseimbangan energi dan protein disamping nutrisi lainnya. Kekurangan energi akan dapat mengakibatkan protein tubuh dijadikan sebagai sumber energi.
Energi merupakan kunci utama untuk produksi susu. Kekurangan energi akan menurunkan produksi susu, walaupun nutrisi lain cukup. Jumlah energi dan protein selama bulan pertama laktasi dibutuhkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan akhir kebuntingan.
Substrat utama yang diekstraksi oleh kelenjar ambing adalah glukosa, asam-asam amino, asam-asam lemak, asam asetat, asam butirat dan mineral. Glukosa sebagai precursor laktosa dan asam-asam lemak dibutuhkan untuk sintesa lemak susu. Asam-asam amino essensial dan beberapa asam amino non essensial dibutuhkan untuk sintesa protein susu.
Untuk menganalisa hubungan konsumsi energi pakan dan produksi susu dalam energi dapat memperhatikan Gambar 1. Pada Gambar 1 terdapat grafik konsumsi energi, grafik produksi energi susu dan grafik Retensi Energi (RE) yang berasal dari konsumsi energi pakan.
Gambar 1. Grafik Keseimbangan Energi pada Induk Kambing Perah Laktasi.
Konsumsi energi pakan pada kambing perah laktasi dalam Gross Energi (GE), masuk ke dalam tubuh induk kambing akan menjadi Digestible Energi (DE) sekitar 70% dari GE dan 30% akan hilang dalam bentuk energi feses. Energi tersebut (DE) akan diserap oleh darah dan berubah menjadi Metabolite Energi (ME) sebanyak 50-60% dari GE dimana energi tersebut akan hilang dalam bentuk energi urine dan energi gas methan. ME akan menjadi Net Energi (NE) atau Retensi Energi (RE) sekitar 10-20% dari GE setelah kehilangan energi dalam bentuk produksi panas tubuh. Energi yang tersisa dalam bentuk NE atau RE tersebutlah yang akan digunakan untuk hidup pokok dan produksi, dimana untuk produksi pada kambing perah sedang laktasi berupa produksi susu.
Data produksi energi susu pada Gambar 1 sampai pada minggu ke 43 laktasi, sedangkan data konsumsi energi dan Retensi Energi (RE) hanya sampai minggu ke 13. Retensi Energi pada Gambar 1 tersebut merupakan 20% dari jumlah energi pakan yang dikonsumsi (Gross Energi).
Pada Gambar 1 tersebut diatas terlihat peningkatan konsumsi energi pakan mulai tampak setelah melewati minggu ke tiga laktasi. Selama tiga minggu laktasi pertama, selera makan dari induk yang baru beranak masih rendah. Setelah itu konsumsi pakan terus meningkat pesat dan mencapai puncaknya sekitar minggu ke 8 kemudian konsumsi pakan menurun. Hal ini disebabkan karena pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat sehingga diperlukan konsumsi pakan yang lebih tinggi dan sesudah minggu ke delapan penurunan produksi susu diikuti oleh penurunan konsumsi pakan.
Grafik energi susu lebih tinggi daripada grafik retensi.energi tetapi masih sedikit lebih rendah dari grafik konsumsi energi. Hal tersebut menunjukkan bahwa induk kambing perah yang sedang laktasi memproduksi energi susu lebih banyak dari pada energi yang diretensi. Berarti induk kambing perah akan menggunakan atau mengeluarkan cadangan energi tubuhnya untuk menutupi kekurangan dari energi yang diretensi tersebut. Akibatnya berat badan induk akan turun terutama pada saat puncak produksi susu.
Secara fisiologis induk yang baru beranak anak memproduksi susu untuk kebutuhan anaknya selama 3-4 bulan sampai anaknya disapih. Untuk ternak perah, masa memproduksi susu ditambah beberapa lama sampai nanti dikeringkan untuk persiapan laktasi berikutnya. Setelah produksi susu mencapai puncaknya harus diperhatikan laju penurunan produksi susu atau persistensinya sehingga tetap memproduksi susu dengan baik. Persistensi produksi susu mempunyai kaitan dengan perpanjangan masa hidup dan kemampuan perlambatan laju penyusutan sel-sel sekretoris kelenjar ambing.
Kehilangan berat badan dan kemampuan perlambatan laju penyusutan sel sekretoris berhubungan erat dengan tata laksana pemberian pakan sebelum beranak dan selama masa laktasi. Pemberian pakan yang baik secara kualitas dan kuantitas selama kebuntingan dan laktasi dapat memperlambat laju penyusutan sel sekretoris kelenjar ambing sehingga diharapkan dapat meningkatkan persistensi produksi susu.
Keseimbangan energi yang diretensi dan produksi susu dari Gambar 1 dapat diperkirakan terjadi pada minggu ke 20 atau pada bulan ke lima laktasi. Akan tetapi pada saat itu induk kambing sedang bunting dan tetap memerlukan energi yang cukup untuk pertumbuhan anaknya dan bahkan untuk memproduksi susu bila pada ternak perah. Pakan yang diberikan dan yang dikonsumsi harus baik, mengandung zat-zat makanan terutama energi yang tinggi sehingga laju penurunan berat badan dapat diperkecil. Pakan yang berkualitas baik tetap diberikan saat ternak dikering kandangkan (8 minggu sebelum beranak). Masa pengeringan diperlukan untuk memberi istirahat pada kelenjar ambing akan tetapi pada saat dikeringkan umumnya ternak sedang bunting dan pertumbuhan fetus sangat cepat.
Kambing yang sedang laktasi mampu mengkonsumsi pakan bahan kering 5-7 % dari berat badan atau 8-10 kg pakan segar per ekor per hari. Pemberian pakan harus diberikan minimal dua kali sehari untuk meningkatkan (intake) pakan karena kapasitas rumen pada kambing perah tersebut terbatas. Jadi tata laksana pemberian pakan induk kambing perah yang sedang laktasi merupakan faktor penting untuk meningkatkan konsumsi energi pakan agar tetap berproduksi susu tinggi dan dapat mempertahankan berat badannya.
Pakan yang diberikan pada induk kambing laktasi harus padat energi dan protein, mengandung bahan kering tinggi dan rendah serat kasar, karena keterbatasan kapasitas rumen dan mencegah penurunan berat badan yang cepat serta untuk memperlambat laju penyusutan sel sekretoris kelenjar ambing. Pakan tersebut merupakan pakan konsentrat dan berarti dari pemberian bahan keringnya, pakan konsentrat lebih tinggi daripada pakan hijauan. Persentase pemberian bahan kering pakan konsentrat dan pakan hijauan menjadi 60% untuk konsentrat dan 40% untuk hijauan. Hijauan tetap diberikan untuk memenuhi kebutuhan ternak akan serat kasar dan hijauan yang diberikan harus berkualitas baik.
Pemberian konsentrat yang tinggi menyebabkan biaya pakan akan lebih tinggi, untuk itu komponen pakan untuk pakan konsentrat harus yang murah, mudah diperoleh, mudah dicerna, kadar air rendah dan tidak bersaing dengan kepentingan konsumsi manusia. Permasalahan lainnya adalah pemberian konsentrat yang tinggi akan menimbulkan tingginya kadar asam-asam lemak terbang (VFA) terutama asam propionat di dalam darah sehingga akan menyebabkan asidosis. Asidosis adalah suatu fenomena dimana darah menjadi asam karena tingginya kadar asam lemak di dalam darah dan nantinya akan mengganggu metabolisme tubuh..
Konsentrat yang diberikan pada ternak sedang laktasi jangan sekaligus tetapi diberikan lebih dari dua kali pemberian setiap harinya, terutama pada saat puncak produksi. Jumlah konsentrat yang diberikan harus disesuaikan dengan tingkat produksi susu per ekor per hari sehingga tidak terjadi pemborosan biaya. Kualitas hijauan yang baik perlu diberikan pada ternak karena hiajauan yang berkualitas baik dapat mengurangi jumlah pemberian konsentrat.
Managemen atau tata laksana pemberian pakan pada saat induk kambing sedang laktasi perlu ditingkatkan. Harus ada pola pemberian pakan yang praktis dan efisien pada induk laktasi untuk mengatur jumlah pemberian pakan terutama konsentrat per ekor per hari yang disesuaikan dengan tingkat produksi susu per ekor per hari. Induk sedang laktasi dapat dikelompokkan sesuai dengan tingkat produksi susunya untuk memudahkan pemberian pakan.
Perlu juga diperhatikan jenis pakan yang diberikan karena ternak yang kita pelihara tersebut merupakan ternak rumunansia. Ternak ruminansia mempunyai 4 lambung dan di dalam lambung tersebut terutama di dalam rumen terjadi proses fermentasi. Proses fermentasi menggunakan mikroba anaerob, menghasilkan panas dan dapat menyebabkan kerusakan pakan terutama pakan konsentrat.
Pakan yang diberikan harus mudah di cerna dan efisiensinya tinggi sehingga dapat menekan energi yang hilang dalam bentuk energi panas, energi urine, energi gas metan dan panas tubuh. Tujuan menekan energi yang terbuang adalah untuk meningkatkan NE atau RE.
Penggunaan hormon sering dilakukan untuk menekan produksi panas tubuh dan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Hormon yang digunakan merupakan hormon yang berhubungan dengan hormon metabolisme tubuh misalnya hormon tiroksin dan hormon somatropin. Hormon metabolit tersebut sudah dapat disintesis dengan merek dagang tertentu dan dapat dicampurkan pada pakan konsentrat.
Kesimpulan
Induk kambing perah yang laktasi memerlukan perhatian yang lebih terutama tata laksana pemberian pakannya. Untuk memproduksi susu yang tinggi induk kambing perah akan mengeluarkan cadangan energi di dalam tubuhnya sehingga menyebabkan beret badannya akan turun. Pemberian pakan konsentrat harus ditingkatkan dengan pola pemberian yang baik untuk mempertahankan produksi susu dan untuk mengurangi laju penurunan berat badannya. Tata laksana pemberian pakan saat induk kambing dikeringkan perlu diperhatikan agar induk dapat mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa laktasi berikutnya. Perlu dibuat suatu pola pemberian pakan yang praktis dan efisien untuk induk laktasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan produksi susu per ekor per hari.
Daftar Pustaka
Atabany, A. 2001. Studi kasus produktivitas kambing Peranakan Etawah dan kambing Saanen pada peternakan kambing perah Barokah dan PT. Taurus Dairy Farm. Thesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Blaxter, K. 1989. Energi Metabolism in Animal and Man. Cambridge University Press. New York. USA.
Brody, S. 1945. Bioenergetics and Growth. Reinhold Publishing Corporation. New York. USA.
Devendra, C and M. Burns. 1983. Goat Production in the Tropic. Commonwealth Agric. Bereaux Fartham Royal. England.
Devendra, C. 1990. Goat. Ed. W.J.A. Payne. In. An Introduction to Animal Husbandry in the Tropics. Fourt Editon. John Willey and Sons. Inc. New York.
Ensminger, M.E. 1960. Animal Science. Fourth Edition. The Interstate Printersand Publishing, Inc. Danville, Illinois. USA.
Gall, C. 1981. Goat Production. Academic Press. London.
Hafez. E.S.E. 1980. Reproductionin Farm Animal. 4 th Ed. Lea and Febiger. Philadelphia.
Heald, C.W. 1985. Milk Collection. In: larson, B.L. 1985. Lactation. First Edition, The Iowa State University Press. USA.
Katipana, N.G.F. 1986. Neraca nitrogen dan energi pada kambing menyusui dan tidak menyusui yang mendapat ransum tambahan ubi kayu yang dimasak dengan urea. Thesis Magister Sains. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Mackenzie, D. 1980. Goat Husbandry. Faber and Faber. Ed. 4, 375. London.
Subhagiana, I.W. 1998. Keadaan konsentrasi progesterone dan estradiol selama kebuntingan, bobot lahir dan jumlah anak pada kambing Peranakan Etawah pada tingkat produksi yang berbeda. Thesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sutardi, T dan M. Djohari. 1979. Hubungan kondisi faali sapi laktasi dengan kebutuhan makanannya. Bull. Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB. Bogor, 5(4) : 179-207.
Gas Menipis, Batu Bara Dilirik
Jakarta – Menyusutnya persediaan gas alam cair membuat PT Badak Natural Gas Liquid (NGL) Kaltim menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
“Ketersediaan gas sudah makin tipis, tidak mungkin ditingkatkan lagi. Hanya kami tidak ingin senasib dengan PT Arun yang mengalami kemerosotan produksi secara tajam,” ungkap Yoga P Suprapto, Presiden Direktur PT. Badak NGL, kepada pers di Jakarta belum lama ini.
Maka satu-satunya solusi adalah dengan menggantikan energi produksi dari gas menjadi batubara muda. Upaya ini membutuhkan teknologi pengolahan batu bara yang dimiliki oleh BPPT di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi.
Menurut Kusmayanto Kadiman, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), jika sumber energi produksi diganti dengan batu bara, pemakaian gas alam cair dapat ditekan hingga 10 persen.
Peralihan energi di bidang produksi ini bukan saja dilakukan PT. Badak, melainkan juga sejumlah perusahaan seperti PLN dan Suralaya sejak krisis energi mulai terasa.
Selama ini PT. Badak telah menghasilkan gas alam cair dan metanol yang sebagian besar diekspor ke luar negeri. Produksi mereka per tahun 23 ton. Tapi seiring dengan menyusutnya stok, kini tinggal 18 juta ton per tahun.
Angka ini akan terus merosot sampai stok persediaan habis. Dengan persediaan gas alam cair sekarang, PT. Badak hanya dapat bertahan 15 tahun lagi. Usia itu dapat diperpanjang 3-5 tahun apabila mereka menggunakan batu bara sebagai bahan bakar produksinya. Alih teknologi ini membutuhkan setidaknya investasi 200-300 juta dolar AS.
Gas alam cair adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus.
Protein tanaman bisa meningkatkan produksi biofuel : Bagian 1
Oleh energiportal
Sabtu, April 28, 2007 09:40:46 Klik: 3
Dalam usahanya untuk mengurangi biaya produksi ethanol, para peneliti di Cornell telah menemukan enzim tanaman yang berpotensial menjadikan bahan-bahan tanaman digunakan untuk membuat ethanol secara lebih efisien dibandingkan dengan teknologi yang ada sekarang.
Banyak pendapat yang berkembang menyatakan bahwa ethanol yang berasal dari jagung tidak akan bisa menjadi alternatif untuk jangka panjang. Karenanya para ilmuwan beralih untuk melakukan penelitian pada selulose.
Produksi ethanol dari selulose dalam jumlah besar dengan harga yang kompetitif masih belum memungkinkan. Dan tanpa ethanol yang berasal dari selulose tersebut, sasaran nasional untuk produksi ethanol guna mengurangi import minyak akan sulit dicapai, demikian menurut para ahli.
Langkah yang paling sulit dalam produksi ethanol tersebut adalah mengurai dinding sel tanaman dan memfermentasikan gula yang didapat dari proses tersebut. Teknologi yang ada sekarang ini adalah dengan menggunakan cellulases enzim mikroba yang mencerna selulose. Mikroba tersebut mempunyai struktur yang menjadikannya sangat efisien untuk mengikat dan mencerna bahan dasar dinding sel tanaman yang merupakan kombinasi dari lignin dan selulose serta biasa disebut lignoselulose.
TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH BISA TEKAN KONSUMSI ENERGI
JAKARTA - Hasil kajian BPPT terhadap enam perusahaan manufaktur melalui pendekatan teknologi produksi bersih, ternyata mampu mengurangi konsumsi energi cukup signifikan sehingga menghemat biaya produksi. Ketua Tim Efisiensi Energi dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT Widiatmini Sih Winanti mengatakan implementasi sistem itu terbukti mampu menghemat konsumsi listrik, penggunaan batu bara, gas, bahan bakar minyak sekaligus juga mengurangi polusi lingkungan. "Kami berharap semua perusahaan manufaktur di berbagai sektor industri mulai menggunakan teknologi produksi bersih, selain demi penghematan energi nasional, juga untuk penghematan biaya produksi mereka sendiri" ujarnya. Sayangnya, dia enggan menyebutkan nama-nama perusahaan yang telah menerapkan Cleaner Production Technology (teknologi produksi bersih). Yang jelas enam perusahaan itu bermain di industri semen, kertas, dan pupuk. Cleaner Production Technology merupakan langkah audit produksi melalui pendekatan berjenjang dengan tahapan identifikasi permasalahan, rekomendasi, pengkajian, penerapan dan pemantauan. Dari kegiatan itu akan dihasilkan opsi perbaikan kinerja pabrik agar lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Pada tahap pengkajian, akan dilakukan berbagai perhitungan yang dilakukan meliputi investasi yang diperlukan untuk perbaikan, kelayakan teknis, penghematan energi, material, biaya, waktu pengembalian modal, keuntungan lingkungan dan pengurangan emisi karbondioksida. Widiatmini mencontohkan, pada pabrik semen, dengan nilai investasi Rp1,25 miliar untuk penambahan peralatan baru berupa kipas dan tempat pembakaran kapur/batubara (kiln), ternyata bisa dilakukan penghematan hingga Rp2,942 miliar per tahun, atau periode pengembalian lima bulan saja dan ditambah dengan penghematan listrik 40%. Padahal jika hanya dilakukan perbaikan kebocoran pada kiln dengan Rp35 juta bisa menghemat Rp1,1 miliar berupa pengurangan konsumsi batu bara. Sedangkan pada perusahaan baja, dengan menggunakan teknologi baru pemasangan sistem kontrol pada tungku pemanas yang hanya menelan investasi Rp75 juta bisa menghemat hingga Rp650,8 juta per tahun atau penghematan gas alam 1.112.877 Nm kubik per tahun. Selain itu, dengan memperbaiki kebocoran pada pipa dan steam trap yang membutuhkan investasi Rp31,5 juta bisa menghemat Rp165 juta per tahun atau berupa energi dari steam 5.445 giga Joyle per tahun. (rni) Sumber : Bisnis Indonesia (21/7/05) ***
Fermentasi
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari
Fermentasi sedang berlangsung
Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.
Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.
Daftar isi
[sembunyikan]
• 1 Sejarah
• 2 Reaksi
• 3 Sumber energi dalam kondisi anaerobik
• 4 Fermentasi makanan
• 5 Lihat pula
[sunting] Sejarah
Ahli Kimia Perancis, Louis Pasteur adalah seorang zymologist pertama ketika di tahun 1857 mengkaitkan ragi dengan fermentasi. Ia mendefinisikan fermentasi sebagai "respirasi (pernafasan) tanpa udara".
Pasteur melakukan penelitian secara hati-hati dan menyimpulkan, "Saya berpendapat bahwa fermentasi alkohol tidak terjadi tanpa adanya organisasi, pertumbuhan dan multiplikasi sel-sel secara simultan..... Jika ditanya, bagaimana proses kimia hingga mengakibatkan dekomposisi dari gula tersebut... Saya benar-benar tidak tahu".
Ahli kimia Jerman, Eduard Buchner, pemenang Nobel Kimia tahun 1907, berhasil menjelaskan bahwa fermentasi sebenarnya diakibatkan oleh sekeresi dari ragi yang ia sebut sebagai zymase.
Penelitian yang dilakukan ilmuan Carlsberg (sebuah perusahaan bir) di Denmark semakin meningkatkan pengetahuan tentang ragi dan brewing (cara pembuatan bir). Ilmuan Carlsberg tersebut dianggap sebagai pendorong dari berkembangnya biologi molekular.
[sunting] Reaksi
Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.
Persamaan Reaksi Kimia
C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol)
Dijabarkan sebagai
Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP)
Jalur biokimia yang terjadi, sebenarnya bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan.
[sunting] Sumber energi dalam kondisi anaerobik
Fermentasi diperkirakan menjadi cara untuk menghasilkan energi pada organisme purba sebelum oksigen berada pada konsentrasi tinggi di atmosfer seperti saat ini, sehingga fermentasi merupakan bentuk purba dari produksi energi sel.
Produk fermentasi mengandung energi kimia yang tidak teroksidasi penuh tetapi tidak dapat mengalami metabolisme lebih jauh tanpa oksigen atau akseptor elektron lainnya (yang lebih highly-oxidized) sehingga cenderung dianggap produk sampah (buangan). Konsekwensinya adalah bahwa produksi ATP dari fermentasi menjadi kurang effisien dibandingkan oxidative phosphorylation, di mana pirufat teroksidasi penuh menjadi karbon dioksida. Fermentasi menghasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa bila dibandingkan dengan 36 ATP yang dihasilkan respirasi aerobik.
"Glikolisis aerobik" adalah metode yang dilakukan oleh sel otot untuk memproduksi energi intensitas rendah selama periode di mana oksigen berlimpah. Pada keadaan rendah oksigen, makhluk bertulang belakang (vertebrata) menggunakan "glikolisis anaerobik" yang lebih cepat tetapi kurang effisisen untuk menghasilkan ATP. Kecepatan menghasilkan ATP-nya 100 kali lebih cepat daripada oxidative phosphorylation. Walaupun fermentasi sangat membantu dalam waktu pendek dan intensitas tinggi untuk bekerja, ia tidak dapat bertahan dalam jangka waktu lama pada organisme aerobik yang kompleks. Sebagai contoh, pada manusia, fermentasi asam laktat hanya mampu menyediakan energi selama 30 detik hingga 2 menit.
Tahap akhir dari fermentasi adalah konversi piruvat ke produk fermentasi akhir. Tahap ini tidak menghasilkan energi tetapi sangat penting bagi sel anaerobik karena tahap ini meregenerasi nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+), yang diperlukan untuk glikolisis. Ia diperlukan untuk fungsi sel normal karena glikolisis merupakan satu-satunya sumber ATP dalam kondisi anaerobik.
[sunting] Fermentasi makanan
Pembuatan tempe dan tape (juga peuyeum) adalah proses fermentasi yang sangat dikenal di Indonesia. Proses fermentasi menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berguna, mulai dari makanan sampai obat-obatan. Fermentasi yang sering dilakukan adalah proses tape, tempe, yoghurt, dan tahu.
Kambing Perah
Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawa (PE)anda juga bisa merujuk pada tulisan saya terdahulu tentang Beternak Kambing atau PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING atau BETERNAK KAMBING (RAISING GOATS RATHER) . Dalam budidaya ternak kambing yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
Related Posts by Categories
- KINI PERINGKAT PUPUK KANDANG NAIK
- Budidaya Ternak Sapi Perah (Lanjutan)
- Budidaya Ternak Sapi Perah (Cultivation Livestock dairy cow}
- PENGOBATAN TRADISIONAL PADA TERNAK KAMBING
- BETERNAK KAMBING (RAISING GOATS RATHER)
- 5 LANGKAH BASMI FLU BURUNG (5 WAY TO AVIAN INFLUENZA DESTROY)
- The Success Factors Discussions Livestock
- CHARACTERISTICS CHICKEN TIREN
- CIRI-CIRI AYAM TIREN
- TIPS MEMILIH DAGING YANG SEHAT
- PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KANDANG SAPI PERAH
- TEKNOLOGI PENGEMBANGAN PETERNAKAN AYAM RAS
- PEMASYARAKATAN PAKET TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH
- CSR, EKONOMI KREATIF DAN ENERGI ALTERNATIF Menuju Tanjabtim sebagai Negeri “Triple Sources of Energy”
- PEMBIBITAN SAPI BALI DI DESA LUBUK MANDARSAH KAB. TEBO
- INTEGRASI TERNAK - PERKEBUNAN DI PEMATANG SEPAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN DARI PTPN VI
- Beternak Kambing
- BIOSECURITY AND HANDLING MANAGEMENT OF LOCAL CHICKEN DISEASE
- Proses Desinfektan Dalam Menumpaskan Flu Burung
- BETERNAK AYAM BURAS
- Medication of Goat Livestock Disease Traditionally
- PENGOBATAN PENYAKIT TERNAK KAMBING SECARA TRADISIONAL
- ENDANGERED BREEDS OF POULTRY AND DUCKS
- Budidaya Sapi Potong dengan Pola Integrasi
