<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154</id><updated>2012-02-16T09:47:39.802-08:00</updated><category term='Lain-lain'/><category term='Yohgurt'/><category term='http://www.ristek.go.id'/><category term='mentega'/><category term='Download'/><category term='news'/><category term='Saper'/><category term='kesehatan'/><category term='yogurt'/><category term='olahan hasil'/><category term='Budidaya'/><category term='keju'/><category term='www.wawasandigital.com/'/><category term='kambing'/><category term='esai'/><title type='text'>Sapi Perah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3438038219069607151</id><published>2009-08-30T23:09:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T18:16:19.786-08:00</updated><title type='text'>BETERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWA PENGHASIL SUSU - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis</title><content type='html'>Pengembangan ternak kambing PE sebagai penghasil susu untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktifitasnya akan dapat membantu mengatasi masalah penyediaan susu dalam negeri, memenuhi kebutuhan nasional melalui program pemerintah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi susu segar dalam negeri baru memenuhi 25% dari kebutuhan nasional yang sentra produksinya masih terkonsentrasi di Pulau Jawa (70%) dari produksi dalam negeri. Produksi susu tersebut boleh dikatakan keseluruhan atau sebagian besar adalah dari ternak sapi perah, padahal susu bukan hanya dapat dihasilkan dari ternak sapi perah, tetapi juga dapat dihasilkan dari kambing perah yang pupulasinya di Indonesia cukup banyak yang masih dapat dikembangkan untuk meningkatkan populasi, produksi dan produktifitasnya melalui program pemerintah dengan meningkatkan peran para pemangku kepentingan khususnya penyuluh pertanian.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kambing perah di Indonesia yaitu kambing Peranakan Etawa (PE), merupakan keturunan kambing Etawa dari India, dibawa oleh Belanda pada jaman penjajahan, dikawinkan dengan kambing kacang dan berkembang sebagai kambing penghasil susu, sehingga bentuk tubuh, sifat dan ciri-cirinya berada di antara kambing Etawa dan kambing kacang, yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BIBIT DAN REPRODUKSI&lt;br /&gt;Kambing PE berbadan besar, berat badan betina kurang lebih 25 kg dan jantan kurang lebih 35 kg, tinggi gumba yang betina kurang lebih 60 cm dan yang jantan kurang lebih 70 cm. Jantan maupun betina memiliki tanduk pendek dan ramping. Kambing PE dapat menghasilkan anak antara 1–4 ekor per kelahiran atau rata-rata dua ekor. Waktu kawin kambing PE yang baik pada usia 15–18 bulan, karena pada waktu itu alat reproduksinya sudah berkembang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon induk dan pejantan dipilih berdasarkan catatan produksi. Calon induk yaitu: bobot lahir antara 1,8 - 2 kg; berat sapih antara 6-8 kg; berat umur satu tahun (yearling) antara 20 - 25 kg; pertambahan berat badan harian antara 80 - 120 g/ekor/hari, jumlah anak sekelahiran (litter size) 1,5-1,8 ekor/induk; umur antara 8-12 bulan; mempunyai efisiensi reproduksi yang baik; tubuh tegap, sehat, lincah, dan tidak cacat; tidak pernah terserang penyakit; bentuk ambing simetris, sedikit menggantung, dan puting susu normal (tidak bercabang); bentuk punggung lurus; dan bulu mengkilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon pejantan yaitu: umur antara 1,5-3 tahun; penampilan bagus dan tegap; memiliki catatan atau informasi produksi maupun reproduksi yang superior, yaitu berasal dari induk yang jumlah anak (litter size) 1,5 - 1,8 ekor/induk, pertambahan berat badan harian (80-120 g/ekor/hari), bentuk scrotum simetris dan mempunyai panjang lingkar 28-30 cm dan tidak nampak bekas abses permanen pada kulitnya, libido tinggi, motilitas sperma 90% dan progresif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewasa kelamin pada umur sekitar 10 bulan, kemudian dapat dikawinkan pada umur 10-12 bulan dengan berat badan sekitar 55 kg. Lama birahi sekitar 35 jam, siklus birahi berselang selama 3 minggu. Pada saat birahi merupakan saat yang tepat untuk dikawinkan, dengan tanda-tandanya yaitu: gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan diam bila dinaiki. Masa bunting sekitar 5 bulan, serta masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan. Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/beternak-kambing-peranakan-etawa-penghasil-susu-1251167909.htm"&gt;BETERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWA PENGHASIL SUSU - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3438038219069607151?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3438038219069607151/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3438038219069607151' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3438038219069607151'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3438038219069607151'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/beternak-kambing-peranakan-etawa.html' title='BETERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWA PENGHASIL SUSU - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5579961995123503831</id><published>2009-08-27T23:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T23:49:41.440-07:00</updated><title type='text'>Manajemen Sapi Perah Pada Peternakan Rakyat - 'WahiD' WeB</title><content type='html'>&lt;a href="http://drh-wahid.com/?p=142"&gt;Manajemen Sapi Perah Pada Peternakan Rakyat - &amp;#39;WahiD&amp;#39; WeB&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5579961995123503831?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://drh-wahid.com/?p=142' title='Manajemen Sapi Perah Pada Peternakan Rakyat - &apos;WahiD&apos; WeB'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5579961995123503831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5579961995123503831' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5579961995123503831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5579961995123503831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/manajemen-sapi-perah-pada-peternakan.html' title='Manajemen Sapi Perah Pada Peternakan Rakyat - &apos;WahiD&apos; WeB'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6375378235193511459</id><published>2009-08-27T23:34:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T20:47:54.398-08:00</updated><title type='text'>Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia</title><content type='html'>Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia&lt;br /&gt;Saturday, 03 January 2009 12:33 Last Updated on Tuesday, 20 January 2009 15:39 Written by Wawan Nazaruddin. SKH&lt;br /&gt;Oleh&lt;br /&gt;Wawan Nazaruddin. SKH&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Populasi sapi perah di Indonesia setiap tahun semakin meningkat, hal ini dipicu oleh kebijakan Uni Eropa dan beberapa negara penghasil susu yang mengurangi subsidi bagi usaha peternakan sapi perah, sehingga tidak ada insentif bagi peternak negara asing untuk mengembangkan usahanya. Kondisi ini menguntungkan bagi peternak sapi perah Indonesia karena akan terjadi peluang untuk meningkatkan posisi tawar kepada buyer susu dan industri pengolahan susu. Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Penyakit brucellosis merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi pada sapi perah dan merupakan penyakit yang penting karena dapat menimbulkan abortus dan tidak hanya itu penyakit brucellosis ini juga merupakan penyakit zoonosis yang dapat menular kemanusia dan menebabkan penyakit undulant. Kejadian brucellosis cenderung semakin meningkat baik dari segi jumlah (tingkat prevalensi / insidens reaktor) maupun dalam penyebarannya (distribusi). Hal ini tentu sangat mengancam pertumbuhan peternakan (sapi dan kerbau).&lt;br /&gt;Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui penyebab dan kerugian yang ditimbulkan oleh penyakit brucellosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TINJAUAN PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian penyakit brucellosis&lt;br /&gt;Penyakit brucellosis merupakan penyakit ternak yang menjadi problem nasional baik untuk kesehatan masyarakat maupun persoalan ekonomi peternak. Di Indonesia kecenderungan meningkatnya populasi dan lebih seringnya mutasi sapi perah menjadi penyebab utama meningkatnya kasus brucellosis. Oleh sebab itu di Indonesia penyakit brucellosis dimasukkan dalam daftar penyakit menular yang harus dicegah dan diberantas sejak tahun 1959.&lt;br /&gt;Di Indonesia, penyakit brucellosis dikenal pertama kali pada tahun 1935, ditemukan pada sapi perah di Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dan kuman Brucella Abortus berhasil diisolasi pada tahun 1938. Penyakit brucellosis sudah bersifat endemis di Indonesia dan kadang-kadang muncul sebagai epidemi pada banyak peternakan sapi perah di Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Putra, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etiologi&lt;br /&gt;Penyakit brucellosis, bangs disease atau penyakit abortus pada sapi disebabkan oleh Brucella Abortus (Gibbons, 1963). Secara morfologi, kuman Brucella. Spesies brucellosis yang lain diantaranya adalah Brucella suis dan Brucella meletensis juga dapat menyerang sapi, namun organisme tersebut biasanya hanya terbatas didalam system retikuloendotelial, serta tidak mengakibatkan gambaran penyakit yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Klasifikasi&lt;br /&gt;Kingdom :Bacteria&lt;br /&gt;Filum :Proteobacteria&lt;br /&gt;Class :Alphaproteobacteria&lt;br /&gt;Ordo :Rhizobiales&lt;br /&gt;Famili :Brucellaceae&lt;br /&gt;Genus :Brucella&lt;br /&gt;spesies :Brucella Abortus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brucella Abortus bersifat Gram negatif, tidak berspora, berbentuk kokobasilus (short rods) dengan panjang 0,6 - 1,5 μm, tidak berkapsul, tidak berflagella sehingga tidak bergerak (non motil). Dalam media biakan, koloni kuman brucella berbentuk seperti setetes madu bulat, halus, permukaannya cembung dan licin, mengkilap serta tembus cahaya dengan diameter 1 - 2 mm. Pada pengecatan Gram, kuman terlihat sendiri-sendiri, berpasangan atau membentuk rantai pendek.&lt;br /&gt;Secara biokimia, kuman Brucella dapat mereduksi nitrat, menghidrolisis urea, dan tidak membentuk sitrat tetapi membentuk H2S. Pertumbuhan bakteri memerlukan temperatur 20 - 40°C dengan penambahan karbondioksida (C02) 5 - 10% (Noor, 2006).&lt;br /&gt;Kuman brucella bersifat fakultatif intraseluler yaitu kuman mampu hidup dan berkembang biak dalam set fagosit, memiliki 5-guanosin monofosfat yang berfungsi menghambat efek bakterisidal dalam neutrofil, sehingga kuman mampu hidup dan berkembang biak di dalam set neutrofil. Strain B. abortus yang halus (smooth) pada LPS-nya mengandung komponen rantai 0-perosamin, merupakan antigen paling dominan yang dapat terdeteksi pada hewan maupun manusia yang terinfeksi brucellosis . Uji serologis standar brucellosis adalah spesifik untuk mendeteksi rantai 0-perosamin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sensitifitas Bakteri&lt;br /&gt;Bakteri brucella di luar tubuh induk semang dapat bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan dalam waktu tertentu. Kemampuan daya tahan hidup bakteri brucella pada tanah kering adalah selama 4 hari di luar suhu kamar, pada tanah yang lembab dapat bertahan hidup selama 66 hari dan pada tanah yang becek bertahan hidup selama 151 - 185 hari. Menurut SUDIBYO (1995), kuman brucella dapat bertahan hidup selama 2 hari dalam kotoran atau limbah kandang bagian bawah dengan suhu yang relative tinggi. Pada air minum ternak, kuman dapat bertahan selama 5 - 114 hari dan pada air limbah selama 30 - 150 hari (Noor, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penularan&lt;br /&gt;Cara penularan penyakit brucellosis yang paling banyak adalah melalui air susu atau pakan yang tercemar oleh selaput janin atau cairan yang keluar dari rahim yang terinfeksi. Penularan bakteri brucellosis ini melalui jilatan dari sapi sapi tersebut, kemudian bakteri brucellosis dapat memasuki tubuh melalui selaput lender konjungtiva atau melalui gesekan kulit yang sehat. Untuk terjadinya infeksi melalui konjungtiva diperlukan kurang lebih 1,5 juta bakteri brucella.&lt;br /&gt;Penularan dari pejantan yang terinfeksi brucellosis kepada induk betina dapat terjadi melalui kawin alami atau juga dapat melalui proses inseminasi buatan dilakukan lewat intra uterin dengan sperma yang mengandung brucellosis. Penularan penyakit brucellosis juga dapat terjadi melalui air susu induk yang diminum oleh pedet sapi, namun terjadinya infeksi melalui air susu tersebut sangat kecil sekali.&lt;br /&gt;Penularan kepada manusia dapat terjadi melalui saluran pencernaan, misalnya minum air susu yang tidak dimasak yang berasal dari ternak penderita brucellosis. Penularan melalui selaput lendir atau kulit yang luka, misalnya kontak langsung dengan janin atau plasenta (ari-ari/bali) dari sapi penderita brucellosis dapat juga menyebabkan penularan brucellosis pada manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patogenesis&lt;br /&gt;Permulaan infeksi brucellosis terjadi pada kelenjar limfe supramamaria. Pada uterus, lesi pertama terlihat pada jaringan ikat antara kelenjar uterus mengarah terjadinya endometritis ulseratif, kotiledon kemudian terinfeksi disertai terbentuknya eksudat pada lapisan allantokhorion. Brucella banyak terdapat pada vili khorion, karena terjadi penghancuran jaringan, seluruh vili akan rusak menyebabkan kematian fetus dan abortus. Jadi kematian fetus adalah gangguan fungsi plasenta disamping adanya endotoksin. Fetus biasanya tetap tinggal di uterus selama 24-72 jam setelah kematian. Selaput fetus menderita oedematous dengan lesi dan nekrosa. (Hardjopranjoto, 1995).&lt;br /&gt;Pada hewan jantan, infeksi akan diikuti oleh orkhitis yang kronis dan perlekatan antara tunika vaginalis testis, sel mani abnormal dan fibriosis yang kronis dari jaringan interstitial. Terjadi pengumpulan makrofag dan limfosit pada jaringan testis. Ampula dan vas deferent, terjadi nekrosa jaringan ikatnya. (Hardjopranjoto, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gejala klinis&lt;br /&gt;Gejala klinis dari penyakit brucellosis ini adalah abortus atau dimasyarakat dan peternak dikenal dengan nama keluron. Keguguran biasanya terjadi pada umur kebuntingan 6 sampai 9 bulan kebuntingan, selaput fetus yang yang diaborsikan terlihat oedema, hemoragi, nekrotik dan adanya eksudat kental serta adanya retensi plasenta, metritis dan keluar kotoran dari vagina (Anonim, 2008). Penyakit brucellosis ini juga menyebabkan perubahan didalam ambing. Lebih dari separo dari sapi-sapi yang titer aglutinasinya tinggi menunjukkan presentasi yang tinggi didalam ambingnya.&lt;br /&gt;Selain itu juga penyakit brucellosis ini menimbulkan lesi higromata terutama pada daerah sekitar lutut. Lesi ini terbentuk sebagai regangan sederhana atas bungkus sinovia pada persendian, yang berisi cairan yang jernih atau jonjot fibrin maupun nanah. Kemungkinan terjadinya higroma akibat adanya suatu trauma kemudian kuman kuman brucella yang berada didalam darah membentuk koloni didaerah persendian tersebut (Hardjopranjoto, 1995).&lt;br /&gt;Pada pejantan penyakit brucellosis dapat menyerang pada testis dan mengakibatkan orkhitis dan epididimitis serta gangguan pada kelenjar vesikula seminalis dan ampula. Brucellosis juga menyebabkan abses serta nekrosis pada buah pelir dan kelenjar kelamin tambahan. Sehingga semen yang diambil dari pejantan mungkin mengandung bakteri brucella abortus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanggulangan dan pencegahan brucellosis&lt;br /&gt;Pencegahan brucellosis pada sapi didasarkan pada tindakan higiene dan sanitasi, vaksin anak sapi dengan Strain 19 dan pengujian serta penyingkiran sapi reaktor. Tindakan higienik sangat penting dalam program pencegahan brucellosis pada suatu kelompok ternak. Sapi yang tertular sebaiknya dijual atau dipisahkan dari kelompoknya, kemudian fetus dan placenta yang digugurkan harus dikubur atau dibakar dan tempat yang terkontaminasi harus didesinfeksi dengan 4% larutan kresol atau desinfektan sejenis.&lt;br /&gt;Program vaksinasi dilakukan pada anak sapi umur 3-7 bulan dengan vaksin Brucella Strain 19. Tapi penggunaan Strain 19 harus hati-hati karena dapat menyebabkan brucellosis atau demam undulan pada manusia (Anonim, 2008).&lt;br /&gt;Metode pengendalian lainnya ialah vaksinasi dengan 45/20 terhadap semua ternak, uji serologik secara teratur dengan SAT atau BRT dan CFT, monitoring dengan MRT dan isolasi atau penyingkiran reaktor (Anonim, 2008). Pada umumnya di Indonesia prinsip pengendalian brucellosis adalah metode test and slaughter (uji dan potong) merupakan cara terakhir dalam program pemberantasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerugian yang ditimbulkan dari penyakit brucellosis&lt;br /&gt;Penyakit brucellosis dapat menyebabkan kerugian secara ekonomi pada peternak sapi perah dan merupakan penyakit ekonomi pada peternakan yang merisaukan bagi peternak. Hal ini disebabkan karena penyakit brucellosis dapat menulari semua betina yang telah dewasa kelamin dan menyebabkan abortus sampai mencapai 90% dari seluruh sapi betina dewasa tersebut. Sapi betina yang telah terinfeksi brucellosis dapat mengalami abortus 1-2 kali, kemudian akan terjadi kebuntingan normal kembali, namun kebanyakan sapi sapi perah yang terinfeksi tersebut sukar untuk bunting kembali dan mengalami kemajiran yang total, terutama pada sapi yang mengalami retensi sekundinae. Dan dalam beberapa tahun kemudian, gejala abortus menjadi umum dikawasan ternak tersebut disertai dengan angka konsepsi yang rendah, sapi-sapi dikawinkan berulang kali tidak terjadi kebuntingan. Hal ini menyebabkan biaya produksi perusahaan peternakan menjadi tinggi. (Hardjopranjoto, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit yang menyebabkan keguguran pada sapi perah disebabkan oleh bakteri brucellosis. Penyakit brucellosis ini menyebabkan keguguran pada trimester terakhir masa kebuntingan.&lt;br /&gt;Penyakit brucellosis menimbulkan kerugian secara ekonomi pada peternak karena selain menyebabkan abortus pada induk yang sedang bunting, penyakit ini juga dapat menyebabkan sapi yang terinfeksi mengalami kemajiran total. Selain itu juga sapi yang terinfeksi brucellosis, produksi susu turun akan turun drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tags: Brucellosis  sapi perah  penyebab brucellosis  kerugian brucellosis  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://koas.vet-klinik.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=48"&gt;Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6375378235193511459?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6375378235193511459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6375378235193511459' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6375378235193511459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6375378235193511459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/dampak-ekonomi-kejadian-brucellosis.html' title='Dampak ekonomi kejadian brucellosis pada sapi perah di Indonesia'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1910259472532651689</id><published>2009-08-27T23:31:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T20:56:56.821-08:00</updated><title type='text'>Manajemen Pengelolaan Sapi Perah | Website Dunia Veteriner</title><content type='html'>I. PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awal bulan mei 2009 ini, harga susu sapi ditingkat koperasi mengalami penurunan harga. Namun demikian, optimisme beternak sapi perah sekiranya tetap kita galakkan demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang cerdas karena peningkatan konsumsi susu. Sapi merupakan salah satu hewan ternak yang penting sebagai sumber protein hewani, selain kambing, domba dan ayam. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit (Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2005). Sapi berasal dari famili Bovidae, seperti halnya bison, banteng,&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt; kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemeliharaan sapi secara intensif mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni. Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia (Menteri Negara Riset dan Teknologi, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus. Di Indonesia, manajemen pemeliharaan biasanya terbagi atas pemeliharaan sapi perah dan sapi potong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengembangan usaha peternakan sapi perah di Indonesia (on farm) beserta industri pengolahannya (off farm) mengalami kemajuan pesat pada tahun 1980 sampai dengan 1990 namun pada tahun 1990 sampai dengan 1999 produksi susu segar relatif tetap. Jumlah susu segar yang diproduksi pertahunnya mencapai kurang lebih 330.000 ton. Produksi tersebut terbagi atas 49% berasal dari Jawa Timur, 36% dari Jawa Barat dan sisanya 15% dari Jawa Tengah. (1999). Dari segi perkembangan populasi sapi perah pada tahun 1970 sekitar 3000 ekor menjadi 193.000 ekor pada tahun 1985, dan menjadi 369.000 ekor pada tahun 1991. Kenaikan ini terjadi karena adanya impor sapi perah asal Australia dan New Zealand ( Achjadi, 2001). Pada tahun 1999 industri persusuan nasional hanya memproduksi ± 20% terhadap total kebutuhan industri pengolahan, sehingga sisanya masih sangat bergantung kepada bahan baku impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlangsung lama tanpa adanya upaya perbaikan pengelolaan sapi perah. Untuk memperbaiki keadaan ini dibutuhkan usaha yang keras dari segala komponen yang terkait, mulai dari peternak sampai dengan pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sistem peternakan sapi perah yang ada di Indonesia masih merupakan jenis peternakan rakyat yang hanya berskala kecil dan masih merujuk pada sistem pemeliharaan yang konvensional. Banyak permasalahan yang timbul seperti permasalahan pakan, reproduksi dan kasus klinik. Agar permasalahan tersebut dapat ditangani dengan baik, diperlukan adanya perubahan pendekatan dari pengobatan menjadi bentuk pencegahan dan dari pelayanan individu menjadi bentuk pelayanan kelompok. Keberhasilan usaha peternakan sapi perah sangat tergantung dari keterpaduan langkah terutama di bidang pembibitan (Breeding), pakan, (feeding), dan tata laksana (management). Ketiga bidang tersebut kelihatannya belum dapat dilaksanakan dengan baik. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan dan ketrampilan peternak serta masih melekatnya budaya pola berfikir jangka pendek tanpa memperhatikan kelangsungan usaha sapi perah jangka panjang. Oleh karena itu, dibutuhkan peningkatan pengetahuan dan pemahaman peternak tentang manajemen sapi perah yang baik sehingga akan berdampak pada peningkatan produksi dan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. MANAJEMEN PEMELIHARAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan hasil yang optimal, pola pemeliharaan sapi potong harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut :&lt;br /&gt;1. Penyiapan sarana dan peralatan tertutama perkandangan&lt;br /&gt;2. Pembibitan dan pemeliharaan bakalan/bibit&lt;br /&gt;3. Kesehatan dan sanitasi&lt;br /&gt;4. Manajemen pemberian makan&lt;br /&gt;5. administrasi serta perhitungan ekonomi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;br /&gt;Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjaga agar ternak nyaman sehingga dapat mencapai produksi yang optimal, yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Persyaratan secara umum :&lt;br /&gt;a. Ada sumber air atau sumur&lt;br /&gt;b. Ada gudang makanan atau rumput atau hijauan&lt;br /&gt;c. Jauh dari daerah hunian masyarakat&lt;br /&gt;d. Terdapat lahan untuk bangunan dengan luas yang memadai dan berventilasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Persyaratan secara khusus :&lt;br /&gt;a. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m atau 2,5 x 2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5 x 1 m per ekor, dengan tinggi atas ± 2-2,5 m dari tanah.&lt;br /&gt;b. Ukuran bak pakan : panjang x lebar = bersih 60 x 50 cm&lt;br /&gt;c. Ukuran bak minum : panjang x lebar = bersih 40 x 50 cm&lt;br /&gt;d. Tinggi bak pakan dan minum bagian dalam 40 cm (tidak melebihi tinggi persendian siku sapi) dan bagian luar 80 cm&lt;br /&gt;e. Tinggi penghalang kepala sapi 100 cm dari lantai kandang&lt;br /&gt;f. Lantai jangan terlalu licin dan terlalu kasar serta dibuat miring (bedakan ± 3 cm). Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.&lt;br /&gt;g. Selokan bagian dalam kandang untuk pembuangan kotoran, air kencing dan air bekas mandi sapi : Lebar (L) x Dalam selokan (D) = 35 x 15 cm&lt;br /&gt;h. Selokan bagian luar kandang untuk pembuangan bekas air cucian bak pakan dan minum : L x D = 10 x 15 cm&lt;br /&gt;i. Tinggi tiang kandang sekurang-kurangnya 200 cm dari lantai kandang&lt;br /&gt;j. Atap kandang dibuat dari genteng&lt;br /&gt;k. Letak kandang diusahakan lebih rendah dari sumber air dan lebih tinggi dari lokasi tanaman rumput. (Hasanudin, 1988). Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m). Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan&lt;br /&gt;kelembaban 75%.&lt;br /&gt;Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II.2 Pembibitan dan pemeliharaan bakalan/bibit&lt;br /&gt;Sapi perah yang cocok dipelihara di Indonesia adalah sapi Shorthorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda) dan Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis). Agar dapat memperoleh bibit sapi perah yang baik diperlukan adanya seleksi baik berdasarkan silsilah, bentuk luar atau antomis maupun berdasarkan jumlah produksi. Ciri-ciri sapi perah betina yang baik:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kepala panjang , sempit, halus, sedikit kurus dan tidak banyak berotot&lt;br /&gt;2. Leher panjang dan lebarnya sedang, besarnya gelambir sedadang dan lipatan-lipatan kulit leher halus&lt;br /&gt;3. Pinggang pendek dan lebar&lt;br /&gt;4. Gumba, punggung dan pinggang merupakan garis lurus yang panjang&lt;br /&gt;5. Kaki kuat, tidak pincang dan jarak antara paha lebar&lt;br /&gt;6. Badan berbentuk segitiga, tidak terlalu gemuk dan tulang-tulang agak menonjol (BCS umumnya 2)&lt;br /&gt;7. Dada lebar dan tulang -tulang rusuk panjang serta luas&lt;br /&gt;8. Ambing besar, luas, memanjang kedepan kearah perut dan melebar sampai diantara paha. Kondisi ambing lunak, elastis dan diantara keempat kuartir terdapat jeda yang cukup lebar. Dan saat sehabis diperah ambing akan terlimpat dan kempis, sedangkam sebelum diperah gembung dan besar.&lt;br /&gt;9. Produksi susu tinggi,&lt;br /&gt;10. Umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak,&lt;br /&gt;11. Berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,&lt;br /&gt;12. Tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan&lt;br /&gt;13. Tiap tahun beranak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. 3 Kesehatan&lt;br /&gt;Gangguan dan penyakit dapat mengenai ternak sehingga untuk membatasi kerugian ekonomi diperlukan control untuk menjaga kesehatan sapi menjadi sangat penting. Manjememen kesehatan yang baik sangat mempengaruhi kesehatan sapi perah. Gangguan kesehatan pada sapi perah terutama berupa gangguan klinis dan reproduksi. Gangguan reproduksi dapat berupa hipofungsi, retensi plasenta,kawin berulang, endometritis dan mastitis baik kilnis dan subklinis. Sedangkan gangguan klinis yang sering terjadi adalah gangguan metabolisme (ketosis, bloot, milk fever dan hipocalcemia), panaritium, enteritis, displasia abomasum dan pneumonia. Adanya gangguan penyakit pada sapi perah yang disertai dengan penurunan produksi dapat menyebabkan sapi dikeluarkan dari kandang atau culling. Culling pada suatu peternakan tidak boleh lebih dari 25, 3%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk pemeliharaan sapi dengan melihat body condition scoring, nilai BCS yang ideal adalah 3,5 (skala 1-5). Jika BCS lebih dari 4 dapat menyebabkan gangguan setelah melahirkan seperti mastitis, retensi plasenta, distokia, ketosis dan panaritium. Sedangkan kondisi tubuh yang kurus menyebabkan produksi susumenurun dengan kadar lemak yang rendah. Selain itu faktor-faktor yang perlu diperhatikan didalam kesehatan sapi perah adalah lingkungan yang baik, pemerahan yang rutin dan peralatan pemerahan yang baik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. 4 Manajemen pemberian makan&lt;br /&gt;Pakan sapi terdiri dari hijauan sebanyak 60% (Hijauan yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja, daun jagung, daun ubi dan daun kacang-kacangan) dan konsentrat (40%). Umumnya pakan diberikan dua kali perhari pada pagi dan sore hari. Konsentrat diberikan sebelum pemerahan sedangkan rumput diberikan setelah pemerahan. . Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian pakan pada sapi perah dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu system penggembalaan, system perkandangan atau intensif dan system kombinasi keduanya. Pemberian jumlah pakan berdasarkan periode sapi seperti anak sapi sampai sapi dara, periode bunting, periode kering kandang dan laktasi. Pada anak sapi pemberian konsentrat lebih tinggi daripada rumput. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan perhari.Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara intensif dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. 5 Administrasi serta perhitungan ekonomi&lt;br /&gt;Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih konvensional dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Sistem recording meliputi tanggal kelahiran, pencatatan asal usul sapi (pedigree), pencatatan reproduksi sapi seperti sapi kapan terakhir dikawinkan, terakhir melahirkan dan sapi yang terlambat kawin Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESIMPULAN DAN SARAN&lt;br /&gt;Dalam upaya pelaksanaan program manajemen kesehatan sapi perah dari segi kesehatan kelompok memerlukan perhatian, seperti kualitas sumber daya manusia yang baik dan peningkatan program pelayanan kepada peternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: dari berbagai sumber dan atas kebaikan drh.M. Wahiduddin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://duniaveteriner.com/2009/05/manajemen-pengelolaan-sapi-perah/"&gt;Manajemen Pengelolaan Sapi Perah | Website Dunia Veteriner&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1910259472532651689?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1910259472532651689/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1910259472532651689' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1910259472532651689'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1910259472532651689'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/manajemen-pengelolaan-sapi-perah.html' title='Manajemen Pengelolaan Sapi Perah | Website Dunia Veteriner'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1954259812006816215</id><published>2009-08-27T22:54:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T20:54:42.208-08:00</updated><title type='text'>Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah</title><content type='html'>Kondisi peternakan sapi perah di Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Populasi sapi perah pada tahun 2006 adalah 112.153 ekor, dengan produksi susu 78.231 ton serta jumlah peternak 28.400 orang (Laporan Tahunan Dinas Peternakan Prov. Jawa Tengah 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kualitas susu masih rendah dengan kadar lemak 2,91 %, SNF 7,69, TS 10,6, TPC &amp;lt; 5 juta. Rendahnya kualitas susu disebabkan karena rendahnya pemberian pakan konsentrat (kualitas dan kuantitas), hijauan, tata laksana / managemen pemeliharaan.  3. Harga susu di tingkat peternak Jawa Tengah pada saat ini telah mengalami peningkatkan dari harga Rp.1.450,-/lt  &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;menjadi Rp.1.600/lt – Rp.1.900,-/lt, bahkan di koperasi “Andini luhur” sudah mencapai harga Rp. 2.700 /lt, rata-rata Rp. 2.300,-/lt. Perbedaan harga ini tergantung dari kualitas susu yang dilihat dari kandungan TS (Total Solid) dan TPC ( Total Plate Count) / kandungan bakteri di dalam susu segar. Pada saat ini TS tertinggi yang telah dicapai peternak kabupaten Semarang adalah 13,28 dan TPC antara 1,02 jt /ml sampai 5 juta /ml susu. Bahkan ada susu dengan TPC hanya 390 rb/ml susu.&lt;br /&gt;Harga susu segar di Provinsi Jawa Tengah memang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga susu segar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, (Jawa Timur dan Jawa Barat harga susu segar rata-rata Rp.2.500,- Rp.3.500,-). Salah satu penyebab rendahnya harga susu di Jawa Tengah adalah kualitas susu yang masih rendah dan belum adanya IPS sendiri, sehingga untuk menuju ke IPS yang terletak di Jawa Barat/ Jawa Timur membutuhkan ongkos transportasi yang cukup mahal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;br /&gt;&lt;/small&gt;              &lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;img alt="" class="alignright" height="296" src="http://pranowoblog.co.cc/sapi-perah1.jpg" width="396" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;4. Produktivitas ternak rendah, rata-rata 7 – 9 liter/hari, hal ini disebabkan karena kualitas bibit yang rendah dan bibit sudah tua, kualitas pakan rendah, managemen yang tradisional, calving interval panjang &amp;gt; 18 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mata rantai tataniaga susu yang panjang, dari peternak ke loper (pengumpul), tempat penampungan sementara, Koperasi Unit Desa, GKSI dan terakhir ke IPS, sehingga mengakibatkan tingginya biaya pemasaran bagi peternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diversifikasi usaha produk olahan susu/pengolahan pasca panen persusuan belum berkembang di daerah sentra susu, dalam upaya meningkatkan nilai tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peran sektor swasta (investor) di bidang persusuan (IPS) masih sedikit sehingga susu harus dipasarkan ke luar Provinsi Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kabupaten /Kota yang berpotensi pengembangan sapi perah adalah Boyolali, Semarang, Salatiga, Klaten, Kota Semarang, Kab Magelang, Banyumas, Sukoharjo dan Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Jawa Tengah antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahun 2004 pemerintah Jepang melalui The Project for Dissemination of Appropriate Dairy Technology Utilizing Local Resources telah memberikan bantuan yang berupa teknologi bagi peternak sapi perah guna meningkatkan produksi dan produktivitas sapi perah di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan berupa Training of Trainer (TOT) untuk petugas dan peternak sapi perah di lokasi target area dan bantuan peralatan sesuai dengan kebutuhan peternak. Jumlah petugas dan peternak yang telah mengikuti TOT di Cikole sebanyak 53 orang. Berdasarkan hasil feasibility study oleh Tim JICA maka Kabupaten Semarang telah ditunjuk sebagai lokasi target area kegiatan yaitu Dusun Kemiri Desa Jetak Kecamatan Getasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bantuan Demplot kandang model JICA di Kabupaten Semarang dan Boyolali (dari dana APBD I dan swadaya masyarakat dari tahun 2005 - 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melaluin dana APBD I dan APBN telah dibangun VBC (Village Breeding Center) antara lain di Kabupaten Boyolali, Semarang, Wonosobo, Kota Semarang, Klaten dan mendorong Kabupaen/Kota untuk mengalokasikan pust-pusat pembibitan pedesaan melalui dari dana APBD II maupun DAK. Peranan swasta antara lain ”Rowo Seneng” di Kec. Kandangan Kab. Temanggung untuk mengembangkan perbibitan dan budidaya sapi perah; Pondok Pesantren”Sabil Ul Khoirot” di Desa Butuh Kec. Tengaran Kab. Semarang juga telah mengembangkan budidaya sapi perah dimana hasil susunya telah dimanfaatkan untuk anak-anak pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bantuan ternak sapi perah baik dari pemerintah pusat/Ditjen Peternakan maupun dari pemerintah daerah Provinsi/ Kabupaten/Kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Proses pembentukan Tim Persusuan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Disamping Koperasi Unit Desa yang tersebar di Kabupaten/ Kota jalur susu , tahun 1998 telah terbentuk Koperasi serba usaha “ Andini Luhur” yang telah mengangkat harga susu peternak di kabupaten Semarang yang diketuai oleh Bpk. Agus Warsito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peran serta GKSI sebagai penyedia sapronak dan sebagai pengumpul serta pemasaran susu ke IPS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Peranan perbankkan yang telah memberikan berbagai fasilitas kredit bagi usaha peternakaan sapi perah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pembentukan Pengurus Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Kota Solo yang diketuai oleh Bpk. H. Masngut Imam Santoso dan untuk Provinsi Jawa Tengah diketuai oleh Bpk. Agus Warsito dari koperasi “ Andini Luhur” yang berperan mengangkat peternak sapi perah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Peran serta peternak sapi perah dan IPS yang peduli pada sesama (al. P Kasimin Kab. Wonosobo dengan menjual susu pasturisasi seharga Rp. 500,- untuk anak-anak sekolah TK dan SD di wilayah Kabupaten Wonosobo dan ternyata mempunyai dampak yang positif terhadap kecerdasan anak-anak sekolah ; perusahan susu Citra Nasional dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Berbagai sarana dan prasarana baik dari dana APBN dan APBD telah digunakan untuk pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala yang masih dihadapi dalam usaha peternakan sapi perah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kualitas bibit yang masih rendah karena banyak bibit yang sudah tua sehingga&lt;br /&gt;perlu adanya peremajaan bibit sapi perah&lt;br /&gt;2. Kualitas pakan yang masih rendah dan belum optimalnya penggunaan pakan&lt;br /&gt;lokal.&lt;br /&gt;3. Penerapan teknologi yang belum merata disemua peternak&lt;br /&gt;4. Susu segar merupakan bahan makanan yang mudah rusak, sehingga perlu&lt;br /&gt;penangan yang cepat dan tepat.&lt;br /&gt;5. Belum adanya IPS yang dapat menampung susu dari peternak.&lt;br /&gt;6. Harga pakan jadi(konsentrat) yang dirasa masih cukup tinggi.&lt;br /&gt;7. Belum adanya pabrik pakan jadi (konsentrat) yang dapat menjamin ketersediaan&lt;br /&gt;pakan jadi secara kontinyu dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang usaha peternakan sapi perah:&lt;br /&gt;Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah. Peran serta pemerintah, swasta serta perbankkan sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha budidaya/ peternakan sapi perah untuk meningkatkan ketersediaan susu yang semakin tahun semakin meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, konsumsi protein hewani dan kesejahteraan masyarakat. Serta untuk mendongkrak pendapatan peternak sapi perah yang selama ini relatif kecil. (sumber: disnak jawa tengah_Hal ini dipicu oleh kebijakan Uni Eropa dan beberapa negara penghasil susu yang mengurangi subsidi bagi usaha peternakan sapi perah, sehingga tidak ada insentif bagi peternak negara asing untuk mengembangkan usahanya. Kondisi ini menguntungkan bagi peternak sapi perah Indonesia karena akan terjadi peluang untuk meningkatkan posisi tawar kepada buyer susu dan industri pengolahan susu.&lt;br /&gt;Usaha yang selama ini dilakukan oleh kelompok peternak (membentuk asosiasi), pemerintah daerah, koperasi, perguruan tinggi dan pemerintah pusat mencoba untuk “mengangkat” peternakan sapi perah mewujudkan hasil yang nyata, meskipun masih pada tahapan yang belum maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi peternakan sapi perah di Jawa Tengah&lt;br /&gt;1. Populasi sapi perah pada tahun 2006 adalah 112.153 ekor, dengan produksi susu 78.231 ton serta jumlah peternak 28.400 orang (Laporan Tahunan Dinas Peternakan Prov. Jawa Tengah 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kualitas susu masih rendah dengan kadar lemak 2,91 %, SNF 7,69, TS 10,6, TPC &amp;lt; 5 juta. Rendahnya kualitas susu disebabkan karena rendahnya pemberian pakan konsentrat (kualitas dan kuantitas), hijauan, tata laksana / managemen pemeliharaan.  3. Harga susu di tingkat peternak Jawa Tengah pada saat ini telah mengalami peningkatkan dari harga Rp.1.450,-/lt menjadi Rp.1.600/lt – Rp.1.900,-/lt, bahkan di koperasi “Andini luhur” sudah mencapai harga Rp. 2.700 /lt, rata-rata Rp. 2.300,-/lt. Perbedaan harga ini tergantung dari kualitas susu yang dilihat dari kandungan TS (Total Solid) dan TPC ( Total Plate Count) / kandungan bakteri di dalam susu segar. Pada saat ini TS tertinggi yang telah dicapai peternak kabupaten Semarang adalah 13,28 dan TPC antara 1,02 jt /ml sampai 5 juta /ml susu. Bahkan ada susu dengan TPC hanya 390 rb/ml susu. Harga susu segar di Provinsi Jawa Tengah memang lebih rendah jika dibandingkan dengan harga susu segar di Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat, (Jawa Timur dan Jawa Barat harga susu segar rata-rata Rp.2.500,- Rp.3.500,-). Salah satu penyebab rendahnya harga susu di Jawa Tengah adalah kualitas susu yang masih rendah dan belum adanya IPS sendiri, sehingga untuk menuju ke IPS yang terletak di Jawa Barat/ Jawa Timur membutuhkan ongkos transportasi yang cukup mahal.  4. Produktivitas ternak rendah, rata-rata 7 – 9 liter/hari, hal ini disebabkan karena kualitas bibit yang rendah dan bibit sudah tua, kualitas pakan rendah, managemen yang tradisional, calving interval panjang &amp;gt; 18 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Mata rantai tataniaga susu yang panjang, dari peternak ke loper (pengumpul), tempat penampungan sementara, Koperasi Unit Desa, GKSI dan terakhir ke IPS, sehingga mengakibatkan tingginya biaya pemasaran bagi peternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Diversifikasi usaha produk olahan susu/pengolahan pasca panen persusuan belum berkembang di daerah sentra susu, dalam upaya meningkatkan nilai tambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peran sektor swasta (investor) di bidang persusuan (IPS) masih sedikit sehingga susu harus dipasarkan ke luar Provinsi Jawa Tengah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Kabupaten /Kota yang berpotensi pengembangan sapi perah adalah Boyolali, Semarang, Salatiga, Klaten, Kota Semarang, Kab Magelang, Banyumas, Sukoharjo dan Wonosobo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya-upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam rangka mengembangkan usaha peternakan sapi perah di Jawa Tengah antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Tahun 2004 pemerintah Jepang melalui The Project for Dissemination of Appropriate Dairy Technology Utilizing Local Resources telah memberikan bantuan yang berupa teknologi bagi peternak sapi perah guna meningkatkan produksi dan produktivitas sapi perah di Provinsi Jawa Tengah. Bantuan yang diberikan berupa Training of Trainer (TOT) untuk petugas dan peternak sapi perah di lokasi target area dan bantuan peralatan sesuai dengan kebutuhan peternak. Jumlah petugas dan peternak yang telah mengikuti TOT di Cikole sebanyak 53 orang. Berdasarkan hasil feasibility study oleh Tim JICA maka Kabupaten Semarang telah ditunjuk sebagai lokasi target area kegiatan yaitu Dusun Kemiri Desa Jetak Kecamatan Getasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bantuan Demplot kandang model JICA di Kabupaten Semarang dan Boyolali (dari dana APBD I dan swadaya masyarakat dari tahun 2005 - 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Melaluin dana APBD I dan APBN telah dibangun VBC (Village Breeding Center) antara lain di Kabupaten Boyolali, Semarang, Wonosobo, Kota Semarang, Klaten dan mendorong Kabupaen/Kota untuk mengalokasikan pust-pusat pembibitan pedesaan melalui dari dana APBD II maupun DAK. Peranan swasta antara lain ”Rowo Seneng” di Kec. Kandangan Kab. Temanggung untuk mengembangkan perbibitan dan budidaya sapi perah; Pondok Pesantren”Sabil Ul Khoirot” di Desa Butuh Kec. Tengaran Kab. Semarang juga telah mengembangkan budidaya sapi perah dimana hasil susunya telah dimanfaatkan untuk anak-anak pondok pesantren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Bantuan ternak sapi perah baik dari pemerintah pusat/Ditjen Peternakan maupun dari pemerintah daerah Provinsi/ Kabupaten/Kota&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Proses pembentukan Tim Persusuan Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Disamping Koperasi Unit Desa yang tersebar di Kabupaten/ Kota jalur susu , tahun 1998 telah terbentuk Koperasi serba usaha “ Andini Luhur” yang telah mengangkat harga susu peternak di kabupaten Semarang yang diketuai oleh Bpk. Agus Warsito&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Peran serta GKSI sebagai penyedia sapronak dan sebagai pengumpul serta pemasaran susu ke IPS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Peranan perbankkan yang telah memberikan berbagai fasilitas kredit bagi usaha peternakaan sapi perah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pembentukan Pengurus Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) di Kota Solo yang diketuai oleh Bpk. H. Masngut Imam Santoso dan untuk Provinsi Jawa Tengah diketuai oleh Bpk. Agus Warsito dari koperasi “ Andini Luhur” yang berperan mengangkat peternak sapi perah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Peran serta peternak sapi perah dan IPS yang peduli pada sesama (al. P Kasimin Kab. Wonosobo dengan menjual susu pasturisasi seharga Rp. 500,- untuk anak-anak sekolah TK dan SD di wilayah Kabupaten Wonosobo dan ternyata mempunyai dampak yang positif terhadap kecerdasan anak-anak sekolah ; perusahan susu Citra Nasional dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Berbagai sarana dan prasarana baik dari dana APBN dan APBD telah digunakan untuk pengolahan susu segar menjadi susu pasteurisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala yang masih dihadapi dalam usaha peternakan sapi perah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kualitas bibit yang masih rendah karena banyak bibit yang sudah tua sehingga&lt;br /&gt;perlu adanya peremajaan bibit sapi perah&lt;br /&gt;2. Kualitas pakan yang masih rendah dan belum optimalnya penggunaan pakan&lt;br /&gt;lokal.&lt;br /&gt;3. Penerapan teknologi yang belum merata disemua peternak&lt;br /&gt;4. Susu segar merupakan bahan makanan yang mudah rusak, sehingga perlu&lt;br /&gt;penangan yang cepat dan tepat.&lt;br /&gt;5. Belum adanya IPS yang dapat menampung susu dari peternak.&lt;br /&gt;6. Harga pakan jadi(konsentrat) yang dirasa masih cukup tinggi.&lt;br /&gt;7. Belum adanya pabrik pakan jadi (konsentrat) yang dapat menjamin ketersediaan&lt;br /&gt;pakan jadi secara kontinyu dan murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang usaha peternakan sapi perah:&lt;br /&gt;Selain susu segar yang diperoleh peternak sapi perah, daging juga diperoleh dari penggemukan sapi perah jantan serta kotoran untuk pupuk kandang dan biogas. Hal inilah yang mendorong peternak sapi perah untuk tetap mempertahankan usahanya dalam bidang peternakan sapi perah. Peran serta pemerintah, swasta serta perbankkan sangat diperlukan dalam mengembangkan usaha budidaya/ peternakan sapi perah untuk meningkatkan ketersediaan susu yang semakin tahun semakin meningkat sesuai dengan peningkatan jumlah penduduk, konsumsi protein hewani dan kesejahteraan masyarakat. Serta untuk mendongkrak pendapatan peternak sapi perah yang selama ini relatif kecil. (sumber: disnak jateng)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pranowoblog.co.cc/?p=19"&gt;Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1954259812006816215?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1954259812006816215/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1954259812006816215' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1954259812006816215'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1954259812006816215'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/pranowoblog-blog-archive-prospek_27.html' title='Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5355497552802306168</id><published>2009-08-27T22:50:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:57:26.882-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>PAKAN TERNAK INDIKATOR MINIMNYA KUALITAS SUSU JATIM</title><content type='html'>Surabaya, 27/8 (Antara/FINROLL News) - Pakan ternak menjadi indikator minimnya kualitas susu di Jawa Timur, karena komposisi pemberian pakannya dinilai tidak seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peneliti kualitas susu Jatim dari Pemerintah Australia Barat, John Lucey, menjelaskan, salah satu faktor yang membuat produktivitas susu sapi di Jatim tidak sesuai kebutuhan adalah komposisi bahan pakan ternak dan cara pengelolaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Melalui pengelolaan pakan ternak yang tepat perbandingannya, akan menghasilkan daging dan susu yang baik," katanya di Surabaya, Kamis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, kandungan bahan pakan yang mengandung energi kurang mencukupi kebutuhan pakan sapi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan pemberian bahan itu, sapi yang diternak hanya memiliki energi untuk bertahan hidup. Padahal, mereka membutuhkan pakan lebih dari itu untuk menghasilkan daging atau susu yang berkualitas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku, penelitian yang dilakukannya selama delapan hari di Jatim menunjukkan potensi peternakan sapi perah Jatim masih bisa ditingkatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Keyakinan itu, karena potensi industri persusuan di daerah ini besar. Kami berharap, para peternak di wilayah ini dapat meningkatkan produksinya menjadi sekitar 25 liter per ekor per hari, dari sebelumnya 10 liter," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai itu, tambah dia, para peternak di Jatim harus memperhatikan pemberian kandungan konsentrat pakannya. Upaya lain, bisa dilakukan dengan merealisasikan kerja sama antara Jatim dan Australia Barat selama ini, seperti membina peternak sapi perah Jatim di Australia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di sana, para peternak Jatim dilatih tentang bagaimana meningkatkan produksi sapi perah, baik produktivitas susu maupun percepatan peningkatan populasi sapi," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim, Sulistiyanto, mengatakan, selama ini nilai sapi perah yang ada di Jatim mencapai Rp1,674 triliun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sementara itu nilai susu yang dihasilkan mencapai Rp2,175 miliar," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat jumlah tersebut, katanya, tampak adanya ketimpangan. Penyebabnya, sampai hari ini jumlah sapi perah yang dimiliki masing-masing peternak belum ideal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak dulu sampai sekarang, rata-rata peternak hanya memiliki tiga sapi perah. Namun, kami optimistis pada tahun 2010 setiap peternak bisa memiliki enam sapi perah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.news.id.finroll.com/news/14-berita-terkini/124380-____pakan-ternak-indikator-minimnya-kualitas-susu-jatim____.html"&gt;PAKAN TERNAK INDIKATOR MINIMNYA KUALITAS SUSU JATIM&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5355497552802306168?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5355497552802306168/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5355497552802306168' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5355497552802306168'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5355497552802306168'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/pakan-ternak-indikator-minimnya.html' title='PAKAN TERNAK INDIKATOR MINIMNYA KUALITAS SUSU JATIM'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3189085414605849340</id><published>2009-08-27T20:31:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T21:04:54.719-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Jerit Peternak Sapi Perah</title><content type='html'>Program pemerintah yang dicanangkan pada tahun 2012 tentang SWASEMBADA SUSU yang diistilahkan Indonesia sebagai kolam susu tampaknya tidak akan terwujud. Hal ini jika kita tilik dari harian-harian terkemuka di negeri ini yang memuat bahwa PT NESTLE akan menurunkan harga susu perah dari KSU pertanggal 21 April 2009 menjadi Rp 3.185 atau turun Rp 300. Hal ini berarti KSU akan membeli susu dari peternak dibawah Rp 2.900. Padahal harga tersebut merupakan BEP pemeliharaan sapi perah. &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kalau harga susu dibawah 2.900 maka peternak akan mengalami kerugian. Bagaimana program swasemabda susu akan terealisasi pada tahun 2012 jika peternak mengalami kerugian. Pertambahan produksi susu yang diharapkan akan bertambah juntru akan terjadi sebaliknya karena peternak pasti akan mengalami kelesuan untuk berkembang, jangankan untuk mengembangkan usaha, untuk BEP saja tidak tercukupi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini terjadi karena kesalahan pemerintah yang membuat kebijakan membebaskan biaya pajak impor susu dimana pada saat ini susu dunia harganya jeblog dimana bila dibandingkan dengan harga susu dlam negeri lebih murah. Hal ini sudah pasti dimanfaatkan oleh perusahaan persusuan untuk mengimpor susu demi mendapat keuntungan yang lebih banyak. Untuk menyikapi kondisi ini pemerintah harus segera bertindak dengan memberlakukan biaya pajak impor yang cukup tinggi sehingga susu dalam negeri tetap bisa bersaing. Padahal kalau kita mendasar data bahwa sampai saat ini susu dlam negeri hanya bisa menyupali kebutuhan 30 % dari kebutuhan Nasional. Apa kita akan selalu tergantung pada pihak luar jika hal ini tidak segera diatasi. Kalo kebijakan pemerintah terus seperti ini kapan bangsa kita bisa berdiri diatas kaki sendiri. Jangankan untuk sekedar berdiri, untuk merangkak saja kita tidak akan bisa. Bagaimana bangsa kita bisa mengejar bangsa-bangsa lain yang sudah berlari kencang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanang Miftahudin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Jerit-Peternak-Sapi-Perah.html"&gt;Jerit Peternak Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Susu, Ini, Akan, Yang, Untuk&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3189085414605849340?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3189085414605849340/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3189085414605849340' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3189085414605849340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3189085414605849340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/jerit-peternak-sapi-perah-situs.html' title='Jerit Peternak Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3564704336448779925</id><published>2009-08-27T20:21:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:16:43.182-08:00</updated><title type='text'>Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Yang, Dengan, Adalah</title><content type='html'>Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir&lt;br /&gt;Melanjutkan tulisan tentang Bioteknologi Reproduksi, bahwa masih terdapat fenomena mengapa sapi perah produksi tinggi sulit berkembang biak. Beda dengan fenomena 1, 2 dan 3 yang berhubungan dengan sistem hormonal atau endokrinologi reproduksi. Pada fenomena 4 ini berhubungan dengan perubahan beban fisiologis sapi perah sehubungan dengan produksi susu yang tinggi itu. Adapan lebih jelasnya adalah sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(4). Dalam menjalankan atau menjalani satu siklus reproduksi (satu calving interval) sapi perah. Setelah melahirkan sapi memasuki periode laktasi dan 'days open'. Hari kosong yang lamanya 2 minggu ini uterus mengalami involusi, kembali ke normal mempersiapkan bunting berikutnya. Terdapat 2 beban fisiologis pada periode ini adalah beban fisiologis untuk hidup pokok dan laktasi. Setelah dua bulan sapi harus bunting lagi dan memasuki awal puncak laktasi, sehingga menanggung 3 beban fisiologis, yaitu hidup pokok, puncak laktasi dan bunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memasuki bulan ke 7 kebuntingan sapi dikeringkan (kering kandang selama kira-kira 2 bulan), sehingga beban fisiologis menjadi 2 lagi yaitu hidup pokok dan bunting tua. Artinya selama satu kali siklus reproduksi yang lamanya kira-kira satu tahun, sebagian besar waktu hidup sapi yaitu sekitar 8 bulan harus menanggung 3 beban fisiologis sekaligus yang nota bene sangat berat menuju puncak laktasi dan bunting tua, apalagi sapi perah produksi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensi dari fenomena ini adalah harus tersedia pakan yang lebih dari cukup (meningkat lebih banyak dari biasanya) dan berimbang secara kwalitatif maupun kwantitatif. Meskipun manajemem mampu memenuhi kebutuhan pakan sesuai dengan perhitungan yang mungkin meningkat 2-3 kali dari biasanya. Perlu diingat bahwa kemampuan sapi menghabiskan pakan tidak sebanding dengan jumlah pakan yang harus dihabiskan pada periode itu. Selain tidak cukup waktu meskipun diberikan secara ad libitum, harus diingat bahwa sapi membutuhkan waktu untuk mengunyah ulang/memamah biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak kapasitas perut sapi juga terbatas, apalagi sudah terdapat sisa-sisa serat kasar pakan yang tidak tercerna dan menumpuk memenuhi sebagian rongga rumen sehingga kapasitas makin berkurang. Sebagai akibat adalah sapi mengalami malnutrisi dengan segala akibatnya penyakit defesiensi dan penyakit metabolik. Antara lain ketosis, hipokalsemia atau milk fever dan sejenisnya. Akibat lebih lanjut adalah paresis, paralisis sapi ambruk dengan segala komplikasi yang menyertai, diantaranya anoreksia, kembung, pneumonia&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya 'aneh' sapi menderita nafsu makan menurun, akibat 'kekurangan' pakan. Tapi begitulah kenyataannya.Sangat sulit mengatasi kondisi semacam ini karena terdapat faktor kausatif yang komplek berakibat komplikasi. Ujung-ujungnya dari kasus ini adalah sapi harus dipotong paksa atau bahkan kedahuluan mati sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat disimpulkan bahwa sapi perah produksi tinggi, bukan hanya sulit berkembang biak tapi bahkan sulit untuk mempertahankan hak hidupnya. Karena itu jangan biarkan kasus itu terjadi, lebih baik mencegah daripada mengobati. Caranya adalah kurangi beban fisiologisnya dengan tidak memberi kesempatan bunting, tetapi tetap mempunyai anak keturunan, berikan status sebagai induk donor (induk genetis, induk biologis) melalui pemberdayaan penerapan bioteknologi reproduksi sebagaimana diuraikan pada tulisan terdahulu. (bersambung...)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bioteknologi Reproduksi&amp;nbsp;         &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="small"&gt;Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 04 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;table class="contentpaneopen" height="810" style="width: 659px;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td align="left" colspan="2" valign="top" width="70%"&gt;&lt;span class="small"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;     &lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;    &lt;td colspan="2" valign="top"&gt;&amp;nbsp;&lt;script language="JavaScript" type="text/javascript"&gt;var sbtitle6407=encodeURIComponent("Bioteknologi Reproduksi"); var sburl6407=decodeURI("http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Bioteknologi-Reproduksi.html"); sburl6407=sburl6407.replace(/amp;/g, "");sburl6407=encodeURIComponent(sburl6407);&lt;/script&gt;Terdapat fenomena alam yang juga menjadi tulisan oleh rekan sejawat sbb &lt;br /&gt;1. Pada induk yang sedang laktasi khususnya sapi perah berproduksi tinggi, kadar hormon LTH atau prolaktin yang tinggi dalam darah mendorong terbentuknya corpus luteum (CL) persisten sebagai lanjutan dari CL gravidatum. Keadaan ini menyebabkan hormon progesteron meningkat sehingga tidak tumbuh folikel baru dan tidak diekskresikannya &lt;a class="kLink" href="http://www.vet-indo.com/#" id="KonaLink0" style="position: static; text-decoration: underline ! important;" target="undefined"&gt;&lt;span style="color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: static;"&gt;&lt;span class="kLink" style="background-color: transparent; border-bottom: 1px solid blue; color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: relative;"&gt;estrogen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="preLoadWrap" id="preLoadWrap0" style="position: relative;"&gt;&lt;div id="preLoadLayer0" style="display: none; left: -18px; position: absolute; top: -32px; z-index: 4000;"&gt;&lt;img class="preloadImg" src="http://kona.kontera.com/javascript/lib/imgs/grey_loader.gif" style="border: medium none; height: 22px; width: 22px;" /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sehingga terjadi anestrus, dst (Mulianti. My life, myfeeling, my way. Blog Archieve for Juli 2007) &lt;br /&gt;2. Puncak laktasi sangat berhubungan dengan produksi susu dan jumlah produksi susu memiliki hubungan positif dengan peningkatan hormon prolaktin. Kondisi prolaktin yang tinggi menyebabkan suasana progesteron meningkat sehingga estrogen menjadi rendah yang pada akhirnya berpengaruh terhadap aktualisasi estrus, dst (Bambang Hadisutanto. &lt;a href="http://politani.blogspot.com/2008/02/abstrak.html" target="_blank" title="Study on Several Reproductive Performance of various Parities in Days Open Formulation of Fries Holland Dairy Cows"&gt;Study on Several Reproductive Performance of various Parities in Days Open Formulation of Fries Holland Dairy Cows&lt;/a&gt;. Case in Rural Dairy Farm, Lembang, west Bandung) &lt;br /&gt;Kesimpulan : Dari dua pernyataan tersebut dapat diartikan bahwa sapi perah produksi tinggi, sangat sulit untuk berkembang biak. dengan perkataan lain selama berproduksi mengalami infertilitas atau sub fertilitas. Sehingga tidak mungkin tercapai calving interval yang normal (kira-kira satu tahun). &lt;br /&gt;3. Sapi perah produksi tinggi sulit berkembang biak juga dapat difahami selain karena proses pembentukan susu atau laktogenesis/milk production tsb diatas juga karena proses pengeluaran susu atau laktoscresis/milk letdown. Pada milk let down berhubungan dengan oksitosin. Logikanya semakin banyak produk susu yang harus dikeluarkan semakin tinggi oksitosin yang dibutuhkan. Di lain fihak oksitosin mempunyai target organ dalam kontraksi &lt;a class="kLink" href="http://www.vet-indo.com/#" id="KonaLink1" style="position: static; text-decoration: underline ! important;" target="undefined"&gt;&lt;span style="color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: static;"&gt;&lt;span class="kLink" style="color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: relative;"&gt;uterus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;. Kontraksi uterus yang intensif karena oksitosin yang tinggi inilah yang menggagalkan implantasi embrio, sehingga sulit bunting atau sulit berkembang biak. &lt;br /&gt;Pada fenomena ke-3 bioteknologi reproduksi mampu mengatasi, sepanjang tidak keburu timbul fenomena 1 dan 2. Dalam arti sapi masih fertil menunjukkan gejala birahi yang baik dan di IB sesuai prosedur sebagaimana mestinya. Adapun caranya adalah sbb. Pada hari ketujuh (hari ke 0 birahi di IB) embrio yang telah jadi (morula, blastosis) dikeluarkan dengan metode flushing. Embrio yang diperoleh selanjutnya ditransfer ke sapi lain (sapi resipien) yang produksi rendah atau sapi potong lokal sekalipun. Sapi produksi tinggi (sapi donor) tidak bunting, tetapi mempunyai anak keturunan yang nota bene juga super genetik dikandung dan dilahirkan oleh sapi resipien. Sehingga sapi donor tidak bunting, tetapi berkembang biak. Lebih dari itu jumlah anak keturunannya menjadi lebih banyak dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;Kalau dalam satu siklus birahi (kira-kira 21 hari) diperoleh satu embrio menjadi seekor anak/pedet, maka dalam satu tahun 365 hari dibagi 21 hari dikali satu embrio akan diperoleh kira-kira 18 embrio atau identik 18 ekor pedet. Pada fenomena 1 dan 2 dapat diatasi dengan bioteknologi reproduksi generasi lebih tinggi yaitu kloning. Sementara ini biotekrep kloning belum terkuasai oleh SDM kita. Bahkan lebih dari itu produksi embrio kembar identik melalui spliting juga belum &lt;a class="kLink" href="http://www.vet-indo.com/#" id="KonaLink2" style="position: static; text-decoration: underline ! important;" target="undefined"&gt;&lt;span style="color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: static;"&gt;&lt;span class="kLink" style="color: blue ! important; font-family: tahoma,Arial,Helvetica,sans-serif; font-size: 11px; font-weight: 400; position: relative;"&gt;ada&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; tanda-tanda berkembang minimal di institusi terapan/aplikasi ditempat saya bekerja. Saya belum tahu bagaimana kondisi di institusi peneliti dan akademisi dalam mengadopsi inovasi bioteknologi reproduksi ini. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak rekanrekan sejawat, sudilah kiranya memikirkan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;div style="clear: both; text-align: right;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;drh. M. Arifin Basyir &lt;br /&gt;Ditulis Oleh drh. M. Arifin Basyir    &lt;br /&gt;Kamis, 02 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita mengenal beberapa kendala dalam tatalaksana pemeliharaan sapi perah sebagaimana fenomena 1-5 dan bahwa selama ini ternyata terdapat beberapa 'kesalahan' teknis yang tidak kita sadari dalam memahami dan menerapkannya. Antara lain flushing pakan dan masa&lt;br /&gt;kering kandang yang saling bertentatangan sehingga merugikan dan menyiksa sapi perah sebagai 'mitra kerja' kita memproduksi susu. Maka perlu kiranya menata ulang tatalaksana tersebut melalui pemberdayaan bioteknologi reproduksi. Sehingga didapat pola yang ideal dan bahkan menjadikannya sebagai penganeka ragaman (diversifikasi) atau aneka cabang usaha peternakan sapi di Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANEKA USAHA TANI : SAPI PERAH, SAPI POTONG, SAPI BIBIT DAN BIBIT SAPI (BENIH/EMBRIO) DALAM SATU MANAJEMEN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui pemberdayaan bioteknologi reproduksi, maka usaha ternak sapi meski dalam skala kecil sekalipun dapat sekaligus melakukan aneka cabang usaha. Sebagaimana kita ketahui dalam Quantitatively Indonesian FH Cows Milk Production terdapat 3 kategori/klasifikasi sapi perah, yaitu Foundation Stock/klas A produksi susu &amp;gt;6000 kg atau setara sekitar 20 liter/ekor/hari, Breeding Sock/klas B produksinya 5000-6000 kg atau setara sekitar 16-19 l/ek/hr dan Commercial Stock/klas C produksi 4000-5000 kg setara 13-15 l/ek/hr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi perah klas A dipakai sebagai penghasil susu dan penghasil embrio mengacu pada flushing embrio tunggal setiap siklus birahi. Sapi ini tidak dibuntingkan untuk mengurangi beban fisiologis dan menghindari kendala fenomena. Produksi susu juga tidak perlu mengacu pada masa laktasi 305 hari, bisa lebih dari itu sepanjang manajemen pakan yang baik dan benar dipatuhi serta tidak usah memperhatikan masa kering karena tidak bunting. Biarkan produksi susu turun secara alami melewati kendala fenomena, baru setelah aman dibuntingkan untuk produksi susu masa laktasi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi perah klas B dipersiapkan untuk membentuk sapi komposit (dibahas episode berikutnya) sebagai induk resipien yang dibuntingkan melalui transfer embrio dari sapi perah klas A dan sapi induk parent stock yang melahirkan sapi potong bakalan komposit final stock (sedang dirintis realisasnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapi perah klas C sementara belum terbentuk sapi induk komposit, dipakai sebagai induk resipien menerima kebuntingan dari sapi perah klas A. Selanjutnya sapi perah klas C ini diafkir atau dibiarkan punah secara alami, artinya tidak dikembangbiakkan karena tidak ekonomis. Transfer embrio (TE) dari sapi perah klas A pada sapi resipien mengacu pada prosedur embrio segar. Dalam keadaan terpaksa tidak ada resipien yang ideal waktu itu atau terkendala jarak melebihi 12 jam, maka ditempuh prosedur pengawetan dan penyimpanan embrio dingin segar (24-48 jam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembekuan embrio sedapat mungkin dihindari, kalaupun terpaksa ditempuh pembekuan metode cepat (vitrifikasi) atau manual bukan programmable embryo freezing machine (dibahas di episode yang akan datang). Dengan demikian dalam satu unit uaha atau kawasan usaha ternak sapi terdapat aneka cabang usaha yaitu susu segar, bibit sapi perah dan potong, sapi potong bakalan serta benih sapi (embrio) segar maupun beku. Hal ini dapat dilakukan dengan memperkerjakan tenaga yang betul-betul ahli, yaitu dokter hewan. (bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;drh. M. Arifin Basyir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Penerapan-Bioteknologi-Reproduksi-pada-Sapi-Perah.html"&gt;Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Yang, Dengan, Adalah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3564704336448779925?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3564704336448779925/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3564704336448779925' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3564704336448779925'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3564704336448779925'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/penerapan-bioteknologi-reproduksi-pada.html' title='Penerapan Bioteknologi Reproduksi pada Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Yang, Dengan, Adalah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2384909822105058694</id><published>2009-08-27T20:19:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T20:19:56.870-07:00</updated><title type='text'>Tata Laksana Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Yang, Sapi, Dan, Harus, Masa</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Tata-Laksana-Manajemen-Pemeliharaan-Sapi-Perah.html"&gt;Tata Laksana Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Yang, Sapi, Dan, Harus, Masa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2384909822105058694?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Tata-Laksana-Manajemen-Pemeliharaan-Sapi-Perah.html' title='Tata Laksana Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Yang, Sapi, Dan, Harus, Masa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2384909822105058694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2384909822105058694' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2384909822105058694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2384909822105058694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/tata-laksana-manajemen-pemeliharaan.html' title='Tata Laksana Manajemen Pemeliharaan Sapi Perah | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Yang, Sapi, Dan, Harus, Masa'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6152521710466751953</id><published>2009-08-27T20:18:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T20:18:24.113-07:00</updated><title type='text'>Klasifikasi Sapi Perah dan Bioteknologi Reproduksi | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Perah, Yang, Embrio</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Klasifikasi-Sapi-Perah-dan-Bioteknologi-Reproduksi.html"&gt;Klasifikasi Sapi Perah dan Bioteknologi Reproduksi | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Perah, Yang, Embrio&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6152521710466751953?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.vet-indo.com/Berita-Umum/Klasifikasi-Sapi-Perah-dan-Bioteknologi-Reproduksi.html' title='Klasifikasi Sapi Perah dan Bioteknologi Reproduksi | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Perah, Yang, Embrio'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6152521710466751953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6152521710466751953' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6152521710466751953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6152521710466751953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/klasifikasi-sapi-perah-dan-bioteknologi.html' title='Klasifikasi Sapi Perah dan Bioteknologi Reproduksi | Situs Komunitas Dokter Hewan Indonesia - Indonesian Veterinarian Community Site | Sapi, Dan, Perah, Yang, Embrio'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-189575117991949641</id><published>2009-08-27T20:07:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:28:02.162-08:00</updated><title type='text'>GBI Nglegok - Blitar : BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)</title><content type='html'>BETERNAK KAMBING ETAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Kambing peranakan Etawa (P.E) yang berada di desa Donorejo,Kec Kaligesing,Kab Purworejo&lt;br /&gt;merupakan kambing keturunan Etawa asal negara India yang dibawa oleh penjajah Belanda.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Kambing tersebut kemudian di kawin silangkan dengan kambing lokal di Kaligesing. hingga saat ini kambing Peranakan Etawa dikenal sebagai ras kambing Peranakan Etawa asli Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini Kambing Peranakan Etawa ini terus dikembangbiakkan. Kambing Peranakan Etawa diminati oleh banyak orang terutama di sekitar Jawa Tengah sehingga kambing ini menyebar pesat ke berbagai wilayah&lt;br /&gt;di Kabupaten Purworejo bahkan hingga ke luar Purworejo seperti ke Kulon Progo, Kendal, Sidoarjo-Jatim,bahkan saat ini telah memasuki pasar dunia termasuk ke Malaysia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing Peranakan Etawa ini memiliki ciri khas pada bentuk mukanya yang cembung, bertelinga panjang-mengglambir, postur tubuh tinggi (gumla) antara 90-110 cm, bertanduk pendek dan ramping.&lt;br /&gt;Kambing jenis ini mudah berkembang dengan baik di daerah berhawa dingin, seperti daerah sekitar pegunungan atau dataran tinggi .&lt;br /&gt;Kambing jenis ini memiliki badan besar warna bulu beragam, belang putih, merah coklat, bercal, bercak hitam atau kombinasi ketiganya dan pada bagian belakang terdapat bulu yang lebat dan panjang.&lt;br /&gt;Panggemar kambing Peranakan Etawa umumnya sangat menyukai keindahan bulu dan bentuk mukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sangat jarang jenis kambing ini dijadikan kambing semblihan (potong) untuk dimakan, mereka lebih memfungsikannya sebagai "klangenan atau piaraan" untuk koleksi.atau Prestige Bahkan konon jaman dulu, bagi yang memiliki kambing Etawa akan terlihat "selera" dan "siapa" orang itu di mata masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pengembangan terpadu kambing Etawa ditawarkan kepada investor oleh Pemerintah Daerah. Diharapkan tawaran ini mendapat respon positif mengingat potensi pasarnya yang masih belum tergarap optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERENCANAAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap usaha peternakan haruslah berorientasi pada&lt;br /&gt;keuntungan agar usaha tersebut bisa berkesinambungan dan tidak terhenti&lt;br /&gt;ditengah jalan.untuk itu kita perlu perencanaan yang sangat matang dengan mempertimbangkan&lt;br /&gt;beberapa aspek yang wajib kita perhatikan dalam usaha peternakan kambing etawa.&lt;br /&gt;Ada empat tahapan kegiatan yang harus dilakukan oleh peternak untuk membuat&lt;br /&gt;usaha peternakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Persiapan&lt;br /&gt;kegiatan persiapan meliputi penentuan lokasi dan pengurusan&lt;br /&gt;perijinan terutama jika skala usaha usaha relative besar. Lokasi memegang&lt;br /&gt;peranan besar, karena seluruh usaha kegiatan peternakan dipusatkan disini.&lt;br /&gt;Kondisi iklim, seperti suhu lingkungan, curah hujan, arah mata angina, dan&lt;br /&gt;kelembaban, yang menunjang usaha peternakan kambing harus diperhatikan agar&lt;br /&gt;hasil yang diperoleh dapat maksimal. Selain itu, kondisi keamanan lingkungan&lt;br /&gt;serta daya dukung lingkungan terhadap usaha peternakan kambing, misalnya&lt;br /&gt;ketersediaan tenaga kerja (SDM) maupun bibit kandang, perlu diperhatikan secara&lt;br /&gt;matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perijinan dibutuhkan jika usaha yang akan dibangun bersekala&lt;br /&gt;besar. Untuk usaha yang bersekala kecil, agar tidak menimbulkan persoalan&lt;br /&gt;dikemudian hari, sebaiknya meminta ijin dari warga sekitar yang berada di&lt;br /&gt;sekitar kandang ternak. Sebuah survey untuk mengetahui daya serap pasar juga&lt;br /&gt;peru dilakukan agar hasil produksi bisa terjual.rlu juga diperhatikan banyaknya&lt;br /&gt;pesaing dengan jenis usaha yang sama, karena jika hasil usaha yang tinggi dan&lt;br /&gt;daya serap pasar rendah, maka harga produk bisa menurun tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. pelaksanaan&lt;br /&gt;Pada intinya tahap pelaksanaan merupakan tahapan konstruksi,&lt;br /&gt;yaitu melakukan pembangunan kandang, menyiapkan lahan untuk ditanami hijauan&lt;br /&gt;pakan ternak, serta mempersiapkan berbagai peralatan kandang. Pembangnan&lt;br /&gt;kandang beserta persiapan infrastruktirnya harus disesuaikan dengan jumlah&lt;br /&gt;kambing yang akan dipelihara degan tetap mempertimbangkan kemungkinan&lt;br /&gt;perkembangan usaha. Tujuannya adalah untuk efisiensi penggunaan modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hijauan merupakan unsure pentng yang harus disiapkan karena&lt;br /&gt;kebutuhan kambing akan hijauan tidak bisa di tunda. Sebelum usaha peternakan di&lt;br /&gt;mulai, sebaiknya sudah dilakukan penanaman taneman hijauan, sehinggan&lt;br /&gt;ketersediaannya akan terjamin. Perlu pula diketahui sumber-sumber bahan pakan&lt;br /&gt;local untuk digunakan ssebagai bahan baku pembuatan kosentrat. Hal ini&lt;br /&gt;dilakukan untuk menekan biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. tahap produksi&lt;br /&gt;Setelah tahapan konstruksi, tahapan produksi sudah bisa&lt;br /&gt;dilaksanakan, yaitu dengan melakukan pembelian kambing, pengeloalaan taneman&lt;br /&gt;hijauan, penggeloaan produksi hingga pasca panen, dan penjualan produk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. evaluasi&lt;br /&gt;Sebuah perencanaan usaha yang baik harus mencakup sebuah&lt;br /&gt;target yang akan dicapai dari usaha tersebut. Tujuanya adalah untuk mempermudah&lt;br /&gt;peternak dalam evaluasi, sampai sejauh mana target yang direncanakan sudah&lt;br /&gt;tercapai, mencari berbagai penyebab jika target tidak tercapai, serta melakukan&lt;br /&gt;perbaikan agar target bisa tercapai dan ditingkatkan. Target bisa dibuat dalam&lt;br /&gt;jangka pendek (1 tahun), jangka menengah (2-5 tahun), dan jangka panjang (di&lt;br /&gt;atas 5 tahun). Target biasanya dibuat dengan parameter ekonomi yang dituangkan&lt;br /&gt;dalam sebuah analisis usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;TIPS MEMBELI&lt;br /&gt;KAMBING ETAWA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu kita sebagai peternak akan menyiapkan&lt;br /&gt;calon  indukan yang bagus dan berkualitas. Tentu saja memiliki harapan&lt;br /&gt;agar anak kambing yang akan di hasilkan, nantinya akan sesuai dengan keinginan&lt;br /&gt;kita. Walaupun nantinya terpaksa tidak sesuai, mungkin hanya sekedar  pola&lt;br /&gt;warna kambingnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekumpulan pengalaman saya dan para peternak lingkungan&lt;br /&gt;saya, biasanya mengacu beberapa factor yang dapat dijadikan sebagai pedoman&lt;br /&gt;agar  kambing yang akan kita beli nantinya dapat menjadi sebagai indukan&lt;br /&gt;yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Factor kambing pejantan memang memiliki peranan dominan di&lt;br /&gt;dalam usaha pengembangbiakan kambing etawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pejantan Kambing Etawa  umumnya memiliki gen yang sangat&lt;br /&gt;dominan pada anak turunnya, bahkan sampai 60-70%. Selebihnya biasanya mengikuti&lt;br /&gt;gen dari induk betina pada kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal dasar yang perlu kita cermati antara lain;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.Pola Warna Kambing Etawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing Etawa biasanya memiliki pola warna yang bermacam&lt;br /&gt;macam seperti Putih,Hitam Coklat, sedang kebanyakannya memiliki warna paduan&lt;br /&gt;antara putih hitam atau Coklat putih ,sedang Trend pola warna paling banyak di&lt;br /&gt;gemari saat ini adalah  pola dasar badan putih dengan pola warna kepala&lt;br /&gt;hitam legam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Pola telinga dan kepala yang bagus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pola telinga yang bagus adalah telinga yang menjulai ke&lt;br /&gt;bawah, lemas dan panjang. Semakin panjang telinga kambing, berarti semakin&lt;br /&gt;bagus kambing tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis telinga yang bagus biasanya tidak memiliki pangkal&lt;br /&gt;telinga yang menonjol ke luar, jadi dari samping kepala kambing langsung ke&lt;br /&gt;bawah. Sedangkan Panjang minimal telinga kambing etawa biasanya sekitar 30 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk criteria  pola kepala yang bagus, adalah kepala&lt;br /&gt;yang agak jenong mendekati bentuk lingkaran jika dari samping serta&lt;br /&gt;memiliki rahang mulut yang kuat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.Pola Tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing harusnya memiliki tulang-tulang yang kokoh dan besar.&lt;br /&gt;Semakin besar tulang pada kambing berarti semakin besar kemungkinan kambing&lt;br /&gt;tersebut untuk dapat tumbuh menjadi kambing yang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa cara tersebut hanyalah merupakan cara yang mudah&lt;br /&gt;untuk memperkecil resiko jika kita membeli kambing di pasar kambing etawa,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membeli kambing di pasar juga memiliki banyak kelebihannya,&lt;br /&gt;selain banyak kambing sebagai pembanding, harga yang berlaku di pasar biasanya&lt;br /&gt;tidak setinggi harga kambing yang masih berada di kandang peternak. namun,&lt;br /&gt;berdasarkan pengalaman saya,beberapa  kambing etawa yang di pasar biasanya&lt;br /&gt;tidak dapat dipertanggung jawabkan silsilah serta mutunya  ,dan Jarang ada&lt;br /&gt;peterna membawa kambing etawa yang berkelas itu ke pasar kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lebih amannya, saya sarankan apabila calon peternak&lt;br /&gt;ingin membeli kambing untuk diternakan, sebaiknya datang ke peternaknya&lt;br /&gt;langsung. Hal ini akan membuat kita lebih jelas untuk mengamati dan bertanya&lt;br /&gt;tentang metode perawatan serta kebiasaan perawatan ternak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KANDANG&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam melakukan kegiatan beternak kambing etawa tentu akan&lt;br /&gt;muncul persoalan tempat memeliharanya , yaitu kandang kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kandang kambing etawa secara umum memiliki fungsi&lt;br /&gt;yang serupa dengan rumah atau merupakan tempat untuk tinggal bagi ternak &lt;br /&gt;, jadi bayangkan saja ketika kita menjadi kambing ( hahaha ) tentu kita harus&lt;br /&gt;memiliki keseriusan dan ketelitian agar kandang tersebut menjadi nyaman bagi&lt;br /&gt;kambing yang akan tinggal di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada perinsipnya membangun kandang etawa adalah memiliki&lt;br /&gt;tujuan agar kambing etawa nyaman dan bisa bereproduksi secara normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dalam membangun  kandang kambing etawa hendaknya&lt;br /&gt;memiliki fungsi sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Kandang Kambing adalah tempat aktifitas kambing ,seperti&lt;br /&gt;makan ,tidur,kencing,minum dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kandang kambing sebagai tempat berlindung dari panas ,&lt;br /&gt;hujan,dan terpaan angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Kandang kambing sebagai tempat berlindung dari pemangsa&lt;br /&gt;atau hewan penggangu lainya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. kandang kambing sebagai pencegah liarnya kambing etawa&lt;br /&gt;,atau menghindarkan kambing untuk memakan dan merusak tanaman lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kandang kambing sebagai tempat penjagaan dan pengawasan&lt;br /&gt;ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun kandang kambing etawa memang agak lain dengan&lt;br /&gt;membangun kandang ternak seperti sapi atau kambing domba ,karena ke unikan&lt;br /&gt;kambing etawa ini terlahir dari sebuah kebiasaan masyarakat di sekitar ternak&lt;br /&gt;itu berasal dari Kec Kaligesing Kab Purworejo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu melalui proses perkembangan serta uji kelayakan di&lt;br /&gt;lapangan yang cukup lama dan panjang yang dilakukan para peternak di desa kami&lt;br /&gt;hingga kini melahirkan desain yang di sepakati oleh sebagian besar peternak di&lt;br /&gt;lingkungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kandang Kambing Etawa biasanya di buat berpanggung dengan&lt;br /&gt;tujuan air kencing dan kotoran bisa jatuh ke bawah melalui sela lantai panggung&lt;br /&gt;( tataban ) karena kotoran dan air kencing akan menganggu kesehatan&lt;br /&gt;ternak jikala bersentuhan langsung dengan kaki kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantai bawah panggung biasanya juga merupakan tempat&lt;br /&gt;mengumpulkan kotoran kambing yang bisa di gunakan menjadi pupuk, bahkan&lt;br /&gt;beberapa teman peternak yang sudah maju biasanya membuat lantai ini dengan di&lt;br /&gt;semen dan dibuat kemiringan agar supaya kotoran mudah mengumpul , bahkan ada&lt;br /&gt;juga yang di desain untuk mengumpulkan air kencing kambing yang juga sebagai&lt;br /&gt;pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun kandang kambing etawa memang sebaiknya tidak&lt;br /&gt;terlalu dekat dengan pemukiman namun jikala terpaksa juga tidak terlalu riskan&lt;br /&gt;karena jika kita rajin membersihkan dan dengan sanitasi kandang yang baik tidak&lt;br /&gt;menimbulkan bau yang menganggu, kebanyakan peternak di lingkungan saya juga&lt;br /&gt;membangun tidak jauh dari rumah, namun jikala anda membangun dengan tujuan&lt;br /&gt;untuk memelihara dalam jumlah banyak tentu harus di perhitungkan lebih matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk skala pemeliharaan dalam jumlah kecil di bawah sepuluh&lt;br /&gt;ekor tentu sangat sederhana dan murah ,karena pada perinsipnya se ekor kambing&lt;br /&gt;membutuhkan luas 1,5 m untuk ruang geraknya .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun kandang etawa memang harus di batasi, tentu agar&lt;br /&gt;membatasi ruang gerak yang berlebihan ,karena jika berlebihan gerak kambing&lt;br /&gt;jenis ini akan lama perkembangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa kandang etawa harus di sekat....? membuat kandang&lt;br /&gt;kambing etawa memang harus di sekat antara kambing satu dengan yang lain&lt;br /&gt;kambing ras etawa biasanya beradu jika di kelompokan lebih dari 2 ekor yang&lt;br /&gt;tidak se induk.dan kambing ini memang harus di pisah dari pejantan ( trus kapan&lt;br /&gt;kawinnya hahaha nanti kita bahas lain postingan )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat kandang kambing etawa haruslah memiliki tempat yang&lt;br /&gt;tidak terlalu banyak angin karena kambing jenis ini mudah kembung atau memiliki&lt;br /&gt;kelemahan tidak tahan terhadap tiupan angin yang terlalu kencang namun harus&lt;br /&gt;memiliki fentilasi yang cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperhatikan hal hal tersebut Insya Allah menepis anggapan&lt;br /&gt;kalo beternak etawa itu susah, bahkan tidak sedikit orang mengira bahwa kambing&lt;br /&gt;jenis ini susah di pelihara di daerah datar ( atau non pegunungan ) sebenarnya hanya&lt;br /&gt;karena tidak memahami kemauan dan kebiasaan kambing saja, jika kita memahami&lt;br /&gt;dan mempelajari dengan seksama tentu akan mendapatkan solusi dalam beternak&lt;br /&gt;kambing ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beternak kambing etawa adalah sebuah Infestasi yang nyata dan&lt;br /&gt;tak membutuhkan teori stastistik yang muluk muluk , jika petani dilingkungan&lt;br /&gt;saya bisa tentu anda juga bisa.....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;PAKAN DAN CARA&lt;br /&gt;PEMBERIAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya akan melanjutkan tulisan saya mengenai Kambing&lt;br /&gt;Etawa dan tata cara berternak kambing etawa pada bagian yang terdahulu saya&lt;br /&gt;telah menyampaikan beberapa uraian tentang pendahuluan cara pemilihan bibit&lt;br /&gt;kambing etawa, sebelum saya menceritakan penjualan atau harga kambing Ras Etawa&lt;br /&gt;yang mencapai puluhan juta saya akan menyampaikan macam macam makanan ternak&lt;br /&gt;kambing etawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MAKANAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk hal ini kalau di paparkan secara rinci munkin butuh&lt;br /&gt;waktu lebih dalam waktu sehari namun saya akan menyampaikan uraian singkatnya&lt;br /&gt;pada dasarnya Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi&lt;br /&gt;ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan&lt;br /&gt;mineral,( bila di pelajari secara runtut menurut disiplin ilmu peternakan )&lt;br /&gt;mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh.&lt;br /&gt;Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan&lt;br /&gt;makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa,&lt;br /&gt;vitamin dan mineral).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk jenis HMT ( hijauan makanan ternak ) dapat saya sebutkan berdasar pengalaman para peternak yang telah memelihara kambing jenis etawa dan berdasar para nara sumber yang berdasar para petani banyak sekali macam untuk HMT beberapa jenis akan saya sebutkan :&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; Kaliandra&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dadap&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Glagahan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rumput Gajah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun Nangka&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun Singkong ( beserta singkongnya )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun Ketul sapi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jagung Muda beserta pohonnya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun Sengon ,Mahoni&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun Waru Rengis&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daun rereside.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; dan beberapa rumput yang namanya asing untuk di sebutkan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian untuk beberapa makanan tambahan seperti :&lt;br /&gt;Polar,Bungkil,Gula Jawa,Singkong ,Buah nangka (hijau)kulit kedelai.dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemberiannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Diberikan&lt;br /&gt;2 kali sehari (pagi dan sore),sedang untuk volume kira kira berat rumput&lt;br /&gt;10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 - 2,5 liter per&lt;br /&gt;ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Untuk&lt;br /&gt;kambing bunting, induk menyusui, dan pejantan yang sering dikawinkan perlu&lt;br /&gt;ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 - 1&lt;br /&gt;kg/ekor/hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mungkin anda belum tertarik dan jika anda butuh bukti&lt;br /&gt;kami menunggu kedatangan anda bertandang di wilayah kami anda akan tergiur&lt;br /&gt;mendengar harga kambing betina umur 4 bulan sudah mencapai harga diatas 4 juta&lt;br /&gt;dan mungkin anda akan lebih tercengang bila menyaksikan kisaran harga kambing&lt;br /&gt;ada yang pernah senilai mobil toyota avansa baru mungkin anda sangat di buat&lt;br /&gt;heran tapi datanglah dan saksikan transaksinya di pasar kambing etawa di tanah&lt;br /&gt;kelahiran saya setiap hari sabtu .........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi berbagilah kepada insan petani kita nggak bakalan&lt;br /&gt;miskin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERSALINAN&lt;br /&gt;KAMBING ETAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses reproduksi dan kelahiran kambing jenis peranakan&lt;br /&gt;etawa memang agak berbeda dengan jenis kambing yang lain , dimana kambing jenis&lt;br /&gt;etawa ini memang membutuhkan perawatan bantuan saat melahirkan,tidak seperti&lt;br /&gt;kambing kambing jenis lainya yang lahir dengan sendiri tanpa memerlukan bantuan&lt;br /&gt;dari manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing Etawa pada saat melahirkan membutuhkan perawatan yang&lt;br /&gt;lumayan rumit , peternak kambing etawa rata rata memiliki keahlian sendiri&lt;br /&gt;dalam merawat cempe saat lahir ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya perawatan persalinan kambing etawa di lakukan&lt;br /&gt;secara tradisional , para peternak biasanya sudah menghitung dan memperkirakan&lt;br /&gt;tanggal kelahiran,agar saat lahir peternak bisa memberikan persalinan kambing&lt;br /&gt;etawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama biasanya peternak akan memisahkan dan meletakan&lt;br /&gt;kambing yang siap beranak pada tempat diluar kandang panggung (biasanya di&lt;br /&gt;turunkan ke tanah) sesaat sebelum melahirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sesaat kambing hendak melahirkan biasanya kambing&lt;br /&gt;sudah mulai enggan berdiri dan kemudian biasanya kemaluan basah dan air ketuban&lt;br /&gt;keluar .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat anak kambing etawa keluar yang harus pertama di lakukan&lt;br /&gt;adalah membebaskan anak kambing etawa dari lendir yang biasanya menutup seluruh&lt;br /&gt;tubuhnya termasuk pada kepala kambing yang menghalangi kambing untuk bernafas,&lt;br /&gt;dan memutuskan tali pusat kambing yang terhubung dengan plasenta ,pada umumnya&lt;br /&gt;kambing etawa melahirkan dua anak dalam sekali kelahiran (kembar) dengan jeda&lt;br /&gt;waktu kelahiran rata rata antara 10 menit sampai 30 menit tapi juga ada yang&lt;br /&gt;dalam hitungan beberapa detik disusul kelahiran kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak kambing di bersihkan dan di jauhkan dari inuknya&lt;br /&gt;untuk sesaat , pada induk yang sayang terhadap anaknya biasanya akan menjilati&lt;br /&gt;anak kambing etawa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kira kira 15 menit setelah itu adalah membati&lt;br /&gt;menyusukan anak kambing ke induknya ,karena anak kambing etawa belum bisa&lt;br /&gt;berdiri dan menyusu sendiri ,pada jam jam pertama setelah lahir ,yang perlu di&lt;br /&gt;perhatikan adalah menyusukan saat kolesterum pertama harus di bagikan kedua&lt;br /&gt;anakan kambing tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah sekilas pengalaman ini mudah mudahan berarti untuk&lt;br /&gt;tutorial selengkapnya akan saya terbitkan di postingan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUSU KAMBING&lt;br /&gt;ETAWA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya susu kambing etawa dijual dalam bentuk segar,&lt;br /&gt;namun sebenarnyas usu kambing etawa  juga dapat diolah menjadi produk lain&lt;br /&gt;seperti yogurt, keju, karamel . di Kec Kaligesing Kab&lt;br /&gt;Purworejo sudah ada beberapa pengusaha yang menajadi pionir dalam pengolahan susu Kambing Etawa ini ,walaupun belum dalam sekala yang besar , dan&lt;br /&gt;pada umumnya masyarakat di lingkungan ternak kambing ini berasal memang belum&lt;br /&gt;mengoptimalkan hasil produksi susu kambing etawa ini,Kebanyakan para peternak&lt;br /&gt;masih mengarah pada pembibitan kambing etawa atau sebagai penghasil bibit&lt;br /&gt;kambing .belum mengarah pada prospek bisnis kambing etawa yang&lt;br /&gt;lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya jika kita perhatikan dan memiliki pengetahuan&lt;br /&gt;dasar yang kadang di berikan para pakar peternakan dan para peneliti yang&lt;br /&gt;berkunjung di daerah ini menunjang sekali untuk lebih instensif mengolah hasil&lt;br /&gt;susu kambing etawa ini  ,sebab menurut para ahli menerangkan bahwa susu&lt;br /&gt;kambing etawa ini memiliki kesetaraan paling dekat dengan ASI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butiran lemak susu kambing etawa berukuran&lt;br /&gt;antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang&lt;br /&gt;berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing sehingga&lt;br /&gt;susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusia, susu kambing etawa&lt;br /&gt;tidak akan menimbulkan diare pada orang yang mengkonsumsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu kambing segar etawa ini  juga&lt;br /&gt;tidak memiliki kandungan karoten, sehingga warna susu kambing lebih putih&lt;br /&gt;daripada susu sapi.,sedangkan menurut para ahli kesehatan ,susu kambing atawa&lt;br /&gt;ini memiliki kasiat  antara lain sebagai berikut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terapi untuk penyakit  TBC,Mampu mengontrol kadar&lt;br /&gt;kolesterol dalam darah,Meningkatkan kesehatan kulit wajah,Membantu memulihkan&lt;br /&gt;kondisi orang yang baru sembuh dari sakit,Kandungan gizi susu kambing dapat&lt;br /&gt;meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak-anak serta membantu keseimbangan proses&lt;br /&gt;metabolisme tubuh, mendukung pertumbuhan tulang dan gigi, membantu pembentukan&lt;br /&gt;sel darah merah dan jaringan tubuh. untuk mengembalikan zat besi setelah haid,&lt;br /&gt;kekurangan darah (anemia), kehamilan serta pendarahan setelah melahirkan.&lt;br /&gt;Kandungan mineralnya memperlambat proses osteoporosis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini hanya sebagian kecil dari manfaat susu kambing etawa&lt;br /&gt;sedangakan manfaat yang lain memang masih terus di kembangkan oleh para ahli&lt;br /&gt;kesehatan yang juga berdasar pada teori dan pengalaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERAWATAN ANAK&lt;br /&gt;KAMBING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia kehamilan Kambing Etawa biasanya berkisar antara 150&lt;br /&gt;hari, kemudian biasanya anak kambing etawa atau biasa disebut cempe akan&lt;br /&gt;lahir.Saat kelahiran Kambing Etawa memang memerlukan perawatan dan penanganan&lt;br /&gt;lumayan serius agar cempe bisa selamat .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila hari perkiraan kelahiran kambing etawa sudah dekat,&lt;br /&gt;ada beberapa hal yang harus dipersiapkan,antara lain adalah ,handuk/kain&lt;br /&gt;kering, betadine, kelapa muda, telur ayam kampung, madu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan HPL (hari perkiraan lahir) kambing etawa biasanya&lt;br /&gt;dihitung 150 hari setelah kambing itu dikawinkan.sedangkan factor kesalahan&lt;br /&gt;biasanya tidak akan lebih dari 2-3 hari. Bisa maju 2-3 hari atau bisa mundur&lt;br /&gt;2-3 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambing Etawa yang akan melahirkan lebih baik di pisahkan&lt;br /&gt;dengan kambing yang lain hal ini bertujuan untuk menghindarkan agar anak&lt;br /&gt;yang  akan lahir nanti tidak terinjak oleh kambing yang lain .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah anak kambing etawa lahir, kemudian segera&lt;br /&gt;diangkat dan disisihkan dari induknya.hal ini bertujuan untuk menghindari cempe&lt;br /&gt;terinjak atau tertindih oleh induk sendiri, karena induk yang melahirkan kadang&lt;br /&gt;suka berjalan,Anak kambing etawa atau cempe yang baru lahir kondisinya sangat&lt;br /&gt;rawan dan lemah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kambing etawa  yang baru lahir  kemudian di&lt;br /&gt;bersihkan dengan kain kering atau handuk, terutama pada bagian muka/hidung,&lt;br /&gt;karena anak kambing yang baru saja keluar biasanya hidungnya terganggu/tertutup&lt;br /&gt;oleh lendir, yang bisa menganggu atau mempersulit anak kambing untuk bernafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak kambing etawa  yang sudah kering, biasanya kemudian&lt;br /&gt;disiram dengan air kelapa muda., dengan tujuan agar bersih dari kotoran dan&lt;br /&gt;agar induknya bersemangat untuk menjilati anak yang baru lahir ,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu normal yang dibutuhka untuk berdiri cempe biasanya&lt;br /&gt;tidak lebih dari 2 jam. Anak kambing etawa bisanya memiliki waktu normal&lt;br /&gt;sekitar 2 jam untuk bisa berdiri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya cempe pada awal-awal menyusui akan merasa kesulitan&lt;br /&gt;dalam mencari putting susu induk hal ini mengharuskan kita membantu anak&lt;br /&gt;kambing tersebut menyusu ke induknya, pada umum nya memerlukan waktu selama 3&lt;br /&gt;hari untuk anak kambing etawa  untuk benar-benar bisa berdiri sendiri&lt;br /&gt;dengan tegak dan menyusu pada induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak kambing bener-benar kuat, biarkan selama 24 jam&lt;br /&gt;dalam seminggu dicampur cempe dengan induk, agar masa susu kolostrum induk&lt;br /&gt;benar-benar habis. Kalau susu kolostrum pada induk sudah habis, setelah itu&lt;br /&gt;anak kambing etawa di pisahkan kembali dengan induk agar anak kambing etawa&lt;br /&gt;hanya menyusu induknya 2 kali sehari hal ini bertujuan saat anak kambing etawa akan&lt;br /&gt;menyusu ke induk, posisi ambing sudah benar-benar penuh dan anak kambing&lt;br /&gt;etawa  akan minum susu induknya sampai benar-benar kenyang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah ini adalah perawatan awal untuk anak kambing etawa yang&lt;br /&gt;baru lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa&lt;br /&gt;Hasil Usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masa produktif kambing betina dan pejantan adalah 5&lt;br /&gt;tahun. Pembelian kambing etawa adalah kambing yang tergolong dara atau kambing&lt;br /&gt;yang siap untuk beranak. Jadi waktu penantian peternak tidak terlalu lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Waktu pemeliharaan adalah 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Upah tenaga kerja atau gaji berdasar hitungan apabila&lt;br /&gt;kita membeli pakan ternak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Induk dapat beranak 3 kali dalam 2 tahun. Dan dalam&lt;br /&gt;sekali beranak dihitung rata-rata 2 ekor per kelahiran. Kelahiran 1 dan 3 ekor&lt;br /&gt;per kelahiran diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jumlah cempe yang akan di hasilkan selama 5 tahun adalah&lt;br /&gt;: 15 ekor x 22 induk = 330 ekor cempe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Angka kematian 10%, sehingga diperkirakan kematian&lt;br /&gt;maksimal adalah sebanyak 33 ekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. 1 (satu) ekor kambing etawa diperkirakan menghasilkan 7,5&lt;br /&gt;kg pupuk kandang per bulan. Kotoran dari cempe di kesampingkan. Asumsi harga&lt;br /&gt;pupuk kandang di pasaran jogjakarta Rp. 200/kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. 1 (satu) ekor kambing etawa diperkirakan dapat&lt;br /&gt;menghasilkan urine sebanyak 30 liter per bulan, dengan asumsi harga urine di&lt;br /&gt;pasaran Rp.1500/liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Harga cempe mengacu pada kriteria kambing standart yang&lt;br /&gt;terjadi di pasaran kaligesing, Jogjakarta. Harga cempe kepala hitam istimewa&lt;br /&gt;dikesampingkan. Karena harga tersebut tidak dapat dijadikan acuan dalam&lt;br /&gt;perhitungan ini. Harga patokan di ambil kisaran bulan juli 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Hasil analisa ini masih belum memperhitungkan hasil&lt;br /&gt;penjualan susu pada saat induk kambing etawa bisa di perah selama masa menyusui&lt;br /&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisa ini hanya berdasar pengalaman yang saya terapkan&lt;br /&gt;dilingkungan peternak Desa Donorejo ,Kec Kaligesing,Kab Purworejo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. INVESTASI TETAP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Kambing betina 22 ekor @ Rp. 4.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 ekor x Rp. 4.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 88.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Kambing jantan 2 ekor @ Rp. 3.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 ekor x Rp. 3.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 7.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Kandang 4 unit @ Rp. 5.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 unit x Rp. 5.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 20.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Peralatan kandang Rp. 500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total investasi tetap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 88.000.000 + Rp. 7.000.000 + Rp. 20.000.000 + Rp.&lt;br /&gt;500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 115.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. BIAYA PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Biaya pemeliharaan kambing induk (24 ekor)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Gaji karyawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 1.400.000 : 30 hari 24 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 2000/ekor/hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total biaya pemeliharaan induk per 5 tahun adalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 2.000 x 5 tahun x 12 bulan x 24 ekor x 30 hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 86.400.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PROYEKSI PENDAPATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Penjualan cempe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;300 ekor x Rp. 1.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 450.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Penjualan induk afkir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 ekor x Rp. 1.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 36.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Penjualan pupuk kandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7,5 kg x 12 bulan x 5 tahun x Rp. 200 x 24 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 2.160.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;# Penjualan urine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 liter x 12 bulan x 5 tahun x Rp. 1500 x 24 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 64.800.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. REKAPITULASI PENDAPATAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Biaya-biaya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biaya investasi Rp. 115.500.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Biaya pemeliharaan selama 5 tahun Rp. 86.400.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatal biaya Rp. 201.900.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pendapatan;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjualan cempe Rp. 450.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjualan induk afkir Rp. 36.000.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjualan pupuk kandang Rp. 2.160.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- Penjalan urine Rp. 64.800.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Total pendapatan Rp. 552.960.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan yang bisa diperoleh adalah sbb:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 552.960.000 - Rp. 201.900.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 351.060.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghasilan per bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. 351.060.000: 5 tahun : 12 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Rp. 5.851.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan 22 ekor betina kita per bulan mendapatkan penghasilan&lt;br /&gt;sebesar Rp. 6.211.00 Estimasi keuntungan tersebut belum termasuk kalau hasil&lt;br /&gt;cempe yang di keluarkan berkualitas super. Karena pada dasarnya harga cempe&lt;br /&gt;yang bener-bener super itu tidak ada batasannya. sebagai gambaran, penulis&lt;br /&gt;pernah menjual cempe jantan umur 3 bulan dengan harga 7,5 juta seekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan estimasi ini termasuk kalo kita asumsikan membeli pakan&lt;br /&gt;sendiri satu ekor kambing dengan harga Rp 1,500/ ekor perhari walaupun pada&lt;br /&gt;kenyataanya saya sendiri untuk biaya pakan ternak hanya membutuhkan uang Rp&lt;br /&gt;20.000.jadi barometer penghasilan tersebut di atas adalah harga yang paling&lt;br /&gt;bawah (rp.1,5jt)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://gbinglegok.org/aura/cetak.php?id=80"&gt;GBI Nglegok - Blitar : BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-189575117991949641?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/189575117991949641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=189575117991949641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/189575117991949641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/189575117991949641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/gbi-nglegok-blitar-beternak-kambing_27.html' title='GBI Nglegok - Blitar : BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-8991023405801558136</id><published>2009-08-27T20:06:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:35:37.372-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://gbinglegok.org/aura/cetak.php?id=80"&gt;GBI Nglegok - Blitar : BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-8991023405801558136?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/8991023405801558136/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=8991023405801558136' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8991023405801558136'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8991023405801558136'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/gbi-nglegok-blitar-beternak-kambing.html' title='BETERNAK KAMBING ETAWA (BE)'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-8939212148885840343</id><published>2009-08-27T19:56:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:33:49.261-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Peningkatan Daya Saing Persusuan Nasional Melalui Revolusi Putih</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING PERSUSUAN NASIONAL&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;MELALUI GERAKAN REVOLUSI PUTIH&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Teguh Boediyana&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Usaha peternakan sapi perah khususnya dan persusuan nasional umumnya tidaklah dapat diabaikan perannya dalam kehidupan bangsa Indonesia, karena mempunyai dimensi yang cukup luas. Pada satu sisi, usaha peternakan sapi perah dan persusuan nasional dapat merupakan salah satu sarana untuk mencegah terjadinya lost generation dari bangsa kita (khususnya bagi generasi muda) akibat kekurangan asupan protein. Sangat memprihatinkan bahwa berdasarkan data UNDP, setelah diukur dengan HDI, bangsa Indonesia menduduki peringkat ke 110 dan berada di bawah Vietnam. Pada sisi lain usaha peternakan sapi perah merupakan salah satu usaha di bidang pertanian yang besar perannya dalam menopang perekonomian nasional dan sebagai penyedia lapangan kerja.&lt;/li&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt;Beberapa kondisi faktual yang berkaitan dengan peternakan sapi perah di tanah air kita antara lain :&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Susu segar dihasilkan para peternak sapi perah di sentra-sentra produksi seperti di Jawa Timur (Pasuruan, Malang, Blitar, Mojokerto, Probolinggo, Kediri, dsb), Jawa Tengah (Boyolali, Klaten, Salatiga, Purwokerto), Jogjakarta, Jawa Barat (Kabupaten Garut, Bandung, Bogor, Sukabumi, Sumedang, dsb) dan DKI Jakarta. Secara keseluruhan produksi susu segar dari sentra produksi tersebut sekitar 1,2 juta liter/hari senilai sekitar Rp. 3 Milyar/hari atau sekitar Rp. 1,1 Triliun per tahun. Dengan adanya putaran uang sebesar tersebut telah mampu menggerakkan perekonomian di pedesaan di sentra produksi dan sekitarnya termasuk dalam hal penyerapan tenaga kerja. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terdapat sekitar 300.000 sapi perah (yang diyakini memiliki potensi genetik yang cukup bagus) yang dipelihara oleh sekitar 100 ribu peternak sapi perah dengan tingkat pemilikan sapi perah sekitar rata-rata 2 – 4 ekor yang tersebar di sentra produksi tersebut diatas. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Susu segar yang dihasilkan para peternak hampir 95 % dipasarkan ke Industri Pengolahan Susu dan digunakan sebagai bahan baku industri mereka. IPS yang membeli susu segar sebagai bahan baku antara lain : P.T Nestle dan P.T Green Field di Jawa Timur (menyerap sekitar 550 ton/hari), dan&amp;nbsp; P.T Frieshe Vlag Indonesia, P.T Indomilk, P.T Ultra Jaya, P.T Indolakto,. P.T Sari Husada, yang&amp;nbsp; menyerap sekitar 500 ton per hari.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Setelah ditandatanganinya LOI antara IMF dan Pemerintah Indonesia , maka kebijakan proteksi penyerapan susu&amp;nbsp; segar oleh IPS dan perlindungan harga dihapuskan. Dengan demikian sekarang ini pemasaran susu ke IPS tanpa perlindungan peraturan perundangan dan menempatkan peternak sapi ataupun koperasi pada posisi tawar yang lemah. Dari segi ini saat ini peternak menerima pembayaran susu yang&amp;nbsp; tidak seimbang dengan biaya produksi. Faktor inilah yang antara lain menyebabkan terjadinya kondisi stagnant produksi susu segar dalam negeri karena iklimnya kurang kondusif bagi peternak. Sebelum bulan Mei 2007, peternak hanya menerima sekitar Rp. 1600,-/liter – Rp. 1.700,- dengan kualitas standard 12 % Total Solid ). Padahal harga susu setara 1 liter susu segar dipasar mencapai angka diatas Rp. 7.000,- (antara Rp. 7.000 - Rp. 15.000). Tiga bulan terakhir ini terdapat kenaikan harga jual susu segar. Dengan kualitas 12,5 % TS dan TPC dibawah 1 juta, di Jawa Timur harga&amp;nbsp; Rp 2700, sedangkan di Jawa Barat harga sekitar Rp. 3100,- &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Produksi susu segar dalam negeri diperkirakan andil sekitar 25 % dari kebutuhan susu nasional (dengan tingkat konsumsi sekitar 6 liter/kapita/ tahun). Dengan demikian, kebutuhan susu nasional sebagian terbesar masih dipenuhi dari susu impor baik sebagai bahan baku ataupun sebagai produk olahan (finished products).&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;3.&lt;/b&gt; Kondisi faktual ditinjau dari aspek konsumsi susu bangsa Indonesia yang menjadi kunci dalam pemasaran susu yang dihasilkan para peternak adalah sebagai beikut :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berdasarkan data yang ada di BPS yang bersumber dari Departemen Pertanian, saat ini konsumsi susu per akpita bangsa Indonesia masih sekitar 6 Liter/kapita/tahun. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan&amp;nbsp; negara kita seperti Malaysia yang sudah mencapai diatas 20 Liter/tahun, India&amp;nbsp; sekitar 45 liter (target 88 liter per kapita/tahun ), Vietnam diatas 10 liter. Terlebih negara maju yang umumnya diatas 100 liter/kapita per tahun. Dengan data angka ini menunjukkan betapa rendahnya konsumsi protein hewani yang berasal dari susu dari bangsa kita.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Disamping masih rendahnya angka konsumsi per kapita/tahun, apabila ditelusuri ternyata bahwa hampir 80 persen susu yang dipasok (sekitar setara 4 juta liter setara susu segar per hari) dikonsumsi oleh masyarakat perkotaan khususnya masyarakat menengah ke atas.&amp;nbsp; Dengan demikian terjadi kesenjangan yang sangat besar antara masyarakat kota dan pedesaan serta tingkat pendapatan rendah dan tinggi. Apabila dikaji lebih mendalam, konsumsi riil susu dari keluarga yang mampu mungkin di atas 50 liter/kapita/tahun.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dapat dipahami apabila masyarakat bawah tidak mampu membeli susu yang umumnya berasal dari Industri Pengolahan Susu berupa berbagai produk susu seperti susu cair sterilisasi, susu bubuk, susu kental manis dsb karena harganya yang sangat tinggi. Rata-rata harga susu di pasaran per liter setara susu segar adalah diatas Rp. 8.000,- Untuk susu cair steril harga setara susu segar saat ini mencapai sekitar Rp. 10.000. Bangsa kita harus menggunakan jumlah uang yang sama dengan bangsa lain di negara maju untuk mengkonsumsi 1 (satu) liter susu. Padahal tingkat pendapatan sangat jauh berbeda. Oleh karena itu, dipastikan bahwa yang mampu mengkonsumsi susu di negara kita adalah masyarakat berpendapatan tinggi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;4.&lt;/b&gt; Kondisi faktual lain berkaitan dengan usaha sapi perah di tanah air adalah keberadaan badan usaha koperasi yang menjadi wadah dari peternak sapi perah. Beberapa catatan tentang koperasi susu yang ada adalah sebagai beikut : &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Terdapat sekitar 90 koperasi susu primer yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Timur. Selain koperasi primer (dimana beranggotakan para peternak), terdapat koperasi sekunder di masing-masing propinsi, dan 1 (satu) Koperasi sekunder tingkat nasional.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Fungsi utama koperasi susu adalah melayani anggota dalam mengembangkan usaha peternakan sapi perah. Pelayanan yang diberikan koperasi antara lain penyediaan pakan sapi, pelayanan kesehatan dan reproduksi sapi, pemasaran. Untuk kegiatan pemasaran inilah yang sebagaim kunci peran koperasi karena susu yang mudah rudak. Koperasi susu umumnya telah memiliki peralatan untuk pengawetan susu berupa&amp;nbsp; cooling unit, tanki susu, sarana penampungan susu&amp;nbsp; dsb yang keseluruhannya membutuhkan perawatan khusus dan teknologi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dari koperasi yang ada, sebagian telah memiliki mesin untuk memproses susu menjadi susu pasteurisasi, susu cair steril, yoghurt. Di Jawa Timur dan Jawa Barat sebagian kecil koperasi primer memproses susu pasteurisasi dan dipasarkan langsung ke konsumen. Sedangkan koperasi sekundernya yaitu GKSI dan PKIS telah memiliki processing plant untuk memproduksi susu kental manis, susu cair steril, yoghurt.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;5.&lt;/b&gt; Peran Pemerintah dalam pengembangan usaha peternakan sapi perah rakyat sebenarnya sangatlah besar. Namun demikian berdasarkan pengamatan&amp;nbsp; selama ini diperoleh suatu indikasi sebagai berikut :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sejak adanya LOI IMF di akhir tahun 1997, perhatian pemerintah terhadap peternakan sapi perah sangat kurang. Padahal di sisi lain , peran pemerintah sangat dibutuhkan khususnya dari aspek teknis untuk meningkatkan produktivitas usaha peternakan sapi perah antara lain untuk mengurangi akibat penyakit mastitis, brucelossis, dsb.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pemerintah tetap merupakan suatu modal yang sangat besar untuk mendukung terwujudnya iklim yang kondusif bagi&amp;nbsp; usaha peternakan sapi perah karena&amp;nbsp; melalui Pemerintah inilah dimungkinkan fasilitas, anggaran, serta berbagai dukungan lainnya. Dalam konteks ini , pemerintah tidak hanya Departemen Pertanian tetapi juga Departemen atau kementrian atau Lembaga Non Departemen , yang dapat menjadi penyangga program. Misal Departemen Dalam Negeri dalam rangka pemanfaatan dana makanan ekstra untuk anak sekolah, Departemen Pendidikan dalam hal yang sama dan penyuluhan&amp;nbsp; ke sekolah-sekolah tentang pentingnya minum susu, Departemen Perindustrian membantu dalam penyediaan fasilitas untuk prosesing susu dan sarana pemasarannya dsb.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;6.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Kita masih melihat bahwa peluang usaha peternakan sapi perah di dalam negeri sangat prospektif&amp;nbsp; dengan beberapa indikator : &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Saat ini dengan kemampuan pasok susu segar hanya 25 % dari kebutuhan susu nasional. Ini mengindikasikan bahwa terdapat suatu peluang yang sangat besar untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah baik di sentra produksi yang telah ada maupun di daerah lain yang potensial untuk dikembangkan. Diyakini bahwa tingkat kebutuhan susu nasional akan terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat. Ini berarti terdapat peluang usaha yang besar.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Suatu kenyataan bahwa harga susu segar sebagai bahan baku IPS di dalam negeri jauh lebih murah dibandingkan dengan harga bahan baku susu impor setara susu segar. Saat ini harga bahan baku susu impor setara 1 (satu) liter susu segar adalah sekitar Rp.4000 - Rp. 4500&amp;nbsp; Sedangkan peternak dengan tingkat harga Rp. 3000,-/liter sudah memperoleh marjin yang cukup untuk kehidupan mereka. Adanya&amp;nbsp; disparitas harga tersebut mengindikasikan bahwa peluang pengembangan usaha dalam peternakan sapi perah sangat besar dan terdapat daya saing yang cukup besar. Terlebih apabila subsidi pertanian di negara maju dihapuskan. Ini akan mengarah semakin tingginya harga susu impor.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kenaikan harga susu secara drastis di pasar dunia pada 6 bulan terakhir&amp;nbsp; selaras dengan semakin meningkatnya permintaan akan semakin memperkuat daya saing susu segar dalam negeri. Data terakhir menunjukkan bahwa harga susu bubuk fullcream mencapai harga sekitar US $ 4025/Ton.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sumberdaya alam Indonesia sebagai penyedia bahan pakan sapi perah sangat besar. Hasil sisa pertanian baik dari pertanian tradisionil maupun&amp;nbsp;&amp;nbsp; perkebunan besar merupakan sumber pakan yang sangat potensial bagi usaha peternakan sapi perah rakyat. Sangat terbuka peluang areal tanah yang luas di luar Jawa sebagai penyedia pakan hijauan untyuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi susu di Jawa.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Program dan anggaran yang disediakan oleh pemerintah untuk tambahan kualitas makanan untuk murid Sekolah Dasar sebagai suatu peluang yang besar untuk memacu program pemasaran bagi susu segar yang dihasilkan peternak sapi perah.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pasar susu bagi masyarkat menengah ke bawah masih sangat potensial dan samasekali belum digarap secara intensif. Dalam rangka mencegah terjadinya &lt;i&gt;lost generation&lt;/i&gt; dari bangsa kita dapat dilakukan..&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;7.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Sampai saat ini kita melihat bahwa usaha peternakan sapi perah rakyat dapat dikatakan stagnan yang terlihat bahwa selama sepuluh tahun terakhir ini produksi susu segar relatif stabil dalam kisaran sekitar 1, 2 juta liter per hari. Pada sisi lain kita melihat bahwa peluang untuk pengembangan usaha sapi perah sangat besar. Adanya pemodal besar yang mengembangkan usaha sapi eprah dalam skala&amp;nbsp; besar menunjukkan bahwa sebenarnya usaha sapi perah prospektif. Terdapat beberapa sebab mengapa terjadi kondisi yang stagnan dalam produksi susu segar yang dihasilkan para peternak sapi perah antara lain :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tidak efisiennya usaha peternakan sapi perah rakyat. Faktor utama inefisiensi adalah skala pemilikan sapi perah yang terlalu kecil sehingga usaha sapi perah lebih banyak sebagai usaha sambilan dan bukan sebagai kegiatan utama dimana peternak dapat konsentrasi pada usaha tersebut.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Tingkat harga susu segar di tingkat peternak yang tidak seimbang dengan biaya produksi karena naiknya harga bahan baku pakan ternak yang tidak seimbang dengan kenaikan harga jual susu. Tidak adanya faktor insentif dan ditambah dengan skala pemilikan yang masih sangat rendah maka permasalahan semakin komplek yang bermuara peternak sapi perah tidak dapat menghasilkan susu yang berkualitas. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Suatu kenyataan bahwa belum seluruh peternak sapi perah menyadari pentingnya menjaga kebersihan dalam menangani susu mulai dari proses pemerahan sapi. Sebagai akibat kurangnya kesadaran tentang milk hygiene ini maka kandungan bakteri dalam susu sangat tinggi. Ini berpengaruh terhadap kualitas susu dan harga susu yang diterima.&amp;nbsp; Dalam hal ini Propinsi Jawa Timur telah maju beberapa langkah sehingga sebagian terbesar susu segar yang dihasilkan telah memiliki kualitas yang tinggi termasuk TPC yang umumnya dibawah 1 juta/ml.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Semakin terbatasnya akses untuk memperoleh sumber pendanaan&amp;nbsp; dengan tingkat bunga yang rendah untuk mengmbangkan usaha. Peternak tidak akan mampu menggunakan dana bank dengan ketentuan yang berlaku sekarang ini guna pengembangan usaha. Selain terkendala faktor kolateral, peternak umumnya juga terkendala pada aspek tingginya suku bunga dan kebijakan uang ketat dari bank yang ada.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;8.&lt;/b&gt;&amp;nbsp; Didasarkan kepada dimensi persusuan nasional, dan memperhatikan berbagai kondisi faktual serta adanya peluang untuk untuk mengembangkan persusuan nasional, diperlukan langkah berani dan cepat (dalam bahasa yang retorik melakukan revolusi) dengan tujuan besar : pertama, penyediaan susu sebagai sumber protein bagi generasi muda dari kalangan masyarakat bawah untuk mencegah adanya revolusi putih. Kedua, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para peternak sapi perah. Ketiga, mengurangi ketergantungan kebutuhan susu dari susu impor. &lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;Langkah untuk revolusi putih tersebut dilakukan dengan memberdayakan modal dasar yang telah ada. Modal dasar yang ada antara lain :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Populasi sapi perah yang jumlahnya sekitar 300 ribu ekor dengan potensi genetik yang bagus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jumlah peternak sapi perah yang berpengalaman yang jumlahnya mencapai 100 ribu orang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya wadah bagi peternak baik yang berbentuk badan usaha koperasi ataupun kelompok peternak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Komitmen dan peran institusi Pemerintah untuk menjalankan peran masing-masing menunjang revolusi putih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Adanya peluang-peluang termasuk antara lain masih terbatasnya produksi susu segar dalam negeri untuk mencukupi kebutuhan susu nasional.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;9.&lt;/b&gt; Untuk mewujudkan revolusi tersebut, pendekatan berupa &lt;i&gt;grand strategy&lt;/i&gt; yang perlu dilakukan adalah :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, menyamakan persepsi tentang revolusi putih dari seluruh pemangku kepentingan atas dimensi, peran, serta tujuan revolusi putih.&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, gerakan revolusi putih harus menjadi suatu keputusan politik dari pemerintah (termasuk lembaga legislatif) dengan segala konsekuensinya.&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, memberdayakan secara optimal semua modal dasar untuk mewujudkan revolusi putih .&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;, perlu disusun suatu konsep yang komprehensif yang dapat menjadi acuan bagi pihak yang bersangkutan sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing.&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Kelima&lt;/b&gt;, pemenuhan kebutuhan susu dalam rangka mencegah terjadinya &lt;i&gt;lost generation&lt;/i&gt; di kalangan masyarakat bawah menjadi suatu prioritas.&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;, membangun/membentuk institusi berskala nasional yang terdiri dari berbagai unsur baik pemerintah maupun non pemerintah dan berperan dalam menyusun rancangan kebijakan dan sekaligus sebagai dirigen untuk menunjang kerberhasilan revolusi putih. &lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Keenam&lt;/b&gt;, memperjuangkan sumber pendanaan baik berupa kredit (dengan tingkat bunga yang sesuai dengan feasibilitas) dan dana penunjang lainnya sesuai dengan tahapan kebutuhan.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;10.&lt;/b&gt; Secara lebih teknis, dalam upaya untuk meningkatkan pendapatan peternak sapi perah,&amp;nbsp; yang sebagian terbesar adalah peternak kecil dengan berbagai keterbatasan yang mereka miliki, antara lain dengan pendekatan :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, meningkatkan efisiensi usaha peternak melalui : &lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan skala usaha peternakan sapi perah yang mereka miliki pada tingkat ideal sebagai suatu usaha keluarga dan dapat menjadi sumber pendapatan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Meningkatkan kemampuan teknis para peternak&amp;nbsp; agar potensi genetis yang ada dalam sapi yang mereka miliki dapat dioptimalisasi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Kedua&lt;/b&gt;, mendorong peternak sapi perah untuk melakukan sinergi dalam organisasi yang mempunyai legitimasi yang kuat untuk mengembangkan usaha. &lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Ketiga&lt;/b&gt;, mengoptimalkan wadah koperasi susu yang sudah ada dimana peternak berada, baik koperasi primer maupun sekunder, antara lain :&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Melakukan efisiensi secara optimal dan membangun unggulan di setiap segmen kegiatan agribisnis sapi perah.Termasuk dalam hal ini dalam&amp;nbsp; melakukan diversifikasi usaha dengan mengupayakan adanya nilai tambah atas&amp;nbsp; susu segar yang dihasilkan anggotanya antara lain dengan pemasaran langsung ke konsumen dalam berbagai bentuk produk susu seperti susu pasteurisasi, yoghurt, dsb. (kita melihat hal ini sudah banyak dilakukan tetapi belum pada tingkat maksimal).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Maksimalisasi efisiensi dalam segala bentuk pelayanan kepada anggota baik dalam rangka peningkatan produksi, pemasaran susu , peningkatan kualitas susu maupun pelayanan penunjang lainnya sepeti produksi pakan, pelayanan insmeinasi buatan, dsb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Perjuangan untuk melakukan pendekatan dengan IPS sebagai pasar utama agar selalu dilakukan penyesuaian harga susu selaras dengan perkembangan harga pasar, dan tercipta suatu kemitraan yang benar-benar saling menguntungkan dan membutuhkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Penyediaan &lt;i&gt;complete feed&lt;/i&gt; yang berkualitas bagi anggotanya secara kontinyu sebagai salah satu kegiatan di segmen penyediaan &lt;i&gt;farm input&lt;/i&gt;.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Keempat&lt;/b&gt;, mendorong dan memberikan ketrampilan peternak untuk memanfaatkan berbagai peluang yang timbul dari usaha peternakan yang mereka miliki antara lain :&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memproduksi pupuk kandang berkualitas dengan penggunaan bioteknologi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengembangkan usaha pemeliharaan pedet secara lebih baik dalam rangka penyiapan induk-induk pengganti.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan pemasaran ke konsumen langsung dengan membangun&amp;nbsp; kepercayaan konsumen.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;b&gt;11.&lt;/b&gt; Secara garis besar model&amp;nbsp; pengembangan usaha agribisnis sapi perah untuk meningkatkan pendapatan peternak bertumpu pada unsur : Pertama, efisiensi di setiap segmen kegiatan agribisnis (hulu, penyediaan farm input sampai dengan pengolahan/pemasaran ). Kedua,&amp;nbsp; membangun unggulan pada setiap kegiatan di setiap segmen agribisnis. Ketiga, adanya sinergi melalui suatu institusi yang memiliki legalitas yang jelas dalam menjalankan aktivitasnya.&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;12.&lt;/b&gt; Dalam konteks mengembangkan usaha peternakan sapi perah rakyat dan mengatasi permasalahan yang mereka hadapi tampaknya belum dapat sepenuhnya diserahkan kepada kemampuan mereka sendiri. Masih dibutuhkan&amp;nbsp; peran dari pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk memikirkan para peternak sapi perah agar mereka dapat hidup secara lebih layak melalui usaha yang mereka tekuni. Beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mendorong usaha peternakan sapi perah rakyat oleh Pemerintah antara lain adalah :&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Berbagai institusi yang terkait di pemerintah harus memiliki persepsi yang sama tentang peran dan pentingnya pengembangan peternakan sapi perah rakyat di tanah air ini antara lain sebagai instrumen untuk penyediaan lapangan kerja, mengurangi impor susu, mencerdaskan anak bangsa, dsb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah harus secara konsekuen mengalokasikan dana yang cukup agar peternak dapat memperoleh kesempatan meningkatkan skala pemilikan sapi mereka. Subsidi bunga dapat menjadi salah satu alternatif.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah harus secara terus menerus dan intensif melakukan program untuk mendorong kesadaran minum susu segar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah perlu meningkatkan pelayanan teknis terutama pelayanan untuk mengatasi masalah penyakit mastitis dan penyakit hewan lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemerintah perlu melakukan upaya untuk mempercepat peningkatan populasi sapi perah di tanah air baik dengan potensi populasi yang ada ataupun dengan impor bibit sapi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membantu organisasi koperasi atau kelompok tani dalam penyediaan peralatan yang dapat membantu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas susu antara lain mesin pemerah susu yang &lt;i&gt;portable&lt;/i&gt;, peralatan penanganan susu dan peralatan untuk pendinginan susu. Untuk mengurangi jumlah bakteri dalam susu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Daerah luar Jawa harus mendapatkan perhatian untuk pengembangan usaha paternakan sapi perah khususnya selain dalam rangka penyediaan susu segar bagi masyarakat juga sekaligus memberdayakan potensi yang ada termasuk pemberdayaan SDM. Pola pengembangan di luar Jawa harus digunakan pendekatan secara terpadu mulai hulu sampai hilir dalam skala yang sesuai dengan perkiraan kemampuan pasar. Pada tahap awal dan jangka waktu tertentu pemerintah daerah harus mengalokasikan dana untuk menyerap susu segar yang telah diolah dan siap diminum dengan tingkat harga yang layak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Harus ada kesamaan tekad dan persepsi dari lembaga legislatif yang dimanifestasikan dalam dukungan dan keputusan politik. Keputusan dan dukungan politik harus tercermin dalam bentuk dukungan anggaran dalam APBN serta berbagai peraturan perundangan yang mengarah pada terciptanya iklim yang kondusif.&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;13.&lt;/b&gt; Kita yakin bahwa masa depan usaha peternakan sapi perah di tanah air akan sangat cerah. Peluang yang tersebut diatas dapat menjadi pegangan kita untuk melangkah dengan&amp;nbsp; pasti menyongsong masa depan usaha peternakan sapi perah. Bahkan peluang yang ada dalam usaha peternakan sapi perah ke depan ini tidak lagi menjadi lahan bagi peternak kecil dengan skala yang kecil dan pendekatan usaha tani, tetapi akan pula dimanfaatkan pemodal besar. Oleh karena itu upaya dari semua pihak, terutama Pemerintah, untuk mendorong usaha peternakan sapi perah rakyat dalam kerangka revolusi putih ini sangat dibutuhkan.&lt;/blockquote&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;div align="right"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Solo , 9 Agustus 2007&lt;/div&gt;&lt;div dir="ltr"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;(Catatan : Artikel ini adalah bahan paparan&amp;nbsp; acara persusuan yang diselenggarakan oleh&lt;br /&gt;&amp;nbsp;Ditjen P2HP di Solo tgl 9 Agutus 2007. Pemakalah sebagai Sekjen PPSKI )&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;TABEL MODAL DASAR UNTUK&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;IMPLEMENTASI REVOLUSI PUTIH &lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;table border="1"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;No. &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Institusi &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Peran dan pemberdayaannya &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;1 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Ditjen Peternakan &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menyiapkan APBN untuk BLM berupa ternak sapi perah dan sarana penunjangnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengawasan kesehatan sapi perah dan reproduksinya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bimbingan teknis peternakan sapi perah kepada para peternak.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;2&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Ditjen&amp;nbsp; BP2HP, Deptan &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pengadaan mesin prosesing susu skala kecil untuk program terpadu dari APBN.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melakukan promosi tentang kemanfaatan susu segar bagi masyarakat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengadaan sarana pemasaran/distribusi susu segar dan murah untuk masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;3 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Departemen perindustrian &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt; Bimbingan teknis dalam industri susu skala kecil.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyediaan sarana prosesing susu dan pemasarannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Legalitas untuk opersaional perlatan prosesing susu. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;4 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Ditjen Perdagangan Dalam&amp;nbsp; Negeri, Dep. Perdagangan &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bantuan promosi dan sosialisasi distribusi susu murah untuk masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Dukungan legalitas dalam proses pemasaran dan distribusi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bantuan sarana pemasaran dan distribusi.&amp;nbsp; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;5 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Departemen Kesehatan &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penerangan kepada masyarakat tentang pentingnya protein bagi kesehatan, pertumbuhan, dan kecerdasan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Moblisasi tenaga medis yang ada di daerah untuk mendukung program pencerdasan anak bangsa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Dukungan legalitas atas produk susu yang didistribusikan untuk rakyat. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;6 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Badan POM &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memberikan bimbingan dan nomor MD untuk produk susu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu melakukan pengawasan atas kualitas produk susu yang dihasilkan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;7 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Kantor Meneg. Koperasi &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memperkokoh organisasi koperasi susu baik primer maupun sekunder untuk berpepran besar dalam Revolusi Putih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu dalam pengadaan sarana-sarana prosesing dan pemasaran bagi koperasi untuk dapat menunjang distribusi susu murah bagi masyarakat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu permodalan bagi koperasi untuk meningkatkan produksi. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;8 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Departemen Sosial &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memberikan data daerah yang perlu diprioritaskan untuk menerima susu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menggunakan produk susu murah yang dihasilkan untuk membantu korban bencana dan masyarakat miskin. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;9 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Departemen&amp;nbsp; Pendidikan &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membantu dalam sosialisasi pentingnya konsumsi protein. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mengalokasikan dana untuk makanan tambahan bagi murid-murid dari keluarga tidak mampu .&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menggerakkan sekolah-sekolah sebagai sarana distribusi susu murah. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;10 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Menko Kesra &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Mengkoordinasikan instansi pemerintah terkait untuk menunjang program Revolusi Putih II.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menjadikan program Revolusi Putih II sebagai program nasional dengan pelaksanaan bertahap. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;11 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Pemerintah Daerah &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sesuai dengan kewenangan dalam Otoda, pemerintah daerah membantu pelaksanaan program Revolusi Putih sesuai dengan kapsitas masing-masing.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menyiapkan program-program daerah untuk menunjang pelaksanaan revolusi putih II.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu dan mengakomodir HKTI dan PPSKI dalam menjalankan peran dan fungsinya di lingkup daerah yang bersangkutan. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;12 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;GKSI dan Koperasi primer anggotanya &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Menjadi tulang punggung dalam penyediaan susu segar bagi program susu murah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Menjadi motor dalam peningkatan produksi susu segar nasional dengan memberdayakan seluruh anggota dan potensi yang dimiliki.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu pengembangan koperasi dan pengembangan peternakan sapi perah di luar Jawa.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Mengoptimalkan fasilitas prosesing dan distribusi susu yang dimiliki untuk mendukung dan menunjang Revolusi Putih II. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;13 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Organisasi Artis (mis. Parfi) &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membantu dalam mengkampanyekan susu untuk anak-anak .&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sebagai motivator dan innovator dalam promosi dan kampanye minum susu segar dan susu murah. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;14 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Media Massa&lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membantu dalam penyebaran informasi tentang aktivitas dan konsep revolusi Putih II.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu dalam melakukan kontrol.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;15 &lt;/td&gt;&lt;td&gt;Badan atau lembaga internasional (seperti WHO, Unicef, USAID, FAO, dsb.) &lt;/td&gt;&lt;td&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Membantu untuk memberikan dukungan internasional atas program.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu untuk mengalihkan program bantuan susu untuk anak sekolah kepada Management Revolusi Putih II dari pengusaha swasta yang berjalan sekarang ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Membantu sarana ataupun teknis atas pelaksaaan konsep revolusi putih II. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.agribisnews.com/component/content/article/31-p....html?showall=1"&gt;Peningkatan Daya Saing Persusuan Nasional Melalui Revolusi Putih&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-8939212148885840343?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/8939212148885840343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=8939212148885840343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8939212148885840343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8939212148885840343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/peningkatan-daya-saing-persusuan.html' title='Peningkatan Daya Saing Persusuan Nasional Melalui Revolusi Putih'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-4987755709385125536</id><published>2009-08-27T19:29:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:36:56.743-08:00</updated><title type='text'>Paper2</title><content type='html'>&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/mma5ugm/Paper2.htm"&gt;Paper2&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-4987755709385125536?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/4987755709385125536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=4987755709385125536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4987755709385125536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4987755709385125536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/paper2.html' title='Paper2'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-941230316458489984</id><published>2009-08-27T00:40:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:46:54.805-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saper'/><title type='text'>Perencanaan Peternakan Sapi Perah</title><content type='html'>&lt;div class="entry-content"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Oleh:&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Priyono, S.Pt&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&lt;i&gt;Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 1cm;"&gt;Susu merupakan bahan makanan asal ternak yang memiliki kandungan gizi tinggi. Hal ini mengakibatkan permintaan akan susu meningkat seiring dengan semakin bertambahnya populasi manusia setiap tahunnya. Saat ini sebagian besar susu di Indonesia masih harus diimpor (sekitar 70 %), sedangkan 30%nya di pasok dari produksi susu domestik yang sebagian besar dihasilkan oleh peternakan sapi perah rakyat (Purna, dkk. 2009). Selain itu, susu yang dihasilkan oleh peternak sapi perah Indonesia banyak yang tidak memenuhi standar IPS, sehingga banyak susu yang ditolak pabrik pengolahan susu. Tidak ada langkah lain selain membuang susu, dan hal ini tentu akan merugikan peternak Indonesia.&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebagai generasi bangsa, setiap masyarakat Indonesia dituntut peran sertanya dalam pembangunan. Salah satu aspek penting dan vital bagi rakyat Indonesia adalah bidang pertanian, karena sebagian besar masyarakat Indonesia bergerak dalam sektor pertanian, termasuk didalamnya subsektor peternakan. Langkah yang dapat dilakukan untuk mencukupi kebutuhan konsumsi susu masyarakat Indonesia adalah dengan banyak masyarakat yang membudidayakan peternakan sapi perah. Supaya peternakan sapi perah berjalan sesuai dengan tujuan yaitu memberikan produksi susu yang tinggi dan memberikan kesejahteraan bagi masyarakat, maka diperlukan perencanaan yang matang sebelum memulai membudidayakan peternakan sapi perah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Suatu usaha yang didasarkan pada rencana sebelumnya, hasilnya akan lebih baik dibandingkan dengan usaha yang dilakukan tanpa ada rencana sebelumnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat perencanaan sapi perah adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Merintis Usaha&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebelum memulai usaha kita harus menentukan titik awal atau latar belakang kita berusaha, apakah usaha kita merupakan pendirian usaha atau pengembangan usaha. Jika pendirian usaha, maka perencanaan akan dimulai dari awal, sedangkan jika pengembangan usaha, maka perencanaan usahanya merupakan perencanaan lanjutan. Persiapan dalam merintis usaha yaitu harus memperhatikan:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Aspek Umum yang umumnya terdiri dari sosial, budaya, tanggapan masyarakat, dukungan pemerintah, dan lain-lain,&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Aspek Ekonomi, yaitu berkaitan dengan analisis usaha yang nantinya apakah usahanya akan menguntungkan atau sebaliknya memperoleh kerugian. Sehingga aspek ekonomi ini merupakan aspek yang vital dalam perencanaan usaha peternakan sapi perah,&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Aspek Teknis Operasional yaitu aspek yang terkait dengan teknis dan lingkungan. Tanpa adanya aspek ini, maka produksi tidak dapat dihasilkan. Untuk memperoleh usaha yang menguntungkan, maka harus dimulai dari aspek teknis yang baik dan berkualitas.&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ol&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Rencana Kerja Usaha&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Rencana kerja disusun setelah ada ide merintis usaha. Tahap ini merupakan tahap yang menentukan dalam awal usaha yang dilakukan. Rencana kerja dapat dibagi kedalam lima bagian, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Maksud dan tujuan usaha&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Usaha peternakan sapi perah dijalankan sebagai usaha produksi susu saja atau ditambah dengan usaha pembibitan sapi perah. Kejelasan maksud dan tujuan akan memudahkan dalam kelanjutan usaha kedepannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ternak yang akan diusahakan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Ternak yang diusahakan akan menggunakan jenis ternak tertentu, kemudian jenis kelamin tertentu dan harus dipastikan jumlah awal ternaknya berapa banyak atau jika pengembangan maka penambahan ternaknya harus diperhatikan berapa banyak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Kandang dan Gudang&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Hal ini disesuaikan dengan rintisan usaha, apakah akan membuat bangunan awal atau membuat bangunan tambahan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pakan&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pakannya harus dipantau ketersediaannya, sehingga terjadi kontinyuitas penyediaan pakan. Maka ternak dapat tercukupi kebutuhan pakannya baik dari segi kualitas maupun kuantitas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Pasar&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Usaha ternaknya harus mempunyai pasar yang baik. Jika pasarnya kurang baik, meskipun produksinya tinggi dan baik maka susu atau pedet tidak dapat dijual dan hal ini akan menyebabkan kerugian pada usaha peternakan sapi perah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Rencana Penggunaan Modal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Rencana penggunaan modal juga merupakan aspek yang memiliki peran vital dalam usaha, karena tanpa modal usaha hanya akan menjadi rencana saja dan tidak dapat diaplikasikan. Modal usaha yang harus dikeluarkan dalam menyusun rencana usaha peternakan sapi perah yaitu:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Investasi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Kandang&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Gudang&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Perumahan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Peralatan pemerahan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Peralatan teknis pemeliharaan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Biaya Tetap&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Sapi betina (Laktasi dan kering kandang)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Sapi jantan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pedet betina&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pedet jantan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Biaya Operasional&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pakan (Hijauan dan konsentrat)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Gaji karyawan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Obat-obatan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Penyusutan bangunan dan peralatan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Listrik&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Penyusutan kematian ternak (sekitar 4-5 %)&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pajak&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Biaya lain-lain.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Perkembangbiakan ideal sapi perah&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.5cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Sebelum memulai usaha, peternak atau pengusaha harus mengetahui perkembangbiakan sapi perah. Beberapa hal yang harus diketahui dan diperhatikan adalah sebagai berikut:&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;ul&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Lama kebuntingan 9 bulan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Masa kering kandang 2 bulan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Siklus birahi 21 hari&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Lama birahi 2 sampai 3 hari&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Umur afkir induk atau pejantan 8 sampai 9 tahun&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pedet betina diberikan susu sampai umur 4 bulan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pedet jantan diberikan susu sampai umur 2 bulan&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;br /&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;Pedet jantan dapat dijual setelah umur 1,5 sampai 2 bulan (Nugroho, 2008).&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/span&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; text-indent: 1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;Langkah yang perlu dilakukan setelah usaha peternakan sapi perah berjalan adalah dilakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh mana target yang direncanakan tercapai. Sehingga dapat mengambil langkah preventif sebaliknya pengembangan pada usaha peternakan sapi perah. Hal ini tentu akan membantu mengurangi ketergantungan bangsa Indonesia akan impor susu. Siapa lagi yang akan membangun Indonesia jika bukan para penerus dan generasi bangsa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="sv-SE" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&amp;nbsp;Nugroho, C. P. 2008. &lt;i&gt;Agribisnis Ternak Ruminansia Jilid 3&lt;/i&gt;. Direktorat Pembinaan &lt;span lang="sv-SE"&gt;Sekolah&lt;/span&gt; Menengah Kejuruan. Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify" lang="sv-SE" style="line-height: 150%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 1cm; text-indent: -1cm;"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&amp;nbsp;&lt;span lang="sv-SE"&gt;Purna, I., Hamidi dan Elis. 2009. Permasalahan dan Kebijakan Pemerintah Di Sektor Perindustrian. &lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;&lt;i&gt;www.setneg.go.id&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="sv-SE"&gt;. Diakses 31 Mei 2009.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://agribussiness.wordpress.com/category/usaha-sapi-perah/"&gt;Usaha Sapi Perah « AGRIBISNIS PETERNAKAN&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-941230316458489984?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/941230316458489984/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=941230316458489984' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/941230316458489984'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/941230316458489984'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/usaha-sapi-perah-agribisnis-peternakan.html' title='Perencanaan Peternakan Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2306446497706822312</id><published>2009-08-27T00:39:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:47:34.222-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saper'/><title type='text'>Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat « AGRIBISNIS PETERNAKAN</title><content type='html'>&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Priyono, S.Pt&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;i&gt;Alumnus Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;i&gt;Mahasiswa Magister Ilmu Ternak Universitas Diponegoro&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;i&gt;Email: priyono.spt@gmail.com&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Susu merupakan produk asal ternak yang memiliki kandungan gizi yang tinggi. Kandungan yang ada didalamnya seperti protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral dibutuhkan untuk pembentukan jaringan tubuh, sumber protein, energy dan aktivitas sel-sel dalam tubuh. Susu dapat dihasilkan dari ternak yang diperah. Saat ini, ternak yang dapat menghasilkan susu untuk dikonsumsi oleh manusia hampir semuanya berasal dari ternak sapi dan kambing perah. Susu dari sapi perah harganya lebih murah dan kuantitas dipasaran lebih banyak dibandingkan susu dari ternak kambing.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Industri Pengolahan Susu (IPS) supaya dapat memenuhi kebutuhan konsumen, harus memperoleh bahan baku susu segar dari industri peternakan. Industri peternakan di Indonesia terbagi menjadi dua yaitu usaha peternakan rakyat dan usaha intensif untuk tujuan komersil. Industri peternakan dalam negeri saat ini hanya mampu memasok 30 % bahan baku susu segar untuk memenuhi permintaan IPS. Hal ini menunjukkan bahwa 70 % bahan baku susu segar masih harus diimpor. Dengan melihat kondisi ini, maka usaha ternak sapi perah harus ditingkatkan lagi populasi dan produktivitasnya sehingga mampu memenuhi kebutuhan IPS.&lt;/div&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Usaha peternakan rakyat merupakan usaha budidaya ternak yang dikelola oleh petani peternak di pedesaan dengan skala kepemilikan ternak kecil dengan rata-rata kepemilikan kurang dari 5 ekor. Hal tersebut sesuai dengan Priyono (2008) yang menyatakan bahwa skala kepemilikan peternakan rakyat ternak sapi potong antara 3-5 ekor per rumah tangga peternak. Usaha tani ternak sapi perah rakyat umumnya hanya dijadikan sambilan oleh para petani jika mereka sewaktu-waktu membutuhkan biaya yang cukup besar.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan, maka harus lebih intensif dalam menjalankan usaha. Karena sebagian besar para peternak sapi perah merupakan skala usaha peternakan rakyat, maka difokuskan pada peningkatan skala usaha dari usaha ternak sapi perah yang dilakukan oleh para petani peternak di Pedesaan. Sebelum melakukan perluasan skala usaha maka dibutuhkan suatu kajian dan analisis mengenai usaha peternakan sapi perah rakyat. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui sejauh mana efisiensi usaha dan pendapatan yang diperoleh petani peternak dengan jumlah ternak yang dimilikinya.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Analisis usaha tani ternak sapi perah dapat dilakukan dengan menganalisis usaha tani. Dalam analisis usaha tani perlu dicermati biaya-biaya yang diperhitungkan dan biaya yang tidak diperhitungkan. Contohnya sebagian besar petani tidak memperhitungkan tenaga dan pakan yang dapat diperoleh dari kebun sendiri. Oleh karena itu, dalam analisis usaha tani diperlukan analisis pendapatan. Soekartawi (1986) menyatakan bahwa pendapatan merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Penerimaan diperoleh dari penjualan output hasil produksi. Output yang harus diperhitungan meliputi penjualan susu, penjualan pedet, penjualan limbah peternakan dan penjualan sapi perah afkir. Sedangkan input dibagi menjadi input biaya tetap dan input biaya variabel. Input biaya tetap merupakan biaya yang dikeluarkan tanpa terpengaruh oleh volume faktor produksi dan input biaya variabel merupakan biaya yang terpengaruh oleh volume faktor produksi. Selain itu, investasi yang dikeluarkan juga harus diperhitungkan. Penyusutan investasi dimasukkan dalam biaya tetap. Penyusutan kandang dan peralatan dapat digunakan metode garis lurus (Emery et al., 1962). Investasi pada usaha tani ternak sapi perah seperti pembangunan kandang, peralatan dan pembelian sapi. Untuk mengetahui jumlah keuntungan yang diperoleh dengan investasi yang ditanamkan dapat digunakan analisis Return On Investment (ROI).&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;Analisis titik impas atau &lt;i&gt;Break Event Point&lt;/i&gt; (BEP) dalam analisis usaha ternak sapi perah rakyat juga perlu dilakukan untuk mengetahui titik impas dimana semua biaya dapat tertutup oleh penerimaan. BEP adalah suatu keadaan yang menunjukkan bahwa suatu usaha tidak rugi dan tidak untung (Abdurrachman, 1963; Johannes &lt;i&gt;et al.,&lt;/i&gt; 1980). Dengan dilakukannya analisis usaha tani ternak sapi perah rakyat maka dapat dijadikan pertimbangan dalam melakukan perluasan skala usaha dengan melihat kemampuan dan sumberdaya yang ada. Oleh karena itu, pembangunan peternakan khususnya usaha ternak sapi perah perlu mendapat bantuan dan dukungan dari semua pihak, baik pemerintah, swasta dan investor.&lt;/div&gt;&lt;div style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" style="margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;Abdurrachman, A. A. 1963. &lt;i&gt;Esiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan, Inggris –Indonesia&lt;/i&gt;, Pradnya Paramita, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;Johannes, H., Budiono, dan S. Handoko. 1980. &lt;i&gt;Pengantar Matematika untuk Ekonomi&lt;/i&gt;. LP3ES, PT. Internusa, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;Emery, N. C., H. B. Manning and J. S. Frederick. 1962. &lt;i&gt;Farm Business Management&lt;/i&gt;. 2nd Edition The MacMillan Co., New York.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;Priyono. 2008. Studi Keterkaitan Antara Ikatan Sosial Dengan Pendapatan dan Efisiensi Ekonomi Usaha Ternak Sapi Potong di Kabupaten Banjarnegara. &lt;i&gt;Skripsi&lt;/i&gt;. Fakultas Peternakan UNSOED Purwokerto.&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 100%; margin-bottom: 0pt; margin-left: 0.39in; text-indent: -0.39in;"&gt;Soekartawi. 1986. &lt;i&gt;Ilmu Usahatani dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil&lt;/i&gt;. K Press, Jakarta.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://agribussiness.wordpress.com/2009/07/23/analisis-usaha-tani-ternak-sapi-perah-rakyat/"&gt;Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat « AGRIBISNIS PETERNAKAN&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2306446497706822312?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2306446497706822312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2306446497706822312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2306446497706822312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2306446497706822312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/analisis-usaha-tani-ternak-sapi-perah.html' title='Analisis Usaha Tani Ternak Sapi Perah Rakyat « AGRIBISNIS PETERNAKAN'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-890954052233587235</id><published>2009-08-27T00:36:00.000-07:00</published><updated>2009-08-27T00:36:47.498-07:00</updated><title type='text'>Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah</title><content type='html'>&lt;a href="http://pranowoblog.co.cc/?p=19"&gt;Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-890954052233587235?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://pranowoblog.co.cc/?p=19' title='Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/890954052233587235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=890954052233587235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/890954052233587235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/890954052233587235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/pranowoblog-blog-archive-prospek.html' title='Pranowoblog » Blog Archive » Prospek Pengembangan Sapi Perah di Jawa Tengah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2646579033060250918</id><published>2009-08-27T00:16:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:53:10.347-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='olahan hasil'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saper'/><title type='text'>Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah</title><content type='html'>Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah&lt;br /&gt;15 Juni 2007 · &amp;amp; Komentar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap daerah tentu memiliki makanan khas daerah tersebut, Majalaya punya borondong, Ciwidey dengan Kalua Jeruk nya (manisan kulit jeruk Bali), tak terkecuali Pangalengan. Orang tentu telah mengenal permen susu atau sering disebut caramel hasil olahan para pengrajin di Pangelangan, selain itu teradapat juga kerupuk susu, dodol susu, tahu susu, noga susu dll.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Semua itu tidak terlepas dari adanya peteranakan sapi perah di Pangalengan, peteranakan sapi di sana mempunyai sejarah yang cukup panjang, dari penuturan Haryoto Kunto (Kuncen Bandung), ada sejumlah pelarian perang Boer di Afrika Selatan yang datang ke daerah Bandung pada zaman Kolonial Belanda, mereka mendirikan usaha diberbagai sektor, diantaranya mendirikan Dennish Bank (sekaranng Bank Jabar), membuka perkebunan, dan peteranakan, salah satu nya di Pangalengan (Baca : Balai Agung di Kota Bandung-Haryoto Kunto).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peternakan sapi didirikan untuk kepentingan gizi orang-orang Belanda. Orang Belanda memang suka minum susu. Saat itu peternakan sapi perah hanya dimiliki oleh orang Belanda. Para pribumi hanyalah pekerja. Di Pangalengan terdapat beberapa perusahaan besar, seperti De Friesche Terp (B. Vrijburg), Almanak, Van der Els, dan Big Man. Sedangkan di Lembang ada Baroe Adjak. Photo di samping diambil dari situs Kitlv.nl, merupakan photo kantor peternakan De Friesche Terp di Pangalengan sekitar tahun 1930, deskripsi nya adalah “ De Friesche Terp, melkveeboerderij te Pengalengan, opgericht door veearts B. Vrijburg“, hmm… ada yang tahu artinya :) , coba perhatikan benderanya, mirip dengan gambar yang terdapat pada kaleng susu bendera yang ada di pasaran sekarang ini. Jangan-jangan perusahan Fresland Flag yang ada di Belanda merupakan kelanjutan De Friesche Terp, boleh minta komentar kepada siapa saja yang tahu banyak tentang perusahaan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Jepang masuk, perusahaan itu dengan sendirinya tidak beroperasi lagi. Sejumlah ternak sapi kemudian dipelihara oleh warga. Sebagian perusahan peteranakan itu di nasioanalisasi oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1959 dengan keluarnya PP 12/1959 tentang Penentuan Perusahaan Peternakan Milik Belanda Yang Dikenal Dengan Nasionalisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koperasi susu di Pangalengan adalah yang tertua di Jawa Barat. Tahun 1949 para peternak mendirikan koperasi bernama Gabungan Petani Peternak Sapi Indonesia Pangalengan (Gappsip). Namun pada tahun 1961, Gappsip bubar karena tidak mampu menghadapi labilnya perekonomian Indonesia. Pada tahun 1969, dengan inisiatif pemerintah dan masyarakat, terbentuklah sebuah koperasi yang sekarang dikenal dengan nama KPBS (kompas.com) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para peteranak menjadi anggota dari koperasi tersebut, menjual susu yang mereka produksi ke koperasi untuk kemudian dijual kembali oleh KPBS ke pabrik pengolahan susu (perusahan Susu yang saya ketahui salah satu nya adalah PT. Ultra Jaya). Uang hasil penjualan susu tersebut tidak diberikan langsung setiap hari kepada peternak, tetapai diakumulasi yang kemudaian diberikan setiap awal bulan (semacan gajian). Bila ada yang berkesampatan ke Pangalengan setiap pukul 6:00 atau 14:00 akan terlihat aktivitas penyetoran susu hasil perahan yang dipikul oleh peternak menggunakan tong penampung susu (sering kali disebut Bess) diangkut ke tempat-tempat penampungan susu di seluruh area kerja KPBS (Komda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain dijual, ada sebagian susu yang dijadikan makanan olahan, seperti Permen Susu, Kerupuk Susu, Tahu Susu dan Dodol susu, ”All about Milk”, daerah pemasarannya sudah memasuki kota besar seperti Bandung dan Jakarta. Jangan lupa! sekembali dari Pangalengan mapirlah di kios oleh-oleh pengganan susu ini yang bisa ditemukan di sepanjang jalan dari Pangalengan menuju Banjaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini terinspirasi setelah membaca sebuah artikel Harian Pikiran Rakyat berjudul Siap-Siap Keju Pangalengan Datang, tentang sebuah ide untuk mengembangkan pembuatan keju dari susu sapi perah lokal Pangalengan. Ide tersebut baru sebuah wacana dengan tujuan untuk memperoleh nilai tambah bagi usaha produksi sapi perah. Terakhir saya ke Pangalengan, belum ada realisasi dari rencana tersebut. Mungkin baru diadakan persiapan matang, yang membutuhkan kerjasama yang solid antara Pemerintah daerah, KPBS, peternak dan Dinas Peterankan Jawa Barat. Mudah-mudahan dengan terealisasi nya usaha tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar, dan produknya sendiri dapat dijadikan komoditas unggulan Pangalengan. Why Not, Semua itu perlu dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinggiran Jakarta Juni 2007&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2646579033060250918?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2646579033060250918/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2646579033060250918' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2646579033060250918'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2646579033060250918'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/aneka-olahan-dari-susu-sapi-perah.html' title='Aneka Olahan dari Susu Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-9100262736356736192</id><published>2009-08-20T22:00:00.000-07:00</published><updated>2010-02-03T23:54:58.150-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Saper'/><title type='text'>Sari Husada</title><content type='html'>PemKab Sleman Resmikan Tiga Kandang Percontohan  02/07/09&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaliurang, Jumat, 19 Juni 2009 –&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil Bupati Sleman, Drs. H. Sri Purnomo, Msi.,  hari ini meresmikan Kandang Sapi Perah Percontohan yang merupakan bantuan yang diberikan oleh PT Sari Husada kepada tiga kelompok Peternak di Koperasi Peternak di wilayah Kaliurang, yakni Koperasi Warga Mulya, Sarono Makmur dan UPP Kaliurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sambutannya pada acara peresmian kandang percontohan tersebut, Sri Purnomo mengatakan,” Apa yang telah dilakukan oleh Sari Husada selama ini, khususnya dalam membantu meningkatkan pengetahuan tentang cara beternak sapi yang baik serta dalam memberikan fasilitas kepada para peternak merupakan wujud nyata kepedulian dunia usaha kepada peningkatan kesejahteraan peternak yang patut kita hargai.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selaku pemerintah, kami selalu mendukung aktivitas pembangunan yang dijalankan dalam bentuk kemitraan strategis seperti yang telah diwujudkan oleh Sari Husada yang melibatkan konsultan-konsultan teknis dari Universitas Gajah Mada dalam membantu meningkatkan kesejahteraan para peternak,” lanjut Sri Purnomo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberikan berbagai bentuk fasilitas seperti kandang sapi, Sari Husada juga secara rutin memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada para peternak tentang cara-cara beternak yang baik sehingga mampu menghasilkan kualitas susu segar yang baik, melalui program Peningkatan Mutu Susu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Direktur PT Sari Husada, Budi Isman dalam sambutannya mengatakan,”Sejak tahun 1991, Sari Husada telah bekerja sama dengan para konsultan dari Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada dan menjalankan program Peningkatan Mutu Susu yakni melalui pendampingan dan penyuluhan kepada para peternak sapi perah di wilayah Jawa Tengah dan DIY termasuk di Kaliurang untuk terus meningkatkan kualitas susu yang mereka hasilkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Program pembinaan merupakan program yang terintegrasi yakni selain memberikan penyuluhan dan bimbingan, kami juga memberikan bantuan berupa alat-alat yang memenuhi standar peternakan sapi perah yang baik, seperti milk can, coppers, lacto scan, dan lain-lain,” lanjut Budi Isman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bantuan kandang percontohan yang diresmikan hari ini juga dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan yang dapat dipakai sebagai bahan bakar untuk memasak dan penerangan .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami menerapkan kandang sapi perah yang terintegrasi dan ramah lingkungan yakni dilengkapi dengan bio-digester sehingga kotoran sapi tidak dibuang begitu saja melainkan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan gas metan untuk bahan bakar. Sedangkan limbah yang dihasilkan dari bio-digester dapat dipergunakan untuk pupuk bagi rumput yang selanjutnya digunakan untuk pakan ternak. Dengan demikian tidak ada yang terbuang sekaligus membantu mengurangi emisi gas karbon,” lanjut Budi Isman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain memberikan bantuan berupa tiga kandang sapi percontohan untuk 3 koperasi tersebut, PT Sari Husada juga memberikan bantuan 100 unit  milk can, 10 unit komputer kepada 10 koperasi peternak sapi perah di wilayah DIY dan Jawa Tengah serta menjalankan proyek pembuatan pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan nutrisi sapi perah yang pada akhirnya untuk meningkatkan kualitas susu yang dihasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.sarihusada.co.id/beritadankegiatan/baca/28/2/PemKab.Sleman.Resmikan.Tiga.Kandang.Percontohan."&gt;Sari Husada&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-9100262736356736192?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/9100262736356736192/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=9100262736356736192' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/9100262736356736192'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/9100262736356736192'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/sari-husada.html' title='Sari Husada'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5144166836595527361</id><published>2009-08-20T21:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:53:28.320-07:00</updated><title type='text'>Selamat Datang di Kedaulatan Rakyat Online</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=156167&amp;amp;actmenu=38"&gt;Selamat Datang di Kedaulatan Rakyat Online&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5144166836595527361?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=156167&amp;actmenu=38' title='Selamat Datang di Kedaulatan Rakyat Online'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5144166836595527361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5144166836595527361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5144166836595527361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5144166836595527361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/selamat-datang-di-kedaulatan-rakyat.html' title='Selamat Datang di Kedaulatan Rakyat Online'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3707606105063858351</id><published>2009-08-20T21:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:50:10.584-07:00</updated><title type='text'>Veterinarian Journey » Blog Archive » Manajemen Sapi Perah</title><content type='html'>&lt;a href="http://fikrivet.fipiblog.com/2009/04/28/manajemen-sapi-perah/"&gt;Veterinarian Journey » Blog Archive » Manajemen Sapi Perah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3707606105063858351?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://fikrivet.fipiblog.com/2009/04/28/manajemen-sapi-perah/' title='Veterinarian Journey » Blog Archive » Manajemen Sapi Perah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3707606105063858351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3707606105063858351' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3707606105063858351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3707606105063858351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/veterinarian-journey-blog-archive.html' title='Veterinarian Journey » Blog Archive » Manajemen Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6058032857049832990</id><published>2009-08-20T21:41:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:41:21.006-07:00</updated><title type='text'>REPUBLIK INDONESIA - Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.ri.go.id/id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=3522&amp;amp;Itemid=1946"&gt;REPUBLIK INDONESIA - Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6058032857049832990?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.ri.go.id/id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=3522&amp;Itemid=1946' title='REPUBLIK INDONESIA - Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6058032857049832990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6058032857049832990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6058032857049832990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6058032857049832990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/republik-indonesia-sumber-daya-alam.html' title='REPUBLIK INDONESIA - Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-4780620023884921091</id><published>2009-08-20T21:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:35:33.055-07:00</updated><title type='text'>Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Data Hasil Peternakan Tahun 2007</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sinjai.go.id/sinjai/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=1394&amp;amp;Itemid=108"&gt;Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Data Hasil Peternakan Tahun 2007&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-4780620023884921091?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sinjai.go.id/sinjai/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1394&amp;Itemid=108' title='Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Data Hasil Peternakan Tahun 2007'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/4780620023884921091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=4780620023884921091' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4780620023884921091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4780620023884921091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/situs-resmi-pemerintah-kabupaten-sinjai_20.html' title='Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Data Hasil Peternakan Tahun 2007'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1655174809149825569</id><published>2009-08-20T21:33:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:33:34.039-07:00</updated><title type='text'>Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Gerbang Emas Melalui Pengembangan Sapi Perah</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sinjai.go.id/sinjai/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=903"&gt;Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Gerbang Emas Melalui Pengembangan Sapi Perah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1655174809149825569?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sinjai.go.id/sinjai/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=903' title='Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Gerbang Emas Melalui Pengembangan Sapi Perah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1655174809149825569/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1655174809149825569' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1655174809149825569'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1655174809149825569'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/situs-resmi-pemerintah-kabupaten-sinjai.html' title='Situs Resmi Pemerintah Kabupaten Sinjai - Gerbang Emas Melalui Pengembangan Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6287161174637405647</id><published>2009-08-20T21:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:29:00.212-07:00</updated><title type='text'>Memperbaiki Nasib Peternak Sapi Perah</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.agribisnews.com/index.php?option=com_content&amp;amp;view=article&amp;amp;id=13:memperbaiki-nasib-peternak-sapi-perah&amp;amp;catid=3:persusuan&amp;amp;Itemid=4"&gt;Memperbaiki Nasib Peternak Sapi Perah&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6287161174637405647?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.agribisnews.com/index.php?option=com_content&amp;view=article&amp;id=13:memperbaiki-nasib-peternak-sapi-perah&amp;catid=3:persusuan&amp;Itemid=4' title='Memperbaiki Nasib Peternak Sapi Perah'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6287161174637405647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6287161174637405647' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6287161174637405647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6287161174637405647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/memperbaiki-nasib-peternak-sapi-perah.html' title='Memperbaiki Nasib Peternak Sapi Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2231283569126642279</id><published>2009-08-20T21:25:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:25:58.164-07:00</updated><title type='text'>Petani Sapi Perah Boyolali Desak Pencairan Kredit Rp51 Miliar - Media Indonesia - News &amp; Views</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.mediaindonesia.com/read/2008/10/10/36107/124/101/Petani-Sapi-Perah-Boyolali-Desak-Pencairan-Kredit-Rp51-Miliar"&gt;Petani Sapi Perah Boyolali Desak Pencairan Kredit Rp51 Miliar - Media Indonesia - News &amp;amp; Views&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2231283569126642279?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.mediaindonesia.com/read/2008/10/10/36107/124/101/Petani-Sapi-Perah-Boyolali-Desak-Pencairan-Kredit-Rp51-Miliar' title='Petani Sapi Perah Boyolali Desak Pencairan Kredit Rp51 Miliar - Media Indonesia - News &amp; Views'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2231283569126642279/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2231283569126642279' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2231283569126642279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2231283569126642279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/petani-sapi-perah-boyolali-desak.html' title='Petani Sapi Perah Boyolali Desak Pencairan Kredit Rp51 Miliar - Media Indonesia - News &amp; Views'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2989051079571586902</id><published>2009-08-20T21:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:16:39.713-07:00</updated><title type='text'>STRATEGI PEMASARAN SUSU: MENCIPTAKAN OLAHAN SUSU YANG DISUKAI KONSUMEN - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.sinartani.com/ternak/strategi-pemasaran-susu-menciptakan-olahan-susu-disukai-konsumen-1246853033.htm"&gt;STRATEGI PEMASARAN SUSU: MENCIPTAKAN OLAHAN SUSU YANG DISUKAI KONSUMEN - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2989051079571586902?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.sinartani.com/ternak/strategi-pemasaran-susu-menciptakan-olahan-susu-disukai-konsumen-1246853033.htm' title='STRATEGI PEMASARAN SUSU: MENCIPTAKAN OLAHAN SUSU YANG DISUKAI KONSUMEN - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2989051079571586902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2989051079571586902' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2989051079571586902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2989051079571586902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/strategi-pemasaran-susu-menciptakan.html' title='STRATEGI PEMASARAN SUSU: MENCIPTAKAN OLAHAN SUSU YANG DISUKAI KONSUMEN - Sinar Tani - Membangun Kemandirian Agribisnis'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6607711034161086383</id><published>2009-08-20T21:12:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:12:25.163-07:00</updated><title type='text'>www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - Bidang Peternakan</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=34&amp;amp;Itemid=65"&gt;http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=34&amp;amp;Itemid=65&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6607711034161086383?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=34&amp;Itemid=65' title='www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - Bidang Peternakan'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6607711034161086383/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6607711034161086383' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6607711034161086383'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6607711034161086383'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/wwwsemarangkabgoid-portal-informasi_20.html' title='www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - Bidang Peternakan'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6445086073923435123</id><published>2009-08-20T21:11:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T21:11:58.712-07:00</updated><title type='text'>www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - GUBERNUR : GETASAN COCOK JADI SENTRA SAPI PERAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=516&amp;amp;Itemid=2"&gt;http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=516&amp;amp;Itemid=2&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6445086073923435123?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.semarangkab.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=516&amp;Itemid=2' title='www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - GUBERNUR : GETASAN COCOK JADI SENTRA SAPI PERAH'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6445086073923435123/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6445086073923435123' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6445086073923435123'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6445086073923435123'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/wwwsemarangkabgoid-portal-informasi.html' title='www.semarangkab.go.id - Portal Informasi Kabupaten Semarang - GUBERNUR : GETASAN COCOK JADI SENTRA SAPI PERAH'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3825997194366104845</id><published>2009-08-20T20:03:00.000-07:00</published><updated>2009-08-20T20:03:56.436-07:00</updated><title type='text'>PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.jawatengah.go.id/news.php?NEWS=2009073008"&gt;PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3825997194366104845?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.jawatengah.go.id/news.php?NEWS=2009073008' title='PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3825997194366104845/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3825997194366104845' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3825997194366104845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3825997194366104845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/08/pemerintah-propinsi-jawa-tengah.html' title='PEMERINTAH PROPINSI JAWA TENGAH'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-205992863540689291</id><published>2009-02-21T00:17:00.001-08:00</published><updated>2009-02-21T00:17:59.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><title type='text'>Kambing PE, Kambing Perah Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana; font-size: 100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Balitnak Kambing PE adalah kambing Persilangan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawah (Jamnapari), dengan proporsi genotipe yang tidak jelas. Potensi Produksinya cukup tinggi. Dengan ciri khas bentuk muka cembung, telinga menggantung dengan Postur Tinggi, Panjang dan agak ramping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kinerja Produksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Pada program perkawinan setiap 8 bulan (3 kali beranak dalam 2 tahun), kambing ini sebaiknya di perah (laktasi selama 5- 6 bulan dengan masa kering selama 2-3 bulan (Gambar 1)&lt;br /&gt;• Pakan : rumput dan atau ramban (daun-daunan segar) dan pakan konsentrat (0,5-1,0) kg/ekor/hari. Air hendaknya selalu tersedia secara bebas&lt;br /&gt;Produksi susu :&lt;br /&gt;• Lama laktasi (bulan)    : 7-10 bulan&lt;br /&gt;• Produksi susu (liter/hari)  :1,0-1,5 liter&lt;br /&gt;Komposisi susu :&lt;br /&gt;• Air (%)      : 83-87&lt;br /&gt;• Protein(%)      : 3,3-3,9&lt;br /&gt;• Lemak susu(%)    : 4-7&lt;br /&gt;• Ca(%)     : 0,129&lt;br /&gt;• P (%)      : 0,106&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Produksi anak &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Berat lahir (kg)    :3-4,5&lt;br /&gt;• Jumlah anak sekelahiran (ekor) :1-3&lt;br /&gt;• Berat sapih (kg)     :13-15 ekor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Keunggulan susu kambing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Persentase butir-butir lemak dengan diameter kecil cukup tinggi (82,7 %)&lt;br /&gt;• 20 % asam lemak susu kambing termasuk asam lemak dengan rantai pendek dan sedang (4-12 karbon) sehingga mudah dan cepat dicerna&lt;br /&gt;• Sangat baik diberikan untuk orang yang mengalami gangguan pencernaan kalau mekonsumsi susu sapi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prospek pengembangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Dapat dikembangkan hampir disemua kondisi agroekosistem di Indonesia&lt;br /&gt;• Pemeliharaanya mudah, dan memerlukan modal relatif kecil&lt;br /&gt;• Membantu program peningkatan gizi dan kesehatan masyarakat di pedesaan melalui konsumsi susu kambing tanpa harus mengorbankan ternaknya sebagai ternak bibit&lt;br /&gt;• Merupakan sumber pertumbuhan baru sub sektor peternakan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Balitnak yang diketik  ulang dan ditambah  oleh Pengelola&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-205992863540689291?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/205992863540689291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=205992863540689291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/205992863540689291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/205992863540689291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/02/kambing-pe-kambing-perah-indonesia.html' title='Kambing PE, Kambing Perah Indonesia'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6499397034786198202</id><published>2009-02-21T00:14:00.000-08:00</published><updated>2009-08-27T00:08:37.288-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><title type='text'>STRATEGI PEMBERIAN PAKAN INDUK KAMBING PERAH</title><content type='html'>&lt;div class="post-body entry-content"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;STRATEGI PEMBERIAN PAKAN INDUK KAMBING PERAH&lt;br /&gt;SEDANG LAKTASI DARI SUDUT NERACA ENERGI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Oleh :&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 85%;"&gt;AFTON ATABANY&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;PTK D061020021&lt;br /&gt;E-mail: bpp3560@bogor.wasantara.net.id&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Latar Belakang&lt;br /&gt;Ternak perah adalah ternak yang dapat memproduksi susu melebihi kebutuhan anaknya dan dapat mempertahankan produksi susu sampai jangka waktu tertentu walaupun anaknya sudah disapih atau lepas susu. Jenis ternak perah yang ada antara lain sapi perah, kambing perah dan kerbau perah. Ternak perah diperlihara khusus untuk diproduksi susunya.&lt;br /&gt;Produksi susu nasional belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi nasional. Dengan demikian impor susu dan produk susu tetap dilaksanakan. Proyeksi produksi susu, konsumsi susu dan impor susu akan terus meningkat, sehingga perlu peningkatan populasi dan efisiensi produksi susu serta diversifikasi ternak perah. Pemeliharaan kambing perah merupakan salah satu alternative upaya diversifikasi ternak perah dan peningkatan produksi susu.&lt;br /&gt;Efisiensi produksi susu berhubungan dengan efisiensi pemberian pakan dan produksi susu. Produksi susu dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan termasuk managemen dan pemberian pakan. Metode yang umum ditempuh untuk meningkatkan produksi susu adalah melalui perbaikan managemen dan pemberian pakan yang terutama bertujuan untuk meningkatkan aliran substrat di dalam darah (prokursor susu) menuju kelenjar ambing. Pada kambing aliran darah mammae atau ambing meningkat 100-250% dalam 6 hari setelah beranak (post partum) dan peningkatan aliran darah tersebut berhubungan dengan penurunan aliran darah ke uterus. Produksi susu akan meningkat apabila peningkatan aliran substrat tersebut akan diikuti dengan peningkatan sel-sel sekretoris kelenjar ambing. Terjadi kenaikan produksi sel sekretoris secara gradual yang diikuti oleh peningkatan menyolok sel sekretoris 20 hari sebelum beranak (partus).&lt;br /&gt;Bangsa kambing perah yang didatangkan dari daerah beriklim sejuk rentan sekali terhadap cekaman panas. Untuk itu tata laksana pemeliharaan dan pemberian pakan harus diperhatikan guna menekan sekecil mungkin pengaruh cekaman panas tersebut. Rendahnya bobot tubuh ternak perah di Indonesia mungkin merupakan hasil akhir adaptasi terhadap lingkungan yang lembab dan tropis.&lt;br /&gt;Bobot tubuh ternak perah berkolerasi positif dengan produksi susu dan volume ambing sangat berkolerasi dengan produksi susu. Ternak yang lambat dewasa dengan kurva pertumbuhan mendatar cenderung menghasilkan susu lebih banyak dibandingkan ternak yang tumbuh lebih cepat. Ternak perah mempunyai bobot badan lebih rendah daripada ternak pedaging.&lt;br /&gt;Produksi susu yang tinggi pada induk sedang laktasi selama bulan pertama berpengaruh terhadap bobot tubuh induk dan dapat mengakibatkan penurunan bobot tubuh selama bulan pertama setelah melahirkan (berkisar antara 15-16 %). Penurunan bobot tubuh ini disebabkan oleh beberapa faktor misalnya nutrisi induk selama sebelum dan sesudah beranak, musim beranak dan cara pemeliharaan. Akan tetapi faktor cekamam laktasi belum jelas. Kehilangan bobot tubuh selama laktasi sepenuhnya normal sehingga diperlukan energi tersedia yang tinggi untuk produksi susu tanpa menyebabkan beban berlebihan pada sisitem pencernaan. Perlunya tata laksana pemberian pakan yang baik pada saat bunting dan laktasi agar tersedia cadangan yang cukup pada waktu beranak dan mencegah kehilangan bobot tubuh yang berlebihan selama laktasi.&lt;br /&gt;Sekresi susu naik cepat sesudah beranak dan akan lebih banyak pada kambing perah yang beranak lebih dari satu anak. Jumlah susu yang disekresi per hari akan naik untuk 2-4 minggu sesudah beranak dan banyak faktor yang mempengaruhi lama waktu yang diperlukan untuk memperoleh produksi maksimum. Peningkatan produksi susu yang tidak diimbangi oleh peningkatan konsumsi pakan pada awal laktasi mengakibatkan ternak akan memobilisasi cadangan nutrisi tubuhnya sehingga terjadi penyusutan bobot tubuh selama laktasi untuk produksi susu. Faktor-faktor lain mempengaruhi tinggi rendahnya produksi susu pada ternak adalah ukuran dan bobot badan induk, umur, ukuran dan pertautan ambing, pertumbuhan, jumlah anak lahir per kelahiran dan suhu lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi susu&lt;br /&gt;Produksi susu yang tinggi diinginkan untuk anak-anaknya dan kelebihannya untuk konsumsi manusia. Masa laktasi yang lama dan berkelanjutan setelah anaknya disapih penting bagi ternak perah. Musim beranak, jumlah laktasi dan umur pertama kali beranak mempengaruhi produksi susu. Ternak yang beranak dari bulan Januari sampai Juni menghasilkan susu lebih banyak daripada yang beranak bulan-bulan lainnya.&lt;br /&gt;Bangsa kambing dan jumlah laktasi berpengaruh terhadap produksi susu. Produksi susu maksimum tercapai pada umur 4 - 5 tahun atau pada laktasi ketiga dan tidak menurun drastis selama tiga tahun berikutnya dimana dianggap hampir semua bangsa kambing berbiak sekali dalam setahun. Susu yang dihasilkan setiap hari akan meningkat sejak induk beranak kemudian produksi akan menurun secara berangsur angsur hingga berakhirnya masa laktasi. Puncak produksi susu akan dicapai pada hari 21-49 setelah beranak. Produksi susu kambing berkisar 1-3 kg per ekor per hari tergantung bangsa kambing, masa laktasi, suhu lingkungan, pakan, jumlah anak perkelahiran dan tatalaksana pemeliharaan.&lt;br /&gt;Jumlah pemerahan setiap hari berpengaruh terhadap produksi susu. Pemerahan dua kali sehari produksi susu meningkat 40 % daripada pemerahan satu kali, pemerahan tiga kali lebih tinggi 5-20 % daripada dua kali dan pemerahan empat kali lebih tinggi 5-10% daripada pemerahan tiga kali. Adalah hal yang biasa bahwa kambing betina dengan berat 55 kg akan memproduksi lebih dari 200 kg susu dalam sekali laktasi yang lama laktasi 305 hari.&lt;br /&gt;Besarnya produksi susu yang dihasilkan selama masa laktasi dipengaruhi oleh banyak hal, diantaranya pertumbuhan dan perkembangan sel-sel sekretoris kelenjar ambing selama kebuntingan, ketersediaan zat-zat makanan (substrat) sebagai bahan untuk sintesa susu dan laju penyusutan sel-sel sekretoris selama laktasi. Secara umum dapat dikatakan bahwa sintesa susu melalui dua jalur yaitu filtrasi dan sintesis. Kecepatan sintesis dan filtrasi susu tergantung dari konsentrasi precursor di dalam darah yang merupakan ekspresi dari kuantitas dan kualitas suplai pakan.&lt;br /&gt;Energi produksi susu diperoleh dari energi yang berasal dari lemak susu, laktosa susu (karbohidrat) dan protein susu. Berdasarkan bahan kering susu pada sapi, energi produksi susu 48% dari lemak susu, 26% dari protein susu dan 26% dari karbohidrat susu. Pada kambing energi susu 50% dari lemak susu, 22% dari protein susu dan 27% dari karbohidrat susu. Besarnya energi produksi susu (Gross Energi) pada kambing perah sekitar 3200-3500 kalori tergantung bangsa kambing, pakan dan tata laksana pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi Pakan&lt;br /&gt;Kambing merupakan jenis ruminansia yang lebih efisien daripada domba dan sapi. Kambing dapat mengkonsumsi bahan kering yang relatif lebih banyak untuk ukuran tubuhnya yaitu 5-7%. Kambing juga lebih efisien dalam mencerna pakan yang mengandung serat kasar dibandingkan dengan sapi dan domba. Juga dilaporkan bahwa kambing mampu mengkonsumsi pakan yang tidak biasa dikonsumsi oleh hewan lain.&lt;br /&gt;Pakan utama kambing adalah tunas-tunas semak, ranting dan gulma dan kambing sangat efisien dalam mengubah pakan berkualitas rendah menjadi produk yang bernilai tinggi. Kambing merupakan pemakan yang lahap dengan pakan yang beragam dari tanaman lunak dan semak sampai kulit pohon. Kambing yang mendapat tambahan konsentrat sebaiknya diberikan dalam bentuk kasar atau digiling kasar karena kambing tidak suka pakan yang digiling halus dan berdebu.&lt;br /&gt;Tipe dan jumlah pakan harus disesuaikan dengan fungsi dan tujuan pemeliharaan. Kambing jantan yang tidak aktif dan induk kering dibedakan pakannya dengan induk laktasi dan kambing jantan aktif. Pemberian konsentrat diperlukan, akan tetapi jangan terlalu banyak karena akan menyebabkan kegemukan.&lt;br /&gt;Seekor kambing dengan berat badan 40 kg dan berproduksi 2 liter per hari diberikan 5 kg hijauan dan 0.5-1.0 kg konsentrat. Kadang – kadang kambing sedang laktasi diberikan hijauan secara ad. Libitum dan konsentrat yang mengandung protein kasar 16% sebanyak 0.5 kg per ekor per hari. Persentase pakan hijauan dan konsentrat agar diperoleh ransum yang murah dan koefisien cerna yang tinggi digunakan perbandingan pakan hijauan 60% dan konsentrat 40%.&lt;br /&gt;Konsumsi bahan kering kambing merupakan salah satu faktor yang sangat penting, karena kapasitas mengkonsumsi pakan secara aktif merupakan faktor pembatas yang mendasar dalam pemanfaatan pakan. Konsumsi bahan kering juga tergantung dari hijauan saja yang diberikan atau bersamaan dengan konsentrat.&lt;br /&gt;Kambing lokal (bangsa kambing pedaging dan kambing perah) di daerah tropis yang diberi makan sekenyangnya, mempunyai konsumsi bahan kering harian dalam kisaran 1.8-4.7% dari berat badan. Bila dibandingkan dengan sapi yang dapat mengkonsumsi bahan kering 2-3% dari berat badan, kambing mampu mengkonsumsi bahan kering relatih lebih banyak untuk ukuran tubuhnya. Kambing perah mengkonsumsi bahan kering hendaknya 5-7% dari berat badan akan tetapi kambing perah daerah sejuk yang hidup di daerah tropis mempunyai kisaran konsumsi bahan kering 2.8-4.9% dari berat badan. Kambing laktasi membutuhkan protein lebih banyak daripada kambing jantan dewasa dan induk kering. Kambing jantan aktif dan induk laktasi membutuhkan protein 15-18%.&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan terdiri atas pakan hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang diberikan jumlahnya sedikit dan umumnya habis dikonsumsi, sedangkan pakan hijauan yang diberikan tak habis dan yang dikonsumsi sekitar 50-70% dari pemberian. Kedua pakan tersebut diberikan minimal dua kali sehari. Hijauan segar yang dikonsumsi induk laktasi merupakan 10% dari berat hidup, sedangkan konsentrat 2% dari berat badan. Total pakan segar yang dapat dikonsumsi induk laktasi kambing perah adalah 8-10 kg per ekor per hari.&lt;br /&gt;Kandungan zat-zat makanan yang diberikan pada kambing laktasi harus cukup memenuhi kebutuhan, baik hidup pokok maupun produksi susu. Ternak kambing perah yang laktasi dapat mengkonsumsi energi yang tersedia dalam pakan sekitar 5000-8000 kalori per gram pakannya, tergantung jenis ternak dan tat laksana pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan Konsumsi Energi dan Produksi Susu  &lt;br /&gt;Untuk melakuakn semua aktivitas kehidupan diperlukan zat-zat makanan. Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi. Dalam menyusun ransum atau pakan yang penting diperhatikan adalah keseimbangan energi dan protein disamping nutrisi lainnya. Kekurangan energi akan dapat mengakibatkan protein tubuh dijadikan sebagai sumber energi.&lt;br /&gt;Energi merupakan kunci utama untuk produksi susu. Kekurangan energi akan menurunkan produksi susu, walaupun nutrisi lain cukup. Jumlah energi dan protein selama bulan pertama laktasi dibutuhkan jauh lebih banyak dibandingkan dengan akhir kebuntingan.&lt;br /&gt;Substrat utama yang diekstraksi oleh kelenjar ambing adalah glukosa, asam-asam amino, asam-asam lemak, asam asetat, asam butirat dan mineral. Glukosa sebagai precursor laktosa dan asam-asam lemak dibutuhkan untuk sintesa lemak susu. Asam-asam amino essensial dan beberapa asam amino non essensial dibutuhkan untuk sintesa protein susu.&lt;br /&gt;Untuk menganalisa hubungan konsumsi energi pakan dan produksi susu dalam energi dapat memperhatikan Gambar 1. Pada Gambar 1 terdapat grafik konsumsi energi, grafik produksi energi susu dan grafik Retensi Energi (RE) yang berasal dari konsumsi energi pakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar 1.  Grafik Keseimbangan Energi pada Induk Kambing Perah Laktasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsumsi energi pakan pada kambing perah laktasi dalam Gross Energi (GE), masuk ke dalam tubuh induk kambing akan menjadi Digestible Energi (DE) sekitar 70% dari GE dan 30% akan hilang dalam bentuk energi feses. Energi tersebut (DE) akan diserap oleh darah dan berubah menjadi Metabolite Energi (ME) sebanyak 50-60% dari GE dimana energi tersebut akan hilang dalam bentuk energi urine dan energi gas methan. ME akan menjadi Net Energi (NE) atau Retensi Energi (RE) sekitar 10-20% dari GE setelah kehilangan energi dalam bentuk produksi panas tubuh. Energi yang tersisa dalam bentuk NE atau RE tersebutlah yang akan digunakan untuk hidup pokok dan produksi, dimana untuk produksi pada kambing perah sedang laktasi berupa produksi susu.&lt;br /&gt;Data produksi energi susu pada Gambar 1 sampai pada minggu ke 43 laktasi, sedangkan data konsumsi energi dan Retensi Energi (RE) hanya sampai minggu ke 13. Retensi Energi pada Gambar 1 tersebut merupakan 20% dari jumlah energi pakan yang dikonsumsi (Gross Energi).&lt;br /&gt;Pada Gambar 1 tersebut diatas terlihat peningkatan konsumsi energi pakan mulai tampak setelah melewati minggu ke tiga laktasi. Selama tiga minggu laktasi pertama, selera makan dari induk yang baru beranak masih rendah. Setelah itu konsumsi pakan terus meningkat pesat dan mencapai puncaknya sekitar minggu ke 8 kemudian konsumsi pakan menurun. Hal ini disebabkan karena pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat sehingga diperlukan konsumsi pakan yang lebih tinggi dan sesudah minggu ke delapan penurunan produksi susu diikuti oleh penurunan konsumsi pakan.&lt;br /&gt;Grafik energi susu lebih tinggi daripada grafik retensi.energi tetapi masih sedikit lebih rendah dari grafik konsumsi energi. Hal tersebut menunjukkan bahwa induk kambing perah yang sedang laktasi memproduksi energi susu lebih banyak dari pada energi yang diretensi. Berarti induk kambing perah akan menggunakan atau mengeluarkan cadangan energi tubuhnya untuk menutupi kekurangan dari energi yang diretensi tersebut. Akibatnya berat badan induk akan turun terutama pada saat puncak produksi susu.&lt;br /&gt;Secara fisiologis induk yang baru beranak anak memproduksi susu untuk kebutuhan anaknya selama 3-4 bulan sampai anaknya disapih. Untuk ternak perah, masa memproduksi susu ditambah beberapa lama sampai nanti dikeringkan untuk persiapan laktasi berikutnya. Setelah produksi susu mencapai puncaknya harus diperhatikan laju penurunan produksi susu atau persistensinya sehingga tetap memproduksi susu dengan baik. Persistensi produksi susu mempunyai kaitan dengan perpanjangan masa hidup dan kemampuan perlambatan laju penyusutan sel-sel sekretoris kelenjar ambing.&lt;br /&gt;Kehilangan berat badan dan kemampuan perlambatan laju penyusutan sel sekretoris berhubungan erat dengan tata laksana pemberian pakan sebelum beranak dan selama masa laktasi. Pemberian pakan yang baik secara kualitas dan kuantitas selama kebuntingan dan laktasi dapat memperlambat laju penyusutan sel sekretoris kelenjar ambing sehingga diharapkan dapat meningkatkan persistensi produksi susu.&lt;br /&gt;Keseimbangan energi yang diretensi dan produksi susu dari Gambar 1 dapat diperkirakan terjadi pada minggu ke 20 atau pada bulan ke lima laktasi. Akan tetapi pada saat itu induk kambing sedang bunting dan tetap memerlukan energi yang cukup untuk pertumbuhan anaknya dan bahkan untuk memproduksi susu bila pada ternak perah. Pakan yang diberikan dan yang dikonsumsi harus baik, mengandung zat-zat makanan terutama energi yang tinggi sehingga laju penurunan berat badan dapat diperkecil. Pakan yang berkualitas baik tetap diberikan saat ternak dikering kandangkan (8 minggu sebelum beranak). Masa pengeringan diperlukan untuk memberi istirahat pada kelenjar ambing akan tetapi pada saat dikeringkan umumnya ternak sedang bunting dan pertumbuhan fetus sangat cepat.&lt;br /&gt;Kambing yang sedang laktasi mampu mengkonsumsi pakan bahan kering 5-7 % dari berat badan atau 8-10 kg pakan segar per ekor per hari. Pemberian pakan harus diberikan minimal dua kali sehari untuk meningkatkan (intake) pakan karena kapasitas rumen pada kambing perah tersebut terbatas. Jadi tata laksana pemberian pakan induk kambing perah yang sedang laktasi merupakan faktor penting untuk meningkatkan konsumsi energi pakan agar tetap berproduksi susu tinggi dan dapat mempertahankan berat badannya.&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan pada induk kambing laktasi harus padat energi dan protein, mengandung bahan kering tinggi dan rendah serat kasar, karena keterbatasan kapasitas rumen dan mencegah penurunan berat badan yang cepat serta untuk memperlambat laju penyusutan sel sekretoris kelenjar ambing. Pakan tersebut merupakan pakan konsentrat dan berarti dari pemberian bahan keringnya, pakan konsentrat lebih tinggi daripada pakan hijauan. Persentase pemberian bahan kering pakan konsentrat dan pakan hijauan menjadi 60% untuk konsentrat dan 40% untuk hijauan. Hijauan tetap diberikan untuk memenuhi kebutuhan ternak akan serat kasar dan hijauan yang diberikan harus berkualitas baik.&lt;br /&gt;Pemberian konsentrat yang tinggi menyebabkan biaya pakan akan lebih tinggi, untuk itu komponen pakan untuk pakan konsentrat harus yang murah, mudah diperoleh, mudah dicerna, kadar air rendah dan tidak bersaing dengan kepentingan konsumsi manusia. Permasalahan lainnya adalah pemberian konsentrat yang tinggi akan menimbulkan tingginya kadar asam-asam lemak terbang (VFA) terutama asam propionat di dalam darah sehingga akan menyebabkan asidosis. Asidosis adalah suatu fenomena dimana darah menjadi asam karena tingginya kadar asam lemak di dalam darah dan nantinya akan mengganggu metabolisme tubuh..&lt;br /&gt;Konsentrat yang diberikan pada ternak sedang laktasi jangan sekaligus tetapi diberikan lebih dari dua kali pemberian setiap harinya, terutama pada saat puncak produksi. Jumlah konsentrat yang diberikan harus disesuaikan dengan tingkat produksi susu per ekor per hari sehingga tidak terjadi pemborosan biaya. Kualitas hijauan yang baik perlu diberikan pada ternak karena hiajauan yang berkualitas baik dapat mengurangi jumlah pemberian konsentrat.&lt;br /&gt;Managemen atau tata laksana pemberian pakan pada saat induk kambing sedang laktasi perlu ditingkatkan. Harus ada pola pemberian pakan yang praktis dan efisien pada induk laktasi untuk mengatur jumlah pemberian pakan terutama konsentrat per ekor per hari yang disesuaikan dengan tingkat produksi susu per ekor per hari. Induk sedang laktasi dapat dikelompokkan sesuai dengan tingkat produksi susunya untuk memudahkan pemberian pakan.&lt;br /&gt;Perlu juga diperhatikan jenis pakan yang diberikan karena ternak yang kita pelihara tersebut merupakan ternak rumunansia. Ternak ruminansia mempunyai 4 lambung dan di dalam lambung tersebut terutama di dalam rumen terjadi proses fermentasi. Proses fermentasi menggunakan mikroba anaerob, menghasilkan panas dan dapat menyebabkan kerusakan pakan terutama pakan konsentrat.&lt;br /&gt;Pakan yang diberikan harus mudah di cerna dan efisiensinya tinggi sehingga dapat menekan energi yang hilang dalam bentuk energi panas, energi urine, energi gas metan dan panas tubuh. Tujuan menekan energi yang terbuang adalah untuk meningkatkan NE atau RE.&lt;br /&gt;Penggunaan hormon sering dilakukan untuk menekan produksi panas tubuh dan meningkatkan efisiensi penggunaan pakan. Hormon yang digunakan merupakan hormon yang berhubungan dengan hormon metabolisme tubuh misalnya hormon tiroksin dan hormon somatropin. Hormon metabolit tersebut sudah dapat disintesis dengan merek dagang tertentu dan dapat dicampurkan pada pakan konsentrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan&lt;br /&gt;Induk kambing perah yang laktasi memerlukan perhatian yang lebih terutama tata laksana pemberian pakannya. Untuk memproduksi susu yang tinggi induk kambing perah akan mengeluarkan cadangan energi di dalam tubuhnya sehingga menyebabkan beret badannya akan turun. Pemberian pakan konsentrat harus ditingkatkan dengan pola pemberian yang baik untuk mempertahankan produksi susu dan untuk mengurangi laju penurunan berat badannya. Tata laksana pemberian pakan saat induk kambing dikeringkan perlu diperhatikan agar induk dapat mempersiapkan dirinya untuk menghadapi masa laktasi berikutnya. Perlu dibuat suatu pola pemberian pakan yang praktis dan efisien untuk induk laktasi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan produksi susu per ekor per hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atabany, A. 2001. Studi kasus produktivitas kambing Peranakan Etawah dan kambing Saanen pada peternakan kambing perah Barokah dan PT. Taurus Dairy Farm. Thesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blaxter, K.  1989.  Energi Metabolism in Animal and Man.  Cambridge University Press. New York.  USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brody, S.  1945.  Bioenergetics and Growth.  Reinhold Publishing Corporation.  New  York.  USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devendra, C and M. Burns.  1983.  Goat Production in the Tropic.  Commonwealth Agric.  Bereaux Fartham Royal.  England.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Devendra, C. 1990. Goat. Ed. W.J.A. Payne. In. An Introduction to Animal Husbandry in the Tropics. Fourt Editon. John Willey and Sons. Inc. New York.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensminger, M.E.  1960.  Animal Science.  Fourth Edition.  The Interstate Printersand Publishing, Inc.  Danville, Illinois.  USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gall, C.  1981.  Goat Production.  Academic Press.  London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hafez. E.S.E.  1980.  Reproductionin Farm Animal.  4 th Ed.  Lea and Febiger.  Philadelphia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heald, C.W. 1985. Milk Collection. In: larson, B.L. 1985. Lactation. First Edition, The Iowa State University Press. USA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katipana, N.G.F. 1986. Neraca nitrogen dan energi pada kambing menyusui dan tidak menyusui yang mendapat ransum tambahan ubi kayu yang dimasak dengan urea. Thesis Magister Sains. Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mackenzie, D.  1980.  Goat Husbandry.  Faber and Faber.  Ed. 4, 375.  London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhagiana, I.W. 1998. Keadaan konsentrasi progesterone dan estradiol selama kebuntingan, bobot lahir dan jumlah anak pada kambing Peranakan Etawah pada tingkat produksi yang berbeda. Thesis. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutardi, T dan M. Djohari. 1979. Hubungan kondisi faali sapi laktasi dengan kebutuhan makanannya. Bull. Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB. Bogor, 5(4) : 179-207.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gas Menipis, Batu Bara Dilirik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta – Menyusutnya persediaan gas alam cair membuat PT Badak Natural Gas Liquid (NGL) Kaltim menggandeng Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).&lt;br /&gt;“Ketersediaan gas sudah makin tipis, tidak mungkin ditingkatkan lagi. Hanya kami tidak ingin senasib dengan PT Arun yang mengalami kemerosotan produksi secara tajam,” ungkap Yoga P Suprapto, Presiden Direktur PT. Badak NGL, kepada pers di Jakarta belum lama ini.&lt;br /&gt;Maka satu-satunya solusi adalah dengan menggantikan energi produksi dari gas menjadi batubara muda. Upaya ini membutuhkan teknologi pengolahan batu bara yang dimiliki oleh BPPT di bawah naungan Kementerian Riset dan Teknologi.&lt;br /&gt;Menurut Kusmayanto Kadiman, Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), jika sumber energi produksi diganti dengan batu bara, pemakaian gas alam cair dapat ditekan hingga 10 persen.&lt;br /&gt;Peralihan energi di bidang produksi ini bukan saja dilakukan PT. Badak, melainkan juga sejumlah perusahaan seperti PLN dan Suralaya sejak krisis energi mulai terasa.&lt;br /&gt;Selama ini PT. Badak telah menghasilkan gas alam cair dan metanol yang sebagian besar diekspor ke luar negeri. Produksi mereka per tahun 23 ton. Tapi seiring dengan menyusutnya stok, kini tinggal 18 juta ton per tahun.&lt;br /&gt;Angka ini akan terus merosot sampai stok persediaan habis. Dengan persediaan gas alam cair sekarang, PT. Badak hanya dapat bertahan 15 tahun lagi. Usia itu dapat diperpanjang 3-5 tahun apabila mereka menggunakan batu bara sebagai bahan bakar produksinya. Alih teknologi ini membutuhkan setidaknya investasi 200-300 juta dolar AS.&lt;br /&gt;Gas alam cair adalah gas alam yang telah diproses untuk menghilangkan ketidakmurnian dan hidrokarbon berat dan kemudian dikondensasi menjadi cairan pada tekan atmosfer dengan mendinginkannya sekitar -160° Celcius. LNG ditransportasi menggunakan kendaraan yang dirancang khusus dan ditaruh dalam tangki yang juga dirancang khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Protein tanaman bisa meningkatkan produksi biofuel : Bagian 1&lt;br /&gt;Oleh energiportal&lt;br /&gt;Sabtu, April 28, 2007 09:40:46 Klik: 3  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam usahanya untuk mengurangi biaya produksi ethanol, para peneliti di Cornell telah menemukan enzim tanaman yang berpotensial menjadikan bahan-bahan tanaman digunakan untuk membuat ethanol secara lebih efisien dibandingkan dengan teknologi yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pendapat yang berkembang menyatakan bahwa ethanol yang berasal dari jagung tidak akan bisa menjadi alternatif untuk jangka panjang. Karenanya para ilmuwan beralih untuk melakukan penelitian pada selulose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi ethanol dari selulose dalam jumlah besar dengan harga yang kompetitif masih belum memungkinkan. Dan tanpa ethanol yang berasal dari selulose tersebut, sasaran nasional untuk produksi ethanol guna mengurangi import minyak akan sulit dicapai, demikian menurut para ahli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah yang paling sulit dalam produksi ethanol tersebut adalah mengurai dinding sel tanaman dan memfermentasikan gula yang didapat dari proses tersebut. Teknologi yang ada sekarang ini adalah dengan menggunakan cellulases enzim mikroba yang mencerna selulose. Mikroba tersebut mempunyai struktur yang menjadikannya sangat efisien untuk mengikat dan mencerna bahan dasar dinding sel tanaman yang merupakan kombinasi dari lignin dan selulose serta biasa disebut lignoselulose.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TEKNOLOGI PRODUKSI BERSIH BISA TEKAN KONSUMSI ENERGI  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA - Hasil kajian BPPT terhadap enam perusahaan manufaktur melalui pendekatan teknologi produksi bersih, ternyata mampu mengurangi konsumsi energi cukup signifikan sehingga menghemat biaya produksi. Ketua Tim Efisiensi Energi dari Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan BPPT Widiatmini Sih Winanti mengatakan implementasi sistem itu terbukti mampu menghemat konsumsi listrik, penggunaan batu bara, gas, bahan bakar minyak sekaligus juga mengurangi polusi lingkungan. "Kami berharap semua perusahaan manufaktur di berbagai sektor industri mulai menggunakan teknologi produksi bersih, selain demi penghematan energi nasional, juga untuk penghematan biaya produksi mereka sendiri" ujarnya. Sayangnya, dia enggan menyebutkan nama-nama perusahaan yang telah menerapkan Cleaner Production Technology (teknologi produksi bersih). Yang jelas enam perusahaan itu bermain di industri semen, kertas, dan pupuk. Cleaner Production Technology merupakan langkah audit produksi melalui pendekatan berjenjang dengan tahapan identifikasi permasalahan, rekomendasi, pengkajian, penerapan dan pemantauan. Dari kegiatan itu akan dihasilkan opsi perbaikan kinerja pabrik agar lebih ramah lingkungan dan hemat energi. Pada tahap pengkajian, akan dilakukan berbagai perhitungan yang dilakukan meliputi investasi yang diperlukan untuk perbaikan, kelayakan teknis, penghematan energi, material, biaya, waktu pengembalian modal, keuntungan lingkungan dan pengurangan emisi karbondioksida. Widiatmini mencontohkan, pada pabrik semen, dengan nilai investasi Rp1,25 miliar untuk penambahan peralatan baru berupa kipas dan tempat pembakaran kapur/batubara (kiln), ternyata bisa dilakukan penghematan hingga Rp2,942 miliar per tahun, atau periode pengembalian lima bulan saja dan ditambah dengan penghematan listrik 40%. Padahal jika hanya dilakukan perbaikan kebocoran pada kiln dengan Rp35 juta bisa menghemat Rp1,1 miliar berupa pengurangan konsumsi batu bara. Sedangkan pada perusahaan baja, dengan menggunakan teknologi baru pemasangan sistem kontrol pada tungku pemanas yang hanya menelan investasi Rp75 juta bisa menghemat hingga Rp650,8 juta per tahun atau penghematan gas alam 1.112.877 Nm kubik per tahun. Selain itu, dengan memperbaiki kebocoran pada pipa dan steam trap yang membutuhkan investasi Rp31,5 juta bisa menghemat Rp165 juta per tahun atau berupa energi dari steam 5.445 giga Joyle per tahun. (rni) Sumber : Bisnis Indonesia (21/7/05) ***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fermentasi&lt;br /&gt;Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;Langsung ke: navigasi, cari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fermentasi sedang berlangsung&lt;br /&gt;Fermentasi adalah proses produksi energi dalam sel dalam keadaan anaerobik (tanpa oksigen). Secara umum, fermentasi adalah salah satu bentuk respirasi anaerobik, akan tetapi, terdapat definisi yang lebih jelas yang mendefinisikan fermentasi sebagai respirasi dalam lingkungan anaerobik dengan tanpa akseptor elektron eksternal.&lt;br /&gt;Gula adalah bahan yang umum dalam fermentasi. Beberapa contoh hasil fermentasi adalah etanol, asam laktat, dan hidrogen. Akan tetapi beberapa komponen lain dapat juga dihasilkan dari fermentasi seperti asam butirat dan aseton. Ragi dikenal sebagai bahan yang umum digunakan dalam fermentasi untuk menghasilkan etanol dalam bir, anggur dan minuman beralkohol lainnya. Respirasi anaerobik dalam otot mamalia selama kerja yang keras (yang tidak memiliki akseptor elektron eksternal), dapat dikategorikan sebagai bentuk fermentasi.&lt;br /&gt;Daftar isi&lt;br /&gt;[sembunyikan]&lt;br /&gt;• 1 Sejarah&lt;br /&gt;• 2 Reaksi&lt;br /&gt;• 3 Sumber energi dalam kondisi anaerobik&lt;br /&gt;• 4 Fermentasi makanan&lt;br /&gt;• 5 Lihat pula&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[sunting] Sejarah&lt;br /&gt;Ahli Kimia Perancis, Louis Pasteur adalah seorang zymologist pertama ketika di tahun 1857 mengkaitkan ragi dengan fermentasi. Ia mendefinisikan fermentasi sebagai "respirasi (pernafasan) tanpa udara".&lt;br /&gt;Pasteur melakukan penelitian secara hati-hati dan menyimpulkan, "Saya berpendapat bahwa fermentasi alkohol tidak terjadi tanpa adanya organisasi, pertumbuhan dan multiplikasi sel-sel secara simultan..... Jika ditanya, bagaimana proses kimia hingga mengakibatkan dekomposisi dari gula tersebut... Saya benar-benar tidak tahu".&lt;br /&gt;Ahli kimia Jerman, Eduard Buchner, pemenang Nobel Kimia tahun 1907, berhasil menjelaskan bahwa fermentasi sebenarnya diakibatkan oleh sekeresi dari ragi yang ia sebut sebagai zymase.&lt;br /&gt;Penelitian yang dilakukan ilmuan Carlsberg (sebuah perusahaan bir) di Denmark semakin meningkatkan pengetahuan tentang ragi dan brewing (cara pembuatan bir). Ilmuan Carlsberg tersebut dianggap sebagai pendorong dari berkembangnya biologi molekular.&lt;br /&gt;[sunting] Reaksi&lt;br /&gt;Reaksi dalam fermentasi berbeda-beda tergantung pada jenis gula yang digunakan dan produk yang dihasilkan. Secara singkat, glukosa (C6H12O6) yang merupakan gula paling sederhana , melalui fermentasi akan menghasilkan etanol (2C2H5OH). Reaksi fermentasi ini dilakukan oleh ragi, dan digunakan pada produksi makanan.&lt;br /&gt;Persamaan Reaksi Kimia&lt;br /&gt;C6H12O6 → 2C2H5OH + 2CO2 + 2 ATP (Energi yang dilepaskan:118 kJ per mol)&lt;br /&gt;Dijabarkan sebagai&lt;br /&gt;Gula (glukosa, fruktosa, atau sukrosa) → Alkohol (etanol) + Karbon dioksida + Energi (ATP)&lt;br /&gt;Jalur biokimia yang terjadi, sebenarnya bervariasi tergantung jenis gula yang terlibat, tetapi umumnya melibatkan jalur glikolisis, yang merupakan bagian dari tahap awal respirasi aerobik pada sebagian besar organisme. Jalur terakhir akan bervariasi tergantung produk akhir yang dihasilkan.&lt;br /&gt;[sunting] Sumber energi dalam kondisi anaerobik&lt;br /&gt;Fermentasi diperkirakan menjadi cara untuk menghasilkan energi pada organisme purba sebelum oksigen berada pada konsentrasi tinggi di atmosfer seperti saat ini, sehingga fermentasi merupakan bentuk purba dari produksi energi sel.&lt;br /&gt;Produk fermentasi mengandung energi kimia yang tidak teroksidasi penuh tetapi tidak dapat mengalami metabolisme lebih jauh tanpa oksigen atau akseptor elektron lainnya (yang lebih highly-oxidized) sehingga cenderung dianggap produk sampah (buangan). Konsekwensinya adalah bahwa produksi ATP dari fermentasi menjadi kurang effisien dibandingkan oxidative phosphorylation, di mana pirufat teroksidasi penuh menjadi karbon dioksida. Fermentasi menghasilkan dua molekul ATP per molekul glukosa bila dibandingkan dengan 36 ATP yang dihasilkan respirasi aerobik.&lt;br /&gt;"Glikolisis aerobik" adalah metode yang dilakukan oleh sel otot untuk memproduksi energi intensitas rendah selama periode di mana oksigen berlimpah. Pada keadaan rendah oksigen, makhluk bertulang belakang (vertebrata) menggunakan "glikolisis anaerobik" yang lebih cepat tetapi kurang effisisen untuk menghasilkan ATP. Kecepatan menghasilkan ATP-nya 100 kali lebih cepat daripada oxidative phosphorylation. Walaupun fermentasi sangat membantu dalam waktu pendek dan intensitas tinggi untuk bekerja, ia tidak dapat bertahan dalam jangka waktu lama pada organisme aerobik yang kompleks. Sebagai contoh, pada manusia, fermentasi asam laktat hanya mampu menyediakan energi selama 30 detik hingga 2 menit.&lt;br /&gt;Tahap akhir dari fermentasi adalah konversi piruvat ke produk fermentasi akhir. Tahap ini tidak menghasilkan energi tetapi sangat penting bagi sel anaerobik karena tahap ini meregenerasi nicotinamide adenine dinucleotide (NAD+), yang diperlukan untuk glikolisis. Ia diperlukan untuk fungsi sel normal karena glikolisis merupakan satu-satunya sumber ATP dalam kondisi anaerobik.&lt;br /&gt;[sunting] Fermentasi makanan&lt;br /&gt;Pembuatan tempe dan tape (juga peuyeum) adalah proses fermentasi yang sangat dikenal di Indonesia. Proses fermentasi menghasilkan senyawa-senyawa yang sangat berguna, mulai dari makanan sampai obat-obatan. Fermentasi yang sering dilakukan adalah proses tape, tempe, yoghurt, dan tahu.  &lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Posted by WahyuAli&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6499397034786198202?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6499397034786198202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6499397034786198202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6499397034786198202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6499397034786198202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/02/strategi-pemberian-pakan-induk-kambing.html' title='STRATEGI PEMBERIAN PAKAN INDUK KAMBING PERAH'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-643121984568140748</id><published>2009-02-21T00:03:00.000-08:00</published><updated>2009-02-21T00:05:38.276-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kambing'/><title type='text'>Kambing Perah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawa (PE)anda juga bisa merujuk pada tulisan saya terdahulu tentang &lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/beternak-kambing.html"&gt;Beternak Kambing atau &lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/01/pemeliharaan-ternak-kambing.html"&gt;PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING atau &lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/beternak-kambing-raising-goats-rather.html"&gt;BETERNAK KAMBING (RAISING GOATS RATHER) &lt;/a&gt;. Dalam budidaya ternak kambing yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;ol style=""&gt;&lt;li&gt;Memilih bibit Pemilihan bibit diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Pemilihan calon bibit dianjurkan di daerah setempat, bebas dari penyakit dengan phenotype baik.&lt;/li&gt;&lt;ol start="a"&gt;&lt;li&gt;Calon induk Umur berkisar antara &gt; 12 bulan, (2 buah gigi seri tetap), tingkat kesuburan reproduksi sedang, sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, berasal dari keturunan kembar (kembar dua), jumlah puting dua buah dan berat badan &gt; 20 kg.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Calon pejantan Pejantan mempunyai penampilan bagus dan besar, umur &gt; 1,5 tahun, (gigi seri tetap), keturunan kembar, mempunyai nafsu kawin besar, sehat dan tidak cacat.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Pakan&lt;/li&gt;&lt;ol style=""&gt;&lt;li&gt;Ternak kambing menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pakan tambahan dapat disusun dari (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;li&gt;Pemberian pakan induk Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kandang Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m2 untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m2, sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m/ekor. tinggi penyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pencegahan penyakit Sebelum ternak dikandangkan, kambing harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;h3&gt;Related Posts by Categories&lt;/h3&gt; &lt;div id="data2007"&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Kambing dan Domba&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/beternak-kambing-raising-goats-rather.html"&gt;BETERNAK KAMBING (RAISING GOATS RATHER)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/pemasyarakatan-paket-ternak-kambing.html"&gt;PEMASYARAKATAN PAKET TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/beternak-kambing.html"&gt;Beternak Kambing&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/01/pemeliharaan-ternak-kambing.html"&gt;PEMELIHARAAN TERNAK KAMBING&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;b&gt;Peternakan&lt;/b&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/12/peringkat-pupuk-kandang-naik.html"&gt;KINI PERINGKAT PUPUK KANDANG NAIK&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/budidaya-ternak-sapi-perah-lanjutan.html"&gt;Budidaya Ternak Sapi Perah (Lanjutan)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/budidaya-ternak-sapi-perah.html"&gt;Budidaya Ternak Sapi Perah (Cultivation Livestock dairy cow}&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/pengobatan-tradisional-pada-ternak.html"&gt;PENGOBATAN TRADISIONAL PADA TERNAK KAMBING&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/beternak-kambing-raising-goats-rather.html"&gt;BETERNAK KAMBING (RAISING GOATS RATHER)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/5-langkah-basmi-flu-burung-5-way-to.html"&gt;5 LANGKAH BASMI FLU BURUNG (5 WAY TO AVIAN INFLUENZA DESTROY)&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/10/success-factors-discussions-livestock.html"&gt;The Success Factors Discussions Livestock&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/10/characteristics-chicken-tiren.html"&gt;CHARACTERISTICS CHICKEN TIREN&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/10/ciri-ciri-ayam-tiren.html"&gt;CIRI-CIRI AYAM TIREN&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/tips-memilih-daging-yang-sehat.html"&gt;TIPS MEMILIH DAGING YANG SEHAT&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/perencanaan-dan-perancangan-kandang.html"&gt;PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KANDANG SAPI PERAH&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/teknologi-pengembangan-peternakan-ayam.html"&gt;TEKNOLOGI PENGEMBANGAN PETERNAKAN AYAM RAS&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/pemasyarakatan-paket-ternak-kambing.html"&gt;PEMASYARAKATAN PAKET TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/csr-ekonomi-kreatif-dan-energi_15.html"&gt;CSR, EKONOMI KREATIF DAN ENERGI ALTERNATIF Menuju Tanjabtim sebagai Negeri “Triple Sources of Energy”&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/pembibitan-sapi-bali-di-desa-lubuk.html"&gt;PEMBIBITAN SAPI BALI DI DESA LUBUK MANDARSAH KAB. TEBO&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/integrasi-ternak-perkebunan-di-pematang.html"&gt;INTEGRASI TERNAK - PERKEBUNAN DI PEMATANG SEPAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN DARI PTPN VI&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/beternak-kambing.html"&gt;Beternak Kambing&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/09/biosecurity-and-handling-management-of.html"&gt;BIOSECURITY AND HANDLING MANAGEMENT OF LOCAL CHICKEN DISEASE&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/08/proses-desinfektan-dalam-menumpaskan.html"&gt;Proses Desinfektan Dalam Menumpaskan Flu Burung&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/08/beternak-ayam-buras.html"&gt;BETERNAK AYAM BURAS&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/07/medication-of-goat-livestock-disease.html"&gt;Medication of Goat Livestock Disease Traditionally&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/05/pengobatan-penyakit-ternak-kambing.html"&gt;PENGOBATAN PENYAKIT TERNAK KAMBING SECARA TRADISIONAL&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/05/endangered-breeds-of-poultry-and-ducks.html"&gt;ENDANGERED BREEDS OF POULTRY AND DUCKS&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/05/budidaya-sapi-potong-dengan-pola.html"&gt;Budidaya Sapi Potong dengan Pola Integrasi&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-643121984568140748?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/643121984568140748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=643121984568140748' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/643121984568140748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/643121984568140748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2009/02/kambing-perah.html' title='Kambing Perah'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7967149666573139890</id><published>2008-11-19T21:49:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T22:02:17.472-08:00</updated><title type='text'>Proposal Kardus</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_zfjii3yXIZM/SZ-IbtqtMuI/AAAAAAAAAC0/_6jkfiphPYo/s1600-h/Kardus+2.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 208px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zfjii3yXIZM/SZ-IbtqtMuI/AAAAAAAAAC0/_6jkfiphPYo/s320/Kardus+2.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305108895762297570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_zfjii3yXIZM/SZ-IbZuR-GI/AAAAAAAAACs/2sd40Bi1Ehw/s1600-h/untitled1.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 210px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_zfjii3yXIZM/SZ-IbZuR-GI/AAAAAAAAACs/2sd40Bi1Ehw/s320/untitled1.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305108890408581218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Download Kardus Selengkapnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kardus 1: &lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11d4ccd78ab40d10&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;zw"&gt;Agribisnes Managemen&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: normal;"&gt; by Johan B Pambudi, SP&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kardus 2: &lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11da7e6b8cbd94cf&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;zw"&gt;NHF Makalah 4 by Johan B Pambudi, SP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kardus 2:&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11da7f9671609af5&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;zw"&gt; &lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Degester 64&lt;/span&gt; by Johan B Pambudi, SP&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7967149666573139890?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/7967149666573139890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=7967149666573139890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7967149666573139890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7967149666573139890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/11/blog-post.html' title='Proposal Kardus'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zfjii3yXIZM/SZ-IbtqtMuI/AAAAAAAAAC0/_6jkfiphPYo/s72-c/Kardus+2.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3618266381070592996</id><published>2008-03-02T16:20:00.000-08:00</published><updated>2009-04-15T01:21:12.272-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Download'/><title type='text'>Halaman Utama Dan Download</title><content type='html'>&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-cheddar-1.html"&gt;Cara bikin keju 1&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-engg.html"&gt;Cara bikin keju 2&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-2.html"&gt;Cara bikin keju 3&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-4.html"&gt;Cara bikin keju 4&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Download&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;       &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;a title="Ternak Jateng Repelita IV" rel="attachment wp-att-41" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/ternak-jateng-repelita-iv/"&gt;Ternak Jateng Repelita IV&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;a href="http://disnak.jawatengah.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=126&amp;amp;Itemid=40"&gt;Lihat2 PROSPEK PENGEMBANGAN SAPI PERAH DI JAWA TENGAH&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Pengelolaan Hasil" rel="attachment wp-att-40" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/pengelolaan-hasil/"&gt;Pengelolaan Hasil&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Agri Bisnis Sapi" rel="attachment wp-att-39" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/agri-bisnis-sapi/"&gt;Agri Bisnis Sapi&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Budidaya Ternak" rel="attachment wp-att-42" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/budidaya-ternak/"&gt;Budidaya Ternak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="KEBIJAKAN EKONOMI INDUSTRI AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA.pdf" rel="attachment wp-att-44" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/kebijakan-ekonomi-industri-agribisnis-sapi-perah-di-indonesiapdf/"&gt;KEBIJAKAN EKONOMI INDUSTRI AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA.pdf&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Pertanian Di Australia" rel="attachment wp-att-43" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/pertanian-di-australia/"&gt;Pertanian Di Australia&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Survey Toolbox untuk Penyakit Ternak" rel="attachment wp-att-45" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/survey-toolbox-untuk-penyakit-ternak/"&gt;Survey Toolbox untuk Penyakit Ternak&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Efektifitas Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam Pembuatan Produk Fermentasi Berbasis Protein/Susu Nabati" rel="attachment wp-att-46" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/efektifitas-bakteri-asam-laktat-bal-dalam-pembuatan-produk-fermentasi-berbasis-proteinsusu-nabati/"&gt;Efektifitas Bakteri Asam Laktat (BAL) dalam Pembuatan Produk Fermentasi Berbasis Protein/Susu Nabati&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a title="Renstra Peternakan- Lampung" rel="attachment wp-att-47" href="http://deiwrahaju.wordpress.com/perihal/renstra-peternakan-lampung/"&gt;Renstra Peternakan- Lampung&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http:///" target="_self"&gt;Kambing- PPT&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://sapiperahind.blogspot.com/2009/02/kambing-perah.html"&gt;Kambing Perah&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11f97ebb8773a70a&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;realattid=f_frgx39xi0&amp;amp;zw"&gt;Pengembangan Kambing PE di DIY&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11f97f90caae8965&amp;amp;attid=0.3&amp;amp;disp=attd&amp;amp;realattid=f_frgxl7ca2&amp;amp;zw"&gt;Staphylococcus aureus Asal Susu&lt;br /&gt;Kambing Peranakan Ettawa&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11f97f90caae8965&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;realattid=f_frgxkp8y0&amp;amp;zw"&gt;TEKNOLOGI PROBIOTIK&lt;/a&gt; Kambing&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11f97f90caae8965&amp;amp;attid=0.2&amp;amp;disp=attd&amp;amp;realattid=f_frgxl2tu1&amp;amp;zw"&gt;TERNAK KAMBING PERANAKAN ETAWAH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Teknologi Pemanfaatan Susu KAMPER&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Budidaya Kambing Perah&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Kata Pengantar Budidaya KAMPER&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;div class="entrybody"&gt;&lt;div class="snap_preview"&gt; &lt;p&gt;Cover Buku Kamper&lt;/p&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://www.bejok.com/2008/11/budidaya-ternak-sapi-perah-lanjutan.html"&gt;Tentang Peternakan bisa di Lihat Di Sini&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.f766.mail.yahoo.com/ya/download?clean=0&amp;amp;fid=Johan%2520Pambudi&amp;amp;mid=1_5607_ADx7bHwAAAw%2FScfT3gNyoTpJvpM&amp;amp;pid=4&amp;amp;tnef=&amp;amp;prefFilename=PropBiogas_Subulus%26amp%3B%2339%3B08.pdf"&gt;Proposal Bio GAs Subulus&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.f766.mail.yahoo.com/ya/download?clean=0&amp;amp;fid=Johan%2520Pambudi&amp;amp;mid=1_6365_AEZ7bHwAAN%2BVScdJ9QiDbTwnPGg&amp;amp;pid=2&amp;amp;tnef=&amp;amp;prefFilename=Prop_OlahFeses2400.zip"&gt;Proposal Olah Fases&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.f766.mail.yahoo.com/ya/download?clean=0&amp;amp;fid=Johan%2520Pambudi&amp;amp;mid=1_159_AEN7bHwAABLMSRorjQ6uiX5LPT8&amp;amp;pid=2&amp;amp;tnef=&amp;amp;prefFilename=Digester64.pdf"&gt;Digister 64&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;a href="http://id.f766.mail.yahoo.com/ya/download?clean=0&amp;amp;fid=Johan%2520Pambudi&amp;amp;mid=1_906_ADt7bHwAAS%2F3SRoqcguuDEv8z7Q&amp;amp;pid=2&amp;amp;tnef=&amp;amp;prefFilename=NHF_Makalah4.pdf"&gt;NHF Makalah 4&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;aaa&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assalamu'alaikum ...,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf sebelumnya atas "kedatangan" email ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semata karena kemurahan Alloh SWT &amp;amp; berkah Guru, banyak (atau lebih tepatnya MENGALIR) ide&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tentang Penerapan Konsep Zero Waste pada Agribisnis Ternak. Sebagian sudah saya lakukan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagian (buuesar lagi) belum, terkendala peluang/kesempatan yang masih diluar jangkauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berharap ijin Alloh SWT serta kemanfaatan bagi manusia &amp;amp; alam semesta, sekira ada pihak2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dengan finansial yang memadai berkenan menujudkan "Impian" tsb, mohon bisa disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehingga NIKMAT IDE ini bisa dirasakan masyarakat yang lebih luas (syukur2 saya juga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dilibatkan...he3x)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lima file yang saya attach :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sinergi Rahmat Ilahi.pdf 60KB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat : "sedikit" menguak hikmah surat Al Baqoroh &amp;amp; Status Manusia sebagai kholifah di muka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bumi. Berbagai tujuan dan manfaat dapat dilihat pada mapping yang terpampang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. NHF_Makalah4.pdf  1.849KB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat : "Praktek dalam makalah" terkait dengan mapping no 1 (dalam hal ini ternak perah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana aktifitas &amp;amp; "manfaat" terkait dengan proses pembelajaran &amp;amp; pendidikan kepada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;masyarakat dapat dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Digester64.pdf  2.261KB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat : rancang desain/model digester ukuran 64 m3 yang sudah pernah kita buat (disamping&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ukuran 9-12 &amp;amp; 244 m3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Biogas&amp;amp;Listrik u Indonesia.pdf 21KB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat : harapan lain dalam mapping terkait no 1 diatas. Sinergi institusi yang fokus kepada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kemanfaatan umat/masyarakat kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. NHF_LeafletF1.pdf  307KB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cat : Rancang desain olah limbah terpadu yang mencoba mengoptimalkan potensi sehingga tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lagi yang disebut limbah alias "zerowaste".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Bermanfaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalamu'alaikum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hormat Saya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan B. Pambudi [m'joe]&lt;br /&gt;"khidmah via limbah"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3618266381070592996?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3618266381070592996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3618266381070592996' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3618266381070592996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3618266381070592996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/03/halaman-utama.html' title='Halaman Utama Dan Download'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-8088951138633013400</id><published>2008-02-04T19:15:00.000-08:00</published><updated>2009-02-20T21:52:39.103-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://disnakkeswan-lampung.go.id/brosur/sapi%20perah.pdf"&gt;BETERNAK&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://disnakkeswan-lampung.go.id/brosur/sapi%20perah.pdf"&gt;SAPI PERAH&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://disnakkeswan-lampung.go.id/brosur/sapi%20perah.pdf"&gt;http://disnakkeswan-lampung.go.id/brosur/sapi%20perah.pdf&lt;br /&gt;http://disnakkeswan-lampung.go.id/brosur/sapi%20perah.pdf&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://mail.google.com/mail/?ui=2&amp;amp;ik=62e18fd96d&amp;amp;view=att&amp;amp;th=11d4ccd78ab40d10&amp;amp;attid=0.1&amp;amp;disp=attd&amp;amp;zw"&gt;&lt;br /&gt;Download Kardus&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;http://mail.google.com/mail/images/pdf.gif&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-8088951138633013400?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/8088951138633013400/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=8088951138633013400' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8088951138633013400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/8088951138633013400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/02/blog-post.html' title=''/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5677588454481229106</id><published>2008-01-10T08:03:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T08:05:43.631-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mentega'/><title type='text'>Proses Pembuatan Mentega (Butter)</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;Milk &amp;amp; cream&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;img src="http://webexhibits.org/butter/i/Butter-making-flow.gif" alt="" align="right" border="0" height="675" width="245" /&gt;Collected from cows. Butter can also be produced from the milk of buffalo, camel, goat, ewe, and mares. Cream is separated from the milk. The cream can be either supplied by a fluid milk dairy or separated from whole milk by the butter manufacturer. The cream should be sweet (pH greater than 6.6), not rancid, not oxidized, and free from off flavors. The cream is pasteurized at a temperature of 95°C or more to destroy enzymes and micro-organisms. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;img src="http://webexhibits.org/butter/i/Leuconostoc-mesenteroides-100.jpg" alt="" align="left" border="0" height="100" hspace="10" vspace="10" width="100" /&gt;&lt;b&gt;Ripening&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sometimes, cultures are added to ferment milk sugars to lactic acid and desirable flavor and aroma characteristics for cultured butter. This is more common in European butters. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Aging&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cream is held at cool temperatures to crystallize the butterfat globules, ensuring proper churning and texture of the butter. In the aging tank, the cream is subjected to a program of controlled cooling designed to give the fat the required crystalline structure. As a rule, aging takes 12 - 15 hours. From the aging tank, the cream is pumped to the churn or continuous buttermaker via a plate heat exchanger which brings it to the requisite temperature. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Churning&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cream is agitated, and eventually butter granules form, grow larger, and coalesce. In the end, there are two phases left: a semisolid mass of butter, and the liquid left over, which is the buttermilk.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Draining &amp;amp; washing&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Thus the cream is split into two fractions: butter grains and buttermilk. In traditional churning, the machine stops when the grains have reached a certain size, whereupon the buttermilk is drained off. With the continuous buttermaker the draining of the buttermilk is also continuous. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;After draining, the butter is worked to a continuous fat phase containing a finely dispersed water phase. It used to be common practice to wash the butter after churning to remove any residual buttermilk and milk solids but this is rarely done today. This washing process would ensure that all the butter milk is washed out of the butter. Otherwise the butter would not keep and go rancid. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Salting &amp;amp; working&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Salt is used to improve the flavor and the shelf-life, as it acts as a preservative. Further, the butter is worked to improve its consistency. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Packing &amp;amp; storage&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;The butter is finally patted into shape and then wrapped in waxed paper and then stored in a cool place. As it cools, the butterfat crystallizes and the butter becomes firm. Whipped butter , made by whipping air or nitrogen gas into soft butter , is intended to spread more easily at refrigeration temperatures. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5677588454481229106?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5677588454481229106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5677588454481229106' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5677588454481229106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5677588454481229106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/proses-pembuatan-mentega-butter.html' title='Proses Pembuatan Mentega (Butter)'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-6893682527849877042</id><published>2008-01-10T07:20:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T07:22:33.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='mentega'/><title type='text'>Bikin Mentega 1</title><content type='html'>&lt;h2&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Making Your Own Butter&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;strong&gt;Making butter is remarkably easy and very satisfying. In recent               years the concerns about fats, cholesterol and heart disease have               made butter and almost taboo food but I believe that, like most               natural foods, in moderation it will do no harm. I have even heard               that the fats in low fat spreads are more harmful than the natural               animal fats in butter.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;With all this conflicting information I think you can argue anything               you eat is bad for you!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;OK – back to butter.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Butter Making - Ingredients&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;The 'ingredients' for butter are simply cream and possibly a little               salt. I think you can make butter from goat's milk, but it takes               a different method so I'm sticking to what I know. Making butter               from cow's cream. &lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Unless you have your own cow or access to a dairy, you are not               going to save any money by making your own butter. As with most               commodity products in the supermarket, the retail price of butter               is less than you can buy the raw materials for. &lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Having said that, sometimes you will find the supermarket has               reduced it's cream as it approaches the end of it's shelf life.               One Christmas Eve we found our supermarket had a load of cream               reduced to 5p for a large tub. &lt;/p&gt;             &lt;p&gt;I've never managed to freeze cream so making butter was the ideal               way to take advantage of a bargain and store it for use in the               future.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;You need double cream or whipping cream to make butter, single               cream is just too thin. &lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Butter Making - Equipment&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;You do not need much equipment to make butter at home, a bowl               and large jar with a lid being the minimum. If you have a food               processor or an electric whisk then the task will be much easier.&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Butter Making - Method&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Let the cream reach room temperature, around 20 C (68                 F) is ideal – this               is critical. Don't heat it but leave the pots out of the fridge               for a good few hours to warm up. If you have a cold kitchen, put               them into the living room to warm up.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Now we are ready to make butter. &lt;/p&gt;             &lt;p&gt;With a jar you need to half fill the jar, put the lid on and shake               it for anything between half an hour and an hour. This is hard               work, especially for any quantity and I've not tried it myself.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;With a food processor or an electric whisk, proceed as if you               are making whipped cream. In the processor, use the plastic blades               if you have them. I'm told the Kenwood 'K' beater is the best tool               if you are lucky enough to have one.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;strong&gt;It will go through the usual stage of starting to form firm peaks               and then it becomes quite stiff. At this point you might like to               reduce the speed of your whisk because when it goes it happens               very fast.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;All of a sudden the cream goes a bit yellow in colour and then               little bits of butter appear and a thin liquid, the buttermilk.               Just seconds later, the butter seems to clump and is separated               from the buttermilk. If your whisk is on high speed you are now               redecorating the kitchen, hence my suggesting you reduce speed               to a minimum.&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Buttermilk&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;Drain the buttermilk off – you can use this in baking, cooking               or make your cat very happy. &lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Washing the Butter&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;You need to get all the buttermilk out of the butter or the butter               will quickly go rancid. Add clean cold water to the butter in the               blender and operate on low speed for a minute. You need the water               to be cold or you melt the butter, which will then run off with               the water.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Repeat the washing process until the water is really clean, this               can be seven or more times but I can't emphasise enough how you               do need to make sure the water is clear.&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Pressing the butter&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;You now need to get the water out of the butter. In the old days               they had special wooden paddles to press and shape the butter but               you can use your hands and the back of a spoon to do this. When               you have the water out you are ready for the next stage.&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Salting or Flavouring the Butter&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;Homemade butter can be stored for at least three months in a freezer.               I do know that commercial butter stores for much longer but I think               they add stabilisers or something to it, which enables longer storage.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;strong&gt;If you are going to freeze the butter, don't salt or flavour it.               The freezing process enhances the saltiness or flavour and you               may well find it tasted fine on the way in but is too salty after               freezing.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;To salt do not add more than a small half teaspoon for each half               pound (250 gr) – half that amount suits me but I don't take               a lot of salt.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;You can also add crushed garlic or dried herbs to make flavoured               butter if you wish at this stage.&lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Shaping the Butter&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;If you have salted or flavoured the butter, you will need to mix               it thoroughly and then you can shape it. I prefer a roll of butter               rather than the traditional box shape. You can then wrap the butter               to keep in the fridge or to freeze if you have a lot.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;I find cling film ideal, but I've been told you can use greaseproof               paper. &lt;/p&gt;             &lt;h2&gt;Conclusion&lt;/h2&gt;             &lt;p&gt;For the ordinary person, making butter at home with ordinary kitchen               equipment is &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;very easy&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; and a great way to store bargain cream.               Like most things made yourself, it tastes wonderful and you control               the whole process.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-6893682527849877042?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/6893682527849877042/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=6893682527849877042' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6893682527849877042'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/6893682527849877042'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-mentega-1.html' title='Bikin Mentega 1'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7783655179316382433</id><published>2008-01-10T07:10:00.001-08:00</published><updated>2008-01-10T07:10:41.443-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keju'/><title type='text'>bikin keju 4</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; Making Cheese At Home&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p&gt;           by Mary Jane Toth                                              &lt;/p&gt;                                                                         &lt;p&gt;    Making cheese is a great way to preserve your milk supply.    Some types of cheese can be aged for two years or more without          refrigeration, while others have a shelf life of two years or             less. We freeze the soft cream cheese-style cheeses. We wax                  the cheddars, colbys and parmesans, since they will keep for a    long time. We also make a marinated feta that is covered in    herbs and oil. It keeps in a jar in a cupboard at room    temperature for several months with no problems. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cheese is basically milk, culture and rennet. All  [Click now!]    cheese will be white unless you color it. I never    do this, as it is totally unnecessary. The different kinds of    cheese are a result of the type of culture used, temperature    control and cooking time. Some cheeses such as blue, Brie,    Swiss or strong feta do require special enzymes to change the    character of the cheese. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Forget about making American cheese. America seems to be in    love with it, and yet it isn't really considered a true cheese    at all. It is real, all right, but it is the result of several    types of cheeses blended together with milk and stabilizers,    then pressed into the neat squares you see at stores. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Because it is no longer a recognized type of cheese like    cheddar, colby or Swiss, it is now considered a cheese food.    Check the label the next time you go to the supermarket. You    won't have the type of equipment at home that is needed to    reproduce American cheese. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    To get started, you'll need to consider what kind of culture    or starter to use. Rennet coagulates the milk. Cheese wax is a    must for colby, cheddar and parmesan. Cheese wax is reusable.    It can be washed in warm water, dried and melted again and    again. It's an investment in your home cheesemaking. Get some    good recipes, and you should be on your way to making your own    dairy products. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cultures, wax and rennet can be purchased from any good    cheesemaking supply company. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Some basic information &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;      1. Pots and utensils: Use only stainless steel or unchipped         enamel for making cheese. Acidity levels in cheese will         cause the aluminum to leach into your cheese. Any         stirring or cutting utensils are fine as long as they can         be sanitized and are not made of aluminum. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;      2. Salt: Use only non-iodized salt, such as kosher or         canning salt. Iodine will give your cheese a greenish         cast. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;      3. Cheese press: You need this if you plan to make waxed         cheeses. You can make one with an empty coffee can. Cut         out both ends and cut a wood follower to fit the opening.         Small red bricks can be wrapped in foil and used for         weights. There are several good cheese presses available         at a variety of prices. The best deal is the one Hoegger         makes for around $60. Anyone who is handy with wood can         make their own. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;      4. Cheese wax: Don't substitute paraffin or beeswax for the         cheese wax. I have already tried them, and they don't         work. Cheese wax is softer and more flexible than the         other types. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;      5. Rennet: It comes in liquid or tablet and in vegetable or         animal types. They all work equally well. The tablets         keep on a shelf, but liquid rennet needs to be         refrigerated. However, it does have a life expectancy of         two to three years. It never really dies, but it does         lose potency at about two percent a month. This can be         compensated for by adding a little more rennet as it         ages. The liquid rennet is a must for making soft-style         cream cheese. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Don't buy Junket brand rennet from the grocery store.         This is not the same thing as cheesemaking rennet. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;      6. Starter cultures: Cultures come freeze-dried in small         packets. Some must be recultured first before using.         These are considered regular type cultures. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Others are called DVI (Direct Vat Inoculate).This means         that they can be added directly to the warmed milk         without the added step of culturing them first. They are         a real time-saver and handy for the occasional         cheesemaker. The drawback is that they are generally more         expensive to use. I prefer them because they are more         convenient. If money is a concern, those that can be         recultured are cheaper to use in the long run. Their         drawback is that the culture must be recultured on a         regular basis just like yogurt to keep them live and         working well. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         These cultures fall into two basic categories -         thermophilic and mesophilic. Thermophilic is a         heat-loving culture. It is used for cheeses that must be         heated to a higher temperature such as mozzarella,         parmesan or Swiss and Italian-type cheese. Yogurt is also         made with a thermophilic culture. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Mesophilic is a non-heat loving culture which would be         destroyed at higher temperatures. It is used for 90         percent of your cheesemaking. Buttermilk is made with a         mesophilic culture. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         I often used these items as culture substitutes in some         of my recipes. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;      7. Cooking curds: Most times when you need to cook the curds         (cooking firms them up), a sink of hot water works better         than a stove. You can control the temperature better by         adding more or less hot water as needed. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;      8. Cheesecloth: Don't buy cheesecloth from the grocery         store. This isn't real cheesecloth, and it won't be         useful for draining anything. Cheesecloth is a much         thicker, muslin type 100 percent cotton. It can be washed         in hot soapy water with bleach and be used over and over         again. The best way I can describe it is that it reminds         me of diaper material - not prefolded, but the         old-fashioned diapers that we had to fold ourselves. When         held up, you could almost see through it, but not         clearly. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Old pillowcases work great for draining cheese. I cut         open the seams and wash them in hot soapy bleach water.         They make a nice square yard of cloth and can reused for         years until they actually wear out. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         To hang the cheese, we use old shoelaces which we also         bleach and use over and over. Tie a big knot in each end         of the lace before using. This will keep the laces from         sliding out while the cheese hangs. Cheese that falls         from hanging on a cupboard handle can really make a mess. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;      9. Aging: Waxed cheeses can be aged several ways. The ideal         temperature is around 55 degrees to 60 degrees F. A         basement or root cellar works great. A non-working         refrigerator or freezer can be used to keep out rodents.         I have had really good luck using a chest freezer with a         tight-fitting lid. I set it in my basement and have kept         cheese in there for over 1-1/2 years. Unwaxed cheeses can         be kept for several months if covered with oil. Any type         will do nicely, but you need to be sure that all the         cheese is completely immersed in the oil. Mold needs air         to grow. &lt;/p&gt;      &lt;p&gt;     10. Milk: Milk from any species can be used to make cheese.         My recipes were developed using whole milk. If you're         saving the cream for butter making or ice cream, you can         use the leftover milk to make cheese. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Milk must be clean, cooled properly, or pasteurized and         heat treated. If you're using raw milk to make cheese,         the cheese should be aged for 60 days or more. Any         harmful bacteria won't survive the aging process after 60         days. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;     11. Pasteurizing: There are pasteurizers available for         purchase, but this job can also be done on a stove top.         Use the double boiler method, placing one pan inside         another. Add a few inches of water to the outside pot and         heat the milk until it reaches 161 degrees F. Stir to         make sure the milk is at an even temperature throughout,         then place in a sink full of very cold water for quick         cooling. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;         Even if you decide not to pasteurize your milk, quick         cooling is the most important step you can take to have         good-tasting milk and successful cheese making. A candy         thermometer works great for pasteurizing. It can be hung         on the side of the pot. Once you know how long it takes         for the milk to reach 161 F degrees, you can set a timer         to keep from accidentally overheating the milk. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Soft cheese    (cream cheese style) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 5 quarts whole milk&lt;br /&gt;      * 1/3 cup buttermilk&lt;br /&gt;      * 2 tablespoons diluted rennet (dilution is 3 drops of         liquid rennet into 1/3 cup of cool water)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Warm the milk to 80 degrees F. Stir in the buttermilk, mix    well and add the dilute rennet solution. Stir well, cover and    allow to set at room temperature for eight to 12 hours. The    cheese is ready when it is thick. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Line a large bowl with a cloth and hang to drain for six to    eight hours. Draining can be speeded up if you take the bag of    curds down and scrape them from the outside of the bag to the    center. The cheese is drained when it has stopped dripping and    has the consistency of cream cheese. This cheese will freeze    for several months. Makes 1-1/2 to 2 pounds. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Note: Cheesecloth won't drain this type of cheese. You must    use a muslin-type cheesecloth or case cloth, as I like to call    it. Case cloth is simply an old pillow case with the seams    opened up to make a large square of cloth. It can be washed    out in hot, soapy bleach water and reused until the cloth    wears out. Shoelaces will work for hanging the cheese to    drain. You can use this cheese as a substitute for cream    cheese. We like to mix in herbs and spices and make    cheeseballs. Because this cheese is so versatile and easy to    make, I recommend it as one of the first cheeses for the    beginner. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    No-rennet    cottage cheese &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 1 gallon milk&lt;br /&gt;      * 1 cup cultured buttermilk &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Warm the milk to about 95 degrees F. Stir in the buttermilk    and allow to set at room temperature for 12 to 18 hours. The    milk will clabber, or become thick. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cut the curds into 1/2-inch cubes and let rest for 10 minutes.    Place the pot into a double boiler-type pot and heat at a very    low setting until the curd reaches 115 degrees F. Stir often    to keep the curds from matting together. This will take an    hour or more. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    The curd is ready when it is somewhat firm on the interior of    the cheese. Cook longer if necessary. Some whey will rise to    the top. Let the curds settle to the bottom of the pot, drain    off the whey and place the curds in a cloth-lined colander to    drain. Be gentle, as the curds are rather fragile. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Allow the cheese to drain until it stops dripping. Place in a    bowl and add salt to taste. I usually use about one teaspoon    of kosher or canning salt per pound. Stir in about four ounces    of half-and-half or cream per pound if you like a creamed    cottage cheese. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Quick cottage cheese &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 1 gallon milk&lt;br /&gt;      * 1/2 cup cultured buttermilk&lt;br /&gt;      * 1/4 teaspoon liquid rennet&lt;br /&gt;      * 1/4 cup cool water &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Warm the milk to 86 degrees F. Stir in the buttermilk, mix the    rennet into the cool water and add to the warmed milk. Set    until it coagulates, usually about an hour. Cut the curds in    1/2 inch cubes. Heat slowly by the double boiler method until    the temperature reaches about 110 degrees F. Hold at this    temperature for 30 minutes and stir often to prevent matting. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    When the curds are firm, place into a cheesecloth-lined    colander and let drain for 20 minutes. Lift the curds in the    cheesecloth and dip into a pot of cold water. Drain until the    curd stops dripping. Place curds in a bowl and add salt and    cream if desired. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cheddar cheese &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 2 gallons milk&lt;br /&gt;      * 1/2 cup cultured buttermilk or substitute (see list         below)&lt;br /&gt;      * 1 tsp. liquid rennet or 1/2 rennet tablet&lt;br /&gt;      * 1/2 cup cool water&lt;br /&gt;      * 4 teaspoons salt &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    In a large stainless or enamel pot, warm the milk to 88    degrees F and stir in buttermilk or other culture (see below).    Allow the milk to set to ripen for one hour. Keep the milk    warm at 88 degrees F during this time. This can easily be done    by placing the milk in a sink full of warm or hot water. Cool    or hot water can be added as needed. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    After one hour, mix the rennet in cool water and stir into the    milk for 30 seconds. Maintain the temperature at 88 degrees F    for 45 minutes to coagulate the milk. The curd is ready to cut    when you dip your finger into the curds and they break cleanly    over your finger as whey fills the depression. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cut the curds into 1/2-inch cubes and let them rest for 20    minutes, then gently stir them while increasing temperature to    98 degrees F. Increase heat very slowly over a 30-minute    period. This process is called cooking the curds. Stir often    to prevent the curds from matting together. Keep at 98 degrees    F until the curds have firmed up enough where they feel spongy    when gently squeezed between your fingers and no longer have a    custard-like interior. This will usually take 30 to 45    minutes. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Let the curds settle to the bottom of the pot and carefully    pour off some of the whey. Pour remaining curds and whey into    a colander and allow to drain for 10 minutes. Place the curds    back into the pot and stir in four teaspoons of salt. Mix    well, breaking up any curds that have matted together. Keep    the curds warm in the pot in a sink full of hot water for one    hour. Stir often to keep the curds from matting. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Line a cheese press with cheesecloth, scoop curds into the    press and fold over any excess cheesecloth. Place a wood    follower on top of that and press at 15 pounds pressure for 20    minutes. Remove the cheese from the press, turn over and    redress onto another clean cheesecloth and press at 30 pounds    pressure for two hours. Remove cheese from press, redress in a    clean cheesecloth and press at 30 to 40 pounds overnight. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    In the morning, remove the cheese from the press and allow to    air dry several days until the cheese is dry to the touch.    Turn several times a day while it is drying. Coat with cheese    wax when the cheese is dry to the touch. Age at 55 degrees F    for two to six months, depending on how strong you like the    cheese. Really good cheddar is aged for 12 months or more.    Culture substitutions: You can use 1/4 teaspoon mesophilic DVI    (direct vat inoculant) or 1/2 regular mesophilic culture in    place of buttermilk. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Mild feta cheese &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 1 gallon milk&lt;br /&gt;      * 1/4 cup cheese culture or buttermilk&lt;br /&gt;      * 1/2 teaspoon liquid rennet&lt;br /&gt;      * 1/4 cup cool water&lt;br /&gt;      * Coarse salt &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Warm milk to 86 degrees F and stir in cheese culture or    buttermilk. Set one hour to ripen. Mix rennet into cool water    and stir into milk. Cover and allow to set another hour to    coagulate. Cut curds into 1/2-inch cubes and allow to rest    five minutes. Stir gently for 15 minutes, keeping the curds at    86 degrees. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Pour curds into a cheesecloth-lined colander, tie the bag of    curds and hang to drain for four to six hours. Slice the    cheese ball in half and lay the slabs of cheese into a dish    that can be covered. Sprinkle all the surfaces with coarse    salt, cover and allow to set at room temperature for 24 hours. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    After 24 hours, salt all the surfaces with more coarse salt    and let it rest for two hours. Place the cheese in a covered    dish and refrigerate for five to seven days. Use within two    weeks or freeze for future use. The cheese will keep at room    temperature for months if marinated in oil. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Marinated feta cheese &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * Mild feta cheese (stronger cheese may be used)&lt;br /&gt;      * Jars with lids&lt;br /&gt;      * Olive, canola or soybean oil&lt;br /&gt;      * Your choice of herbs (use aromatic herbs for best flavor) &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Cut or break the cheese into smaller pieces, about 1 to 1-1/2    inches. Use a clean jar that has a tight-fitting lid. Layer    the herbs first, then the cheese. Repeat until the jar is    full. Leave abut 1/2 inch of space at the top. Pour oil over    the cheese and herbs, filling the jar until the mixture is    completely covered with oil. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Place the marinated feta on a cupboard or shelf. Refrigeration    is not necessary as long as the cheese is completely covered    with oil. Air won't be able to get in, and the cheese won't    mold. Enjoy it straight out of the jar or crumble into your    favorite salad. The cheese gets better with age. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Some herbs to consider are rosemary, thyme, bay leaves,    marjoram, sun-dried tomatoes, garlic cloves, dried hot    peppers, peppercorns, basil, oregano or onions. My personal    favorite combination is rosemary, basil and garlic. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Traditional (Greek-style) feta cheese aged in salt brine &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;       * 1 gallon milk&lt;br /&gt;      * 1/4 cup cheese culture or buttermilk&lt;br /&gt;      * 1/8 teaspoon lipase enzyme powder&lt;br /&gt;      * 1/2 teaspoon liquid rennet&lt;br /&gt;      * 1/2 cup cool water&lt;br /&gt;      * Coarse salt&lt;br /&gt;      * Brine solution &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Warm milk to 86 degrees F. Stir in culture or buttermilk, add    lipase enzyme to 1/4 cup cool water, dissolve enzyme and stir    into milk. Set 1 hour to ripen. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Mix rennet in 1/4 cup cool water and stir into ripened milk    for one minute. Allow 40 minutes to coagulate. Cut curds into    one-inch cubes and let rest for 10 minutes. Stir gently for 20    minutes, keeping the curds at 86 degrees F. Pour curds into    cheesecloth-lined colander and hang the bag of curds to drain    for six to eight hours. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    After draining, the cheese will be very firm. Slice in half,    salt all the surfaces of the cheese with coarse salt and place    sections of cheese into a dish. Keep the cheese in a covered    dish during the salting process at room temperature for two    days. Rub all the surfaces with more salt each day. Drain off    any liquid that seeps out of the cheese. This cheese will    become very strong smelling during the salting process. That    is the lipase enzyme powder doing its job. After two days, the    cheese should become tougher and can now be aged in a brine    solution in the refrigerator. Age in brine for one to four    weeks. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Brine solution:&lt;br /&gt;   7 ounces of canning or kosher salt&lt;br /&gt;   1/2 gallon cool water &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Mix salt and water together. Not all of the salt will get    dissolved. Place the cheese into a crock or dish with a lid.    Cover the cheese with the brine solution. Cheese needs to be    immersed in the brine. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;    Note: Feta is traditionally a very salty cheese and is best    eaten crumbled over a salad or used in small amounts in other    dishes. Some of the saltiness can be removed by soaking in    fresh milk overnight. &lt;/p&gt;   &lt;p&gt;    Mary Jane Toth is the author of Caprine Cooking.        &lt;/p&gt;&lt;p&gt;   &lt;/p&gt;&lt;hr /&gt;      &lt;p&gt;Countryside Magazine W11564 Hwy 64 Withee, WI 54498 &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7783655179316382433?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/7783655179316382433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=7783655179316382433' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7783655179316382433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7783655179316382433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-4.html' title='bikin keju 4'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3162742717572441071</id><published>2008-01-10T06:39:00.001-08:00</published><updated>2008-01-10T07:07:25.270-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keju'/><title type='text'>bikin keju 3</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Making Cheese - Ingredients &lt;/h2&gt;        &lt;h3&gt;&lt;strong&gt; Milk&lt;/strong&gt;&lt;/h3&gt;        &lt;p class="green"&gt;Milk is obviously the main ingredient and          may be from cows, goats or dairy sheep. There are also          some who use buffalo milk. In fact, from the regulatory          point of view, milk is recognised as being a product          that emanates from these four animals. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt; Dried or frozen milk will produce perfectly good cheese, as well as          milk from the milkman or supermarket, although the latter will be more          expensive than having your own dairy animal or bulk source of milk. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt; Starter culture&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;This is a culture of the appropriate          bacteria to ensure that milk is at the optimum level          of acidity or ripeness before it is turned into curds          and whey. There are several different strains available,          depending on the cheese to be produced.The          most common ones are &lt;em&gt;Streptococcus lactis&lt;/em&gt; and &lt;em&gt;Streptococcus          cremoris&lt;/em&gt;. Some cultures have a range of different bacteria, making          them suitable for all types of soft or pressed cheeses,          while others are manufactured for specific cheeses. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt; Starters tend to be of two types: &lt;em&gt; Thermophilic &lt;/em&gt; can stand          higher temperatures than normal. They are used in some Italian and Swiss          cheeses that require higher than usual temperatures in their production. &lt;em&gt;Mesophilic &lt;/em&gt;starters          are used at lower temperatures and are suitable for most cheeses. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt; Starters are available in freeze-dried form, in foil packets, from          specialists who supply by mail order. They need to be stored in the          freezer until used. They are generally available in one of two forms:          DVI (direct vat inoculation) cultures or the traditional 'incubated          before use'; ones. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;The former is the most convenient to use because            it is merely a matter of opening the foil sachet and          sprinkling the starter into the milk in the vat. One sachet of Ezal          MA4001 or 4002, for example, will be enough for 50 litres of milk, so          while suitable for the commercial dairy, may be too much for home use.         &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;However, it is possible, although not recommended, to use some of the            powder, then re-seal the sachet with tape and freeze          it until next time. The general guidelines as to its usage are as follows: &lt;/p&gt;        &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Soft cheese&lt;/strong&gt;: Leave to ripen for 30 minutes &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt;Hard cheese&lt;/strong&gt;: Leave for 60 minutes before adding            rennet &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;p&gt; Traditional or 'incubated before use' starters are those          that need to be prepared before use. Some of the most          common are Ezal MM100 and 101, but there are many others.          The procedure for preparing them is as follows:&lt;/p&gt;        &lt;p&gt; Heat            one litre of fresh milk to 90 O C for ten minutes.          Put the saucepan lid on immediately and allow the milk          to cool to 20-22° C. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Sprinkle the culture from the sachet into the            cooled, sterilised milk and stir well until completely             mixed. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;Pour the milk into a previously sterilised container            such as a food-grade plastic box (an ice cream container          is suitable). Place in a warm place at 20-22° C for 24          hours so that the culture is incubated. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;It is then ready            for use. It should smell clean and sharp and resemble          yoghurt. As to how much of this starter to use, amounts obviously vary          depending on the scale and type of cheese to be made. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;After taking the            amount needed for making the cheese, the rest of the          culture can be frozen. Home users may find it useful to store the rest          of the culture in a self-sealing, ice-cube freezer bag until needed.          One of these cubes is approximately equivalent to one tablespoon. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt;Rennet&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;In cheesemaking, it is not always convenient          to have coagulation at a very acid level; some cheeses          require coagulation earlier. This is where rennet comes          in. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt; Rennet is a curdling agent, which acts on the milk protein casein,          causing separation of the milk into solid curds and liquid whey. Traditionally          it was derived from a calf's stomach, but now vegetarian rennet          is also available, although more of the latter is required. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;General            rate of usage is 4 drops per 5 litres of milk for soft          cheeses and 4 drops per 1 litre for hard cheeses, but          this varies depending on the cheese. Some soft cheeses,          for example, need a very small amount, with a long setting period, otherwise          they go rubbery. Also, the more acidic the milk, and the more starter          has been used, the shorter the setting time. Coagulation also takes          place more quickly at a warm temperature, such as 30° C. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt;Salt&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;Salt enhances the flavour of a cheese, and          acts as a preservative. It also helps to drain and firm          the cheese. It is sprinkled on to the curds before they are put into          the mould. The amounts vary, depending on the cheese, but a general          guideline is as follows: &lt;/p&gt;        &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; Dry salting&lt;/strong&gt; : 2% per kilo of curds, ie, 20g salt            per kilogram of curd. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;strong&gt; 20% brine solution&lt;/strong&gt; : 200ml (13 level tablespoons)              salt per litre of water. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;h3&gt;Herbs&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;Some cheeses may have chopped herbs such          as parsley or sage added for extra taste, and depending          on the recipe. Fresh or dried herbs can be used, and          are normally added to the curd at salting. Finished soft cheeses are          sometimes rolled in herbs or crushed black peppercorns. Some pressed          cheeses may be marinated in beer or cider. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt;Colouring&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;Annatto, a substance from the seeds of          the South American plant &lt;em&gt;Bixa orellana&lt;/em&gt;, is sometimes used to          colour cheeses, but home cheesemakers generally do not          need it. It is available from specialist suppliers. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;The            amount used depends on the degree of colour required,            and usually ranges between 5-15ml per 50 litres of          milk. The colour becomes more apparent as the curds form. It is added          after the starter but before the rennet. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt;Wax&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt;Pressed cheeses can be bandaged or coated with          wax, and cheese wax is available in different colours          from specialist suppliers. &lt;/p&gt;        &lt;h3&gt; Acidity&lt;/h3&gt;        &lt;p&gt; At different stages of cheesemaking, it is necessary to know the level          of acidity of the milk or curds. For example, when making a Cheshire          cheese the acidity or level of lactic acid in the milk should be about          0.20% at renneting. Perfectly good cheeses can be made without as detailed          a technique as this, but the ability to test the acidity is important          to the commercial producer if a reasonably standard product is to be          achieved. A traditional way of testing acidity is to use a Lloyd’s          acidmeter. Dairying pH sticks for testing acidity are also available,          as well as electronic pH gauges. &lt;/p&gt;        &lt;p&gt; With the preparations and equipment to hand, the next stage is to          start making the cheese. That's where the fun begins! Here's          just one example: &lt;/p&gt;        &lt;p&gt;&lt;a href="http://www.allotment.org.uk/allotment_foods/3_Making_Cheddar_Cheese.php"&gt;Make Your Own           Cheddar Cheese &gt;&gt; &lt;/a&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3162742717572441071?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3162742717572441071/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3162742717572441071' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3162742717572441071'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3162742717572441071'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-2.html' title='bikin keju 3'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3328148532414025574</id><published>2008-01-10T06:39:00.000-08:00</published><updated>2008-03-02T16:55:52.037-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keju'/><title type='text'>bikin keju Cheddar 1</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Making Cheese - Cheddar Cheese&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;This hard cheese is one of the great cheeses of the world. It is usually made with cow’s milk, but I frequently made it from goat’s milk. Goat and ewe’s milk both produce a slightly softer curd than cow’s milk, and they require slightly reduced temperatures. The curds from these milks also need slightly less pressing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sterilise all the equipment in hot water and ensure that the room is not subject to cold draughts. Give yourself plenty of time, without the possibility of interruptions. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membuat Keju- Cheddar Keju &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keju yang [sulit/keras] ini adalah salah satu [dari] keju yang besar dunia. [Itu] adalah pada umumnya dibuat dengan cow’s susu, tetapi aku sering buat ia/nya dari goat’s susu. Kambing dan ewe’s memerah susu hasil kedua-duanya [adalah] suatu dadih yang sedikit lebih lembut dibanding cow’s susu, dan mereka memerlukan temperatur yang sedikit dikurangi. Dadih dari susu ini juga memerlukan sedikit lebih sedikit menekan. Sterilise semua peralatan berada dalam kesulitan dan memastikan bahwa ruang bukanlah tunduk kepada campuran yang dingin. Memberi diri anda banyak dari waktu, tanpa kemungkinan dari gangguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2 style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Ingredients&lt;/span&gt; &lt;/h2&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;This makes approximately 0.5kg (1lb) of Cheddar. The final weight               will vary depending on the type of milk. For a larger quantity,               adjust the ingredients accordingly. It should be pointed out that               it is far more economical to make a larger quantity than the one               stated here because it takes just as long to make a small cheese               as a larger one. &lt;/p&gt;             &lt;ul&gt;&lt;li style="font-style: italic;"&gt; 5 litres (1gallon) full cream milk &lt;/li&gt;&lt;li style="font-style: italic;"&gt; 1 litre (1.7pints) additional cream (optional) &lt;/li&gt;&lt;li style="font-style: italic;"&gt; 5ml (1 teaspoon) liquid starter or 5ml DVI dry starter (or                 half a cup of live yoghurt/live buttermilk although this is not                 as reliable as a commercial starter) &lt;/li&gt;&lt;li style="font-style: italic;"&gt; 3ml (half teaspoon) rennet &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;10g salt&lt;/span&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Ingredients.&lt;br /&gt;Ini membuat kira-kira 0.5kg ( 1lb) dari Cheddar. Berat/Beban akhir akan bertukar-tukar tergantung dengan diam-diam [itu] jenis susu. Karena suatu kwantitas yang lebih besar, melakukan penyesuaian ramuan maka. Haruslah ditunjukkan bahwa hemat lebih jauh untuk membuat yang  kwantitas yang lebih besar dibanding dinyatakan di sini sebab [itu] mengambil sama [halnya] merindukan untuk membuat suatu keju yang kecil sebagai yang lebih besar.&lt;br /&gt;  * 5 ukuran metrik ( 1gallon) sari yang penuh memerah susu&lt;br /&gt;  * 1 ukuran metrik ( 1.7pints) sari tambahan ( yang opsional)&lt;br /&gt;  * 5ml ( 1 sendok teh) stater cairan atau 5ML DVI mengeringkan stater ( atau separuh suatu cangkir;piala dari [tinggal/hidup] yoghurt/live cairan susu walaupun ini adalah bukan sebagai yang dapat dipercaya sebagai stater yang komersil)&lt;br /&gt;  * 3ml ( separuh sendok teh) pengolahan keju dari susu&lt;br /&gt;  * 10g menggarami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;h2&gt;Method&lt;/h2&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt; Pasteurisation&lt;/strong&gt;: Pasteurise               the milk to destroy unwanted bacteria. To avoid damaging the subsequent               curd, this is normally 66 OC held for 30 minutes. Cool to 21 OC.&lt;/p&gt;Pasteurisasi: Pasteurise susu untuk menghancurkan bakteri yang tak dikehendaki. Untuk menghindari merusakkan dadih yang berikut, ini adalah secara normal 66 OC dipegang untuk 30 beberapa menit. Dingin[Kan [bagi/kepada] 21 OC&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Starter&lt;/strong&gt;:Stir in the               starter and leave the milk, covered in a warm place for about an               hour so that it can acidify. Don’t leave it for much longer               than this otherwise the cheese may be too dry and crumbly.&lt;/p&gt;Starter:Stir di stater dan me/tinggalkan susu [itu], yang [dicakup/tutup] brown tempat hangat untuk sekitar suatu jam sedemikian sehingga [itu] dapat mengasamkan. Don’T me/tinggalkan ia/nya untuk banyak lebih panjang dibanding ini jika tidak keju mungkin (adalah) terlalu mudah hancur/rapuh dan kering&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Rennet&lt;/strong&gt;: Increase the               temperature to 28 OC for goat or ewe’s milk, or to 30 OC               for cow’s milk. Mix the rennet with two teaspoonfuls of previously               boiled and cooled water and then stir it in. Give it another stir               5 minutes later to stop the cream collecting at the top. Cover               the container and then leave the milk to set in a warm place.&lt;/p&gt;Pengolahan keju dari susu: Meningkat/Kan temperatur [bagi/kepada] 28 OC untuk kambing atau ewe’s susu, atau [bagi/kepada] 30 OC untuk cow’s susu. Mencampur pengolahan keju dari susu dengan dua sesendok teh penuh dari sebelumnya mendidih dan air didinginkan dan kemudian menggerakkan ia/nya di (dalam). Memberi ia/nya keributan lain 5 beberapa menit yang kemudiannya untuk stop sari mengumpulkan ada di puncak. Menutup/Meliput kontainer dan kemudian me/tinggalkan susu untuk yang di-set  brown tempat yang hangat.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Setting&lt;/strong&gt;: (Coagulating): The curd is               normally ready when it is firm to the touch, gives slightly and               does not leave a milk stain on the back of the finger. Note that               with vegetarian rennet, setting takes longer than with animal rennet.               It also takes longer in a cooler environment.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pengaturan: ( Pembekuan): &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dadih adalah secara normal siap;kan ketika [itu] adalah pasti [bagi/kepada] sentuhan, memberi sedikit dan tidak me/tinggalkan suatu noda susu menyatakan ucapan selamat atas hasil kerja orang dari jari itu. [Yang] catat bahwa dengan pengolahan keju dari susu vegetarian, pengaturan mengambil lebih panjang dibanding dengan pengolahan keju dari susu binatang. [Itu] juga mengambil lebih panjang brown lingkungan yang lebih dingin.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Cutting the curd&lt;/strong&gt;: This is where the               curd is cut in order to release the liquid whey. Cut down into               the curd, from top to bottom one way then cut it at right angles               to form square columns. The curd is then loosened from around the               walls of the pan. Unless a curd knife is available to make horizontal               cuts, a palette knife can used to make diagonal cuts to break up               the curd into pieces that are approximately pea-sized. Stir gently               with the hand for a couple of minutes.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memotong dadih [itu]:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Inilah di mana dadih memotong dalam rangka melepaskan air dadih cairan [itu]. yang dipotong Ke dalam dadih, satu arah dari atas sampai ke bawah kemudian memotong ia/nya tegak lurus pada kolom format yang bujur sangkar. Dadih kemudian adalah mengendurkan dari di sekitar dinding dari mencela dengan keras. Kecuali jika suatu pisau dadih ada tersedia untuk membuat horisontal memotong, suatu pisau aduk dapat diagonal buatan digunakan untuk yang memotong memisahkan dadih ke dalam menambah itu adalah kira-kira pea-sized. Keributan dengan lemah-lembut dengan tangan untuk beberapa beberapa menit.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Scalding&lt;/strong&gt;: Sometimes referred to as               cooking, this is where the temperature of the curds and whey is               raised slowly while occasional stirring of the curds takes place               by hand. Gradually increase the temperature to 38 OC over the next               30-40 minutes.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yang cuci panas-panas: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kadang-Kadang dikenal sebagai memasak, inilah di mana temperatur dari dadih dan air dadih diangkat pelan-pelan [selagi/sedang] gerakan/kegemparan yang sekali-kali dari dadih berlangsung dengan tangan. Secara berangsur-angsur meningkat/kan temperatur [bagi/kepada] 38 OC dalam yang akan datang 30-40 beberapa menit.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Pitching&lt;/strong&gt;: This is the process of giving               the whey a final, circular stir so that it whirls round. The curds               then gradually sink to the bottom and collect at a central point.               Turn off the heat and leave the pan until all movement has ceased               in the liquid.&lt;/p&gt;Pelemparan;Anggukan:&lt;br /&gt;Ini adalah proses dari memberi air dadih [adalah] suatu keributan lingkar akhir sedemikian sehingga [itu] berpusar putaran. Dadih kemudian secara berangsur-angsur karam [bagi/kepada] alas/pantat dan mengumpulkan pada suatu titik tengah. Memadamkan panas dan me/tinggalkan panci sampai semua pergerakan telah berhenti di cairan [itu].&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Running the whey&lt;/strong&gt;: Ladle out as much               of the liquid whey as possible, then place a previously sterilised               cloth over a stainless steel bucket or large basin and tip in the               curds. Make the cloth into a bundle by winding one corner around               the other three. This is called a Stilton knot. Place the bundle               on a tray which is tilted at an angle to let the whey drain away.               Leave for about 15 minutes.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjalankan air dadih [itu]: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sendok besar ke luar sebanyak mungkin air dadih cairan [sebagai/ketika] mungkin, kemudian menempatkan suatu kain yang sebelumnya sterilised (di) atas suatu ember baja tahan-karat atau kolom/dok/bak besar dan memasang ujung di dadih [itu]. Membuat kain ke dalam suatu bundel dengan lilitan satu sudut di sekitar yang lain tiga. Ini adalah [disebut/dipanggil] sebagai suatu Stilton jerat/simpul. Menempatkan bundel pada [atas] suatu baki [yang] yang mana [adalah] dimiringkan pada suatu penjuru/sudut untuk dibiarkan saluran air dadih pergi. Menuju sekitar 15 beberapa menit.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Stacking or cheddaring &lt;/strong&gt;(Texturing):Untie               the bundle and the curds will be seen to have formed into a mass.               Cut this into four slices and place one on top of the other then               cover with the cloth. After about fifteen minutes place the outer               slices of the curd on the inside of the stack, and vice versa.               Repeat this process several times until the curd resembles the               texture of cooked breast of chicken when it is broken open.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tumpukan atau cheddaring ( Texturing):&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untie bundel dan dadih akan [jadi] dilihat untuk mempunyai dibentuk ke dalam suatu massa. Yang memotong irisan empat ke dalam ini dan menempatkan satu di atas sekali dari lain kemudian menutup/meliput dengan kain [itu]. Setelah sekitar lima belas beberapa menit menempatkan irisan yang luar dari dadih dengan diam-diam bagian dalam tumpukan, dan sebaliknya. Mengulangi proses ini beberapa kali sampai dadih menyerupai tenunan dari dada yang dimasak tentang ayam ketika [itu] dibuka paksa.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Milling&lt;/strong&gt;: This is the process of cutting               the curd into pea-sized pieces. Traditionally a curd mill was used               for this, but it is easy to do it by hand.&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggilingan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah proses dari memotong dadih ke dalam potongan yang pea-sized. Secara kebiasaan suatu penggilingan dadih telah digunakan untuk ini, tetapi adalah mudah untuk melakukannya dengan tangan.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Salting&lt;/strong&gt;: Sprinkle 10g salt onto the               milled curds. rolling them gently without breaking them further.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penggaraman: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menetes 10g menggarami ke dadih yang digiling [itu]. menggulung [mereka/nya] dengan lemah-lembut tanpa mematahkan [mereka/nya] lebih lanjut. &lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Moulding&lt;/strong&gt;: This is the process of lining               the cheese mould from the press with previously boiled cheesecloth               and adding the curd until the mould is full. The corner of the               cloth is then folded over the top of the cheese and it is ready               for pressing.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penuangan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah memberi isyarat kepada seseoran  proses dari lapisan keju mencetak dari tekanan dengan cheesecloth sebelumnya mendidih dan menambahkan dadih sampai adonan/cetakan/jamur adalah penuh. Sudut kain kemudian adalah melipat melampaui sasaran dari keju dan [itu] adalah siap untuk menekan.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Pressing&lt;/strong&gt;: Once in the mould the curds               have a wooden ‘follower’ placed on top so that when               the mould is put into the press there is a surface on which to               exert an even pressure. &lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Pressing cheese is essentially a process of compacting the curds               while extracting the liquid whey. For the first hour, apply a light               pressure so that the fats are not lost with the whey then increase               it to the maximum and leave until the following day.&lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt; Next day, remove the cheese from the press, replace the cloth               with a clean one and put the cheese back in the mould, upside down,               and press for another 24 hours.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menekan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekali ketika di adonan/cetakan/jamur dadih mempunyai seorang yang kaku/kayu ‘ pengikut’ yang ditempatkan di atas sekali sedemikian sehingga ketika adonan/cetakan/jamur adalah memasuki tekanan ada suatu permukaan yang di atasnya untuk menggunakan suatu genap tekanan.&lt;br /&gt;Menekan Keju  adalah sangat utama suatu proses dari ringkas dadih [selagi/sedang] menyuling/menyadap air dadih cairan [itu]. Karena jam yang pertama, menggunakan suatu tekanan cahaya sedemikian sehingga yang gemuk tidaklah hilang dengan air dadih kemudian meningkat/kan ia/nya [bagi/kepada] yang maksimum dan me/tinggalkan sampai yang berikut hari.&lt;br /&gt;Hari berikut, memindahkan keju dari tekanan, menggantikan kain dengan suatu membersihkan [yang] satu dan menaruh keju kembali di adonan/cetakan/jamur, kacau-balau; terbalik; sungsang, dan menuntut/mendesak terus lain 24 jam.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;  &lt;strong&gt;Drying&lt;/strong&gt;: Remove the cheese from the press               and cloth and dip it in hot water (66 OC) for one minute in order               to consolidate and smooth the surface. Place it in a protected               area at a temperature of 18-21 OC and leave it to dry for a day               or two until a rind begins to form.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengeringkan: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memindahkan keju dari tekanan dan kain dan mencelupkan ia/nya berada dalam kesulitan ( 66 OC) selama satu menit dalam rangka memperkuat dan memperlancar permukaan [itu]. Menempatkan ia/nya brown wilayah yang dilindungi pada suatu temperatur dari 18-21 OC dan me/tinggalkan ia/nya untuk mengeringkan untuk satu atau dua hari sampai suatu kulit [adalah] mulai untuk membentuk. &lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Sealing&lt;/strong&gt;: Once the rind has formed the               cheese can be sealed to prevent it becoming unduly desiccated while               it is maturing. Large cheeses are sometimes bandaged but it is               much easier to use cheese wax that is available from specialist               suppliers.&lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Using a water bath, heat the wax in a pan and               stir it to ensure that it is melting evenly. &lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt;Do not leave the pan unattended in case of fire! Dip the cheese               into the liquid wax and coat thoroughly. It sets quickly, so rotate               the cheese so that the area where your fingers are touching can               also be coated. If preferred, you can paint on the wax with a paintbrush               but this will probably need two coats.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penyegel: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sekali ketika kulit telah membentuk keju dapat disegel untuk mencegahnya menjadi terlalu dikeringkan ketika sedang mendewasakan. Keju yang besar adalah kadang-kadang dibalut tetapi [itu] adalah banyak lebih mudah untuk menggunakan keju bertambah besar yang ada tersedia dari spesialis para penyalur. Penggunaan suatu mandi/rendaman air, memanaskan lilin brown mencela dengan keras dan menggerakkan ia/nya untuk memastikan bahwa ia/nya sedang meleleh datar.&lt;br /&gt;Jangan me/tinggalkan panci tanpa kendali dalam hal api! Mencelupkan keju ke dalam cairan bertambah besar dan melapisi secara menyeluruh. [Itu] menetapkan dengan cepat, berputar[lah keju sedemikian sehingga area di mana jari mu  sedang menyentuh dapat juga dilapisi. Jika lebih disukai, kamu dapat mengecat dengan diam-diam lilin dengan suatu kuas cat tetapi ini akan mungkin memerlukan dua mantel.&lt;p style="font-style: italic;"&gt;                         &lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;"&gt;&lt;strong&gt;   Maturing&lt;/strong&gt;: The last stage is often the               all-important one. A cheese, which is tasteless and bland when               freshly made, is full of flavour and body after its proper ripening               period. &lt;/p&gt;             &lt;p style="font-style: italic;"&gt; Leave to mature in a cool, dry place at 8 – 11 OC where               it should be turned daily for the first three weeks, then on alternate               days after that. For a large mild cheese, ripening should take               place for at least three months. A longer period of ripening produces               a more mature cheese. Smaller cheeses are usually ready after a               month.&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedewasaan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; [Bertahan/Berlangsung] langkah adalah sering yang terpenting [itu]. Suatu keju, yang mana [adalah] hambar dan lemah lembut ketika baru saja dibuat, adalah penuh dengan bumbu dan badan setelah periode pemasakan yang sesuai nya. Me/Tinggalkan untuk mendewasakan brown tempat yang kering dingin pada 8– 11 OC di mana haruslah diputar sehari-hari untuk yang tiga yang pertama minggu, kemudian berganti hari setelah itu. Karena suatu keju yang lembut besar, pemasakan [perlu] berlangsung untuk sedikitnya tiga bulan. Suatu periode yang lebih panjang dari menjadi masak hasil [adalah] suatu lebih [] dewasa keju. Keju yang lebih kecil adalah pada umumnya siap;kan bulan hingga batas tertentu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3328148532414025574?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3328148532414025574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3328148532414025574' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3328148532414025574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3328148532414025574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-cheddar-1.html' title='bikin keju Cheddar 1'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1512074775816548900</id><published>2008-01-10T05:51:00.000-08:00</published><updated>2008-01-10T06:18:54.291-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keju'/><title type='text'>Bikin Keju (Engg)</title><content type='html'>&lt;center&gt; &lt;table border="1" width="100%"&gt;   &lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;              &lt;center&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/decant_whey_3_P3120306sm.jpg" height="147" width="170" /&gt;       &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;              &lt;h1&gt;             &lt;center&gt;              &lt;h1&gt; &lt;b&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;CHEESE MAKING ILLUSTRATED&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/h1&gt;       &lt;/center&gt;       &lt;/h1&gt;                &lt;center&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;©David B. Fankhauser, Ph.D.,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Professor of Biology and Chemistry&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;University of Cincinnati Clermont College,&lt;/span&gt;   &lt;br /&gt;    &lt;span style="font-size:78%;"&gt;Batavia OH 45103&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;              &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Cheese_press/45_press_9_cheese_in_press_P3120337md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/45_press_9_cheese_in_press_P3120337SM.jpg" height="149" width="190" /&gt;       &lt;/a&gt;       &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;              &lt;center&gt;&lt;span style=""&gt;decanting whey&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style=""&gt;from the curds&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;              &lt;center&gt;&lt;span style=""&gt;This page has been accessed &lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/scripts/counter.pl?Page=Cheese_5gal" alt="Counter" /&gt;  times since 26 July 2000.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--img SRC="/scripts/counter.pl?Page=Cheese_5gal" ALT="Counter" --&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;script language="JavaScript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:-1;"&gt;&lt;!-- hide from non-JavaScript browsers        var loc = document.location;        var sloc = loc.toString()        var startNo = sloc.lastIndexOf("/")        FileName = sloc.substring(startNo + 1)        document.write ("File &amp;quot;" + FileName + "&amp;quot;")        var DocDate = document.lastModified        DocDate = new Date(DocDate);// browser Y2K bug fix        var docmsec = DocDate.getTime();        if (docmsec &lt; docdate =" new" yy =" ((((docmsec" yy =" Math.floor(yy);" dd =" DocDate.getDate();" mm =" DocDate.getMonth();" monnames =" new" thismonth =" MonNames[mm];" dow =" DocDate.getDay();//" yy =" DocDate.getYear();" moddate = ""&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;&lt;span style=""&gt;rvsd 14 October 1991, 20 Sept. '94, 23 Sept. '96, 14 Sept 99, 4 Oct 01&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;              &lt;center&gt;&lt;span style=""&gt; pressing the cheese in a &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    &lt;span style=""&gt;home-fashioned press&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt; &lt;/table&gt; &lt;/center&gt;    &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;How to make cheese at home.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;This recipe for a basic hard cheese works for any kind of milk. Iprimarily use my own fresh goats' milk, but have made it quite successfullywith cow's milk purchased from the grocery as well as raw cow's milk froma local farmer. I always use &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/CHEESE_5gal_00.htm#rennet"&gt;rennet tablets becauseof their dependability and availability from many supermarkets&lt;/a&gt; .  I usually make 5 gallons of milk into cheese at a time in a 5 gallon Volrath stainless steel pot.  Its thick aluminum bottom pad prevents scorching.  Five gallons of milk produces a &lt;a href="http://www.clc.uc.edu/%7Efankhadb/cheese/Cut_CheeseP8160078.jpg"&gt; 5-6 pound wheel of cheese&lt;/a&gt; .&lt;br /&gt;I suggest you try several other simplier cheese related projects beforeyou try making a hard cheese.   I have written a page on &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_course/Cheese_course.htm"&gt;  Beginning Cheese Making&lt;/a&gt;  for this purpose.  It might also be wise to master  &lt;a href="http://www.clc.uc.edu/%7Efankhadb/cheese/CHEESE98.htm"&gt; the process for one gallon of milk&lt;/a&gt;   before making cheese from 5 gallons.   &lt;/p&gt; &lt;p&gt;The following images will show the critical steps in practically  any cheese making endeavor. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt; &lt;big&gt;&lt;big&gt;INGREDIENTS:&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;br /&gt;TO TURN FIVE GALLONS OF MILK INTO SIX POUNDS OF CHEESE&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt;  &lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;five gallons fresh milk&lt;/b&gt;&lt;b&gt; &lt;/b&gt;           (Be&lt;b&gt; &lt;/b&gt;sure&lt;b&gt; &lt;/b&gt; that it has no off flavors due to bacteria)       &lt;p&gt;&lt;b&gt;1 cup (250 mL) live cultured yogurt &lt;/b&gt;     (I prefer Dannon &lt;i&gt;Plain&lt;/i&gt; (minimal additives).  Get the freshest available from the store.)&lt;br /&gt;      Alternatively, you may use 3 tablespoons (45 mL) active cultured buttermilk as starter. &lt;/p&gt;     &lt;p&gt;&lt;a name="rennet"&gt;&lt;/a&gt;   &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/junket_front_P1061129.JPG"&gt;&lt;b&gt; 1 tablet rennet&lt;/b&gt; "Junket Rennet Tablets" come in a package of 8 tablets (6.5 g)&lt;/a&gt;  , by &lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/junket_front_P1061129sm.JPG" align="left" border="0" height="85" width="143" /&gt;  Redco Foods, Inc., P.O. Box 879, Windsor, CT  06095 (formerly theSalada Foods Division). Here is &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/junket_back_redco_P1061128.JPG"&gt; what the back of the package looks like&lt;/a&gt; . They can often be found in your supermarket under the category of "puddings." If they are not there, ask the manager if he would please order them. Most managers are willing to do so. If that fails, you can order them from the manufacturer. I recently  contacted them via email, and they said to call Redco Direct Market at &lt;b&gt;1-800-556-6674&lt;/b&gt; to order Rennet tablets.    &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Rennet_Redco.htm"&gt; Here is their email response&lt;/a&gt;.  You may find some cheese makers on the web who prefer liquid rennet,and disparage the use of rennet tablets.  I prefer using materials which arereadily available locally.  I have not had problems making cheese associated  with Junket tablets.  Here is a whole &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Rennet/Rennet.html"&gt;  page devoted to rennet&lt;/a&gt;  ... &lt;/p&gt;     &lt;p&gt;&lt;b&gt;1/4 cup salt&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/blockquote&gt;  &lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:28%;"&gt; &lt;big&gt;&lt;big&gt;APPARATUS:&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;       &lt;blockquote&gt;thermometer, reading  -10 to 110°C (0 to 225°F) (I prefer centigrade, but include Fahrenheit  numbers as well)&lt;br /&gt;wooden mixing spoon or whisk&lt;br /&gt;Stainless steel pot (with a heavy thick bottom is best)  or enameled pot, 5 gallons, with lid, sterilized. &lt;sup&gt;1&lt;/sup&gt;&lt;br /&gt;8" strainer (You may use a colander,  though the whey does not flow through as fast as a strainer.)&lt;/blockquote&gt;  &lt;b&gt;&lt;big&gt;PRESSING FRAME&lt;/big&gt;:   (&lt;/b&gt;Here is a page on how to &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Cheese_press/PRESS_SETUP_00.htm"&gt;  assemble a cheese press at home&lt;/a&gt; .)          &lt;blockquote&gt;pressing frame (6" x 9" piece of PVC pipe or tin can,  with ends removed)&lt;br /&gt;a 'follower': circular block of wood, 5.5 inches diameter&lt;br /&gt;5 gallon canner&lt;br /&gt;large white dinner plate&lt;br /&gt;white dish cloth (non-terry), very clean&lt;br /&gt;rubber band cut from an inner tube&lt;br /&gt;two chop sticks&lt;br /&gt;quart mason jar&lt;/blockquote&gt;  &lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:38%;"&gt; &lt;big&gt;&lt;big&gt;PROCEDURE&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;big&gt;&lt;big&gt;:&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;&lt;/big&gt;             &lt;center&gt;             &lt;table border="1" width="100%"&gt;  &lt;caption&gt;&lt;br /&gt;                &lt;center&gt;&lt;/center&gt;         &lt;/caption&gt;&lt;tbody&gt;                   &lt;/tbody&gt;   &lt;tbody&gt;           &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/02_milk_for_cheese-P3110212md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/02_milk_for_cheese-P3110212sm.jpg" height="149" width="184" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;THE NIGHT BEFORE YOU MAKE CHEESE:&lt;/span&gt;                         &lt;p&gt;1.a.  &lt;b&gt;Sterilize the pot: &lt;/b&gt; The evening before you plan to make cheese, place a small amount of water in your cheese pot, cover, and heat to boiling for 10 minutes to sterilize the pot and lid.  &lt;/p&gt;                         &lt;p&gt;1.b. &lt;b&gt; &lt;/b&gt;&lt;b&gt;Warm 5 gallons of milk to 20°C (68°F)&lt;/b&gt;  in a sterilized pot:  skim the cream off of &lt;b&gt;five gallons of the freshest milk&lt;/b&gt; (save for &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Ice_Cream/ICECREAM00.HTM"&gt; ice cream&lt;/a&gt; ).  Warm the milk to  20°C (68°F) slowly so as to not scorch the bottom).&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/06_two_cups_yogurt_P3110219.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/06_two_cups_yogurt_P3110219sm.jpg" height="148" width="196" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;2.   &lt;b&gt;Add starter&lt;/b&gt;:  &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/07_add_milk_to_yogurt_P3110221.jpg"&gt; Blend &lt;b&gt;1 cup yogurt&lt;/b&gt; with 2 cups warmed milk&lt;/a&gt;  until smooth, stir into the five gallons of warmed milk to thoroughly mix.                           &lt;p&gt;Alternatively, you can use &lt;b&gt;3 tablespoonfuls of active buttermilk&lt;/b&gt; as starter. Because the bacteria in buttermilk grow much faster at room temperature than those in yogurt, do not incubate longer than 8 hours or warmer than 70 F or the milk may over adicify and begin to clabber. Partially clabbered milk will not yield a clean break.&lt;br /&gt;The function of this inoculation with bacterial starter is to lower the pH so that the rennet will be able to act on the milk protein (casein).&lt;br /&gt;          &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/11_cover_after_adding_yogurt_P3110232md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/11_cover_after_adding_yogurt_P3110232sm.jpg" height="147" width="169" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;3.   &lt;b&gt;Cover with the sterilized lid.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Let the inoculated milk sit at room temperature overnight (68-72 F, 20-22 C). (No external heat.)&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/heat_from_20_to_30Csm.jpg" height="99" width="182" /&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;THE MORNING YOU WILL MAKE CHEESE:&lt;/span&gt;                         &lt;p&gt;4.  The next morning, [OPTIONAL: &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/12_skim_cream_P3120236.jpg"&gt; skim off additional cream&lt;/a&gt;, if you like, it makes delicious pancakes).]:&lt;br /&gt;Slowly warm milk up to 30°C (86°F). Take care not to scorch it on the bottom. &lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/14_Dissolve_Rennet_P3120239md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/14_Dissolve_Rennet_P3120239sm.jpg" height="147" width="170" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;5.  &lt;b&gt;Dissolve the renne&lt;/b&gt;t:&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Meanwhile, dissolve &lt;b&gt;1 tablet of Rennet in 1/2 cup cold water&lt;/b&gt; .           &lt;br /&gt;Alternatively, if you have liquid rennet, you add 1 teaspoon per five gallons of inoculated milk (4 drops/gallon). (I have only used tablet rennet, but am assured that liquid rennet works just as well if fresh.)&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/15_Add_rennet_to_milk_P3120241.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/15_Add_rennet_to_milk_P3120241sm.jpg" height="149" width="198" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;6.  &lt;b&gt;Add dissolved rennet to warmed milk&lt;/b&gt; with stirringto mix. Cover, let sit&lt;i&gt; undisturbed&lt;/i&gt; for 1 to 3 hours.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/18_Not_quite_a_clean_break_P3120258.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/18_Not_quite_a_clean_break_P3120258sm.jpg" height="148" width="214" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;7. &lt;b&gt; TEST FOR A "CLEAN BREAK."&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;THIS IS NOT A "CLEAN BREAK":&lt;br /&gt;To test for "&lt;b&gt;clean break&lt;/b&gt;" (completed action of rennet), probe a clean finger into (hopefully) gelled milk and lift. If the gelled milk is not firm enough to split cleanly as you lift, let milk sit until clean break&lt;i&gt; is&lt;/i&gt;  obtained. (&lt;i&gt;Do not stir&lt;/i&gt;.) This may take as long as 3 hours. Be patient, do NOT disturb the milk.  Keep warm.  Here is a page to help you            &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/clean_break/Problem_getting_a_clean_break.html"&gt;diagnose the problem of inability to get a clean break&lt;/a&gt;.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/clean_break_collage_md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/clean_break_collage_sm.jpg" height="59" width="208" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;8.  &lt;b&gt;THIS IS A "CLEAN BREAK"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;When the gel is firm enough to break cleanly as the finger is lifted, go to next step.  (&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/clean_break_collage.jpg"&gt; Here is a very large version of the clean break&lt;/a&gt;  .)&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/19_cut_the_curd_2_P3120269.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/19_cut_the_curd_2_P3120269sm.jpg" height="147" width="170" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;9.  &lt;b&gt;Once a clean break is achieved, cut the curd with a long blade: &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Begin the cuts at one edge of pot, cut straight down the side to bottom. Cut repeatedly parallel to first cut, but increasing the angle of the knife until you reach the other side of pot. &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/20_cut_curd_phase_2_P3120273.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/20_cut_curd_phase_2_P3120273sm.jpg" height="149" width="198" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;10.  &lt;b&gt;Rotate the pot 90 degrees, repeat series of cuts as before.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Rotate and cut  a total of three more times (four in all), yielding ½ inch cubes of curd. Cover and allow the curds to settle for about 15 minutes. Pour off the whey above the curds, saving for ricotta if you like.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/23_cutting_soft_curd_P3120283md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/23_cutting_soft_curd_P3120283sm.jpg" height="147" width="191" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;11.  &lt;b&gt;"Cook the curds":&lt;/b&gt;  After sitting for 15 minutes and pouring off excess whey, place pot over a low fire, stir curd with thoroughly cleansed bare hand by reaching down to bottom, gentlylifting with an open hand to stir. Cut larger curds as they appear. Do notmash or squeeze. If you want to set aside some for a type of cottage cheese, remove a portion of the curds at this steps and refrigerate before you raise the temperature.  Stircontinuously as you heating (curds will clump together otherwise), until themilk is 34°C (95°F) for soft curd cheese, or as high as 39°C (102°F)for very firm cheese. Note:  you need a quality thermometer for this'cooking' step: a small change in temperature makes a great deal of differencein the consistency of the curd/cheese.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/26_finish_curd_cutting_P3120290.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/26_finish_curd_cutting_P3120290sm.jpg" height="149" width="198" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;12.  Stir and maintain desired temperature until curd has contracted to consistency of firm scrambled eggs. Remove from stove. &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/28_decant_whey_P3120304md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/28_decant_whey_P3120304sm.jpg" height="149" width="172" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;13.  &lt;b&gt;Separate the curds from the whey:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Let the "cooked" curds sit for a few minutes.  The curds should sink in whey. [If &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Floating_curd_P8121418.jpg"&gt; the curds float&lt;/a&gt; , you have a gas-producing contaminant in your starter. It does not necessarily ruin the cheese, indeed, you might WANT bubbles in your finished cheese. Butfloating curds are more difficult to separate from the whey than sinking curds.]&lt;br /&gt;Decant off whey through a strainer (you may line the strainer with clean cloth if the curd is very fine grained). &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/29_decant_whey_3_P3120306md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/29_decant_whey_3_P3120306sm.jpg" height="148" width="157" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;14.  Decant (pour off) as much of the whey as you can. Drain well.&lt;br /&gt;(Save the whey for &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Ricotta/RICOTTA_00.HTM"&gt; ricotta&lt;/a&gt;  if you like.)&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;&lt;br /&gt;          &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;15.  Place curds in a large bowl.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/31_salt_the_curds_P3120312md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/31_salt_the_curds_P3120312sm.jpg" height="150" width="169" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;b&gt;16.  Salt the curds:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Sprinkle &lt;b&gt;1/4 cup salt &lt;/b&gt;over curds, working with hands to mix. Pour off accumulated whey.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;The salt is necessary so that the cheese will not spoil as it cures. I have tried making cheese without salt and it rotted.  However, unsalted, uncuredcheese may be frozen until use.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Cheese_press/37_press_5_curds_into_cloth_P3120323md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/37_press_5_curds_into_cloth_P3120323sm.jpg" height="148" width="137" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;b&gt;17.  Load the press with the salted curds:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Place the still-warm salted curds into a cheese press.  (See separate page for &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Cheese_press/PRESS_SETUP_00.htm"&gt; assembly of cheese press&lt;/a&gt; .)&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;It is necessary for the curds to be warm inorder for them to 'knit' together to form a solid cheese during pressing.&lt;br /&gt;          &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;                          &lt;center&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/Cheese_press/44_assembled_press_P3120336md.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/44_assembled_press_P3120336sm.jpg" height="149" width="198" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/center&gt;  &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;18.  &lt;b&gt;Press the curds:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Let sit in the press for 12 hours or so.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;&lt;br /&gt;          &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;b&gt;19.  Remove the cheese, wrap in sterile bandage:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;The next AM, remove from press, remove cloth, rub outside of cheese with salt and wrap with fresh sterile handkerchief "bandage."  &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;&lt;br /&gt;         &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;b&gt;20.  Age to develop a rind:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Place the bandaged (wrapped) cheese on a non-corrosive rack (plastic or stainless steel)  in the refrigerator. Replace "bandage" daily as long as it continues to become wet. Turn the cheese so that it dries evenly.&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;          &lt;b&gt;21.  Wax the cheese&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;When the cheese has formed a dry yellowish rind (two or three weeks),  &lt;a href="http://www.clc.uc.edu/%7Efankhadb/cheese/waxing_cheese.htm"&gt; dip in melted wax&lt;/a&gt;  ,  store in refrigerator for at least a month (if you can wait that long).  Let age longer for sharper cheese.&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;                   &lt;/tbody&gt;             &lt;/table&gt;       &lt;/center&gt;                &lt;center&gt;&lt;br /&gt;          &lt;table border="1" width="100%"&gt;  &lt;caption&gt;&lt;br /&gt;                &lt;center&gt;&lt;/center&gt;         &lt;/caption&gt;&lt;tbody&gt;                   &lt;/tbody&gt;   &lt;tbody&gt;           &lt;tr&gt;  &lt;td&gt;&lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/46_cheese_wheel_P3280463.jpg"&gt;&lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/46_cheese_wheel_P3280463sm.jpg" height="150" width="193" /&gt;             &lt;/a&gt;             &lt;/td&gt;   &lt;td&gt;Here is the finished wheel of cheese two weeks later with a wedgecut out of it.  I did not wax this wheel since we were going to eatit immediately.  [The stains on the outside of the wheel are from beingin the iron ("tin" can) press too long:  it remained in the press for30 hours, and the iron in the can reacted with the curd...  Though Ido not think it to be a problem health-wise, it doesn't look as good as itmight otherwise look.  I have since switched to a pressing cylindermade of PVC pipe].&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;                   &lt;/tbody&gt;             &lt;/table&gt;       &lt;/center&gt;                &lt;center&gt;              &lt;p&gt; &lt;sup&gt;1 &lt;/sup&gt; Avoid aluminum pots, the acid will dissolve them.   Sterilize the pot just before use by placing ½inch of water in the bottom, covering, and bring it to a rolling boil, &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/Cheese/Cheese_5_gallons/01_sterilize_pot_P3110206.jpg"&gt; continue heating for five minutes after steam shoots out from under thelid (although the steam is not clearly visible in this jpeg).&lt;/a&gt;  Pour out the water, replace sterile lid, keep sterilized pot covered until you are ready to add the milk.)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;hr size="2" width="60%"&gt;Return to &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/Cheese/Cheese.html"&gt; Fankhauser's Cheese Page&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;or&lt;br /&gt;Go to &lt;a href="http://biology.clc.uc.edu/Fankhauser/index.htm"&gt;David Fankhauser's Main Page&lt;/a&gt;               &lt;p&gt;Send Email to: &lt;img src="http://biology.clc.uc.edu/fankhauser/E-mail.jpg" /&gt;&lt;br /&gt;(Sorry you have to type out my email address due to excessive spamming.)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;             &lt;hr size="2" width="60%"&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/script&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;          &lt;script language="JavaScript"&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- hide from non-JavaScript browsers        var loc = document.location;        var sloc = loc.toString()        var startNo = sloc.lastIndexOf("/")        FileName = sloc.substring(startNo + 1)        document.write ("File &amp;quot;" + FileName + "&amp;quot;")        var DocDate = document.lastModified        DocDate = new Date(DocDate);// browser Y2K bug fix        var docmsec = DocDate.getTime();        if (docmsec &lt; docdate =" new" yy =" ((((docmsec" yy =" Math.floor(yy);" dd =" DocDate.getDate();" mm =" DocDate.getMonth();" monnames =" new" thismonth =" MonNames[mm];" dow =" DocDate.getDay();//" yy =" DocDate.getYear();" moddate = ""&gt;&lt;/script&gt; &lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1512074775816548900?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1512074775816548900/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1512074775816548900' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1512074775816548900'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1512074775816548900'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2008/01/bikin-keju-engg.html' title='Bikin Keju (Engg)'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7212024410208697528</id><published>2007-12-27T23:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-27T23:40:12.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogurt'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yohgurt'/><title type='text'>Yogurt X kefir</title><content type='html'>Yogurt merupakan salah satu produk fermentasi susu yang telah banyak dikonsumsi secara luas dan menjadi bintang pada industri olahan susu. Selain cocok bagi orang yang alergi laktosa, yogurt juga memiliki rasa segar sekaligus menyehatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditelusuri lagi, sebetulnya yogurt memiliki 'saudara kembar' yang tak kalah hebatnya, yaitu Kefir. Di Indonesia, nama kefir tidak sepopuler yogurt. Padahal seperti halnya yogurt, kefir merupakan salah satu minuman susu fermentasi yang tertua, sebab sudah dikenal dan diminum sejak beribu-ribu tahun lalu.&lt;br /&gt;Diperkirakan kefir berasal dari puncak-puncak bersalju di perbatasan Asia dan Eropa, yakni dari pegunungan Kaukasus di sebelah tenggara Rusia. Sampai sekarang pun negara penghasil kefir terbanyak adalah Rusia, lalu menyusul Eropa Barat dan Amerika Serikat. Lalu, apakah sebetulnya kefir itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kefir merupakan biji tumbuhan yang besarnya seukuran biji gandum. Menurut para ahli mikrobiologi, biji kefir terdiri dari kumpulan berbagai jenis mikroba yang cukup banyak yang hidup bersama-sama dan saling mempengaruhi. Mikroba tersebut di antranya ialah akteri penghasil asam laktat Lactobacillus kefiranofaciens, Lactobacillus paracasei, Lactobacillus kefir, Lactococcus lactis, bakteri penghasil asam cuka Acetobacter serta ragi Torula, Saccharomyces cerevisiae dan Candida kefir. Tak ketinggalan pula dua bakteri Yogurt L. Bulgaricus dan S. Thermophilus meskipun dalam jumlah relatif sedikit.&lt;br /&gt;Biji istimewa ini memiliki julukan the champagne of cultured milk ini memiliki keunggulan yang sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh, seperti:&lt;br /&gt; Sebagai probiotik yang dapat menekan pertumbuhan bakteri penyebab penyakit saluran pencernaan.&lt;br /&gt; Dapat mencegah pertumbuhan bakteri patogen yang masuk ke tubuh sehingga dapat mencegah diare yang disebabkan bakteri patogen.&lt;br /&gt; Mampu mencegah infeksi saluran urine, mengurangi risiko timbulnya kanker atau tumor pada saluran pencernaan dan organ lain, menurunkan kadar kolesterol darah, mengurangi risiko penyakit jantung koroner serta membantu merangsang terbentuknya sistem imun pada tubuh.&lt;br /&gt; Sangat membantu bagi penderita lactose intolerance dalam mengkonsumsi susu, serta memperlancar buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat banyaknya manfaat yang ada pada kefir, bisa diramalkan bahwa beberapa tahun ke depan kefir akan menyusul popularitas yogurt. Kemungkinan, dulunya yogurt juga memiliki nasib yang sama seperti kefir. Tetapi seiring dengan kemajuan jaman dan semakin pedulinya kita pada kesehatan, kelak kefir dan yoghurt akan dapat hidup berdampingan memberi kontribusi bagi kesehatan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Re: Kefir, Apakah Setangguh Yogurt?&lt;br /&gt;Tulisan soal Kefir&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu saya membaca kumpulan tulisan yang berhubungan dengan kencing manis di Surat Pembaca di antaranya soal ''pace, pare dan kefir'' oleh Bp Sumardi, "kasiat kefir bening" Bp Barjo Wiyoto, "pengobatan terapi kencing manis" Bp Arief Yuniardi. Semua tulisan adalah pengalaman kesembuhan.&lt;br /&gt;Tetapi banyak yang bertanya apa sih kefir itu? Di negara maju ada beberapa sebutan tentang kefir di antaranya kipe, kefi atau kaufur. Sebagian ahli mengatakan sebagai minuman ajaib yang punya kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit.&lt;br /&gt;Ahli lainnya mengatakan kefir memiliki kemampuan menormalkan fungsi syaraf, sebagai zat pembangun tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh, melancarkan metabolisme dan mengganti sel-sel yang rusak atau mati. Beberapa ahli penelitinya antara lain Foster, Pederson(1971), Gilmor dan Rowe(1981), Kosikowski(1982). Untuk Indonesia adalah Prof AG Winarno(1985).&lt;br /&gt;Pertanyaan, kefir yang mana yang baik dikonsumsi. Untuk menjawabnya kita harus mengenal jenis kefir. Di dunia dikenal ada 2 jenis kefir, yaitu kefir yang dibuat dengan susu murni atau lemak tinggi. Lainnya kefir yang dibuat dengan susu nonfat atau lemaknya telah dihilangkan.&lt;br /&gt;Jadi kefir yang baik dikonsumsi untuk penderita kencing manis, darah tinggi, asam urat tentu saja kefir nonlemak atau disebut kefir bening. Penderita penyakit tersebut atau penyakit yang harus menghindar kolesterol harus berfikir jika akan mengkonsumsi kefir yang dibuat dari susu murni sebab berlemak tinggi.&lt;br /&gt;Untuk menambah wawasan saya sengaja minta penjelasan salah satu ahli kefir di Indonesia. Beliau mengatakan untuk memperoleh kefir yang baik tidak sesederhana yang dibayangkan yaitu fermentasi, tapi suatu proses yang cukup rumit.&lt;br /&gt;Untuk fermentasi yang baik diperlukan suhu di bawah 16 derajat Celcius, seleksi kefir grains maupun bakteri lactobacillus caucasus, lactobacillus acidopilus ,maupun lactobacillus bulgarius. Timbul dalam benak saya ternyata tidak mudah untuk membuat kefir yang baik dan bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kefir sama dengan Yogurt atau Yakult ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kefir berbeda denga yogurt ataupun yakult. Perbedaannya terletak pada bahan yang dipakai untuk mem fermentasi kannya.&lt;br /&gt;Yogurt adalah susu yang difermentasi dengan 2 jenis bakteri yaitu Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermopillus.&lt;br /&gt;Yakult adalah susu yang difermentasi oleh jenis bakteri Lactobacillus casei jenis Shirota.&lt;br /&gt;Kefir adalah susu yang difermentasi dengan Kefir Grains yang terdiri dari berbagai jenis bakteri asam laktat dan ragi.&lt;br /&gt;Kefir Grains, itu seperti apa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kefir Grains merupakan simbiiosa dari berbagai macam bakteri dan ragi, warnanya putih, lembut, agak elastis karena mengandung polisakarida serta mengandung berbagai jenis mikroba yang sering disebut mikroflora yaitu : 18 jenis lactobacillus, 8 jenis streptococci, 14 jenis ragi dan 2 jenis acetobacter.&lt;br /&gt;Apakah Kefir itu minuman biasa atau obat ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal mula, Kefir dibuat di negara asalnya yaitu di pegunungan Kaukasus Rusia, telah dikonsumsi lebih dari 1400 tahun dan turun temurun dari generasi ke generasi dan diperoleh manffat kesehatan dengan konsumsi Kefir. Bahkan sejak tahun 1973, pemerintahan Rusia telah menggolongkan Kefir ke dalam makanan/minuman utama (sembako). Juga dibuat peraturan penggunaan kefir sebagai terapi di rumah sakit dan sanatorium khususnya untuk penderita TBC dan sakit paru-paru. Jadi secara umum dapat dikatakan Kefir merupakan minuman kesehatan atau minuman probiotic.&lt;br /&gt;Selain untuk pengobatan TBC dan paru-paru, apakah kefir bisa mengobati penyakit lainnya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Kefir di Rusia digunakan sebagai terapi di rumah sakit, para ahli dari berbagai negara maju lainnya mencoba mempelajari dan meneliti tentang Kefir. Berbagai studi ilmiah dilakukan terutama oleh negara-negara Eropa seperti Polandia, Norwegia, Jerman dan juga California, Amerika.&lt;br /&gt;Hasil riset menunjukkan bahwa Kefir benar-benar mengandung kadar nutrisi yang sangat bagus untuk membantu penyembuhan berbagai jenis penyakit.&lt;br /&gt;Manfaat apa sajakah yang terdapat dalam Kefir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kefir mengandung mineral dan asam amino, yang berfungsi membantu proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh.&lt;br /&gt;Proteinnya mudah dicerna khususnya asam amino triptophan yang banyak terdapat dalam kefir, memiliki efek menenangkan syaraf.&lt;br /&gt;Kalsium dan magnesium membantu kesehatan syaraf dan membantu menenangkan sistem syaraf sehingga baik untuk menghilangkan stress dan depresi.&lt;br /&gt;Fosfor dalam kefir berguna untuk membantu mencerna karbohidrat, lemak, protein, pertumbuhan sel serta perawatan sel dan penghasil energi.&lt;br /&gt;Biotin yang terdapat dalam kefir berfungsi untuk pembentukan Vitamin B lainnya seperti Vitamin B1, Vitamin B12, Vitamin K seperti asam folat, asam panthotenat yang berfungsi untuk menjaga kesehatan ginjal, sistem syaraf, menghaluskan kulit dan memperpanjang usia.&lt;br /&gt;Kefir mudah dicerna sehingga membantu membersihkan usus halus dan mnyeimbangkan bakteri menguntungkan dalam pencernaan, menyumbang bakteri dan ragi yang menguntungkan, vitamin, mineral dan protein lengkap.&lt;br /&gt;Kefir membantu sistem kekbalan tubuh dan telah digunakan sebagai terapi penyembuhan pasien yang menderita AIDS, sindrom kelelahan kronis, herpes dan kanker.&lt;br /&gt;Efek penenangnya pada sistem syaraf telah banyak membantu mereka yang mengalami sulit tidur (imsomnia), depresi dan ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder).&lt;br /&gt;Apakah Kefir cocok untuk ibu hamil dan menyusui ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat dianjurkan mengingat ibu hamil membutuhkan sejumlah nutrisi yang digunakan untuk pertumbuhan janin dalam rahim. Sedangkan untuk ibu yang menyusui harus ada asupan gizi yang memadai agar pertumbuhan bayi sehat dan kuat. Dalam kefir terkandung zat-zat gizi seperti protein, lemak, vitamin, mineral dan zat gizi lainnya yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan meningkatkan imunitas (daya tahan) tubuh, dianjurkan untuk pertumbuhan anak.&lt;br /&gt;Untuk orang yang menderita sakit maag, dapatkah mengkonsumsi Kefir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan perut kosong, pH asam lambung berkisar antara 3 - 3.5 . Karena keasaman ini kebanyakan bakteri yang terdapat dalam lambung terbunuh, tetapi ada beberapa macam bakteri, seperti Lactobacillus dan Streptococcus yang terkenal dapat bertahan dalam keasaman tinggi, mampu bertahan sebesar seratus sampai seribu unit/mg dalam isi lambung.&lt;br /&gt;Ketika makanan masuk ke dalam lambung, asam dalam lambung diencerkan sehingga bakteri dalam makanan dan dalam lambung dapat tumbuh kembali. Tetapi dalam proses pencernaan dan pH menurun, sebagian besar bakteri terbunuh dan hanya bakteri dapat mentoleransi asam yang dapat bertahan. Mengingat kandungan kefir teridir dari simbiosis bakteri lactococcus dan streptococcus yang tahan terhadap asam, sehingga dapat dipakai menambah atau menggantikan bakteri yang terbunuh tersebut untuk menetralisir asam kambung dan membantu pencernaan.&lt;br /&gt;Apakah Kefir mengandung bahan pengawet dan tahan berapa lama untuk disimpan ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kefir tidak mengandung dan tidak membutuhkan bahan pengawet, mengingat kefir mengandung asam yang berfungsi sebagai pengawet. Kefir dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama meskipun sebagian zat zat tertentu akan berkurang setelah disimpan 2 bulan. Namun kefir tetap mempertahankan sebagian besar zat yang diperlukan sebagai minuman probiotik.&lt;br /&gt;Adakah kriteria tertentu untuk mengetahui bahwa seseorang membutuhkan produk Magic Traditional Kefir ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang butuh sehat. Terutama orang yang terpapar zat zat toksik yang dapat mempengaruhi kesehatan, antara lain:&lt;br /&gt;Perokok aktif atau pasif.&lt;br /&gt;Orang yang terkena asap polusi yang dikeluarkan kendaraan, pabrik atau asap dari pembakaran sampah dan lain-lain.&lt;br /&gt;Orang yang bekerja di gedung ber-AC, berkarpet dan tertutup.&lt;br /&gt;Orang yang menggunakan cat, perekat, bensin, insektisida, herbisida dalam pekerjaannya.&lt;br /&gt;Orang yang mengalami masalah pernafasan atau sinusitis.&lt;br /&gt;Orang yang menderita sakit persendian, sakit otot atau reumatik.&lt;br /&gt;Orang yang alergi makanan, sehingga menimbulkan reaksi alergi kulit.&lt;br /&gt;Orang yang sering menelan obat untuk mengurangi rasa sakit atau obat-obatan kimia, karena fungsi Magic Traditional Kefir adalah untuk detoksifikasi racun dari dalam tubuh&lt;br /&gt;Orang yang sering minum alkohol.&lt;br /&gt;Orang yang sering mengkonsumsi daging (sate, gule, rawon steak,dll), terutama daging yang dibakar.&lt;br /&gt;Orang yang sering stress, depresi dalam mengerjakan pekerjaannya.&lt;br /&gt;Orang yang sering kena flu, infeksi ringan atau gangguan pada penglihatan.&lt;br /&gt;Bagaimana mempersiapkan kefir agar enak untuk dikonsumsi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa Kefir sebelum ditambah bahan perasa lain agak asam (pH 3.6 - 4.6). Sebagian besar konsumen mengeluh karena rasa asamnya. Apbila kefir dikemas dengan tambahan rasa manis seperti gula, madu, syrup atau pemanis yang mengandung kadar sukrosa/glukosa/galaktosa, maka gugus gula tersebut akan diurai oleh bakteri dan ragi kefir sehingga kadar alkohol meningkat.&lt;br /&gt;Dianjurkan penambahan rasa diberikan pada saat akan dikonsumsi, anda juga dapat mengolahnya kembali menjadi menu keluarga seperti menjadikan jus buah, membuat pizza, membuat acar atau asinan sayuran, membuat mentega, meningkatkan alkohol dengan menambah gula dan dikonsumsi 2 -3 hari setelahnya, dsb&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7212024410208697528?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7212024410208697528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7212024410208697528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/yogurt-x-kefir.html' title='Yogurt X kefir'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1513863104645895833</id><published>2007-12-27T23:18:00.000-08:00</published><updated>2007-12-27T23:22:15.538-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='yogurt'/><title type='text'>Bikin Yoghurt yuuuk…</title><content type='html'>Bikin yoghurt yuk..&lt;br /&gt;Tante Lotta baru dapet artikel cara bikin yoghurt..&lt;br /&gt;tapi sih belom tante cobain..:D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang tante baru beli biang-yoghurtnya di spm (superkampret).&lt;br /&gt;Bibit yogurt bisa menyisihkan beberapa sendok dari yogurt komersial yg mengandung&lt;br /&gt;bakteri Lactobacillus acidophillus dan/atau Lactobacillus bulgaricus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;buat tante yang lagi mencoba diyet neh..&lt;br /&gt;katanya sih yoghurt ini bagus buat di-mam pagi-pagi..&lt;br /&gt;jangan takut sama rasanya.&lt;br /&gt;kan kita bisa campurin sebagai bumbu salad atau dicampur buah dan madu untuk manisnya,…hehehehhee..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;begini nih caranya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoghurt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya mau buat 500 ml yogurt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahan :&lt;br /&gt;- 65 gr susu bubuk&lt;br /&gt;- 450 ml air hangat (dari termos)&lt;br /&gt;- 1 - 2 sendok biang yogurt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara :&lt;br /&gt;- larutkan susu bubuk dengan air hangat,&lt;br /&gt;- kalo sudah suam2 kuku, masukkan biang yogurt, pindahkan ke botol or toples.&lt;br /&gt;- tutup tempatnya rapat2 jangan dibuka-buka. diamkan dalam suhu ruang kira-kira&lt;br /&gt;4 jam setelahnya akan terbentuk gumpalan2. Memang lebih kental kalo susu bubuknya pake dancow&lt;br /&gt;- diamkan sampai 24 jam pada suhu ruang, kalo mau dikonsumsi dingin masukkan dalam lemari es…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan :&lt;br /&gt;1. Hati hati dengan suhu ya, kalo terlalu panas, bakteri yogurtnya langsung mati, bisa gagal deh…&lt;br /&gt;2. Alat2 yang dipake harus bersih / steril, usahakan sendok pengaduknya terbuat dari plastik atau kayu&lt;br /&gt;3. Jangan banyak bicara. Misalnya tertawa, ngobrol, apalagi bersin. Bakteri dari mulut kita bisa&lt;br /&gt;mencemari calon yogurt. Dan bersihkan tangan dan peralatan dg baik sebelum digunakan. ada juga yang menyalakan lilin dalam proses ini.&lt;br /&gt;4. supaya gumpalannya rata, ngaduk biangnya juga harus rata.&lt;br /&gt;5. biasanya 8 jam yogurt siap disantap. fermentasi selama 24 jam pada suhu ruang akan menghasilkan rasa asem yang uenaaak(katanya….heheheheee…:D)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nah,&lt;br /&gt;tante lotta mau coba neh besok.&lt;br /&gt;nanti kalo dah jadi tante laporin deh ya disini.&lt;br /&gt;atau kalo ada yang udah coba duluan, kabarin tante yaaaa….:D&lt;br /&gt;2 Comments »&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      Comment by lottacorner — August 3, 2006 @ 8:21 am&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1513863104645895833?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1513863104645895833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1513863104645895833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/bikin-yoghurt-yuuuk.html' title='Bikin Yoghurt yuuuk…'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1737433301911745717</id><published>2007-12-25T17:48:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:50:38.181-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Peternak Sapi Dilatih Manajemen</title><content type='html'>&lt;p class="post-date"&gt;Nopember 22, 2007;http://massenrengpulu.wordpress.com/?s=sapi+perah&lt;/p&gt; &lt;div class="post-info"&gt;&lt;h2 class="post-title"&gt;&lt;a href="http://massenrengpulu.wordpress.com/2007/11/22/peternak-sapi-dilatih-manajemen/" rel="bookmark" title="Permanent Link: Peternak Sapi Dilatih Manajemen"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/h2&gt; Posted by enrekang under &lt;a href="http://id.wordpress.com/tag/pertanian-dan-kehutanan/" title="Lihat seluruh tulisan dalam Pertanian dan Kehutanan" rel="category tag"&gt;Pertanian dan Kehutanan&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://massenrengpulu.wordpress.com/2007/11/22/peternak-sapi-dilatih-manajemen/#respond" title="Komentar pada Peternak Sapi Dilatih Manajemen"&gt;No Comments&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;   &lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;ENREKANG — Ratusan peternak sapi yang ada di kabupaten Enerkang, dilatih tentang manajemen pengolahan susu sapi perah, yang menghadirkan Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian (P2HP) dari Jakarta, Ir Agus Amran, selaku pemateri.Dalam kesempatan itu, para peternak khususnya peternak sapi perah diminta untuk lebih kreatif dalam mengolah susu perahnya menjuadi bahan yang bernilai jual tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Enrekang, drh Junwar mengatakan bahwa melalui pelatihan ini, diharapkan susu perah yang dihasilkan para peternak selama ini, tidak hanya diolah menjadi dangke, tapi bisa menghasilkan produk lain yang  tercipta dengan bahan dasar susu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Jadi petani diharapkan sudah mampu membuat produk di luar dangke, misalnya susu pasteurisasi, permen dan susu azam,” ujar Junwar, kemarin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika ini sudah mampu diterapkan peternak katanya, maka secara otomatis kemajuan sektor peternakan juga akan lebih baik. Pelatihan ini berlangsung dua hari dan dilanjutkan dengan praktik lapangan. (k4)&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1737433301911745717?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1737433301911745717/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1737433301911745717' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1737433301911745717'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1737433301911745717'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/peternak-sapi-dilatih-manajemen.html' title='Peternak Sapi Dilatih Manajemen'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2170311248174612807</id><published>2007-12-25T17:45:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:48:10.403-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Disnak Jateng Genjot Swasembada Susu</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="600"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="smTanggal" align="left"&gt;Sabtu, 17 Nopember 2007&lt;/td&gt; &lt;td class="smKat" align="right"&gt;SEMARANG&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr align="right"&gt;&lt;td colspan="2"&gt;Suara Merdeka&lt;img src="http://www.suaramerdeka.com/images/blackpix.gif" alt="Line" height="2" width="600" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;   &lt;div class="smJudul"&gt;   &lt;h2&gt;&lt;br /&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;/div&gt; &lt;div class="smIsi"&gt;&lt;p id="mulai"&gt;&lt;b&gt;UNGARAN -&lt;/b&gt; Dinas Peternakan (Disnak) Jateng akan terus menggenjot peningkatan produksi susu sapi perah di provinsi ini. Hal ini untuk mewujudkan Jateng sebagai daerah swasembada susu. Demikian disampaikan Kepala Disnak Provinsi Ir Kusmaningsih MP di Ungaran, baru-baru ini. ''Jateng belum swasembada susu, tahun 2008 ini pekerjaan utama yang harus dilakukan, yakni peningkatan produksi susu,'' kata Kusmaningsih. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Saat ini pihaknya tengah mengupayakan sebagai fasilitator dengan lembaga perbankan untuk membantu para peternak sapi perah. Disnak juga melakukan pembinaan secara berkelanjutan. Menurut dia, satu ekor sapi perah idealnya menghasilkan 15 liter susu per hari. ''Tapi di lapangan kenyataannya ada yang hanya delapan liter susu per hari. Ini yang harus ditingkatkan,'' tutur dia didampingi Kasi Evaluasi dan Pelaporan Disnak Ir Titien Sri Rahayu. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Salah satu daerah yang disebut menjadi tolok ukur peternakan sapi perah adalah Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang agar dapat dicontoh daerah lainnya.Meski belum swasembada susu, Jateng merupakan daerah yang kaya akan daging ternak besar. Untuk populasi kambing, provinsi ini menempati peringkat pertama terbanyak se-Indonesia yaitu 2,9 juta ekor. Adapun domba sejumlah 1,9 juta ekor. &lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Lebih lanjut Kusmaningsih menuturkan, pada 2008 pihaknya tetap konsen pada pengembangan sapi dan kambing untuk menghadapi swasembada daging 2010. Program Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan tetap akan digalakkan. Sebab pihak Disnak ingin populasi sapi potong dan kambing terus meningkat. (H14-16)   &lt;/p&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2170311248174612807?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2170311248174612807/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2170311248174612807' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2170311248174612807'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2170311248174612807'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/disnak-jateng-genjot-swasembada-susu.html' title='Disnak Jateng Genjot Swasembada Susu'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7265110349186136971</id><published>2007-12-25T17:42:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:44:30.197-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Tahun 2010, Sapi Perah Ditargetkan 40 Ribu Ekor</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://www.d-infokom-jatim.go.id/news.php?id=8207&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;" class="txt3"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Rabu, 9 Agustus 2006 13:51:56&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;    &lt;hr color="#cccccc" noshade="noshade" size="1"&gt;    “Ke depan, Disnak bekerjasama dengan para stakeholder dan KUD akan mengoptimalkan jumlah sapi perah dengan cara impor, seleksi pada bibit sapi dan pengurangan penjualan sapi ke luar pulau. cara ini sangat efektif untuk percepatan pertumbuhan sapi perah,” kata Kepala Dinas Peternakan Propinsi Jatim, Sigit Hanggoro drh di sela-sela Seminar Pengembangan Persusuan Jatim Menuju Masyarakat Sehat, Cerdas, Berkualitas di Hotel Inna Simpang Surabaya, Rabu (9/8).&lt;br /&gt;Jika kebutuhan akan susu bagi masyarakat Jatim tidak bisa dipenuhi, maka susu-susu impor akan masuk ke daerah dan hal ini bisa menyebabkan produksi susu lokal kurang diminati oleh masyarakat.&lt;br /&gt;Menurutnya, saat ini kualitas sapi perah mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah susu yang dihasilkan, dimana satu ekor hanya menghasilkan 9-11 liter/hari padahal idealnya setiap ekor sapi bisa menghasilkan 15-18 liter/hari. Oleh karena itu, pihaknya akan melakukan perbaikan pada bibit sapi, pakan dan juga penyakit, agar kualitas sapi bisa ditingkatkan.&lt;br /&gt;Jika kualitas dan jumlah susu bisa terpenuhi, maka susu yang beredar di masyarakat adalah benar-benar susu murni dan dapat dimanfaatkan secara optimal. “Saat ini susu yang beredar di pasaran sudah banyak ditambah dengan bahan-bahan yang bisa mengurangi manfaat susu,” katanya.&lt;br /&gt;Pada tahun 2006, program Dinas Peternakan dalam mengembangkan persusuan di Jatim adalah melakukan gerakan minum susu, pengamanan penyakit, promosi susu, lomba tempat penampungan susu, pelatihan SDM, serta penambahan sapi perah impor.&lt;br /&gt;Perlu diketahui, tahun 2005 produksi susu oleh KUD tertinggi berasal dari Kabupaten Malang mencapai 72 juta kg disusul Kabupaten Pasuruan 51 juta kg, Tulungangung 18 juta kg, dan Kediri 10 juta kg. Produksi susu di Jatim ini diserap oleh beberapa perusahaan susu di antaranya PT Nestle Indonesia 530 ton, PKIS Sekar Tanjung 70 ton, IPS Jakarta 50 ton, dan Greenfield 30 ton. Khusus untuk PT Nestle Indonesia, pihaknya telah memberi toleransi penerimaan susu dari 530 ton/hari menjadi 600 ton/hari. *(ie&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7265110349186136971?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/7265110349186136971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=7265110349186136971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7265110349186136971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7265110349186136971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/tahun-2010-sapi-perah-ditargetkan-40.html' title='Tahun 2010, Sapi Perah Ditargetkan 40 Ribu Ekor'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5571277036151163579</id><published>2007-12-25T17:39:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:42:05.229-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>HARGA SUSU SAPI DI BANYUMAS MASIH RENDAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000066;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;http://promojateng-bikk.com/berita.php?id=1770&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;em&gt; ;20 Nov 2007&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;    &lt;br /&gt;Banyumas, 20/11 (ANTARA) - Harga jual susu sapi dari peternak sapi perah di Kabupaten Banyumas masih rendah yakni sebesar Rp1.750,00 per liter, padahal harga tersebut dapat dinaikkan jika wilayah ini memiliki industri pengolahan susu (IPS)&lt;br /&gt;"Selama ini kami menyetorkan susu tersebut kepada IPS di luar daerah seperti Sari Husada Yogyakarta," kata Manajer Koperasi Peternak Sapi Perah Satria (Pesat) Bambang Sutikno di Purwokerto, Selasa.&lt;br /&gt;Ia mengatakan, susu tersebut dijual ke pabrik dengan harga Rp2.200,00/liter dan selisih harga sebesar Rp450,00 itu sebagian digunakan untuk ongkos pengiriman.&lt;br /&gt;Jika Banyumas memiliki IPS sendiri, kata dia, biaya pengiriman susu yang biasa dikeluarkan dapat disubsidikan untuk kesejahteraan peternak.&lt;br /&gt;     Ia mengatakan, selain itu produk susu peternak bisa diolah sendiri dan dijual dalam bentuk susu siap minum maupun yoghurt.&lt;br /&gt;     Menurut dia, setiap hari koperasi menampung 2.000 liter hingga 2.500 liter susu dari sekitar 600 sapi produktif.&lt;br /&gt;"Di Banyumas terdapat sekitar 1.500 ekor sapi perah namun yang masih produktif sekitar 600 ekor yang tersebar di Kecamatan Cilongok, Karanglewas, Pekuncen, Baturaden, dan Sumbang," katanya.&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan adanya sarana IPS, kata dia, koperasi telah mengajukan proposal kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Banyumas sekitar bulan September lalu.&lt;br /&gt;Berkaitan dengan masalah tersebut, Kepala Bidang Pengembangan Usaha Ternak Disnakkan Banyumas, Suryadewi AM mengatakan, proposal dari Koperasi Pesat sudah diterima dan masih dalam pengkajian.&lt;br /&gt;Dia mengakui keberadaan IPS atau sarana pasteurisasi dapat memberi keuntungan tersendiri bagi peternak sapi perah karena harga susunya dapat dinaikkan.&lt;br /&gt;     Selain itu, kata dia, sarana tersebut juga menyediakan lapangan kerja baru.&lt;br /&gt;(U.PK-SMT/C/S011/S011) 20-11-2007 13:14:31&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5571277036151163579?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5571277036151163579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5571277036151163579' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5571277036151163579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5571277036151163579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/harga-susu-sapi-di-banyumas-masih.html' title='HARGA SUSU SAPI DI BANYUMAS MASIH RENDAH'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1811580963367098488</id><published>2007-12-25T17:35:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:39:03.096-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Kunjungan Kerja Menteri Pertanian Ke Italia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="color:#0000cc;"&gt;&lt;b&gt;             &lt;span style="font-family: Verdana;" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt; &lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;Menteri              Pertanian RI, Dr. Anton Apriyantono, melakukan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;             kunjungan kerja ke Italia dari tanggal 17 – 20 Nopember 2007.              Kunjungan Mentan ini dalam rangka menghadiri dan menyampaikan pidato              pada Konferensi FAO ke 34 yang berlangsung dari tanggal 17 – 24              Nopember 2007 di Kantor Pusat FAO di Roma.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="color:#0000cc;"&gt;             &lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;             Trieste&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                          &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;             Sebelum menghadiri sidang Konferensi FAO, Mentan mengadakan              kunjungan ke pelabuhan petikemas dan pergudangan kopi, pabrik              pembuatan minyak olive, dan pembuatan Keju di Kota Trieste, Utara              Italia.&lt;br /&gt;...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;             Setelah menyaksikan proses pensortiran kopi yang dilakukan semuanya              secara komputerisasi yang dikelola Pacorini Silocaf S.r.l. dan              meninjau beberapa fasilitas pergudangan serta makan siang atas              undangan otoritas pelabuhan Trieste, Mentan melakukan kunjungan ke              pabrik pembuatan minyak olive yang prosesnya bebas zat aditif serta              peternakan sapi perah dan pembuatan keju. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;             Khusus di peternakan sapi perah dan pabrik pembuatan keju, mentan              sangat terkesan dengan etos kerja petani yang dikunjungi, karena              dengan jumlah 150 ekor sapi ditambah pabrik keju hanya dikerjakan              oleh 3 orang saja.&lt;/span&gt; Sementara di pabrik minyak olive menteri terkesan              karena proses pembuatan minyaknya yang hanya mengandalkan              pengendapan secara alami selama 40 hari, sehingga minyak yang              dihasilkan masih banyak kandungan senyawa mikro (anti oksidan) yang              sehat bagi tubuh manusia.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; margin-top: 0pt; margin-bottom: 0pt;"&gt;             &lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="SV"&gt;             Kunjungan ke Trieste diakhiri dengan makan bersama atas undangan              Asosiasi Pengusaha Kopi Trieste.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;from:http://www.indonesianembassy.it/home/berita/news014-07.htm&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: Verdana;" lang="IT"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1811580963367098488?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1811580963367098488/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1811580963367098488' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1811580963367098488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1811580963367098488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/kunjungan-kerja-menteri-pertanian-ke.html' title='Kunjungan Kerja Menteri Pertanian Ke Italia'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7275639394790751256</id><published>2007-12-25T17:30:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:34:09.499-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Bank Saudara Fokus Kredit UMKM</title><content type='html'>&lt;span class="judul"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="kalender"&gt;infoanyar.com;Sabtu, 10 Nopember 07 - oleh : &lt;/span&gt;&lt;span class="keterangan"&gt;&lt;a href="http://www.infoanyar.com/?pilih=pesan&amp;amp;id=1808"&gt;admin&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="konten"&gt;JAKARTA – Bank Himpunan Saudara, yang biasa dikenal dengan Bank Saudara, memfokuskan penyaluran kredit ke sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, perseroan mengembangkan usaha sapi perah di Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. ”Total kredit UMKM yang sudah disalurkan perseroan mencapai Rp20 miliar. Sedangkan sejak 2003, kredit yang disalurkan mencapai Rp30 miliar,” ujar Direktur Utama Bank Saudara Farid Rahman di Jakarta kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Farid, perseroan cenderung bukan pada sektor korporasi, melainkan UMKM. Untuk itu, perseroan memperhatikan pengelolaan susu sapi perah di Jawa Barat. Sedangkan untuk 2008, pengembangan dilakukan baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kredit tahun 2008 diharapkan tumbuh 30%, sedangkan kalau di riilnya sekitar 37%”, harapnya. Farid menuturkan, modal perseroan hingga kuartal III mencapai Rp157 miliar. Sementara posisi kredit konsumsi termasuk di dalamnya dana pensiun, pegawai, dan pekerja pada kisaran Rp41 triliun, atau naik 90% per September 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid menambahkan, indikasi performa per September 2007 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Indikasi tersebut adalah laba mencapai Rp1,4 triliun, sedangkan return on quity (ROE) perseroan mencapai 12%. Pada saat bersamaan, Bank Saudara akan mengoperasikan layanan kustodian untuk surat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseroan sudah mendapatkan izin resmi dari Badan Pengawasan Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) melalui Surat Keputusan No: KEP-01/BL/Kstd/2007 per 17 September 2007. Salah satu petinggi Bank Saudara, Sadhana Priatmadja, mengatakan bahwa pangsa pasar kustodian akan berawal dari Medco Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tujuan pengoperasiannya adalah untuk meningkatkan fee based incomeyang akan diperoleh dari jasa penyimpanan surat berharga dan penyelesaian transaksi. Ditargetkan, fee base income per tahun mencapai Rp2. “Melalui jasa bank kustodian, perseroan berusaha menarik masyarakat ke dalam instrumen negara seperti ORI, SUN, SBI”, tandas dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Sadhana, sebagai Bank Saudara kustodian, perseroan mengutamakan pengelolaan terhadap portofolio reksa dana dan dana kelolaan yang disamakan dengan unit penyertaan terhadap penghitungan nilai aktiva bersih. Selain itu, penyimpanan surat berharga (saham dan obligasi), penerimaan, dan pengiriman surat berharga yang ditujukan kepada nasabah tanpa bukti pembayaran.&lt;br /&gt;sumber:www.seputar-indonesia.com&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7275639394790751256?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/7275639394790751256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=7275639394790751256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7275639394790751256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7275639394790751256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/bank-saudara-fokus-kredit-umkm.html' title='Bank Saudara Fokus Kredit UMKM'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-4605286629771531403</id><published>2007-12-25T17:25:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:29:01.645-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Kalbar Siap Kembangkan Sapi Perah Tropis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:78%;color:#5c5ccf;"&gt;Pontianak Post;Sabtu, 7 Juli 2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;b&gt;&lt;span style="font-family:verdana,arial;font-size:100%;color:red;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="color:#006699;"&gt;&lt;b&gt;Pontianak,-&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  Sejak beberapa pekan terakhir, masyarakat Indonensia dibuat resah dengan meroketnya harga jual susu. Jika sudah begini, balita menjadi kelompok yang amat dirugikan. Di masa tumbuh kembangnya, kuantitas pasokan nutrisi serta vitamin yang diperoleh dari susu terancam berkurang. Faktor apa yang menjadi penyebabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan Pringgo-Pontianak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEJUMLAH kalangan menilai bahwa kenaikan harga susu formula bagi balita ini lebih disebabkan oleh berkurangnya produksi susu dunia. Hingga saat ini 70 persen kebutuhan susu Indonesia masih dipasok dari Australia dan New Zealand. Sementara produksi susu dalam negeri hanya mampu menutupi 30 persen dari sisa kebutuhan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat tingginya ketergantungan terhadap susu impor tersebut, lambat laun segala sesuatunya terasa menjadi sulit. Persoalan mulai muncul manakala pasokan susu dari luar mulai menurun. Informasi yang berkembang menyebutkan bahwa saat ini telah terjadi musim panas berkepanjangan di Austalia dan New Zealand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat iklim yang kurang bersahabat, produksi susu pun mengalami penurunan yang cukup tajam. Ini terjadi karena ketersediaan pakan hijau bagi ternak sapi perah telah berkurang. Sejumlah ahli belum bisa meramalkan kapan berakhirnya kondisi buruk ini. Menyikapi tingginya harga jual susu, sejumlah kalangan berupaya memberikan solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jalan keluar yang ditawarkan antara lain menggalakkan gerakan penggunaan ASI (Air Susu Ibu), mengganti mengkonsumsi susu sapi dengan susu kambing atau susu kedelai, mengembangkan sapi perah tropik dan lain sebagainya. Khusus untuk penawaran yang terakhir ini, sekarang pemerintah tengah melakukan upaya pengembangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diungkapkan Kepala Dinas Kehewanan dan Peternakan Kalbar, drh H Abdul Manaf Mustafa, saat ini pemerintah tengah mencoba untuk mengembangkan sapi perah tropis. Sapi perah jenis ini merupakan hasil perkawinan silang, antara sapi perah unggul dari Belanda dengan sapi perah unggul dari India. "Jenis sapi tropis ini diyakini sebagai solusi yang tepat dalam mengatasi ketergantungan impor susu," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan dari mengkawinsilangkan kedua jenis sapi perahan ini tak lain adalah untuk memperoleh jenis sapi unggul yang mampu hidup di daerah tropis, seperti alam Indonesia, khususnya Kalbar. Secara genetika, sapi perah unggul asal Belanda memiliki kelebihan dalam memproduksi susu berkualitas tinggi. Tapi sayang, sapi jenis ini hanya mampu memproduksi susu dalam jumlah banyak di daerah dingin. Sementara sapi perah asal India memiliki sifar kebalikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati pengembangbiakan sapi perah tropis ini memerlukan waktu yang cukup panjang, namun Manaf berkeyakinan bahwa suatu saat nanti Indonesia pasti akan memiliki sapi perah unggul jenis baru. Dan Kalbar akan siap menjadi daerah pengembangbiakannya. (**)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-4605286629771531403?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/4605286629771531403/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=4605286629771531403' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4605286629771531403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/4605286629771531403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/kalbar-siap-kembangkan-sapi-perah.html' title='Kalbar Siap Kembangkan Sapi Perah Tropis'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-5615067593427616521</id><published>2007-12-25T17:22:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:24:58.651-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Dampak Kenaikan Harga Susu Kemasan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span class="ts"&gt;06 Juli 2007, 18:12:11, Laporan Iping Supingah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="isi1"&gt;&lt;span style="color:#001f73;"&gt;&lt;b&gt;suarasurabaya.net&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;| Harga susu sapi segar di tingkat peternak di Kabupaten Malang, Jatim mulai merangkak naik, mengikuti kenaikan harga susu kemasan yang beredar di pasaran saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ELIKA, satu diantara peternak susu sapi perah, pada &lt;i&gt;Antara&lt;/i&gt; di Malang, Jumat (06/07), mengemukakan, kenaikan harga susu kemasan yang terjadi saat ini membawa berkah tersendiri bagi peternak sapi perah.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Harga susu segar naik sejak awal Juli lalu. Kenaikannya mencapai Rp500 per-liternya. Harga sebelum ada kenaikan Rp2.500 kini menjadi Rp3.000 per-liternya," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, dari 10 ekor sapi perah yang dimilikinya saat ini dapat menghasilkan susu segar sebanyak 141 liter perharinya. Proses pengambilan susu segar dilakukan sehari dua kali, yaitu pada pagi hari dan sore hari.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Susu segar yang dihasilkan dari peternakannya disetorkan ke pengepul, dalam hal ini disetorkan pada KUD Sumber Makmur Ngatang, Kabupaten Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SYAKUR KULLU Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kab. Malang mengemukakan, pihaknya menyambut baik kenaikan harga susu segar di tingkat petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pihaknya berharap, produsen bisa menerima seluruh susu yang dihasilkan oleh pertani, terutama dari Kab. Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenaikan harga susu tidak sama, tergantung dari kualitas susu yang dihasilkan peternak. Semakin baik kualitasnya, semakin tinggi harga jualnya," paparnya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Menurut dia, kenaikan harga susu segar membawa dampak positif bagi peternak. Pasalnya, harga susu kemasan di pasaran juga terus merangkat naik, sehingga peternak akan mendapatkan keuntungan lebih dibanding dengan harga jual sebelumnya.&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;"Sebetulnya, kalau dibandingkan dengan harga susu kemasan di pasaran, kenaikan susu segar masih kurang. Harga ideal untuk susu segar saat ini adalah kisaran Rp3.500 per liternya," ucapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produksi susu segar untuk Kabupaten Malang mencapai 220 ton per-hari. Susu tersebut dihasilkan oleh beberapa koperasi di bawah naungan Diskoperindag dan dari petani susu di luar koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sentra peternak sapi perah di Kab. Malang berada di daerah Ngantang, Pujon, Dau, dan Turen. Koperasi di daerah tersebut juga sudah memproses susu segar menjadi susu siap minum dengan sistem pasteurisasi yang saat ini menjadi konsumsi masyarakat Malang Raya.(ipg/ipg)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teks Foto:&lt;br /&gt;- Harga susu segar ikut naik, untungkan peternak susu sapi perah.&lt;br /&gt;Foto: Dok. &lt;b&gt;suarasurabaya.net&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-5615067593427616521?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/5615067593427616521/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=5615067593427616521' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5615067593427616521'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/5615067593427616521'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/dampak-kenaikan-harga-susu-kemasan.html' title='Dampak Kenaikan Harga Susu Kemasan'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-175737222515524439</id><published>2007-12-25T17:19:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:21:20.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='esai'/><title type='text'>Sisi Lain Kenaikan Susu</title><content type='html'>&lt;p&gt;Lebih mengerikan lagi, setelah ikut dalam barisan susu yang dicari pun tak kunjung juga. Kalau pun ada harganya bisa selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ironis memang. Betapa tidak. Negara yang punya segalanya, tetapi kekurangan banyak hal. Kita punya laut amat luas, tapi isi laut yang melimpah tidak membuat nelayan kita kaya. Pengais jala tetap saja dalam wajah lamanya. Yaitu miskin dan tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamparan hutan luas tak membuat binatang ternak beranak pinak. Malah mati kelaparan akibat huntanya gundul. Tentunya, banjir tak terelakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, kita memang mempunya banyak kawah gunungg merapi, tetapi karena ulah lalim manusia. Penyangga bumi itu beralih fungsi menjadi malapetaka. Letusan lahar dingin daln lapa panas tak bisa dihindari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar. Dan kalaupun ada, harganya bisa selangit. Rakyat kecil sering nanar dan kehabisan daya mencari energi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Negeri agraris pula tak bisa menyediakan beras untuk rakyatnya. Hingga harus di impor beras dari beberapa negara yang dulu belajar pertanian dari kita, seperti Thailand dan Vietnam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal Nenek moyang kita mewariskan tradisi mulia tersebut. Lantas kenapa harus meminta belas kasihan dari bangsa lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya berhenti disini saja, bumi pertiwi ini juga punya banyak kandungan minyak tanah. Tetapi, benda ini juga bisa kapan saja menghilang dari pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kenaikan Susu Meresahkan Warga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan harga susu, khususnya susu bayi formula terjadi di beberapa pasar dan toko swalayan di sejumlah daerah. Di Jakarta, sejumlah pedagang mengaku tidak mengetahui pasti penyebab kenaikan harga susu. Namun, diperkirakan kenaikan harga susu ini akan terus berlanjut secara bertahap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada diungkapkan Ketua Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Thomas Dharmawan. Thomas memperkirakan kenaikan harga susu ini akan terus terjadi hingga 2008. Menurut Thomas, kenaikan susu tersebut dipicu oleh menurunnya produksi susu di luar negeri. Padahal, 70 persen kebutuhan susu dalam negeri berasal dari impor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenaikan harga susu juga terjadi di Surabaya, Jawa Timur. Merambatnya harga susu membuat orangtua resah karena kenaikan tidak hanya pada susu impor, tapi juga susu lokal. Susu impor bermerek yang paling murah saat ini sekitar Rp 150 ribu per 900 gram dari sebelumnya sekitar Rp 115 ribu.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(www.metritvnews.com, 29/06)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Air Tajin Jadi Pilihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melonjaknya harga susu membuat masyarakat berputar otak. Seperti yang dilakukan oleh ibu-ibu di Panceng, Gresik, Jawa Timur, dengan mencampur susu untuk anaknya dengan air beras yang baru saja dimasak atau air tajin. Memberi minum balita dengan air tajin memang telah menjadi kebiasaan warga setempat sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebiasaan lama itu baru kembali dilakoni Mawartik sejak sepekan terakhir. Setiap kali usai memasak nasi, warga Panceng ini selalu mengambil air tajin untuk kemudian dicampur dengan susu anaknya. Komposisinya, seperempat botol susu dicampur dengan tiga perempat air tajin. Langkah tersebut diakui wanita ini sangat membantu menghemat pengeluaran keluarga, khususnya untuk membeli susu sang anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyoal kenaikan susu itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu justru menyatakan kenaikan harga susu yang terjadi saat ini masih tergolong normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Fahmi Idris, Menteri Perindustrian Fahmi Idris sebelumnya mengatakan masalah itu bukan wewenangnya. Seharusnya pertanyaan mengenai kenaikan harga susu serta kebijakan apa yang harus diambil lebih tepat ditujukan ke Menteri Pertanian dan Menteri Perdagangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu juga enggan memberikan penjelasan. Dia ingin mengetahui secara pastu permasalahnnya. "Tentunya produsen dan distributor yang mengetahui soal ini," kata Mari Elka. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(www.liputan6.com)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati kenaikanya tak begitu tingggi hanya 10 persen. Tetap saja dapat meresahkan wong cilik. Seperti yang diuratakan Ardiansyah Parman, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri "Tidak ada alasan itu (menaikkan harga hingga lebih 10 persen). Karena mereka harus memperhitungkan daya beli masyarakat. Kalau terlalu tinggi dan tidak terserap masyarakat produsen akan rugi," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diberitakan, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia memperkirakan harga susu bakal naik maksimal 15 persen hingga akhir tahun ini. Hal ini terjadi jika pemerintah tidak mengantisipasi dampak kekeringan di Australia, negara asal impor bahan baku susu Indonesia &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Koran Tempo, 3/7). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Industri Pengolahan Susu (IPS) Abdullah Sabana juga memastikan kenaikan harga susu dan produk turunannya tidak akan lebih dari 10 persen. "Sebab stok ada di pasar hingga tahun depan. Dengan efisiensi, kami dapat meredam kenaikan harga bahan baku ini, sehingga kenaikan tak lebih dari 10 persen," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor utama lainnya, kata Abdullah, adalah pergantian musim di Australia sehingga sangat kondusif untuk menurunkan harga bahan baku susu. "Menjelang akhir tahun kemungkinan besar harga bahan baku akan turun, di Australia mulai akan turun hujan," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada lonjakan harga bahan baku yang sangat tinggi ke depan, dia memastikan, hal itu tidak langsung berdampak pada kenaikan harga susu. Sebab, porsi harga bahan baku terhadap biaya produksi bervariasi dan tidak besar dibandingkan faktor lainnya. "Biaya yang timbul tidak hanya dari susu, tapi dari pengemasan, energi, ongkos produksi di pabrik, upah karyawan, dan sebagainya," kata Abdullah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Kelautan dan Perikanan Bayu Krisnamurthi mengatakan, pemerintah akan melakukan pemberian susu melalui program pos pelayanan terpadu (posyandu). "Khususnya pemberian susu dan makanan tambahan bagi bayi di bawah tiga tahun (6 bulan-3 tahun) kepada masyarakat berpendapatan rendah," katanya. Pengeluaran masyarakat untuk susu, kata dia, hanya 0,5 persen atau lebih rendah dari pengeluaran untuk minyak goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan, pihaknya kemungkinan akan melakukan operasi pasar susu. Saat ini, kata dia, jajarannya sedang mempertimbangkan mekanisme yang akan dipilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi pasar, kata Siti, merupakan salah satu opsi yang kemungkinan akan dipilih untuk mengatasi tingginya harga susu. Dia mengaku juga sedang mempertimbangkan membuat program susu murah untuk rakyat. Fokusnya adalah pada anak balita. "Tapi masih saya pikirkan," katanya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Tempo,04/07) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sisi Lain Kenaikan Susu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, kenaikan harga susu dapat menggairahkan para peternak sapi perah di sentra produksi susu murni di Indonesia karena mereka bisa mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual komoditas andalannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenaikan harga susu murni memang sudah saatnya setelah selama 12 tahun stagnan. Para peternak sapi perah saat ini bisa menikmati kenaikan rata-rata Rp700 per liter susu. Yah sesekali mereka merasakan keuntungan," kata Ketua Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Deddi Setiadi di Bandung, Selasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan harga susu saat ini berkisar Rp3.500 hingga Rp3.900 per liternya. Padahal harga biasanya berkisar Rp2.800 hingga Rp3.600 per liter susu di tingkat koperasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deddi menyebutkan, kenaikan yang terjadi saat ini, bagi para petani sebenarnya belum mencapai angka "break event point" (BEP) dari biaya per liter susu sapi bila dihitung dari biaya pakan, obat-obatan dan upah kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak fair jika pemerintah minta menekan harga susu dari peternak tanpa ada upaya untuk meningkatkan pendapatan mereka, sedangkan di lain pihak impor susu terus dilakukan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan, kenaikan harga susu yang terjadi saat ini merupakan kesempatan `langka` bagi para peternak sapi untuk mendapat keuntungan atau minimal menambah modal kerja bagi mereka. (Antara, 03/07)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, kenaikan harga susu tak selamanya dapat mengecewakan warga. Malahan bisa bermakna bahagia. Betapa tidak, semula para peternak hanya bisa menjual susu perahnya kepada para tengkulak dengan harga minim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, dengan melejitnya harga susu dapat mengahairahkan para pengembala. Tentunya, prodak dalam negeri menjadi tumpual masyarakat. Yang selama ini tersisihkan. Hingga tak dikenal lagi. Akibat derasnya arus modernitas dan gaya hidup gelamor.&lt;br /&gt;Dengan demikian, sudah saatnya warga negara beserta pemerintah mencintai hasil karya anak bangsa. Bukan malam memperburuk kondisinya. Yakni dengan mengkonsumsi susu buatan luar negeri. Semoga.[Ibn Ghifarie]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cag Rampes, Pojok Sekre Kere, 05/07;23.23 wib&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;* &lt;strong&gt;Ibn Ghifarie,&lt;/strong&gt; Mahasiswa Studi Agama-Agama Fakultas Filsafat dan Teologi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung dan aktivis LPIK (Lembaga Pengkajian Ilmu ke-Islaman) Bandung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-175737222515524439?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/175737222515524439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=175737222515524439' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/175737222515524439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/175737222515524439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/sisi-lain-kenaikan-susu.html' title='Sisi Lain Kenaikan Susu'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-3018195328869493185</id><published>2007-12-25T17:11:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T17:14:26.158-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='news'/><title type='text'>Prioritaskan Pertanian dan Peternakan</title><content type='html'>&lt;div class="snap_preview"&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ENREKANG — Tahun 2005, pemerintah Enrekang telah menyusun sebuah Rencana Strategi (Renstra) khusus pada sektor pertanian dan peternakan.&lt;br /&gt;Ini merupakan realisasi kerjasama pembangunan antara Pemerintah Kabupaten Enrekang dengan Sanbe Sulawesi Frienship Centre.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Kerja sama tersebut berisi pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan pengembangan komoditi pertanian. Realisasinya antara lain pemagangangan tujuh orang pegawai bidang pertanian di Enrekang ke Jepang. Mereka akan mengikuti pelatihan di sana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Untuk pengembangan komoditi, akhir tahun lalu telah terealisasi bantuan sapi perah sebanyak 24 ekor. Tahun ini direncanakan menyusul sebanyak 10 ekor sapi perah. Sebagai pendukung, pemerintah telah membangun pusat pelatihan peternakan di Desa Buntu Barana.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Dalam program kerjasama NMCP Belanda, telah dibangun pula sekolah menengah kejuruan (SMK) pertanian di desa Mampu, Kecamatan Anggeraja. Sekolah ini dilengkapi dengan fasilitas laboratorium dan green house. Sekolah ini mulai menerima siswa tahun ajaran 2004/2005 bersadarkan MOU antara Direktur Pendidikan Menengah Kejuruan dengan Bupati Enrekang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Selain itu, juga telah dilaksanakan pembangunan terminal agribisnis di Desa Sumillan Kecamatan Alla, yang terdiri antara lain satu unit grosir sayuran. Menurut La Tinro, Pemkab Enrekang juga telah mempersiapkan lahan pembangunan miniatur percontohan komoditas unggulan hasil pertanian dan perkebunan Kabupaten Enrekang. Diharapkan tahun ini, pembangunannya sudah rampung. “Berkat lancarnya kegiatan pembangunan di sektor pertanian, Enrekang berhasil meraih Juara K2P3 tingkat pusat, suatu penghargaan di sektor pertanian tahun 2004 lalu,” ujar La Tinro.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meski lebih memprioritaskan sektor pertanian dan peternakan, lanjut La Tinro, bukan berarti melupakan sektor lain. Ibarat kereta api, katanya, semua gerbong harus digerakkan seperti kehutanan, pertambangan, perindustrian, perdagangan, pemuda, dan olahraga serta sektor keagaman.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Di sektor pertambangan dan energi, misalnya, telah direalisasikan kerjasama BPPT pada tahun 2004 dalam bentuk pengadaan 100 unit pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Desa Pattondo Salu, Desa Salo Dua dan Desa Ranga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tahun 2005 ini akan direalisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) sebesar Rp1 miliar.&lt;br /&gt;Sumber : (sap)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-3018195328869493185?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/3018195328869493185/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=3018195328869493185' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3018195328869493185'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/3018195328869493185'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/prioritaskan-pertanian-dan-peternakan.html' title='Prioritaskan Pertanian dan Peternakan'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-1064039558073195566</id><published>2007-12-10T00:04:00.000-08:00</published><updated>2007-12-10T00:05:05.990-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;TTG BUDIDAYA PETERNAKAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p align="center"&gt;BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH&lt;br /&gt;              ( Bos sp. )&lt;/p&gt;             &lt;table align="right" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="132"&gt;               &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;                  &lt;td&gt;&lt;img src="http://www.iptek.net.id/ind/warintek/GAMBAR/4a13.gif" height="356" width="300" /&gt;&lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;             &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;             &lt;p align="left"&gt; 1. SEJARAH SINGKAT&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber                daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan                sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu                dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti                halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus),                dan anoa.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun                SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar                ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad                ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak                saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik                sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan                lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah                Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang                sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;2. SENTRA PERIKANAN&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa                (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda),                Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan).                Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya                yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar                3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi                hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul,                diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang                mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat                ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya                pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih                kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari                (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;3. JENIS&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang                terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari                sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal                dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius,                yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos                Taurus. &lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara                adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda),                Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss                (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster                (dari Australia). Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa                jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan                di Indonesia adalah Frisien Holstein.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;4. MANFAAT&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber                protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk                kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;5. PERSYARATAN LOKASI&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah                yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai                oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan                jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran                kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan                secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal,                tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal,                penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara                kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran                yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua                jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman)                biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara                hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan                untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar                sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang                harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit.                Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan                dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai                alas kandang yang hangat.&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai                harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti                creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat                untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5x2 m atau 2,5x2 m, sedangkan                untuk sapi betina dewasa adalah 1,8x2 m dan untuk anak sapi cukup                1,5x1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur                di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan               &lt;br /&gt;              kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran                rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m). &lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;6.2. Pembibitan&lt;/p&gt;             &lt;p align="left"&gt;Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi                perah betina dewasa adalah: &lt;/p&gt;             &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; produksi susu tinggi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;berasal dari induk dan pejantan yang mempunyai keturunan produksi                  susu tinggi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;bentuk tubuhnya seperti baji,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; matanya bercahaya, punggung lurus, bentuk kepala baik, jarak                  kaki depan atau kaki belakang cukup lebar serta kaki kuat, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; ambing cukup besar, pertautan pada tubuh cukup baik, apabila                  diraba lunak, kulit halus, vena susu banyak, panjang dan berkelok-kelok,                  puting susu tidak lebih dari 4, terletak dalam segi empat yang                  simetris dan tidak terlalu pendek, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; tubuh sehat dan bukan sebagai pembawa penyakit menular, dan                &lt;/li&gt;&lt;li&gt; tiap tahun beranak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;Sementara calon induk yang baik antara lain:&lt;/p&gt;             &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; berasal dari induk yang menghasilkan air susu tinggi, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kepala dan leher sedikit panjang, pundak tajam, badan cukup                  panjang, punggung dan pinggul rata, dada dalam dan pinggul lebar,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; jarak antara kedua kaki belakang dan kedua kaki depan cukup                  lebar, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; pertumbuhan ambing dan puting baik, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; jumlah puting tidak lebih dari 4 dan letaknya simetris, serta                &lt;/li&gt;&lt;li&gt; sehat dan tidak cacat. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:&lt;/p&gt;             &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; umur sekitar 4-5 tahun,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; memiliki kesuburan tinggi,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; daya menurunkan sifat produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,&lt;/li&gt;&lt;li&gt;berasal dari induk dan pejantan yang baik, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;besar badannya sesuai dengan umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat                  pejantan yang baik, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kepala lebar, leher besar, pinggang lebar, punggung kuat, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;muka sedikit panjang, pundak sedikit tajam dan lebar, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; paha rata dan cukup terpisah,&lt;/li&gt;&lt;li&gt; dada lebar dan jarak antara tulang rusuknya cukup lebar, &lt;/li&gt;&lt;li&gt; badan panjang, dada dalam, lingkar dada dan lingkar perut besar,                  serta &lt;/li&gt;&lt;li&gt; sehat, bebas dari penyakit menular dan tidak menurunkan cacat                  pada keturunannya.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;Prosedur:&lt;/p&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Pemilihan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;                Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan                  lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.                  Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit.                  Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan                  dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perawatan Bibit dan Calon Induk&lt;br /&gt;                Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi                  atau belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan.                  Jika sapi yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi                  diseleksi kembali berdasarkan produksi susunya, kecenderungan                  terkena radang ambing dan temperamennya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sistim Pemuliabiakan&lt;br /&gt;                Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging                  untuk mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan                  anak satu dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit                  harus diberi kesempatan untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam                  setiap hari.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;6.3. Pemeliharaan&lt;/p&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Sanitasi dan Tindakan Preventif&lt;br /&gt;                Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga                  peternak mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif                  pengawasannya sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara                  dibiarkan hidup bebas. Sapi perah yang dipelihara dalam naungan                  (ruangan) memiliki konsepsi produksi yang lebih tinggi (19%) dan                  produksi susunya 11% lebih banyak daripada tanpa naungan. Bibit                  yang sakit segera diobati karena dan bibit yang menjelang beranak                  dikering kandangkan selama 1-2 bulan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perawatan Ternak&lt;br /&gt;                Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan                  setiap hari setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan                  susu. Kandang harus dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan                  pada penampungan khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah                  kandang dibersihkan, sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai                  alas lantai yang umumnya terbuat dari jerami atau sisa-sisa pakan                  hijauan (seminggu sekali tilam tersebut harus dibongkar). Penimbangan                  dilakukan sejak sapi pedet hingga usia dewasa. Sapi pedet ditimbang                  seminggu sekali sementara sapi dewasa ditimbang setiap bulan atau                  3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih ditimbang sebulan sekali.                  Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan taksiran pengukuran                  berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan tinggi pundak.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pemberian Pakan&lt;br /&gt;                Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:                  &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; sistem penggembalaan (pasture fattening)&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kereman (dry lot fattening)&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kombinasi cara pertama dan kedua.&lt;br /&gt;                    Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan                      yang berupa jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa,                      rumput gajah, rumput benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan                      siang hari setelah pemerahan sebanyak 30-50 kg/ekor/hari.                      Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa&lt;br /&gt;                    umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan                      tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui                      (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan                      dan konsentrat dalam ransumnya. Hijauan yang berupa rumput                      segar sebaiknya ditambah dengan jenis kacang-kacangan (legum).&lt;br /&gt;                    Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas                      tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat)                      yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat                      sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi                      diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus                      diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan per hari.&lt;br /&gt;                    Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas,                      serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang                      dipelihara. Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan                      dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi                      digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan                      menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi                      kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pemeliharaan Kandang&lt;br /&gt;                Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi                  (&lt;u&gt;+&lt;/u&gt;1-2minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah                  matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak                  terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar. Air                  minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan                  minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap.                  Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan                  tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat                  air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit                  lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan                  untuk memandikan sapi.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;7.1. Penyakit&lt;/p&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Penyakit antraks&lt;br /&gt;                &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyebab: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak                      langsung, makanan/minuman atau pernafasan.&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gejala:                      &lt;ol&gt;&lt;li&gt; demam tinggi, badan lemah dan gemetar; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; gangguan pernafasan; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin                          dan badan penuh bisul;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar                          melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; limpa bengkak dan berwarna kehitaman.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                   &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pengendalian: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi                      sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica                  (AE)&lt;br /&gt;                &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyebab: virus ini menular melalui kontak langsung melalui                      air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar                      kuman AE. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gejala:                      &lt;ol&gt;&lt;li&gt; rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh                          serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening;                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt; demam atau panas, suhu badan menurun drastis;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali;                        &lt;/li&gt;&lt;li&gt;air liur keluar berlebihan. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengendalian: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan                      diobati secara terpisah.&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica                  (SE)&lt;br /&gt;                &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyebab: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui                      makanan dan minuman yang tercemar bakteri.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Gejala:                      &lt;ol&gt;&lt;li&gt; kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna                          merah dan kebiruan;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; leher, anus, dan vulva membengkak; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam                          dan berwarna merah tua;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang                          ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam                          waktu antara 12-36 jam. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                   &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pengendalian: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau                      sulfa.&lt;br /&gt;                  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)&lt;br /&gt;                &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang                      yang basah dan kotor. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Gejala:                      &lt;ol&gt;&lt;li&gt; mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan                          cairan putih keruh; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; kulit kuku mengelupas; &lt;/li&gt;&lt;li&gt; tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;                   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;               &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;7.2. Pencegahan Serangan&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku                dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit                yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang                yang bersih dan kering.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;8. PANEN&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;8.1. Hasil Utama&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan                oleh induk betina.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;8.2. Hasil Tambahan&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging                dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta                pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;9. PASCAPANEN : …&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh                peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi.                Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan                oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang                mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen,                penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit.                Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan                sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya.                Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th                dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada                pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan                dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari                seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan                anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar                3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring                dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini. Untuk mencapai                tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan                harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum                pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan                sekitar 3,5-4% dari bahan kering&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika                jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat                efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak                2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya                untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi                perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi                usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal                dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang                berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;11. DAFTAR PUSTAKA&lt;/p&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Anonim. [ ]. Pedoman beternak sapi perah. Purwokerto, Balai                  Pembibitan Ternak dan Hijauan Makanan Ternak. 2 hal. (brosur).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Anonim. 1983. Petunjuk cara-cara penggunaan obat-obatan ternak.                  Samarinda, Dinas Peternakan Kalimantan Timur. 12 hal.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Anonim. 1988. Kondisi peternakan sapi perah dan kualitas susu                  di pulau Jawa. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 39-40.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Anonim. 1988. Pemerahan, satu faktor penentu jumlah air susu.                  Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 23-24.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Anonim. 1988. Upaya peningkatan kesejahteraan peternak melaluipeningkatan                  efisiensi produksi. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 16-24.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bandini, Yusni. 1997. Sapi Bali. Cet 1. Jakarta, Penebar Swadaya.                  73 hal.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Church, D.C. 1991. Livestock feeds and feeding. 3 ed. New Jersey,                  Prentice-Hall, Inc.: 278-279.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Djaja, Willian. 1988. Hidup bersih dan sehat di peternakan                  sapi perah. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 25-26.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Djarijah, Abbas Sirega. 1996. Usaha ternak sapi. Yogyakarta,                  Kanisius. 43 hal.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Fox, Michael W. 1984. Farm animals: husbandry, behavior, and                  veterinary practice. Baltimore Maryland, University Park Press:                  82-112; 150.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ginting, Eliezer. 1988. Bimbingan dan penyuluhan usaha sapi                  perah rakyat di Jawa Timur. Buletin PPSKI, 5 (27) 1988: 27-33.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Hehanussa, P.E. 1995. Rencana induk Life Science Center-Cibinong.                  Limnotek, 3 (1) 1995: 1-34.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Hermanto. 1988. Bagaimana cara penanganan sapi perah pada masa                  kering? Swadaya Peternakan Indonesia, (42) 1988: 24-25.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Nienaber, J.A., et al. 1974. Livestock environment affects                  production and health. Proceedings of the International Livestock                  Environment Conference. St. Joseph, American Society of Agricultural                  Engineers.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pane, Ismed. 1986. Pemuliabiakan ternak sapi. Jakarta, PT.                  Media: 1-38; 133.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sabrani, M. 1994. Teknologi pengembangan sapi Sumba Ongole.                  Jakarta, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian: 15-26.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Suryanto, Bambang; Santosa, Siswanto Imam; Mukson. 1988. Ilmu                  Usaha Peternakan. Semarang, Fakultas Peternakan UNDIP. 63 hal.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Warudjo, Bambang 1988. Kualitas dan harga susu. Buletin PPSKI,                  5 (27) 1988: 34-38.&lt;br /&gt;              &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;12. KONTAK HUBUNGAN&lt;/p&gt;             &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS                  Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390                  9829&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan                  dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin                  No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax.                  +62 21 310 1952, Situs Web: http://www.ristek.go.id&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;             &lt;p&gt;Sumber : Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-1064039558073195566?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/1064039558073195566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=1064039558073195566' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1064039558073195566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/1064039558073195566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/budidaya-ternak-sapi-perah.html' title='BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-2703417180190602994</id><published>2007-12-06T13:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T13:25:17.842-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kesehatan'/><title type='text'>Agar Susu Segar Aman Dikonsumsi</title><content type='html'>Rabu, 30 Maret, 2005 oleh: Siswono&lt;br /&gt;Agar Susu Segar Aman Dikonsumsi&lt;br /&gt;Gizi.net - Ingin mengonsumsi susu segar tapi aman, bagaimana caranya? Kalau anak sapi meminum susu dari induknya tidak masalah. Tapi, bila manusia meminum susu yang langsung diperah dari sapi dampaknya akan buruk. Setiap susu sapi yang baru diperah sarat jutaan mikroorganisme (bakteri dan spora). Mikroorganisme itu lah yang biasanya merusak kandungan gizi pada susu. Itulah mengapa susu yang terlalu lama dihinggapi bakteri akan terasa asam dan basi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bagaimana cara mengonsumsi susu segar? Hingga saat ini proses sterilasi UHT pada susu dianggap cukup berhasil. Proses UHT dianggap cukup aman bila dibandingkan dengan empat proses pensterilan susu lainnya, yakni pendidihan, pasteurisasi, SCM, dan pembubukan. Menurut Manajer Pemasaran PT Ultrajaya, Muhammad Muhthasawwar, peluang mikroorganisme hingga pada susu yang di-UHT sangat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UHT, atau ultra high temperature, merupakan proses pemanasan susu sampai 140 derajat Celsius selama empat detik. Tujuannya untuk membunuh semua bakteri pada susu sehingga produk susu menjadi suci hama dan steril (bebas bakteri). Proses UHT diawali dengan tahap pendinginan susu pada suhu 4 derajat Celsius. Pada suhu tersebut mikroorganisme pada susu sulit berkembang biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pendinginan itu dilakukan setelah peternak memerah susu hingga proses pengangkutan susu ke lokasi pengolahan (pabrik). Tidak kurang dari 100 ribu liter susu disuplai ke PT Ultrajaya dari tujuh koperasi susu sapi di Jabar. Sebelum diolah susu diuji terlebih dahulu kemudian dimasukkan ke tangki pencampuran yang bebas udara. Pada tangki itu setiap unsur yang bercampur dengan susu akan tersaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tangki pencampuran itu susu disalurkan ke tempat sterilisasi UHT. Pada proses UHT susu dipanaskan dengan suhu 140 derajat celcius selama empat detik. Waktu pemanasan selama empat detik dimaksudkan agar kandungan gizi pada susu tersebut tidak hilang. Bila proses pemanasan di atas lima detik, sebagian nilai gizi pada susu itu akan berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah di-UHT susu disalurkan ke mesin pengemasan. Dengan mesin dari Jerman dan Swedia susu dikemas dengan menggunakan dus aseptik multilapis. Saat ini PT Ultrajata baru menyiapkan empat ukuran kemasan susu segar, dengan lima rasa, yakni full cream, cokelat, stroberi, moka, dan low fat high calcium. Empat ukuran kemasan tersebut terdiri atas satu liter, 250 ml, 125 ml, dan 200 ml.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Direktur PT Ultrajaya, Sabana Prawirawijaya, mengaku, dalam waktu dekat ini pihaknya akan segera mengedarkan susu ultra dengan kemasan 500 ml. ''Rencana peluncuran kemasan baru itu, berasal dari permintaan konsumen,'' ujarnya di Bandung belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(san )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: http://www.republika.co.id/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-2703417180190602994?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/2703417180190602994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=2703417180190602994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2703417180190602994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/2703417180190602994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/agar-susu-segar-aman-dikonsumsi.html' title='Agar Susu Segar Aman Dikonsumsi'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-7236060616373786133</id><published>2007-12-06T12:48:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T12:49:36.916-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Yohgurt'/><title type='text'>Yohgurt Susu Sapi</title><content type='html'>&lt;h2&gt;Yohgurt Susu Sapi&lt;br /&gt;&lt;small class="date"&gt; &lt;/small&gt;&lt;/h2&gt;  &lt;b&gt;Keluaran&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Yoghurt&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Bahan dan Alat&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Bahan : susu sapi layak minum&lt;br /&gt;Alat : gelas plastik, termometer, lemari es, dll&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pedoman Teknis&lt;/b&gt; &lt;br /&gt;Pembuatan yoghurt dilakukan dengan memfermentasikan susu dengan menggunakan biakan starter Lactobacillus bulgaricus dan Streptococus thermophilus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pembuatan :&lt;br /&gt;1. Susu dipanaskan pada suhu 90 derajat C. Ini untuk mencegah kontaminasi dan merupakan kondisi yang baik untuk inokulasi bakteri. Selain itu, perubahan kasein karena pemanasan akan memberikan hasil akhir yang baik dengan kondisi yang seragam.&lt;br /&gt;2. Susu didinginkan menjadi 43 derajat C kemudian diinokulasi dengan 2 % biakan starter camouran L. bulgaricus dan S. thermophilus dan dipertahankan suhunya selama 3 jam hingga diperoleh keasaman yang diinginkan (0,85 - 0,95 %) serta dicapai ph 4,5.&lt;br /&gt;3. Setelah itu produk didinginkan menjadi 5 derajat C dan selanjutnya dapat dikemas. &lt;small class="date"&gt;&lt;br /&gt;(ID:389, posted:29 April 2002  , Source: &lt;a href="http://www.deptan.go.id/"&gt;Departemen Pertanian&lt;/a&gt;)&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1616721354941282154-7236060616373786133?l=sapiperahind.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://sapiperahind.blogspot.com/feeds/7236060616373786133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1616721354941282154&amp;postID=7236060616373786133' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7236060616373786133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1616721354941282154/posts/default/7236060616373786133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://sapiperahind.blogspot.com/2007/12/yohgurt-susu-sapi.html' title='Yohgurt Susu Sapi'/><author><name>Sapi Perah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03137309704421213554</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://bp2.blogger.com/_zfjii3yXIZM/R1hPnGqQY9I/AAAAAAAAAAM/h_oFKRh-iu8/S220/sapiperah.bmp'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1616721354941282154.post-4420500226417123007</id><published>2007-12-06T12:45:00.001-08:00</published><updated>2007-12-06T12:48:21.994-08:00</updated><title type='text'>PEMILIHAN SUSU</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color: rgb(91, 166, 145);"&gt; Pdpersi, &lt;/span&gt; Jakarta &lt;/b&gt; - &lt;b&gt;PEMILIHAN SUSU FORMULA TERBAIK BAGI ANAK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dr Widodo Judarwanto SpA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asi adalah susu yang terbaik bagi anak. Susu formula terbaik adalah susu yang cocok dan tidak menimbulkan gangguan. Bukan karena susu yang disukai, termahal, terkenal atau yang mengandung berbagai macam kandungan kecerdasan&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;sumber:http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&amp;amp;kode=961&amp;amp;tbl=artikel&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Seorang ibu mendapat advis dari dokter bahwa anaknya harus memakai susu formula A. Saat mencari susu tersebut di supermarket mendapat informasi dari seorang SPG (Sales Promotion Girl) bahwa susu A mungkin tidak cocok karena tidak bisa menggemukkan jadi harus dengan susu B. Sesampai di rumah si ibu mencoba “curhat” pertelepon dengan temannya. Si teman mengatakan bahwa anaknya bisa gemuk dengan susu C karena lebih terkenal dan lebih mahal. Dengan perasaan bingung si Ibu mencoba konsultasi ke dokter lainnya ternyata advisnya berbeda lagi, anak harus minum susu D. Akhirnya si ibu malah menjadi bingung mendapat informasi yang sangat berbeda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua sering dihadapkan pada masalah pemilihan jenis susu formula yang tepat dan baik untuk bayi. Masalah ini diperumit dengan semakin banyaknya susu formula yang beredar di pasaran. Informasi tentang pemahaman pemilihan jenis susu semakin banyak didapatkan, baik dari dokter, sales promotion di supermarket, iklan di media cetak dan elektronik, brosur atau dari pengalaman ibu lainnya. Informasi yang beragam inilah yang membingungkan orang tua, karena sering sangat berbeda dan berlawanan. Contoh tersebut menunjukkan bahwa kesulitan pemilihan jenis susu formula banyak dialami oleh para orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilihan susu formula yang tidak tepat akan mengakibatkan gangguan beberapa fungsi dan organ tubuh seperti diare, sering batuk, sesak dan sebagainya. Gangguan sistem tubuh tersebut ternyata dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan serta mempengaruhi dan memperberat gangguan perilaku anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ASI adalah merupakan makanan terbaik untuk bayi dan anak. Tetapi menjadi masalah bila anak tidak dapat mengkonsumsi ASI dengan cukup karena berbagai kondisi dan keadaan. Penggunaan PASI (Pengganti ASI) menjadi alternatif yang tidak dapat dihindarkan. Pemilihan susu terbaik bagi anak harus dilakukan secara cermat dan teliti. Susu merupakan makanan bayi dan anak yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah banyak dan jangka panjang. Bila susu tersebut tidak cocok bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang yang terjadi terjadi terus menerus dalam jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;SUSU FORMULA TERBAIK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secara umum prinsip pemilihan susu yang tepat dan baik untuk anak adalah susu yang sesuai dan bisa diterima sistem tubuh anak. Susu terbaik tidak harus susu yang disukai bayi atau susu yang harganya mahal. Bukan juga susu yang banyak dipakai oleh kebanyakan bayi atau susu yang paling laris. Karena, susu formula dengan penjualan terbesar yang beredar di setiap negara selalu beredar. Di negara Indonesia misalnya susu formula merek A, di negara Amerika serikat merek B, sedangkan di Belanda mungkin merek C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu terbaik harus tidak menimbulkan gangguan saluran cerna seperti diare, muntah atau kesulitan buang air besar. Susu yang terbaik juga harus tidak menimbulkan gangguan lainnya seperti batuk, sesak, gangguan kulit dan sebagainya. Penerimaan terhadap susu pada setiap anak sangat berbeda. Anak tertentu bisa menerima susu A, tetapi anak lainnya bila minum susu A terjadi diare, muntah atau malah sulit buang air besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua susu formula yang beredar di Indonesia dan di dunia harus sesuai dengan Standard RDA (Recomendation Dietery Allowence). Standar RDA untuk susu formula bayi adalah jumlah kalori, vitamin dan mineral harus sesuai dengan kebutuhan bayi dalam mencapai tumbuh kembang yang optimal. Dengan kata lain penggunaan apapun merek susu sapi formula yang sesuai usia anak selama tidak menimbulkan gangguan fungsi tubuh adalah susu yang terbaik untuk anak tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu yang paling enak dan disukai bukan merupakan pertimbangan utama pemilihan susu. Meskipun susu tersebut disukai anak, tetapi bila menimbulkan banyak gangguan fungsi dan sistem tubuh maka akan menimbulkan banyak masalah kesehatan bagi anak. Tetapi sebaliknya bila gangguan saluran cerna anak baik dan tidak terganggu maka nafsu makan atau minum susu pada anak tidak akan terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga susu yang mahal dan merek yang terkenal juga bukan merupakan jaminan bahwa susu tersebut yang terbaik. Keterkenalan merek susu formula tertentu di suatu negara atau daerah sebenarnya lebih karena pertimbangan keberhasilan strategi pemasaran dan penyediaan barang. Hal ini dapat dillihat bahwa susu dengan penjualan tertinggi di negara satu dengan negara lainnya di dunia sangat berbeda dan bervaiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan AA, DHA, Spingomielin pada susu formula sebenarnya tidak merupakan pertimbangan utama pemilihan susu yang terbaik. Penambahan zat yang diharap berpengaruh terhadap kecerdasan anak memang masih sangat kontroversial. Banyak penelitian masih bertolakbelakang untuk menyikapi pendapat tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian AA dan DHD pada penderita prematur tampak lebih bermanfaat. Sedangkan pemberian pada bayi cukup bulan (bukan prematur) tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna mempengaruhi kecerdasan. Sehingga WHO hanya merekomendasikan pemberian AA dan DHA hanya pada bayi prematur saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjualan susu formula adalah merupakan bisnis perdagangan yang sangat besar dan sangat menggiurkan. Setiap hari kita disuguhi promosi susu formula yang demikian gencar. Semua produsen susu berlomba-loba mengangkat isu kecerdasan dengan mengandalkan AA, DHA, Spingomielin dan sebagainya. Karena sangat gencarnya promosi “susu kecerdasan” ini, banyak orangtua menolak bila susu anaknya tidak mengandung AA dan DHA. Fenomena ini merubah perilaku produsen untuk selalu menambah zat kecerdasan pada semua produk susu dan makanan anak. Sehingga akhirnya penambahan kandungan AA dan DHA kesannya hanya untuk kepentingan bisnis belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penambahan prebiotik atau sinbiotik untuk memperbaiki saluran cerna bukanlah yang utama. Selama bahan dasar susu formula tersebut bisa diterima saluran cerna, maka penambahan kandungan tersebut tidak terlalu bermanfaat. Sebaliknya meskipun terdapat zat tersebut, tetapi bila beberapa kandungan dalam susu sapi tidak bisa diterima saluran cerna juga tidak akan memperbaiki keadaan. Bila terdapat masalah gangguan saluran cerna berkepanjangan yang penting adalah mencari jenis susu atau makanan lainnya yang dapat mengganggu saluran cerna tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;MENGAPA SUSU FORMULA TIDAK COCOK&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh ketidak cocokan terhadap susu formula bisa disebabkan karena reaksi simpang makanan bisa karena reaksi alergi atau reaksi nonalergi. Alergi susu sapi adalah suatu kumpulan gejala yang mengenai banyak organ dan sIstem tubuh yang ditimbulkan oleh alergi terhadap susu sapi. Reaksi hipersensitif terhadap protein susu sapi dengan keterlibatan mekanisme sistem imun. Alergi terhadap susu formula yang mengandung protein susu sapi merupakan suatu keadaan dimana seseorang memiliki sistem reaksi kekebalan tubuh yang abnormal terhadap protein yang terdapat dalam susu sapi. Sistem kekebalan tubuh bayi akan melawan protein yang terdapat dalam susu sapi sehingga gejala-gejala reaksi alergi pun akan muncul. Reaksi non alergi atau reaksi simpang makanan yang tidak melibatkan mekanisme sistem imun dikenal sebagai intoleransi. Intoleransi ini bisa terjadi ketidakcocokan terhadap laktosa, gluten atau jenis lemak tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi simpang makanan tersebut terjadi karena ketidakcocokan beberapa kandungan didalam susu formula. Bisa terjadi karena ketidakcocokan terhadap kandungan protein susu sapi (kasein), laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alergi susu sapi adalah alergi terhadap kandungan protein tertentu yang ada di dalamnya. Banyak penelitian mengenai alergenitas protein susu sapi. Terdapat lebih dari 40 jenis protein yang berbeda dalam susu sapi yang berpotensi untuk menyebabkan sensitivitas. Kandungan pada susu sapi yang paling sering menimbulkan alergi adalah lactoglobulin, selanjutnya casein, lactalbumin bovine serum albumin (BSA). Analisa Immunoelectrophoretic menunjukkan bahwa casein berkurang alergenisitasnya setelah pemanasan sekitar 120 C selama 15 menit, sedangkan lactoglobulin, lactalbumin berkurang terhadap pemanasan lebih dari 100C. BSA and gammaglobulin kehilangan antigenisitasnya pada suhu antara 70C – 80C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GEJALA REAKSI ALERGI SUSU SAPI ATAU REAKSI SIMPANG SUSU FORMULA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gangguan akibat ketidakcocokan susu formula bisa timbul karena reaksi cepat atau timbulnya gejala kurang dari 8 jam. Pada reaksi lambat atau gejala baru timbul setelah lebih dari 8 jam, atau kadang setelah minum susu 5 atau 7 hari baru timbul keluhan. Tanda dan gejala ketidak cocokan susu formula atau alergi susu hampir sama dengan alergi makanan. Gangguan tersebut dapat mengganggu semua organ tubuh terutama pencernaan, kulit, saluran napas dan organ lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1. Kondisi klinis yang dapat diperberat karena reaksi alergi atau reaksi simpang susu formula &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;GANGGUAN SALURAN CERNA&lt;/u&gt;: Sering muntah/gumoh, kembung,“cegukan”, sering buang angin, sering “ngeden /mulet”, sering rewel, gelisah atau kolik terutama malam hari. Sering buang air besar (&gt; 3 kali perhari), tidak BAB tiap hari, Feses berwarna hijau, hitam, berbau, sangat keras, cair atau berdarah. Hernia Umbilikalis (pusar menonjol), Scrotalis, inguinalis (benjolan di selangkangan, daerah buah zakar atau pusar atau “turun berok”) karena sering ngeden sehingga tekanan di dalam perut meningkat. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;Bila gangguan saluran cerna terjadi jangka panjang&lt;/u&gt; akan mengakibatkan : daya tahan tubuh berkurang sehingga mudah terserang infeksi terutama ISPA (batuk, pilek, panas, tonsilitis (amandel) berulang kadang setiap bulan atau lebih)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;Kulit sensitif&lt;/u&gt;, sering timbul bintik atau bisul kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut.Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Mata, telinga dan daerah sekitar rambut sering gatal, disertai pembesaran kelenjar di kepala belakang. Kotoran telinga berlebihan kadang sedikit berbau. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Lidah sering timbul putih (seperti jamur). Bibir tampak kering atau bibir bagian tengah berwarna lebih gelap (biru). Gusi tampak bengkak seperti tumbuh gigi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Napas&lt;i&gt;&lt;u&gt; grok-grok&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;, kadang disertai batuk sesekali terutama malam dan pagi hari siang hari hilang. Bayi seperti ini beresiko sering batuk atau bila batuk sering lama (&gt;7hari) dan dahak berlebihan )&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sesak bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB). BILA BERAT SEPERTI PARU-PARU TIDAK MENGEMBANG (LIKE RDS) Bayi usia cukup bulan (9 bulan) secara teori tidak mungkin terjadi paru2 yang belum mengembang. Paru tidak mengembang hanya terjadi pada bayi usia kehamilan &lt;&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sering &lt;u&gt;bersin&lt;/u&gt;, pilek, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi (Sehingga beresiko kepala “peyang”) karena hidung buntu, atau minum dominan hanya satu sisi bagian payudara. Karena hidung buntu dan bernapas dengan mulut waktu minum ASI sering tersedak &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mata sering &lt;u&gt;berair&lt;/u&gt; atau sering timbul kotoran mata &lt;u&gt;(belekan)&lt;/u&gt; salah satu sisi/kedua sisi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena pencernaan terganggu bayi sering minum berlebihan atau sering minta minum berakibat berat badan lebih dan kegemukan (umur &lt;1tahun).&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kepala, telapak tangan atau telapak kaki sering teraba sumer/hangat. Sering &lt;u&gt;berkeringat&lt;/u&gt; (berlebihan) terutama dahi, daerah rambut meskipun dalam suhu udara dingin dan menggunakan ac.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;Gangguan hormonal&lt;/u&gt; : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok, timbul banyak bintil kemerahan dengan cairan putih (eritema toksikum) atau papula warna putih &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Reaksi simpang makanan seperti ketidakcocokan susu formula terutama mengganggu sistem saluran cerna. Gangguan saluran cerna tersebut kadang mengakibatkan gangguan permeabilitas pada saluran cerna atau leaky gut. Banyak penelitian terakhir mengungkapkan bahwa gangguan saluran cerna kronis dengan berbagai mekanisme imunopatofisiologis dan imunopatobiologis ternyata dapat mengakibatkan gangguan neurofungsional otak. Gangguan fungsi otak tersebut mempengaruhi gangguan perilaku seperti gangguan konsentrasi, gangguan emosi, gangguan tidur, keterlambatan bicara, gangguan konsentrasi hingga memperberat gejala ADHD dan Autis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 2. Gangguan perilaku dan motorik (gangguan neuroanatomis dan neurofisiologis) yang sering diperberat dan dikaitkan karena reaksi alergi atau reaksi simpang susu formula &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;GANGGUAN NEURO ANATOMIS&lt;/i&gt;&lt;/u&gt; : Mudah kaget bila ada suara yang mengganggu. Gerakan tangan, kaki dan bibir sering gemetar. Kaki sering dijulurkan lurus dan kaku. Breath Holding spell : bila menangis napas berhenti beberapa detik kadang disertai sikter bibir biru dan tangan kaku. Mata sering juling (strabismus). Kejang tanpa disertai ganggguan EEG (EEG normal)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;Usia &lt;&gt; 6 bulan bila digendong sering minta turun atau sering bergerak/sering menggerakkan kepala dan badan atas ke belakang, memukul dan membentur benturkan kepala. Kadang timbul kepala sering bergoyang atau mengeleng-gelengkan kepala. Sering kebentur kepala atau jatuh dari tempat tidur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;GANGGUAN TIDUR&lt;/i&gt;&lt;/u&gt; (biasanya MALAM-PAGI) gelisah,bolak-balik ujung ke ujung; bila tidur posisi “nungging” atau tengkurap; berbicara, tertawa, berteriak dalam tidur; sulit tidur atau mata sering terbuka pada malam hari tetapi siang hari tidur terus; usia lebih 9 bulan malam sering terbangun atau tba-tiba duduk dan tidur lagi, &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;AGRESIF MENINGKAT&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;, pada usia lebih 6 bulan sering memukul muka atau menarik rambut orang yang menggendong. Sering menggigit, menjilat tangan atau punggung orang yang menggendong. Sering menggigit putting susu ibu bagi bayi yang minum ASI, Setelah usia 4 bulan sering secara berlebihan memasukkan sesuatu ke mulut. Tampak anak sering memasukkan ke dua tangan atau kaki ke dalam mulut. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;GANGGUAN KONSENTRASI&lt;/i&gt;&lt;/u&gt; : cepat bosan thd sesuatu aktifitas bermain, bila diberi cerita bergambar sering tidak bisa lama memperhatikan. Tidak menyukai tempat yang sempit seperti box bayi atau ruangan kamar yang kecil. Sehingga sering minta keluar ruangan atau halaman luar rumah. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt; EMOSI MENINGKAT&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;, sering menangis, berteriak dan bila minta minum susu sering terburu-buru tidak sabaran.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;         GANGGUAN MOTORIK DAN KOORDINASI &lt;/i&gt;&lt;/u&gt;: Pada POLA PERKEMBANGAN NORMAL adalah BOLAK-BALIK, DUDUK, MERANGKAK, BERDIRI DAN BERJALAN sesuai usia. Pada gangguan keterlambatan motorik biasanya bolak balik pada usia lebih 5 bulan, usia 6 – 8 bulan tidak duduk dan merangkak, setelah usia 8 bulan langsung berdiri dan berjalan. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt; KETERLAMBATAN BICARA&lt;/i&gt;&lt;/u&gt;: Tidak mengeluarkan kata umur &lt;&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt; IMPULSIF&lt;/i&gt;&lt;/u&gt; : banyak tersenyum dan tertawa berlebihan, lebih dominan berteriak daripada mengoceh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jangka panjang akan memperberat gangguan perilaku tertentu bila anak mengalami bakat genetik seperti  &lt;u&gt;ADHD&lt;/u&gt; (hiperaktif) dan &lt;u&gt;AUTISME &lt;/u&gt;(hiperaktif, keterlambatan bicara, gangguan sosialisasi)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;br /&gt;&lt;b&gt;BERBAGAI JENIS SUSU FORMULA&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Susu sebagai minuman utama pada bayi terdiri dari ASI, PASI atau susu formula (comercial formula) dan Non Formula. ASI merupakan makanan bayi yang paling sempurna, kandungan gizi sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal pada anak. ASI juga mengandung zat untuk perkembangan kecerdasan, zat kekebalan (mencegah dari berbagai penyakit) dan dapat menjalin hubungan cinta kasih antara bayi dengan ibu. Manfaat bagi ibu dapat mengurangi perdarahan setelah melahirkan, mempercepat pemulihan kesehatan ibu, menunda kehamilan, mengurangi risiko terkena kanker payudara, dan merupakan kebahagiaan tersendiri bagi ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah merupakan alternatif terakhir bila memang ASI tidak keluar, kurang atau mungkin karena sebab lainnya. PASI adalah makanan bayi yang secara tunggal dapat memenuhi kebutuhan gizi bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi sampai berumur enam bulan. PASI dapat dikelompokkan menjadi susu formula awal (starting formula), susu lanjutan (Followup Formula) .dan susu formula khusus (specific formula). Starting Formula biasanya diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan dan Followup Formula diberikan di atas usia 6 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spesific formula merupakan formula khusus yang diberikan pada bayi yang mengalami gangguan malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit metabolik. Susu formula khusus ini sangat banyak dan bervariasi yang berisi formula tertentu bagi keadaan yang tertentu pula. Diantaranya adalah susu hidrolisa protein ektensif seperti Pepti junior, pregestimil, atau yang paling ekstensif seperti Neocate. Golongan susu tersebut termasuk yang paling aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak MCT (monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi dan sebaginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu formula khusus lainnya adalah susu hidrolisat protein parsial, seperti NAN HA atau Enfa HA. Golongan susu ini biasanya digunakan untuk bayi yang beresiko alergi atau untuk mencegah gejala alergi agar tidak semakin memberat dikemudian hari. Untuk pencegahan alergi biasanya hanya digunakan sejak lahir hingga usia 6 bulan. Sebenarnya susu ini bukan digunakan untuk penderita alergi susu sapi. Tetapi dalam keadaan gejala alergi yang ringan tampaknya penggunaan susu ini sangat bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya adalah susu formula yang mengandung bahan dasar kedelai sebagai pengganti susu sapi. Susu formula soya yang saat ini beredar di Indonesia adalah isomil, nutrisoya, prosobee dan sebagainya. Susu formula khusus lainnya adalah susu bebas atau rendah laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita intoleransi laktosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Non formula, merupakan susu yang sebenarnya tidak memenuhi syarat sebagai PASI. Contoh susu non formula adalah susu sapi segar, susu skim atau susu kental manis. Susu ini komposisinya tidak sesuai dengan komposisi yang direkomendasikan oleh FDA atau komposisinya tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. Susu formula sangat berbeda dengan susu sapi murni, meski bahan baku susu formula dari susu sapi. Dalam susu formula, ada tambahan nutrisi yang sudah terukur dan disesuaikan dengan gizi yang dibutuhkan bayi. Karena itu, pemberian susu formula kepada bayi harus sesuai dengan kebutuhan bayi dan kandungan yang telah dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;STRATEGI PEMILIHAN SUSU FORMULA &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana strategi atau langkah yang tepat dalam melakukan pemilihan susu formula yang terbaik bagi anak. Langkah awal yang harus dilakukan adalah menentukan apakah anak mempunyai resiko alergi atau intoleransi susu sapi. Resiko ini terjadi bila ada salah satu atau kedua orangtua pernah mengalami alergi, asma atau ketidak cocokan terhadap susu sapi. Langkah ke dua, harus cermat dalam mengamati kondisi dan gangguan yang terjadi pada anak sejak lahir. Gejala yang harus di amati adalah gejala gangguan saluran cerna, gangguan perilaku dan gangguan organ tubuh lainnya sejak bayi lahir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terdapat resiko alergi dan gejala lain seperti di atas, harus lebih cermat dalam melakukan pemilihan susu. Kalau perlu lakukan konsultasi lebih jauh kepada dokter spesialis alergi anak, gastroenterologi anak atau metabolik dan endokrinologi anak Cermati gangguan organ tubuh yang terjadi terus menerus dan terjadi jangka panjang seperti sering batuk, sesak, diare (buang air besar &gt; 2 kali perhari), sulit buang air besar. Bila terjadi sebaiknya harus lebih dicermati apakah gangguan ini berkaitan karena ketidakcocokan susu formula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering terjadi overdiagnosis dalam menentukan anak menderita alergi susu sapi. Sebaiknya jangan terlalu cepat memvonis alergi susu sapi pada bayi. Reaksi alergi yang timbul bukan saja terjadi karena susu formula. Dalam pemberian ASI, diet yang dikonsumsi ibu juga dapat mengakibatkan gangguan alergi. Dalam keadaan bayi mengalami infeksi batuk, panas dan pilek sering mengalami gangguan seperti reaksi alergi khususnya pada kulit, saluran cerna dan hipersekresi bronkus (lendir yang berlebihan). Hal lain sering terjadi anak divonis alergi susu sapi padahal sebelumnya penggunaan susu sapi tidak menimbulkan masalah kesehatan. Alergi susu sapi biasanya semakin pertambahan usia akan semakin membaik, bukan sebaliknya. Alergi susu sapi biasanya terjadi sejak lahir. Bila gejala alergi baru timbul di atas usia 6 bulan, penyebabnya sangat mungkin bukan susu sapi. Kita harus mencermati alergi terhadap makanan lainnya yang biasanya mulai dikenalkan pada usia tersebut. Penderita alergi makanan, selain alergi terhadap susu sapi juga mengalami alergi terhadap makanan tertentu. Anak yang mengalami alergi susu sapi, ternyata didapatkan sekitar 30 – 40% mengalami alergi susu soya (kedelai). Tetapi susu soya merupakan pilihan pertama untuk anak alergi susu sapi pada usia di atas 6 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila anak mengalami alergi susu sapi yang ringan seperti gangguan kulit dan saluran cerna ringan akan bisa menerima susu sapi tersebut sekitar usia 1 tahun. Bila mengakibatkan gangguan berat seperti batuk, asma dan muntah biasanya akan bisa menerima susu sapi di atas usia 2 hingga 5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila mencurigai ketidak cocokan susu formula, jangan terlalu cepat memvonis susu sapi adalah penyebabnya. Ketidakcocokan susu formula belum tentu hanya karena kandungan susu sapinya. Gangguan bisa timbul karena kandungan yang terdapat dalam susu formula seperti laktosa, gluten, zat warna, aroma rasa (vanila, coklat, strawberi, madu dll), komposisi lemak, kandungan DHA, minyak jagung, minyak kelapa sawit dan sebagainya. Proses pengolahan bahan dasar susu sapi ternyata juga bisa berpengaruh. Beberapa cara proses pengolahan susu sapi tertentu dapat menghilangkan protein tertentu yang dapat menyebabkan gangguan alergi. Perbedaan ini dapat diamati dengan perbedaan bau susu formula tersebut. Susu sapi formula satu dengan yang lainnya kadang bau ketajaman susu sapinya berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggantian ketidakcocokan susu formula tidak harus selalu dengan susu soya atau susu hipoalergenik. Jadi, bila mencurigai ketidak cocokan susu jangan terlalu cepat mengganti dengan susu soya atau susu hipoalergi lainnya. Bila gangguannya ringan dengan penggantian susu sapi formula yang sejenis gangguan tersebut dapat berkurang. Misalnya, penggantian susu yang tidak mengandung DHA gangguan kulit bisa menghilang. Buang air besar yang sulit dengan pengantian susu sapi tertentu yang tidak mengandung kelapa sawit gangguannya membaik. Demikian pula gangguan penderita yang sering batuk, dengan mengganti susu sapi formula tertentu dapat mengurangi gangguan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian susu formula khusus seperti susu soya, susu peptijunior atau susu hipoalergenik sering dianggap tidak bergizi dibanding susu formula lainnya. Sebenarnya secara umum pendapat ini tidak benar. Setiap susu formula kandungan vitamin, mineral dan kalorinya adalah sama, sudah sesuai standar FDA. Harus sesuai dengan kebutuhan anak menurut usianya. Memang susu tersebut tidak mengandung AA, DHA, dan ”kandungan kecerdasan” lainnya. Padahal penambahan kandungan zat tersebut masih belum terbukti secara klinis. Sedangkan bila susu formula lainnya tetap dipaksakan maka banyak gangguan fungsi organ tubuh dan ganggua perilaku yang dapat terjadi dalam jangka panjang. Hal ini justru akan menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain ketidakcocokan susu, pertimbangan berikutnya dalam pemilihan susu adalah masalah harga. Sesuaikan pemilihan jenis susu dengan kondisi ekonomi keluarga. Harga susu tidak secara langsung berkaitan dengan kualitas kandungan gizinya. Meskipun susu tersebut murah belum tentu kalori, vitamin dan mineralnya kurang baik. Selama jumlah, jenisnya sesuai untuk usia anak dan tidak ada gangguan maka itu adalah susu yang terbaik untuk tumbuh kembang anak tersebut. Semua susu formula susu yang beredar untuk bayi dan anak jumlah kandungan kalori, vitamin dan mineralnya tidak berbeda jauh. Perbedaan harga tersebut mungkin dipengaruhi oleh penambahan kandungan AA, DHA dan sebagainya di dalam susu formula. Pertimbangan lainnya yang penting adalah mudah didapat, baik dalam hal tempat pembelian dan penyediaan produk. Berganti-ganti jenis susu untuk seorang anak tidak harus dikawatirkan selama tidak ada gangguan penerimaan susu tersebut. Bila tidak terdapat resiko dan gejala alergi langkah berikutnya coba susu formula yang sesuai usia anak apapun merek dan jenisnya. Amati tanda dan gejala yang ditimbulkan, bila tidak ada keluhan teruskan pemberian susu tersebut dengan jumlah sesuai yang dibutuhkan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Secar
