Showing posts with label Saper. Show all posts
Showing posts with label Saper. Show all posts

Thursday, August 27, 2009

Perencanaan Peternakan Sapi Perah

Oleh:
Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro

Susu merupakan bahan makanan asal ternak yang memiliki kandungan gizi tinggi. Hal ini mengakibatkan permintaan akan susu meningkat seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia setiap tahunnya. Saat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestik yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat (Purna, dkk. 2009). Selain itu, susu yang dihasilkan oleh peternak sapi perah Indonesia banyak yang tidak memenuhi standar IPS, sehingga banyak susu yang ditolak pabrik pengolahan susu. Tidak ada langkah lain selain membuang susu, dan hal ini tentu akan merugikan peternak Indonesia.



Sebagai generasi bangsa, setiap masyarakat Indonesia dituntut peran sertanya dalam pembangunan. Salah satu aspek penting dan vital bagi rakyat Indonesia adalah bidang pertanian, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bergerak dalam sektor pertanian, termasuk didalamnya subsektor peternakan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia adalah dengan banyak masyarakat yang membudidayakan peternakan sapi perah. Supaya peternakan sapi perah berjalan sesuai dengan tujuan yaitu memberikan produksi susu yang tinggi dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, maka diperlukan perencanaan yang matang sebelum memulai membudidayakan peternakan sapi perah.
Suatu usaha yang didasarkan pada rencana sebelumnya, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan usaha yang dilakukan tanpa ada rencana sebelumnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan sapi perah adalah sebagai berikut:

  1. Merintis Usaha
Sebelum memulai usaha kita harus menentukan titik awal atau latar belakang kita berusaha, apakah usaha kita merupakan pendirian usaha atau pengembangan usaha. Jika pendirian usaha, maka perencanaan akan dimulai dari awal, sedangkan jika pengembangan usaha, maka perencanaan usahanya merupakan perencanaan lanjutan. Persiapan dalam merintis usaha yaitu harus memperhatikan:

  1. Aspek Umum yang umumnya terdiri dari sosial, budaya, tanggapan masyarakat, dukungan pemerintah, dan lain-lain,

  2. Aspek Ekonomi, yaitu berkaitan dengan analisis usaha yang nantinya apakah usahanya akan menguntungkan atau sebaliknya memperoleh kerugian. Sehingga aspek ekonomi ini merupakan aspek yang vital dalam perencanaan usaha peternakan sapi perah,

  3. Aspek Teknis Operasional yaitu aspek yang terkait dengan teknis dan lingkungan. Tanpa adanya aspek ini, maka produksi tidak dapat dihasilkan. Untuk memperoleh usaha yang menguntungkan, maka harus dimulai dari aspek teknis yang baik dan berkualitas.

  1. Rencana Kerja Usaha
Rencana kerja disusun setelah ada ide merintis usaha. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam awal usaha yang dilakukan. Rencana kerja dapat dibagi kedalam lima bagian, yaitu:
      Maksud dan tujuan usaha
Usaha peternakan sapi perah dijalankan sebagai usaha produksi susu saja atau ditambah dengan usaha pembibitan sapi perah. Kejelasan maksud dan tujuan akan memudahkan dalam kelanjutan usaha kedepannya.
Ternak yang akan diusahakan
Ternak yang diusahakan akan menggunakan jenis ternak tertentu, kemudian jenis kelamin tertentu dan harus dipastikan jumlah awal ternaknya berapa banyak atau jika pengembangan maka penambahan ternaknya harus diperhatikan berapa banyak.
Kandang dan Gudang
Hal ini disesuaikan dengan rintisan usaha, apakah akan membuat bangunan awal atau membuat bangunan tambahan.
Pakan
Pakannya harus dipantau ketersediaannya, sehingga terjadi kontinyuitas penyediaan pakan. Maka ternak dapat tercukupi kebutuhan pakannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Pasar
Usaha ternaknya harus mempunyai pasar yang baik. Jika pasarnya kurang baik, meskipun produksinya tinggi dan baik maka susu atau pedet tidak dapat dijual dan hal ini akan menyebabkan kerugian pada usaha peternakan sapi perah.
Rencana Penggunaan Modal
Rencana penggunaan modal juga merupakan aspek yang memiliki peran vital dalam usaha, karena tanpa modal usaha hanya akan menjadi rencana saja dan tidak dapat diaplikasikan. Modal usaha yang harus dikeluarkan dalam menyusun rencana usaha peternakan sapi perah yaitu:
Investasi

  • Kandang

  • Gudang

  • Perumahan

  • Peralatan pemerahan

  • Peralatan teknis pemeliharaan
        Biaya Tetap

  • Sapi betina (Laktasi dan kering kandang)

  • Sapi jantan

  • Pedet betina

  • Pedet jantan
Biaya Operasional

  • Pakan (Hijauan dan konsentrat)

  • Gaji karyawan

  • Obat-obatan

  • Penyusutan bangunan dan peralatan

  • Listrik

  • Penyusutan kematian ternak (sekitar 4-5 %)

  • Pajak

  • Biaya lain-lain.       
Perkembangbiakan ideal sapi perah
Sebelum memulai usaha, peternak atau pengusaha harus mengetahui perkembangbiakan sapi perah. Beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Lama kebuntingan 9 bulan

  • Masa kering kandang 2 bulan

  • Siklus birahi 21 hari

  • Lama birahi 2 sampai 3 hari

  • Umur afkir induk atau pejantan 8 sampai 9 tahun

  • Pedet betina diberikan susu sampai umur 4 bulan

  • Pedet jantan diberikan susu sampai umur 2 bulan

  • Pedet jantan dapat dijual setelah umur 1,5 sampai 2 bulan (Nugroho, 2008).
Langkah yang perlu dilakukan setelah usaha peternakan sapi perah berjalan adalah dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana target yang direncanakan tercapai. Sehingga dapat mengambil langkah preventif sebaliknya pengembangan pada usaha peternakan sapi perah. Hal ini tentu akan membantu mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia akan impor susu. Siapa lagi yang akan membangun Indonesia jika bukan para penerus dan generasi bangsa.
 Sumber:
 Nugroho, C. P. 2008. Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 3. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan. Jakarta.
 Purna, I., Hamidi dan Elis. 2009. Permasalahan dan Kebijakan Pemerintah Di Sektor Perindustrian. www.setneg.go.id. Diakses 31 Mei 2009.



Sumber:
Usaha Sapi Perah « AGRIBISNIS PETERNAKAN

[+/-] Mau Baca Selengkapnya...

Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat « AGRIBISNIS PETERNAKAN

Priyono, S.Pt
Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman
Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro
Email: priyono.spt@gmail.com
Susu merupakan produk asal ternak yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan yang ada didalamnya seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dibutuhkan untuk pembentukan jaringan tubuh, sumber protein, energy dan aktivitas sel-sel dalam tubuh. Susu dapat dihasilkan dari ternak yang diperah. Saat ini, ternak yang dapat menghasilkan susu untuk dikonsumsi oleh manusia hampir semuanya berasal dari ternak sapi dan kambing perah. Susu dari sapi perah harganya lebih murah dan kuantitas dipasaran lebih banyak dibandingkan susu dari ternak kambing.


Industri Pengolahan Susu (IPS) supaya dapat memenuhi kebutuhan konsumen, harus memperoleh bahan baku susu segar dari industri peternakan. Industri peternakan di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu usaha peternakan rakyat dan usaha intensif untuk tujuan komersil. Industri peternakan dalam negeri saat ini hanya mampu memasok 30 % bahan baku susu segar untuk memenuhi permintaan IPS. Hal ini menunjukkan bahwa 70 % bahan baku susu segar masih harus diimpor. Dengan melihat kondisi ini, maka usaha ternak sapi perah harus ditingkatkan lagi populasi dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS.
Usaha peternakan rakyat merupakan usaha budidaya ternak yang dikelola oleh petani peternak di pedesaan dengan skala kepemilikan ternak kecil dengan rata-rata kepemilikan kurang dari 5 ekor. Hal tersebut sesuai dengan Priyono (2008) yang menyatakan bahwa skala kepemilikan peternakan rakyat ternak sapi potong antara 3-5 ekor per rumah tangga peternak. Usaha tani ternak sapi perah rakyat umumnya hanya dijadikan sambilan oleh para petani jika mereka sewaktu-waktu membutuhkan biaya yang cukup besar.
Untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan, maka harus lebih intensif dalam menjalankan usaha. Karena sebagian besar para peternak sapi perah merupakan skala usaha peternakan rakyat, maka difokuskan pada peningkatan skala usaha dari usaha ternak sapi perah yang dilakukan oleh para petani peternak di Pedesaan. Sebelum melakukan perluasan skala usaha maka dibutuhkan suatu kajian dan analisis mengenai usaha peternakan sapi perah rakyat. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efisiensi usaha dan pendapatan yang diperoleh petani peternak dengan jumlah ternak yang dimilikinya.
Analisis usaha tani ternak sapi perah dapat dilakukan dengan menganalisis usaha tani. Dalam analisis usaha tani perlu dicermati biaya-biaya yang diperhitungkan dan biaya yang tidak diperhitungkan. Contohnya sebagian besar petani tidak memperhitungkan tenaga dan pakan yang dapat diperoleh dari kebun sendiri. Oleh karena itu, dalam analisis usaha tani diperlukan analisis pendapatan. Soekartawi (1986) menyatakan bahwa pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.
Penerimaan diperoleh dari penjualan output hasil produksi. Output yang harus diperhitungan meliputi penjualan susu, penjualan pedet, penjualan limbah peternakan dan penjualan sapi perah afkir. Sedangkan input dibagi menjadi input biaya tetap dan input biaya variabel. Input biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan tanpa terpengaruh oleh volume faktor produksi dan input biaya variabel merupakan biaya yang terpengaruh oleh volume faktor produksi. Selain itu, investasi yang dikeluarkan juga harus diperhitungkan. Penyusutan investasi dimasukkan dalam biaya tetap. Penyusutan kandang dan peralatan dapat digunakan metode garis lurus (Emery et al., 1962). Investasi pada usaha tani ternak sapi perah seperti pembangunan kandang, peralatan dan pembelian sapi. Untuk mengetahui jumlah keuntungan yang diperoleh dengan investasi yang ditanamkan dapat digunakan analisis Return On Investment (ROI).
Analisis titik impas atau Break Event Point (BEP) dalam analisis usaha ternak sapi perah rakyat juga perlu dilakukan untuk mengetahui titik impas dimana semua biaya dapat tertutup oleh penerimaan. BEP adalah suatu keadaan yang menunjukkan bahwa suatu usaha tidak rugi dan tidak untung (Abdurrachman, 1963; Johannes et al., 1980). Dengan dilakukannya analisis usaha tani ternak sapi perah rakyat maka dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan perluasan skala usaha dengan melihat kemampuan dan sumberdaya yang ada. Oleh karena itu, pembangunan peternakan khususnya usaha ternak sapi perah perlu mendapat bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta dan investor.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrachman, A. A. 1963. Esiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, Inggris –Indonesia, Pradnya Paramita, Jakarta.
Johannes, H., Budiono, dan S. Handoko. 1980. Pengantar Matematika untuk Ekonomi. LP3ES, PT. Internusa, Jakarta.
Emery, N. C., H. B. Manning and J. S. Frederick. 1962. Farm Business Management. 2nd Edition The MacMillan Co., New York.
Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Banjarnegara. Skripsi. Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto.
Soekartawi. 1986. Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. K Press, Jakarta.

Sumber:
Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat « AGRIBISNIS PETERNAKAN

[+/-] Mau Baca Selengkapnya...

Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah

Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah
15 Juni 2007 · & Komentar

Setiap daerah tentu memiliki makanan khas daerah tersebut, Majalaya punya borondong, Ciwidey dengan Kalua Jeruk nya (manisan kulit jeruk Bali), tak terkecuali Pangalengan. Orang tentu telah mengenal permen susu atau sering disebut caramel hasil olahan para pengrajin di Pangelangan, selain itu teradapat juga kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, noga susu dll.

Semua itu tidak terlepas dari adanya peteranakan sapi perah di Pangalengan, peteranakan sapi di sana mempunyai sejarah yang cukup panjang, dari penuturan Haryoto Kunto (Kuncen Bandung), ada sejumlah pelarian perang Boer di Afrika Selatan yang datang ke daerah Bandung pada zaman Kolonial Belanda, mereka mendirikan usaha diberbagai sektor, diantaranya mendirikan Dennish Bank (sekaranng Bank Jabar), membuka perkebunan, dan peteranakan, salah satu nya di Pangalengan (Baca : Balai Agung di Kota Bandung-Haryoto Kunto).

Peternakan sapi didirikan untuk kepentingan gizi orang-orang Belanda. Orang Belanda memang suka minum susu. Saat itu peternakan sapi perah hanya dimiliki oleh orang Belanda. Para pribumi hanyalah pekerja. Di Pangalengan terdapat beberapa perusahaan besar, seperti De Friesche Terp (B. Vrijburg), Almanak, Van der Els, dan Big Man. Sedangkan di Lembang ada Baroe Adjak. Photo di samping diambil dari situs Kitlv.nl, merupakan photo kantor peternakan De Friesche Terp di Pangalengan sekitar tahun 1930, deskripsi nya adalah “ De Friesche Terp, melkveeboerderij te Pengalengan, opgericht door veearts B. Vrijburg“, hmm… ada yang tahu artinya :) , coba perhatikan benderanya, mirip dengan gambar yang terdapat pada kaleng susu bendera yang ada di pasaran sekarang ini. Jangan-jangan perusahan Fresland Flag yang ada di Belanda merupakan kelanjutan De Friesche Terp, boleh minta komentar kepada siapa saja yang tahu banyak tentang perusahaan ini.

Setelah Jepang masuk, perusahaan itu dengan sendirinya tidak beroperasi lagi. Sejumlah ternak sapi kemudian dipelihara oleh warga. Sebagian perusahan peteranakan itu di nasioanalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1959 dengan keluarnya PP 12/1959 tentang Penentuan Perusahaan Peternakan Milik Belanda Yang Dikenal Dengan Nasionalisasi.

Koperasi susu di Pangalengan adalah yang tertua di Jawa Barat. Tahun 1949 para peternak mendirikan koperasi bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip). Namun pada tahun 1961, Gappsip bubar karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Pada tahun 1969, dengan inisiatif pemerintah dan masyarakat, terbentuklah sebuah koperasi yang sekarang dikenal dengan nama KPBS (kompas.com) .

Para peteranak menjadi anggota dari koperasi tersebut, menjual susu yang mereka produksi ke koperasi untuk kemudian dijual kembali oleh KPBS ke pabrik pengolahan susu (perusahan Susu yang saya ketahui salah satu nya adalah PT. Ultra Jaya). Uang hasil penjualan susu tersebut tidak diberikan langsung setiap hari kepada peternak, tetapai diakumulasi yang kemudaian diberikan setiap awal bulan (semacan gajian). Bila ada yang berkesampatan ke Pangalengan setiap pukul 6:00 atau 14:00 akan terlihat aktivitas penyetoran susu hasil perahan yang dipikul oleh peternak menggunakan tong penampung susu (sering kali disebut Bess) diangkut ke tempat-tempat penampungan susu di seluruh area kerja KPBS (Komda).

Selain dijual, ada sebagian susu yang dijadikan makanan olahan, seperti Permen Susu, Kerupuk Susu, Tahu Susu dan Dodol susu, ”All about Milk”, daerah pemasarannya sudah memasuki kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Jangan lupa! sekembali dari Pangalengan mapirlah di kios oleh-oleh pengganan susu ini yang bisa ditemukan di sepanjang jalan dari Pangalengan menuju Banjaran.

Tulisan ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel Harian Pikiran Rakyat berjudul Siap-Siap Keju Pangalengan Datang, tentang sebuah ide untuk mengembangkan pembuatan keju dari susu sapi perah lokal Pangalengan. Ide tersebut baru sebuah wacana dengan tujuan untuk memperoleh nilai tambah bagi usaha produksi sapi perah. Terakhir saya ke Pangalengan, belum ada realisasi dari rencana tersebut. Mungkin baru diadakan persiapan matang, yang membutuhkan kerjasama yang solid antara Pemerintah daerah, KPBS, peternak dan Dinas Peterankan Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan terealisasi nya usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan produknya sendiri dapat dijadikan komoditas unggulan Pangalengan. Why Not, Semua itu perlu dicoba.

Pinggiran Jakarta Juni 2007

[+/-] Mau Baca Selengkapnya...

Thursday, August 20, 2009

Sari Husada

PemKab Sleman Resmikan Tiga Kandang Percontohan 02/07/09

Kaliurang, Jumat, 19 Juni 2009 –



Wakil Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, Msi., hari ini meresmikan Kandang Sapi Perah Percontohan yang merupakan bantuan yang diberikan oleh PT Sari Husada kepada tiga kelompok Peternak di Koperasi Peternak di wilayah Kaliurang, yakni Koperasi Warga Mulya, Sarono Makmur dan UPP Kaliurang.



Dalam sambutannya pada acara peresmian kandang percontohan tersebut, Sri Purnomo mengatakan,” Apa yang telah dilakukan oleh Sari Husada selama ini, khususnya dalam membantu meningkatkan pengetahuan tentang cara beternak sapi yang baik serta dalam memberikan fasilitas kepada para peternak merupakan wujud nyata kepedulian dunia usaha kepada peningkatan kesejahteraan peternak yang patut kita hargai.”

“Selaku pemerintah, kami selalu mendukung aktivitas pembangunan yang dijalankan dalam bentuk kemitraan strategis seperti yang telah diwujudkan oleh Sari Husada yang melibatkan konsultan-konsultan teknis dari Universitas Gajah Mada dalam membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak,” lanjut Sri Purnomo.

Selain memberikan berbagai bentuk fasilitas seperti kandang sapi, Sari Husada juga secara rutin memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para peternak tentang cara-cara beternak yang baik sehingga mampu menghasilkan kualitas susu segar yang baik, melalui program Peningkatan Mutu Susu.

Presiden Direktur PT Sari Husada, Budi Isman dalam sambutannya mengatakan,”Sejak tahun 1991, Sari Husada telah bekerja sama dengan para konsultan dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dan menjalankan program Peningkatan Mutu Susu yakni melalui pendampingan dan penyuluhan kepada para peternak sapi perah di wilayah Jawa Tengah dan DIY termasuk di Kaliurang untuk terus meningkatkan kualitas susu yang mereka hasilkan.”

“Program pembinaan merupakan program yang terintegrasi yakni selain memberikan penyuluhan dan bimbingan, kami juga memberikan bantuan berupa alat-alat yang memenuhi standar peternakan sapi perah yang baik, seperti milk can, coppers, lacto scan, dan lain-lain,” lanjut Budi Isman.

Bantuan kandang percontohan yang diresmikan hari ini juga dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak dan penerangan .

“Kami menerapkan kandang sapi perah yang terintegrasi dan ramah lingkungan yakni dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi tidak dibuang begitu saja melainkan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan untuk bahan bakar. Sedangkan limbah yang dihasilkan dari bio-digester dapat dipergunakan untuk pupuk bagi rumput yang selanjutnya digunakan untuk pakan ternak. Dengan demikian tidak ada yang terbuang sekaligus membantu mengurangi emisi gas karbon,” lanjut Budi Isman.

Selain memberikan bantuan berupa tiga kandang sapi percontohan untuk 3 koperasi tersebut, PT Sari Husada juga memberikan bantuan 100 unit milk can, 10 unit komputer kepada 10 koperasi peternak sapi perah di wilayah DIY dan Jawa Tengah serta menjalankan proyek pembuatan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan.

Sumber:
Sari Husada

[+/-] Mau Baca Selengkapnya...

Dikelola dan dikembangkan dari beberapa sumber. Powered by Blogger.